Literasi Kesehatan Mental Ibu di Indonesia – Pasca Melahirkan

Ditulis oleh Carminia Rinjani 1Ilustrasi kesehatan mental pasca melahirkan oleh Camille Aubry Di tahun 2019, sebuah berita mengejutkan datang dari […]

blank

Ditulis oleh Carminia Rinjani

blank
1Ilustrasi kesehatan mental pasca melahirkan oleh Camille Aubry

Di tahun 2019, sebuah berita mengejutkan datang dari Bandung – Seorang ibu ditetapkan sebagai tersangka atas pembunuhan bayinya yang berumur tiga bulan. Berita ini menghebohkan warga, hampir tidak ada yang dapat mempercayainya. Sang ibu mengaku mendapatkan bisikan gaib untuk membunuh bayinya, lantaran ia belum siap menjadi ibu. Apakah yang sebenarnya terjadi?

Ketika seorang wanita mengalami transisi menjadi ibu, tentu banyak perubahan yang dialami. Menurut sebuah penelitian oleh Catherine Habel, proses transisi seorang wanita menjadi ibu setelah kelahiran anak dinilai sebagai peristiwa yang signifikan dalam kehidupan mereka, dimana perubahan ini membutuhkan penyesuaian pada fisik, biologis, psikologis, sosial dan budaya. Perubahan ini dapat membuat seorang wanita merasa bahagia, namun tidak sedikit yang merasa cemas. Di masa transisi inilah gangguan mental mengintai para calon ibu, dimulai dari perasaan cemas, yang akhirnya akan berkembang menjadi gangguan kecemasan dan depresi. Salah satu gangguan mental yang dapat dialami seorang ibu pasca melahirkan adalah depresi postpartum. Gangguan mental ini ditandai dengan perasaan cemas, tidak berharga, dan perasaan ingin menyakiti diri ataupun bayi.

Dari sebuah data mengenai depresi postpartum yang dialami oleh ibu di Indonesia pada tahun 2020, kasus depresi postpartum ditemukan sebanyak 50 – 70%. Mengutip pada sebuah penelitian, 80% kasus depresi postpartum yang ditemukan di negara berkembang tidak mencari pengobatan dan tidak di diagnosa secara medis oleh tenaga kesehatan profesional. Hal ini sangat berbahaya karena apabila depresi postpartum tidak ditangani, hal ini dapat memburuk dan menjadi psikosis postpartum.

Dari hasil kasus yang ditemukan, ada beberapa faktor risiko terjadinya depresi postpartum. Diantaranya adalah kehamilan yang tidak direncanakan, kekerasan, masalah ekonomi, riwayat kehamilan, dan minimnya dukungan keluarga. Bagaimana keluarga dapat memiliki peran untuk mencegah terjadinya depresi postpartum?

Dukungan keluarga bagi ibu pasca melahirkan berdasarkan definisi dari sebuah penelitian adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yaitu sikap, tindakan dan penerimaan terhadap sang ibu, sehingga sang ibu baru merasa terbantu. Di beberapa negara, tradisi menyambut ibu pasca melahirkan meliputi bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah oleh keluarga besar, agar sang ibu dapat menjalani masa nifas dengan istirahat dan mengurus bayi.

Namun, dengan bantuan yang ada dari keluarga, dengan berbagai macam tradisi budaya yang telah dilakukan untuk ibu pasca melahirkan, depresi postpartum masih dapat mengintai sang ibu. Sebuah review menyatakan, tradisi pasca melahirkan tidak dapat dianggap telah menyediakan dukungan psikologis yang cukup bagi sang ibu untuk terhindar dari depresi postpartum. Artinya, butuh kombinasi antara pendekatan medis dan dukungan keluarga.

Sebuah penelitian dari salah satu member The American College of Obstetricians and Gynecologists telah merekomendasikan para Obgyn di Amerika untuk melakukan tes kecenderungan depresi pasca melahirkan kepada calon ibu dimulai dari kunjungan kontrol kehamilan dan pasca melahirkan. Penelitian ini dibuat berdasarkan manfaat yang ditemukan ketika masa transisi di monitor dengan baik, tenaga kesehatan yang bersangkutan dapat segera menyiapkan bantuan medis terkait gangguan mental yang mengintai para calon ibu.

Bagaimanakah mendeteksi kesehatan mental pada prenatal dan postpartum di Indonesia?

Untuk mendeteksi gangguan kesehatan mental pada ibu, beberapa tenaga kesehatan dan psikolog menggunakan kuesioner Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) karena dinilai mudah dimengerti dan direfleksikan ke keadaan sang ibu. Kuesioner ini berisi 10 butir pertanyaan untuk sang ibu sesuai keadaan yang dialami selama tujuh hari kebelakang.

Namun, menurut perbincangan dengan Dokter Achmad Mediana SpOG, belum ada metode yang paling sesuai dan belum ada prosedur untuk mendeteksi adanya gangguan kesehatan terhadap ibu hamil atau ibu pasca melahirkan di Indonesia. Beliau menambahkan, Kuesioner EPDS yang saat ini dipakai untuk mendeteksi gangguan mental pada ibu memiliki kekurangan tersendiri karena keterbatasannya dalam menilai penyakit jiwa yang mendasarinya. Menurut beliau, akan sangat baik apabila sang ibu dapat dideteksi kesehatan mentalnya pada saat proses transisi menjadi ibu.

Menurut Dokter Cony Kusumawardani SpOG, beberapa hal yang bisa diperhatikan untuk mendeteksi adanya potensi kecenderungan ibu hamil dan pasca melahirkan mengalami gangguan mental adalah kehamilan yang tidak direncanakan, status pernikahan atau hamil diluar nikah, dan peristiwa berduka saat kehamilan. Dokter kandungan dapat merujuk pasien kepada Pskiater untuk mendapatkan bantuan yang sesuai agar sang ibu dapat menjalani kehamilan dan pasca melahirkan dengan nyaman. Namun, apabila dokter tidak menerima informasi dari sang ibu mengenai kondisinya, maka gangguan mental dapat terjadi tanpa terdeteksi. Dokter Cony percaya bahwa kesehatan mental ibu di Indonesia masih terhalang stigma masyarakat terhadap ibu pasca melahirkan, karenanya tidak banyak sang ibu yang terbuka untuk menceritakan kondisinya.

Mother Hope Indonesia, ruang aman bagi ibu untuk bercerita dan mencari bantuan.

Nur Yana, menyadari bahwa para ibu butuh ruang aman untuk berbagi pengalamannya mengenai depresi dalam masa transisi menjadi ibu. Ia mendirikan Mother Hope Indonesia (MHI) pertama kali pada tahun 2015 melalui platform Facebook untuk mewadahi cerita para ibu tanpa dihakimi, serta untuk mencari support dan bantuan atas kondisi mereka. Banyak dari ibu merasa di anggap tidak bersyukur atas kehadiran sang buah hati pada saat mengalami depresi pasca melahirkan, dan stigma ini yang membuat para ibu merasa tidak aman untuk bercerita kepada kerabat mereka.

blank

 

2Logo MotherHope Indonesia

Yana mendirikan MHI dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah tentang kesehatan mental ibu. Yana ingin menyampaikan kepada semua masyarakat bahwa depresi postpartum itu nyata, dan perlu ditangani dengan serius. Melalui MHI, Yana telah berupaya untuk mengedukasi support system ibu hamil dan pasca melahirkan yakni pasangan dan keluarga besar di beberapa kota. Yana percaya jika edukasi telah dilakukan sejak dini, tanda depresi postpartum dapat dikenali sejak dini oleh keluarga dan dapat diberi pertolongan yang tepat secara medis. MHI juga telah melakukan upaya nasional untuk mengedukasi kesehatan mental ibu, melalui audiensi kepada Kementrian Kesehatan dan Kementrian Perlindungan Perempuan dan Anak untuk menambahkan informasi seputar depresi pasca melahirkan pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), agar kondisi tersebut bisa di deteksi sejak dini.

“Support system ibu meliputi keluarga, fasilitas kesehatan, dan juga pemerintah.” – Nur Yana.

Penutup

Literasi kesehatan mental ibu pasca melahirkan di Indonesia masih terhalang stigma negatif. Ibu pasca melahirkan tidak dapat menyatakan secara jujur kondisinya kepada pasangan, kerabat, dan tenaga kesehatan akibat minimnya edukasi depresi postpartum di masyarakat. Apabila pemerintah dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran kesehatan mental ibu pasca melahirkan, hal ini dapat sangat membantu agar masyarakat dapat membuka mata dan telinga untuk melihat dan mendengar keluhan para ibu pasca melahirkan, agar tidak ada lagi depresi yang tidak terdeteksi.

.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *