Mengungkap Efek Tersembunyi Bencana: Mengapa Penyintas Lebih Rentan Mengalami Obesitas

Bencana alam sering dipahami sebagai kejadian yang hanya merusak bangunan, infrastruktur, atau lingkungan. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampaknya bisa […]

Bencana alam sering dipahami sebagai kejadian yang hanya merusak bangunan, infrastruktur, atau lingkungan. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampaknya bisa jauh lebih dalam dan lebih lama, bahkan memengaruhi kesehatan tubuh manusia dalam cara yang sering kali tidak disadari. Salah satu temuan penting datang dari sebuah tinjauan ilmiah sistematis yang dilakukan oleh Tahir Yousuf Nour dan Kerim Hakan Altintaş, yang mengungkap hubungan antara bencana alam dan meningkatnya risiko obesitas pada berbagai kelompok umur.

Fenomena ini tampak mengejutkan karena masyarakat biasanya mengaitkan bencana dengan kekurangan pangan. Kenyataannya justru lebih kompleks. Perubahan drastis dalam lingkungan, pola hidup, dan kondisi psikologis setelah bencana dapat menciptakan kondisi yang mendorong kenaikan berat badan.

Baca juga artikel tentang: Bumi Terancam! Asteroid Bennu Bisa Sebabkan Bencana Global seperti Kiamat

Penelitian tersebut mengumpulkan dan menganalisis puluhan tahun data dari berbagai sumber ilmiah termasuk PubMed, Scopus, Web of Science dan Google Scholar. Para peneliti mencari studi yang mencatat perubahan berat badan dan faktor risiko obesitas pada penyintas bencana alam. Mereka berhasil mengidentifikasi tujuh belas penelitian yang memenuhi kriteria ketat dan mencakup peserta dari usia tiga bulan hingga enam puluh tujuh tahun.

Para peneliti menemukan bahwa sebelas dari studi tersebut berfokus pada anak anak, lima berfokus pada orang dewasa, dan satu pada remaja. Semua penelitian mengikuti kelompok peserta selama enam bulan hingga lebih dari lima belas tahun. Pola yang muncul menunjukkan bahwa peningkatan berat badan setelah bencana merupakan fenomena yang konsisten, bahkan pada kelompok usia yang sangat muda.

Kenaikan berat badan ini tidak muncul begitu saja. Penelitian tersebut mengidentifikasi sejumlah faktor yang secara bersama sama meningkatkan risiko obesitas pascabencana. Salah satu faktor utamanya berasal dari perubahan perilaku makan. Banyak penyintas bencana mengalami tekanan psikologis yang berat. Ketidakpastian hidup, kehilangan tempat tinggal, duka, dan trauma membuat sebagian orang cenderung mencari kenyamanan melalui makanan. Kondisi ini bisa memicu pola makan tidak sehat, termasuk konsumsi makanan berkalori tinggi dan makanan cepat saji yang sering kali lebih mudah diakses di wilayah pengungsian atau daerah yang sedang mengalami pemulihan.

Obesitas memperparah COVID-19 melalui peningkatan peradangan, stres sel, disfungsi endotel, ekspresi ACE2, dan gangguan koagulasi yang berkontribusi pada hiperinflamasi, badai sitokin, serta keparahan penyakit.

Selain perubahan pola makan, aktivitas fisik juga menurun secara signifikan. Lingkungan pascabencana biasanya tidak mendukung kegiatan fisik yang teratur. Fasilitas umum rusak, ruang terbuka tidak aman, dan mobilitas masyarakat terbatas. Banyak keluarga tinggal di hunian sementara yang sempit sehingga anak anak dan orang dewasa sulit bergerak bebas. Ketika rutinitas terganggu, peluang untuk berolahraga ikut menurun.

Risiko obesitas pascabencana juga meningkat pada kelompok tertentu yang lebih rentan sejak awal. Orang dewasa dengan indeks massa tubuh tinggi sebelum bencana cenderung mengalami kenaikan berat badan lebih besar. Ibu yang memiliki berat badan berlebih sebelum melahirkan juga lebih mungkin memiliki anak yang mengalami kenaikan berat badan signifikan setelah bencana. Faktor lain seperti menyusui yang tidak optimal, status sosial ekonomi rendah, dan gangguan kesehatan mental turut membentuk pola risiko obesitas jangka panjang.

Lokasi tempat tinggal menjadi faktor yang tidak kalah penting. Mereka yang tinggal di wilayah pesisir atau kawasan yang mengalami kerusakan berat sering menghadapi gangguan akses pangan segar. Kondisi tersebut mendorong konsumsi makanan instan yang tinggi garam, gula, dan lemak. Banyak keluarga yang dipindahkan ke lokasi pengungsian jangka panjang akhirnya hidup dalam situasi yang membuat pilihan makanan sehat menjadi sangat sulit.

Beberapa penelitian yang ditinjau juga mencatat bahwa pergeseran kebiasaan keluarga setelah bencana dapat bertahan selama bertahun tahun. Anak yang mengalami trauma atau stres panjang dapat mengembangkan pola makan berlebih yang dibawa hingga masa dewasa. Orang tua yang sedang berjuang memulihkan kondisi ekonomi keluarga sering tidak memiliki waktu atau sumber daya untuk membeli makanan bergizi. Situasi seperti ini memperkuat siklus obesitas antar generasi.

Tinjauan ilmiah tersebut memberikan pesan penting bagi pembuat kebijakan di bidang kesehatan masyarakat. Obesitas pascabencana bukan masalah sekunder dan tidak bisa dianggap sebagai dampak kecil. Kondisi ini berkontribusi pada meningkatnya risiko penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Jika tidak ditangani sejak awal, dampaknya dapat menjadi beban kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Upaya kesehatan pascabencana selama ini cenderung berfokus pada penanganan luka fisik, kebutuhan pangan darurat, dan kesejahteraan psikologis. Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi respons bencana perlu mencakup pendekatan yang lebih komprehensif, mencakup pencegahan obesitas sejak fase pemulihan awal. Penyintas bencana membutuhkan akses terhadap makanan bernutrisi, edukasi mengenai pola makan, dan dukungan psikologis yang berkelanjutan.

Intervensi sederhana seperti penyediaan makanan sehat di pengungsian, wadah aman untuk anak bermain dan bergerak, serta layanan konseling keluarga dapat memberikan efek jangka panjang yang signifikan. Pemerintah dan organisasi kemanusiaan juga perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar tetapi juga tidak mendorong perilaku makan tidak sehat.

Penelitian ini juga mengingatkan bahwa kebijakan kesehatan harus memikirkan dampak lintas generasi. Anak anak yang mengalami perubahan mendadak dalam lingkungan hidup dan kebiasaan makan berisiko membawa pola hidup tidak sehat hingga dewasa. Dengan pendekatan yang tepat, risiko tersebut dapat ditekan dan generasi berikutnya dapat tumbuh lebih sehat meskipun pernah mengalami bencana besar.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa bencana alam tidak hanya merobohkan bangunan atau merusak infrastruktur. Dampaknya dapat masuk ke ranah pribadi dan biologis manusia, mengubah cara makan, tidur, bergerak, dan memproses stres. Tubuh manusia bisa menyimpan jejak bencana dalam bentuk kenaikan berat badan yang berujung pada penyakit kronis.

Respons paling bijak adalah memahami bahwa kesehatan pascabencana mencakup lebih banyak aspek daripada sekadar pertolongan darurat. Dengan memperhatikan faktor faktor yang berkontribusi pada obesitas setelah bencana, masyarakat bisa mempersiapkan strategi yang lebih menyeluruh dalam menghadapi kejadian ekstrem di masa depan. Pendekatan yang lebih sensitif terhadap kesehatan jangka panjang akan membantu penyintas memulihkan hidup mereka secara lebih utuh.

Baca juga artikel tentang: Farmasi dalam Bencana: Peran Apoteker saat Krisis Kesehatan Global

REFERENSI:

Nour, Tahir Yousuf & Altintaş, Kerim Hakan. 2025. Obesity after Natural disasters and Associated Risk Factors: A Systematic Review. Disaster medicine and public health preparedness 19, e8.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top