Pengeringan rempah menjadi salah satu tahapan penting dalam menjaga kualitas bahan dapur yang sering kita gunakan sehari hari. Banyak orang mungkin hanya mengenal cara sederhana seperti menjemur di bawah sinar matahari. Namun, para peneliti terus mencari teknologi yang lebih efisien, lebih ramah lingkungan, dan mampu menjaga mutu rempah agar tetap aromatik dan tahan lama. Sebuah studi terbaru yang dikembangkan oleh Fazri Amir dan timnya menghadirkan inovasi menarik dalam dunia pengeringan pangan, yaitu oven tenaga surya yang menggunakan sistem pipa panas dan kolektor parabola. Teknologi ini dirancang bukan hanya untuk mempercepat proses pengeringan, tetapi juga untuk menghemat energi serta menjaga kualitas rempah agar tetap optimal.
Penelitian ini berangkat dari permasalahan klasik pada metode pengeringan tradisional. Sistem konvensional sering menghasilkan distribusi panas yang tidak merata, konsumsi energi yang tinggi, serta ketergantungan pada cairan khusus untuk memindahkan panas. Penggunaan cairan tersebut membutuhkan pompa tambahan sehingga menambah biaya operasional dan membuat sistem kurang efisien. Kondisi ini mendorong peneliti untuk merancang teknologi yang dapat mengirimkan panas dengan lebih seragam tanpa membutuhkan energi tambahan dari pompa pemindah panas. Mereka kemudian menciptakan oven tenaga surya berbasis parabolic trough collector atau PTC yang dipadukan dengan pipa panas heat pipe.
Baca juga artikel tentang: Makanan Sehat dari Negeri Sakura: Rahasia Panjang Umur yang Bisa Kita Tirukan
Sistem PTC bekerja dengan memfokuskan cahaya matahari ke satu titik melalui bentuk parabola. Cahaya yang terkonsentrasi ini menghasilkan panas tinggi yang dapat dimanfaatkan secara langsung. Ketika teknologi ini dipadukan dengan heat pipe, panas dapat berpindah secara pasif dari satu bagian ke bagian lain dengan sangat efisien. Heat pipe mampu mengalirkan panas tanpa bantuan energi listrik sehingga proses pengeringan dapat berjalan dengan lebih hemat energi. Desain ini memberikan distribusi panas yang seragam sehingga rempah atau bahan pangan yang dikeringkan tidak mengalami bagian yang gosong atau bagian yang masih lembap.

Untuk menguji performa alat ini, para peneliti menggunakan buah belimbing wuluh sebagai sampel. Buah ini dipilih karena memiliki kadar air tinggi dan sering digunakan sebagai bahan penyedap dalam masakan tradisional. Pengujian dilakukan melalui dua mode pengeringan yaitu mode aktif dan mode pasif. Mode aktif menggunakan kipas untuk membantu sirkulasi udara sedangkan mode pasif mengandalkan aliran udara alami. Hasilnya menunjukkan bahwa heat pipe sangat efektif dalam memindahkan panas dengan stabil. Perbedaan suhu antara bagian penguap dan bagian kondensor hanya sekitar 0.6 derajat Celsius sehingga memperlihatkan efisiensi proses yang sangat baik.
Sementara itu, perbedaan suhu antara penerima panas dan ruang pengering mencapai 9.4 derajat Celsius yang mengindikasikan transfer panas berjalan optimal. Pada mode aktif, kadar air berkurang hingga 55.57 persen sedangkan pada mode pasif berkurang hingga 38.7 persen. Perbedaannya wajar karena sirkulasi udara dengan kipas mempercepat penguapan air. Walaupun demikian kedua mode menunjukkan bahwa sistem baru ini mampu mengeringkan bahan pangan secara efektif.
Efisiensi energi sistem ini juga menonjol. Pada mode aktif efisiensi energi mencapai 22.65 persen sedangkan mode pasif mencapai 17.13 persen. Angka ini menunjukkan kemampuan sistem memanfaatkan panas matahari dengan baik tanpa membuang banyak energi. Biaya pengeringan juga dinilai cukup rendah yakni 15.21 dolar per kilogram pada mode aktif dan 15.44 dolar per kilogram pada mode pasif. Selisih yang kecil ini memperlihatkan bahwa mode pasif sekalipun bisa menjadi pilihan ekonomis tanpa memerlukan tambahan energi dari kipas.
Keunggulan teknologi ini tidak berhenti di efisiensi energi. Inovasi oven tenaga surya berbasis PTC dengan heat pipe membuka peluang besar dalam pengembangan sistem pengeringan pangan yang ramah lingkungan. Di masa depan teknologi ini dapat diterapkan pada berbagai kebutuhan seperti fasilitas pengolahan pangan di daerah terpencil, dapur berbasis energi surya, hingga sistem pengeringan pada atap bangunan di wilayah urban. Pengeringan rempah menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat tanpa bergantung pada listrik berlebih atau peralatan mahal.
Studi ini bahkan mengusulkan penggunaan sistem serupa dalam desain bangunan hemat energi. Integrasi PTC dan heat pipe dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan yang memerlukan pemindahan panas stabil. Jika teknologi ini digabungkan dengan mekanisme pelacakan otomatis yang mengikuti pergerakan matahari, efisiensinya bisa meningkat jauh lebih tinggi. Arah penelitian ke depan mencakup pengembangan desain yang lebih kompak, penggunaan material yang lebih terjangkau, serta optimisasi sudut parabola agar panas terkonsentrasi dengan lebih baik sepanjang hari.
Dari perspektif industri pangan, teknologi ini dapat menjadi solusi penting untuk menjaga kualitas rempah yang menjadi bagian penting dalam kuliner global. Rempah seperti kunyit, jahe, cabai, dan ketumbar sangat bergantung pada proses pengeringan untuk mempertahankan aroma dan kandungan gizinya. Pengeringan yang buruk dapat membuat rempah kehilangan warna, rasa, serta kandungan minyak atsiri yang menjadi sumber aroma. Dengan sistem oven tenaga surya ini rempah dapat dikeringkan secara lebih konsisten tanpa merusak karakteristik alaminya.
Selain itu teknologi ini juga memberikan manfaat besar bagi para petani kecil yang sering kesulitan mengeringkan hasil panen terutama pada musim penghujan. Metode tradisional yang mengandalkan sinar matahari langsung sangat dipengaruhi cuaca sehingga rentan menyebabkan jamur dan penurunan kualitas. Oven tenaga surya dengan PTC bisa menjadi alternatif yang murah dan dapat digunakan sepanjang tahun.
Penelitian ini menunjukkan bagaimana inovasi energi terbarukan dapat masuk ke sektor pangan dan memberikan dampak nyata. Pengembangan teknologi pengeringan berbasis surya mengarah pada masa depan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan terus memperbaiki desain dan meningkatkan skalabilitas, teknologi ini berpotensi digunakan tidak hanya di tingkat rumah tangga tetapi juga industri skala besar.
Melalui inovasi ini proses pengeringan rempah yang selama ini dianggap sederhana ternyata menyimpan potensi besar untuk ditingkatkan. Dunia kuliner dan industri pangan dapat memanfaatkan teknologi ramah lingkungan sambil terus menjaga keaslian rasa dan aroma yang membuat rempah begitu berharga. Dengan langkah ini pengeringan rempah tidak lagi sekadar kebutuhan dapur tetapi menjadi bagian dari inovasi energi masa depan.
Baca juga artikel tentang: Wangi yang Menyelamatkan: Bagaimana Minyak Rempah Bisa Menggantikan Pengawet Kimia
REFERENSI:
Amir, Fazri dkk. 2025. Development of a parabolic trough collector-based solar oven with heat pipe for efficient drying of kitchen spices. Energy and Built Environment.

