Paus Biru Mati di Tahun 1998, Tapi Minyaknya Terus Keluar hingga Kini – Fenomena Unik di Museum

Di Museum Perburuan Paus New Bedford yang berada di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat, terdapat sebuah kerangka paus biru yang […]

Di Museum Perburuan Paus New Bedford yang berada di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat, terdapat sebuah kerangka paus biru yang sangat unik. Paus ini sebenarnya sudah mati sejak tahun 1998, namun ada hal mengejutkan yang terus terjadi sampai sekarang: dari tulang-tulangnya masih keluar minyak.

Biasanya, ketika seekor hewan mati dan tulangnya sudah dibersihkan serta diawetkan untuk dipajang di museum, tidak ada lagi cairan yang keluar dari tubuhnya. Semua bagian lunak seperti daging dan organ dalam telah dihilangkan, dan tulangnya biasanya kering.

Namun, dalam kasus kerangka paus biru ini, ada minyak yang masih merembes secara perlahan dari dalam tulangnya—bahkan setelah lebih dari dua dekade. Minyak ini disebut sebagai minyak paus (dulu digunakan dalam industri, misalnya sebagai bahan bakar lampu dan pelumas), dan berasal dari cadangan lemak yang tersimpan sangat dalam di tubuh paus.

Fenomena ini membuat para peneliti takjub karena menunjukkan betapa dalam dan padatnya lemak atau minyak yang tersimpan di tubuh paus besar seperti ini. Bahkan setelah puluhan tahun, minyak tersebut masih bisa keluar, menandakan betapa kuat dan awet kandungan lemak di tulang-tulang paus.

Paus biru ini diberi nama KOBO, yang merupakan singkatan dari King of the Blue Ocean atau Raja Samudra Biru. Nama ini mencerminkan ukuran dan keagungan spesiesnya di lautan. Namun, kisah penemuan KOBO sangat tragis. Pada Maret 1998, tubuh paus raksasa ini ditemukan tersangkut di haluan (bagian depan) sebuah kapal tanker. Setelah diselidiki, diketahui bahwa ia tewas akibat tertabrak baling-baling kapal tanker lain saat berenang di perairan lepas pantai Nova Scotia, wilayah di timur laut Kanada.

Setelah kematiannya, bangkai paus KOBO dibawa menuju Teluk Narragansett di negara bagian Rhode Island, Amerika Serikat. Di sana, para ahli melakukan proses penanganan khusus: dagingnya dipisahkan, kemudian tulang-tulangnya dibersihkan dengan teliti. Setelah proses ini selesai, kerangka KOBO dirakit kembali menjadi bentuk utuh dan dipajang di museum sebagai bagian dari koleksi edukatif tentang kehidupan laut dan sejarah perburuan paus.

Menurut Bob Rocha, seorang kurator sains di New Bedford Whaling Museum, meskipun proses pembersihan tulang KOBO dilakukan dengan sangat hati-hati dan teliti, tetap saja tidak mungkin untuk menghilangkan seluruh minyak yang tersimpan di dalamnya. Hal ini terjadi karena tulang paus memiliki struktur berpori, mirip seperti spons, yang memungkinkan minyak meresap dan bertahan di dalam rongga-rongganya. Meskipun bagian luar tulang sudah bersih, minyak yang tersimpan jauh di dalam jaringan tulang tetap bisa keluar sedikit demi sedikit seiring waktu. Inilah sebabnya mengapa minyak dari tulang KOBO masih terus merembes meski pausnya telah mati sejak puluhan tahun lalu.

Mengapa tulangnya masih mengeluarkan minyak?

Secara alami, tubuh paus menyimpan banyak minyak, terutama di jaringan lemak tebal di bawah kulitnya yang disebut blubber dan juga di dalam tulangnya. Blubber berfungsi menjaga suhu tubuh paus agar tetap hangat di perairan dingin dan juga menjadi cadangan energi saat makanan langka.

Di masa lalu, minyak paus sangat berharga. Ia digunakan untuk membuat sabun, pelumas, margarin, bahkan bahan peledak. Sebelum minyak bumi ditemukan dan digunakan secara luas, minyak paus juga menjadi sumber utama bahan bakar untuk lampu penerangan.

Fakta bahwa KOBO masih terus mengeluarkan minyak puluhan tahun setelah kematiannya menunjukkan betapa banyaknya minyak yang tersimpan di dalam tulang paus dan betapa sulitnya mengeluarkannya secara tuntas. Minyak tersebut merembes perlahan dari pori-pori tulang, seperti tetesan yang tak kunjung habis. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses pelestarian kerangka paus, karena minyak bisa merusak struktur dan tampilan tulang seiring waktu.

Namun, menurut Rocha, fenomena ini juga memberi nilai tambah bagi pengunjung museum. “Saya senang kerangka ini masih berminyak,” ujarnya. “Pengunjung bisa mencium aroma khas minyak paus dan membayangkan suasana hidup para pemburu paus masa lalu—berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tinggal di kapal, dikelilingi oleh bau lemak dan tulang paus.”

Ternyata, KOBO bukan satu-satunya contoh

Di Natural History Museum, London, kerangka paus kepala busur juga diketahui masih meneteskan minyak meski sudah lebih dari 160 tahun sejak pertama kali dikoleksi. Ini membuktikan bahwa struktur tulang paus yang berpori membuat minyak bisa tertahan dan merembes keluar dalam jangka waktu yang sangat lama.

Secara ilmiah, tulang paus memiliki rongga dan jaringan internal yang menyimpan minyak saat paus masih hidup. Setelah paus mati, minyak ini tidak langsung hilang. Karena proses pelepasannya sangat lambat, tulang-tulang bisa terus mengeluarkan minyak selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Bagi para pengelola museum, minyak yang terus keluar ini adalah tantangan konservasi karena dapat merusak koleksi. Namun bagi para ilmuwan dan masyarakat, fenomena ini juga berfungsi sebagai jendela sejarah—menghidupkan kembali cerita tentang perburuan paus dan bagaimana minyak paus digunakan dalam kehidupan manusia di masa lalu.

REFERENSI:

Large, Holly. 2025. 26 Years After It Died, This Blue Whale’s Skeleton Is Still Oozing Oil. IFL Science: https://www.iflscience.com/26-years-after-it-died-this-blue-whales-skeleton-is-still-oozing-oil-76502 diakses pada tanggal 30 Mei 2025.

Scroll to Top