Penemuan Mumi Mengungkap Sejarah Budaya Wari di Peru

Sejarah budaya, sebagai sebuah disiplin ilmu, sering kali menggabungkan pendekatan antropologi dan sejarah untuk melihat tradisi budaya populer dan interpretasi […]

Sejarah budaya, sebagai sebuah disiplin ilmu, sering kali menggabungkan pendekatan antropologi dan sejarah untuk melihat tradisi budaya populer dan interpretasi budaya dari pengalaman sejarah. Bidang ilmu ini meneliti rekaman dan naras deskriptif mengenai pengetahuan pada masa lalu, adat istiadat, dan seni dari sekumpulan masyarakat. Bidang ilmu ini meneliti mengenai event yang terjadi dari masa lalu hingga masa kini dan masa depan yang membentuk sebuah budaya.

Sejarah budaya merekam dan menginterpretasi kejadian pada masa lalu yang berkaitan dengan manusia melalui sosial, budaya, dan politik, atau hal yang terkait dengan seni dan hal-hal yang diprioritaskan oleh sebuah kelompok. Jacob Burckhardt merupakan orang yang membuat sejarah budaya menjadi sebuah disiplin ilmu. Sejarah budaya mempelajari dan menginterpretasi catatan masyarakat dengan memperhatikan berbagai cara berbeda yang digunakan oleh manusia untuk membentuk sebuah kelompok. Sejarah budaya termasuk diantaranya aktivitas budaya pada masa lalu, seperti upacara, latihan dan interaksi dengan masyarakat setempat.

Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan umat (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, nilai-nilai budaya, norma, kebiasaan, hukum adat dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi). Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun teknik survei masih dilakukan. Arkeolog adalah sebutan untuk para sarjana, praktisi, atau ahli di bidang arkeologi.

Tujuan arkeologi beragam dan menjadi perdebatan yang panjang. Di antaranya adalah yang disebut dengan paradigma arkeologi, yaitu menyusun sejarah kebudayaan, memahami perilaku manusia, serta mengerti proses perubahan budaya. Karena bertujuan untuk memahami budaya manusia, maka ilmu ini termasuk ke dalam kelompok ilmu humaniora. Meskipun demikian, terdapat berbagai ilmu bantu yang digunakan, antara lain sejarah, antropologi, geologi (dengan ilmu tentang lapisan pembentuk bumi yang menjadi acuan relatif umur suatu temuan arkeologis), geografi, arsitektur, paleoantropologi dan bioantropologi, fisika (antara lain dengan karbon C-14 untuk mendapatkan pertanggalan mutlak), ilmu metalurgi (untuk mendapatkan unsur-unsur suatu benda logam), serta filologi (mempelajari naskah lama).

Arkeologi pada masa sekarang merangkumi berbagai bidang yang berkait. Sebagai contoh, penemuan mayat yang dikubur akan menarik minat pakar dari berbagai bidang untuk mengkaji tentang pakaian dan jenis bahan yang digunakan, bentuk keramik dan cara penyebaran, kepercayaan melalui apa yang dikebumikan bersama mayat tersebut, pakar kimia yang mampu menentukan usia galian melalui cara seperti metode pengukuran karbon C-14. Sedangkan pakar genetik yang ingin mengetahui pergerakan perpindahan manusia purba, meneliti DNA-nya.

Para arkeolog di Peru menemukan kuburan setidaknya 73 mumi yang berasal dari sekitar 1.000 tahun yang lalu, beberapa ratus tahun sebelum suku Inca mengambil alih bagian barat Amerika Selatan.

Masing-masing dari 73 individu tersebut dibungkus dengan kain yang beberapa di antaranya berwarna-warni. Beberapa jenazah pria dan wanita dikuburkan dengan menggunakan topeng yang terbuat dari kayu berukir dan keramik yang disebut false head (kepala palsu).

“Kuburan tersebut ditemukan di dekat Lima di situs arkeologi Pachacámac, milik budaya Wari. Mereka dimakamkan di dekat Kuil Lukis Wari dan dibangun antara tahun 800 hingga 1100, saat Kerajaan Wari berkembang di wilayah tersebut,” kata Krzysztof Makowski, kepala penelitian arkeologi di situs tersebut dan arkeolog di Pontifical Catholic University of Peru.

Dikutip dari Scientific American, Jumat (29/12/2023) penggalian arkeologi itu juga menemukan keberadaan keramik warna-warni di beberapa kuburan. Suku Wari terkenal dengan mumi yang terpelihara dengan baik, karya seni yang rumit, termasuk keramik dan kain yang dirancang dengan rumit. Mereka juga melakukan ritual mengorbankan manusia dan menggunakan halusinogen. Temuan tongkat kayuSelain itu, para arkeolog menemukan dua tongkat kayu di dekat kuburan di sisa-sisa pemukiman terdekat. Mereka ditemukan dalam sisa-sisa cangkang tiram berduri (Spondylus Princeps) yang mungkin diimpor dari tempat yang sekarang disebut Ekuador, yang terletak di utara Kekaisaran Wari.

Kedua tongkat tersebut telah mengukir ikonografi yang menunjukkan bahwa orang-orang di Pachacámac memiliki tingkat kontak tertentu dengan orang-orang di kerajaan Tiwanaku, yang terletak di selatan Kekaisaran Wari di tempat yang sekarang menjadi bagian dari Peru, Bolivia, dan Chili.

Masing-masing tongkat memiliki ukiran yang menggambarkan seorang pejabat yang mengenakan tutup kepala yang mirip dengan yang dikenakan orang-orang di kerajaan Tiwanaku.

Penggalian di Pachacámac dan analisis sisa-sisanya sedang berlangsung. Dalam bahasa Quechea yang dituturkan oleh penduduk asli Andes, nama Pachacámac berarti orang yang memberi kehidupan pada Bumi.Penelitian arkeologi ini menunjukkan bahwa Pachacámac adalah pemukiman yang relatif sederhana pada masa Kekaisaran Wari tetapi kemudian berkembang pesat pada masa Inca yang berkembang pada abad ke-15. Situs ini menjadi lokasi utama peribadatan keagamaan pada masa suku Inca pada abad ke-15.

REFERENSI:

  • Arcangeli, Alessandro. (2011) Cultural History: A Concise Introduction (Routledge, 2011)
  • Burke, Peter. (2004). What is Cultural History?. Cambridge: Polity Press.
  • Ginzburg, Carlo (1989). Clues, Myths and the Historical Method. Baltimore, MD: Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-4388-X. Ginzburg “challenges us all to retrieve a cultural and social world that more conventional history does not record.” -Back Cover
  • Hérubel, Jean-Pierre V.M.. (2010, January). “Observations on an Emergent Specialization: Contemporary French Cultural History. Significance for Scholarship.” Journal of Scholarly Publishing, Volume 41, Number 2, pp. 216–240.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top