Jerawat sering muncul pada masa remaja, tetapi banyak orang dewasa juga masih mengalaminya. Masalah kulit ini tidak hanya menimbulkan benjolan merah atau komedo, tetapi juga dapat menyebabkan rasa nyeri, meninggalkan noda kehitaman, bahkan memengaruhi kepercayaan diri seseorang. Banyak penderita jerawat mengaku merasa cemas ketika kondisi kulitnya memburuk, terutama jika jerawat muncul di wajah. Karena itu, para ilmuwan terus mencari cara agar pengobatan jerawat menjadi semakin efektif sekaligus lebih nyaman digunakan. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kombinasi gel lidah buaya dan propolis yang digunakan bersama benzoil peroksida mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan penggunaan benzoil peroksida saja. Temuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan terapi pendamping yang memanfaatkan bahan alami tanpa menggantikan pengobatan medis yang telah terbukti efektif.
Jerawat atau acne vulgaris merupakan salah satu penyakit kulit yang paling umum di dunia. Hampir setiap orang pernah mengalaminya, terutama saat memasuki masa pubertas. Kondisi ini terjadi ketika pori pori kulit tersumbat oleh minyak, sel kulit mati, dan kotoran. Penyumbatan tersebut menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes. Kehadiran bakteri kemudian memicu respons peradangan sehingga muncul benjolan merah, pustula, atau jerawat yang terasa nyeri.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Selama bertahun tahun, benzoil peroksida menjadi salah satu obat yang paling sering direkomendasikan oleh dokter kulit. Obat ini bekerja dengan menghasilkan oksigen aktif yang mampu membunuh bakteri Cutibacterium acnes. Selain itu, benzoil peroksida membantu membersihkan pori pori yang tersumbat sehingga pembentukan jerawat baru dapat dikurangi. Karena mekanismenya tersebut, benzoil peroksida menjadi salah satu terapi lini pertama untuk mengatasi jerawat ringan hingga sedang.
Sayangnya, penggunaan benzoil peroksida tidak selalu memberikan pengalaman yang nyaman bagi semua orang. Banyak pengguna mengeluhkan kulit menjadi kering, terasa perih, mengelupas, kemerahan, atau mengalami iritasi setelah beberapa hari pemakaian. Efek samping inilah yang sering membuat pasien berhenti menggunakan obat sebelum pengobatan selesai. Akibatnya, jerawat dapat kembali muncul karena terapi tidak dijalankan secara optimal.
Para peneliti kemudian mulai mencari bahan alami yang mampu membantu mengurangi efek samping tersebut tanpa mengurangi efektivitas pengobatan. Dua bahan yang menarik perhatian adalah propolis dan lidah buaya. Keduanya telah lama digunakan dalam berbagai produk kesehatan kulit dan memiliki sejumlah sifat biologis yang mendukung proses penyembuhan.
Propolis merupakan zat alami yang dihasilkan lebah dari getah tanaman. Lebah menggunakan propolis untuk melindungi sarang dari bakteri, jamur, dan mikroorganisme lain. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa propolis mengandung flavonoid, asam fenolat, dan berbagai senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antibakteri, antiradang, antioksidan, serta mampu membantu proses penyembuhan jaringan.
Sementara itu, lidah buaya terkenal sebagai tanaman yang sering digunakan untuk mengatasi iritasi kulit dan luka ringan. Gel lidah buaya mengandung polisakarida seperti acemannan, berbagai vitamin, mineral, enzim, serta senyawa antioksidan. Kandungan tersebut membantu menjaga kelembapan kulit, mengurangi peradangan, dan mendukung regenerasi sel kulit yang rusak. Oleh karena itu, para peneliti menduga bahwa lidah buaya dapat membantu mengurangi iritasi yang sering muncul selama penggunaan benzoil peroksida.
Untuk menguji dugaan tersebut, para ilmuwan melakukan penelitian klinis yang dipublikasikan dalam jurnal Dermatologic Therapy pada tahun 2026. Penelitian menggunakan metode uji klinis acak tersamar ganda yang merupakan salah satu desain penelitian paling kuat dalam dunia kedokteran. Sebanyak 72 peserta berusia antara 15 hingga 29 tahun yang mengalami jerawat derajat sedang hingga berat dibagi menjadi dua kelompok secara acak.
Seluruh peserta tetap menggunakan benzoil peroksida lima persen sebagai terapi utama. Kelompok pertama memperoleh tambahan gel yang mengandung ekstrak propolis dan gel lidah buaya, sedangkan kelompok kedua hanya menggunakan benzoil peroksida. Pengobatan dilakukan selama delapan minggu sehingga para peneliti dapat membandingkan hasil kedua kelompok secara objektif.
Para peneliti tidak hanya menghitung jumlah jerawat yang muncul. Mereka juga mengukur jumlah bakteri Cutibacterium acnes, kadar molekul peradangan seperti TNF alfa dan IL enam, serta perubahan hiperpigmentasi atau noda kehitaman bekas jerawat menggunakan alat analisis kulit. Dengan cara tersebut, penelitian dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai perubahan yang terjadi selama terapi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami perbaikan karena sama sama menggunakan benzoil peroksida. Namun, kelompok yang memperoleh tambahan propolis dan lidah buaya menunjukkan hasil yang lebih baik pada berbagai parameter yang diamati.
Jumlah bakteri Cutibacterium acnes menurun lebih besar pada kelompok yang menggunakan kombinasi bahan alami tersebut. Penurunan jumlah bakteri menjadi salah satu faktor penting karena bakteri ini berperan besar dalam memicu peradangan dan memperburuk kondisi jerawat. Semakin sedikit jumlah bakteri, semakin kecil pula peluang munculnya peradangan baru.
Selain mengurangi jumlah bakteri, kombinasi propolis dan lidah buaya juga berhasil menurunkan kadar TNF alfa yang merupakan salah satu penanda utama peradangan. Hasil ini menunjukkan bahwa kulit mengalami respons peradangan yang lebih ringan dibandingkan kelompok yang hanya menggunakan benzoil peroksida. Penurunan kadar IL enam juga menunjukkan kecenderungan yang sama, meskipun besar penurunannya tidak sebesar TNF alfa.

Temuan lain yang cukup menarik berkaitan dengan hiperpigmentasi pascaperadangan. Banyak penderita jerawat merasa terganggu oleh noda hitam yang tetap bertahan meskipun jerawat sudah menghilang. Dalam penelitian ini, kelompok yang menggunakan propolis dan lidah buaya mengalami penurunan hiperpigmentasi yang jauh lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Artinya, kombinasi kedua bahan alami tersebut tidak hanya membantu mengatasi jerawat aktif, tetapi juga berpotensi mempercepat pemudaran bekas jerawat.
Para peneliti menjelaskan bahwa manfaat tersebut kemungkinan berasal dari kerja sama beberapa mekanisme sekaligus. Benzoil peroksida tetap menjadi senjata utama untuk membunuh bakteri penyebab jerawat. Propolis membantu meningkatkan aktivitas antibakteri sekaligus mengurangi proses peradangan. Lidah buaya menjaga kelembapan kulit, membantu memperbaiki lapisan pelindung kulit, serta mengurangi iritasi yang sering muncul akibat penggunaan benzoil peroksida. Ketiga mekanisme tersebut saling melengkapi sehingga menghasilkan terapi yang lebih efektif.
Keunggulan lain dari penelitian ini adalah tidak ditemukannya peningkatan efek samping pada kelompok yang menggunakan propolis dan lidah buaya. Bahkan, para peneliti menyebutkan bahwa berbagai penelitian sebelumnya juga menunjukkan kemampuan kedua bahan alami tersebut dalam membantu mengurangi rasa kering, kemerahan, dan iritasi akibat penggunaan benzoil peroksida. Kondisi kulit yang lebih nyaman diharapkan membuat pasien lebih disiplin menjalani terapi hingga selesai.
Walaupun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, masyarakat tetap perlu memahami bahwa lidah buaya dan propolis bukan pengganti benzoil peroksida. Penelitian justru menunjukkan bahwa manfaat terbaik diperoleh ketika kedua bahan alami tersebut digunakan sebagai terapi pendamping. Oleh karena itu, penderita jerawat sebaiknya tidak menghentikan pengobatan yang diresepkan dokter hanya karena melihat hasil penelitian ini. Penggunaan produk tambahan juga sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu agar sesuai dengan kondisi kulit masing masing.
Penelitian ini juga masih memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah peserta hanya 72 orang sehingga masih diperlukan penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar. Masa pengamatan selama delapan minggu juga belum dapat menunjukkan apakah manfaat tersebut bertahan dalam jangka panjang atau mampu mencegah kekambuhan jerawat setelah terapi dihentikan. Penelitian lanjutan dengan waktu pengamatan yang lebih panjang akan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai efektivitas kombinasi ini.
Meskipun demikian, penelitian ini memberikan bukti bahwa perpaduan antara pengobatan modern dan bahan alami dapat menghasilkan pendekatan terapi yang lebih baik. Gel lidah buaya dan propolis tidak menggantikan obat utama, tetapi mampu mendukung kerja benzoil peroksida dengan mengurangi jumlah bakteri, meredakan peradangan, membantu memudarkan bekas jerawat, serta berpotensi membuat kulit lebih nyaman selama menjalani pengobatan. Jika hasil ini terus dikonfirmasi oleh penelitian berikutnya, kombinasi tersebut dapat menjadi salah satu pilihan terapi pendamping yang membantu jutaan penderita jerawat memperoleh hasil pengobatan yang lebih optimal dengan efek samping yang lebih ringan.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Megantara, Imam dkk. 2026. Efficacy of Topical Propolis and Aloe vera Gel as an Adjuvant to Benzoyl Peroxide in Moderate Acne Vulgaris: A Randomized Controlled Trial. Dermatologic Therapy 2026 (1), 8836260.

