Laut adalah paru-paru kedua bumi. Ia menampung panas berlebih, menghasilkan oksigen, dan menjadi rumah bagi jutaan makhluk hidup. Namun, kini laut sedang sakit. Suhunya meningkat, kadar oksigennya menurun, dan airnya semakin asam. Semua ini adalah akibat langsung dari perubahan iklim. Di tengah situasi genting itu, dunia akhirnya memiliki satu kesepakatan internasional yang diharapkan bisa membantu menyembuhkan laut: BBNJ Agreement atau Perjanjian tentang Keanekaragaman Hayati di Wilayah Laut di Luar Yurisdiksi Nasional.
Penelitian terbaru oleh Chuanliang Wang dan Min Wu menunjukkan bahwa kesepakatan ini bukan hanya langkah hukum biasa, melainkan upaya konkret dunia untuk melindungi kehidupan laut dari dampak perubahan iklim. Artikel mereka mengupas bagaimana isi dan semangat BBNJ Agreement memberi harapan baru bagi tata kelola laut global di masa depan.
Baca juga artikel tentang: Snowball Earth: Tragedi Iklim Terbesar yang Membentuk Kehidupan
Laut yang Makin Panas dan Makin Asam
Bagi banyak orang, perubahan iklim sering kali identik dengan suhu udara yang meningkat, kekeringan, atau banjir di daratan. Padahal, sebagian besar dampaknya justru tersembunyi di bawah permukaan laut. Menurut penelitian Wang dan Wu, laut kini menjadi saksi perubahan kimia terbesar dalam sejarah modern.
Pemanasan global menyebabkan suhu laut naik secara signifikan. Akibatnya, kandungan oksigen di laut berkurang karena air hangat menyimpan lebih sedikit oksigen. Fenomena ini disebut deoksigenasi laut. Pada saat yang sama, karbon dioksida yang diserap laut membuat air menjadi lebih asam, yang biasa kita kenal sebagai pengasaman laut. Kombinasi keduanya menciptakan lingkungan yang mematikan bagi banyak organisme laut, dari terumbu karang hingga plankton yang menjadi dasar rantai makanan laut.
Lebih jauh lagi, lautan yang lebih hangat juga mempercepat pencairan es kutub dan memperburuk badai tropis, menciptakan siklus yang semakin merusak ekosistem laut dan pesisir. Semua ini pada akhirnya mengancam keanekaragaman hayati laut, sumber pangan, dan stabilitas ekonomi negara-negara pesisir.
Apa Itu BBNJ Agreement?
BBNJ adalah singkatan dari Biodiversity Beyond National Jurisdiction, yaitu kesepakatan internasional yang lahir di bawah payung Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS). Perjanjian ini disepakati setelah lebih dari dua dekade negosiasi, dengan satu tujuan besar: melindungi dan mengelola keanekaragaman hayati laut di wilayah yang berada di luar yurisdiksi nasional, seperti lautan lepas yang tidak dimiliki oleh negara mana pun.
Mengapa ini penting? Karena sekitar dua pertiga wilayah laut dunia termasuk dalam kategori tersebut. Artinya, sebagian besar kehidupan laut selama ini hidup tanpa perlindungan hukum yang memadai. BBNJ Agreement hadir untuk menutup celah hukum itu dan memastikan bahwa semua pihak ikut bertanggung jawab menjaga laut global.
Wang dan Wu menekankan bahwa selama proses negosiasi, isu perubahan iklim menjadi perhatian utama. Para perunding internasional berusaha memastikan agar isi perjanjian tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga meningkatkan kemampuan laut dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Upaya Bersama Membangun Ketahanan Laut
Salah satu gagasan penting dalam BBNJ Agreement adalah konsep ketahanan laut terhadap perubahan iklim. Artinya, laut harus mampu bertahan dan pulih dari gangguan seperti pemanasan, pengasaman, dan penurunan kadar oksigen.
Untuk mencapai hal itu, perjanjian ini mengatur sejumlah langkah konkret. Pertama, ada mekanisme pembagian manfaat sumber daya genetik laut. Banyak organisme laut mengandung senyawa bioaktif yang potensial untuk obat-obatan dan bioteknologi. Dengan sistem ini, negara berkembang bisa ikut menikmati hasil penelitian dan inovasi yang berbasis sumber daya laut global, bukan hanya negara kaya yang punya teknologi.
Kedua, BBNJ mendorong penggunaan alat pengelolaan berbasis wilayah (area-based management tools) seperti kawasan konservasi laut internasional. Dengan mengatur zona perlindungan di laut lepas, ekosistem yang sensitif bisa dipulihkan, sementara area penangkapan ikan dapat dikelola secara berkelanjutan.
Ketiga, perjanjian ini mewajibkan adanya penilaian dampak lingkungan global sebelum proyek besar di laut lepas dijalankan. Misalnya, kegiatan eksplorasi minyak, pertambangan dasar laut, atau pengembangan energi laut harus melalui kajian ilmiah yang mempertimbangkan efek jangka panjang terhadap iklim dan keanekaragaman hayati.
Teknologi dan Pengetahuan untuk Semua
Wang dan Wu juga menyoroti pentingnya transfer teknologi dan pembangunan kapasitas yang diatur dalam BBNJ Agreement. Selama ini, negara maju memiliki teknologi pengamatan laut canggih, seperti satelit, sensor bawah laut, dan model prediksi iklim. Sementara itu, banyak negara berkembang masih bergantung pada data terbatas.
Melalui kesepakatan ini, negara-negara maju didorong untuk berbagi teknologi dan data, membantu pelatihan ilmuwan dari negara berkembang, serta memperkuat kerja sama penelitian global. Ini penting karena perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Laut yang rusak di satu wilayah bisa memengaruhi seluruh planet.
Selain itu, dengan berbagi teknologi, negara-negara kecil dan berkembang bisa ikut terlibat dalam penelitian laut dan menjadi bagian dari solusi global. Hal ini juga memperkuat keadilan iklim, memastikan bahwa setiap bangsa memiliki kesempatan yang sama dalam menjaga laut dan memanfaatkan sumber dayanya secara berkelanjutan.
Menuju Tata Kelola Laut yang Terpadu
BBNJ Agreement bukan hanya tentang perlindungan, tetapi juga tentang tata kelola laut yang lebih adil dan efektif. Wang dan Wu menjelaskan bahwa perjanjian ini mendorong negara-negara untuk memperkuat koordinasi antar lembaga dan meningkatkan kerja sama lintas sektor, mulai dari perlindungan ekosistem, pengendalian pencemaran, hingga mitigasi perubahan iklim.
Dengan adanya mekanisme koordinasi ini, kebijakan tentang laut dan iklim tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Misalnya, proyek energi terbarukan di laut harus mempertimbangkan dampak ekologis, sementara kebijakan konservasi juga harus sinkron dengan target pengurangan emisi karbon.
Harapan untuk Laut Dunia
BBNJ Agreement adalah tonggak sejarah. Ia menunjukkan bahwa komunitas global mampu bersatu untuk mengatasi masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh satu negara saja. Wang dan Wu menyebutnya sebagai instrumen hukum laut paling penting dalam satu dekade terakhir, karena berhasil menggabungkan perlindungan keanekaragaman hayati dengan upaya menghadapi perubahan iklim.
Namun, tantangan besar masih menanti. Kesepakatan ini baru akan efektif jika semua negara benar-benar menerapkannya, menyediakan dana, berbagi teknologi, dan menghormati prinsip kerja sama global. Tanpa komitmen nyata, BBNJ bisa menjadi janji kosong di atas kertas.
Di tengah krisis iklim yang terus memburuk, BBNJ memberi secercah harapan bahwa laut masih bisa diselamatkan. Dengan ilmu pengetahuan, kebijakan yang bijak, dan kemauan politik yang kuat, dunia bisa menjaga samudra agar tetap menjadi sumber kehidupan, bukan sumber bencana.
Baca juga artikel tentang: Peñico: Kota Perdagangan 3.500 Tahun Lalu yang Hancur oleh Perubahan Iklim
REFERENSI:
Wang, Chuanliang & Wu, Min. 2025. On the provisions of the BBNJ Agreement addressing the impacts of climate change. Marine Policy 171, 106429.

