Mengungkap Misteri Penyakit Wasting pada Bintang Laut: Harapan Baru untuk Ekosistem Laut

Bintang laut, salah satu makhluk laut yang paling ikonik, telah menjadi korban dari penyakit yang menghancurkan populasi mereka di sepanjang […]

Bintang laut bunga matahari telah didorong ke ujung kepunahan oleh penyakit pemborosan bintang laut

Bintang laut, salah satu makhluk laut yang paling ikonik, telah menjadi korban dari penyakit yang menghancurkan populasi mereka di sepanjang pantai Amerika Utara. Penyakit ini, yang dikenal sebagai sea star wasting disease (SSWD), telah menimbulkan dampak ekologi yang luas dan mengancam kelangsungan hidup beberapa spesies bintang laut hingga ambang kepunahan. Namun, penelitian terbaru memberikan secercah harapan dengan mengidentifikasi penyebab utama penyakit ini: bakteri Vibrio pectenicida.

Penyakit Wasting pada Bintang Laut: Sebuah Epidemi Laut yang Mengkhawatirkan

SSWD pertama kali mencuri perhatian pada tahun 2013, ketika para peneliti mulai menyadari bahwa bintang laut di sepanjang pantai Pasifik Amerika Utara menunjukkan gejala yang mengerikan. Penyakit ini memengaruhi lebih dari 20 spesies bintang laut, mulai dari perairan dingin Alaska hingga laut hangat di sekitar Meksiko.

Gejala penyakit ini sangat mengerikan. Bintang laut yang terinfeksi awalnya berhenti makan dan menunjukkan lesi putih di tubuh mereka. Lesi ini menandai kerusakan jaringan lunak, yang kemudian menyebar ke sistem vaskular air mereka – sistem unik yang digunakan bintang laut untuk bergerak. Ketika sistem ini rusak, tubuh bintang laut menjadi lemas, dan lengan mereka mulai terlepas, bahkan terkadang bergerak sendiri seolah-olah sedang “menghancurkan diri”. Akhirnya, tubuh bintang laut sepenuhnya hancur menjadi massa berlendir.

Sunflower sea star (Pycnopodia helianthoides) menjadi korban terbesar dari epidemi ini, dengan lebih dari 90% populasinya hilang dalam waktu kurang dari satu dekade. Penurunan drastis ini menjadikan spesies tersebut masuk dalam kategori “Kritis Terancam Punah” oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dampak Ekologis yang Meluas

Penyakit wasting pada bintang laut tidak hanya menghancurkan populasi spesies tersebut, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem laut di wilayah pantai Pasifik Utara. Bintang laut adalah predator alami bagi bulu babi (sea urchins), yang biasanya memangkas populasi mereka agar tidak berlebihan. Namun, dengan berkurangnya jumlah bintang laut, populasi bulu babi melonjak tanpa kendali.

Lonjakan jumlah bulu babi menyebabkan kerusakan serius pada hutan kelp – ekosistem bawah laut yang penting bagi berbagai spesies laut dan manusia. Hutan kelp tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi banyak makhluk laut, tetapi juga berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang membantu melawan perubahan iklim. Kehilangan hutan kelp akibat ledakan populasi bulu babi menciptakan efek domino yang berdampak pada seluruh ekosistem laut.

Dr Melanie Prentice, penulis utama penelitian ini, menjelaskan bahwa efek dari kehilangan bintang laut sangat luas dan kompleks. “Ketika kita kehilangan miliaran bintang laut, itu benar-benar mengubah dinamika ekologi,” katanya. “Kehilangan hutan kelp memiliki implikasi besar bagi semua spesies laut lainnya dan bahkan manusia yang bergantung pada ekosistem tersebut.”

Mengungkap Penyebab Utama: Vibrio pectenicida

Meskipun dampaknya sangat besar, memahami apa yang sebenarnya menyebabkan SSWD telah menjadi tantangan bagi para ilmuwan selama bertahun-tahun. Penyakit ini berkembang sangat cepat – beberapa bintang laut mati dalam waktu kurang dari seminggu setelah terpapar – sehingga sulit untuk mempelajari prosesnya secara mendalam. Selain itu, respons bintang laut terhadap berbagai stres dan penyakit sering kali serupa, membuat identifikasi penyebab spesifik menjadi lebih rumit.

Awalnya, para peneliti menduga bahwa virus mungkin menjadi penyebab SSWD. Namun, serangkaian tes membantah teori tersebut. Baru setelah empat tahun eksperimen intensif, tim peneliti dari Amerika Serikat dan Kanada berhasil mengidentifikasi bakteri Vibrio pectenicida sebagai pelaku utama di balik penyakit ini.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan bintang laut sunflower sea star yang dibesarkan di laboratorium. Para peneliti mengekspos bintang laut ini ke bagian tubuh bintang laut yang terinfeksi, baik melalui kontak langsung maupun injeksi cairan tubuh yang terkontaminasi. Hasilnya menunjukkan bahwa 92% bintang laut yang terpapar akhirnya mati karena SSWD. Namun, jika cairan tubuh tersebut disaring atau dipanaskan terlebih dahulu, infeksi tidak terjadi – menunjukkan bahwa penyebab penyakit ini adalah organisme hidup.

Analisis lebih lanjut terhadap cairan tubuh bintang laut sehat dan terinfeksi menunjukkan perbedaan mencolok: kehadiran bakteri Vibrio. Dr Alyssa Gehman, salah satu penulis penelitian, menggambarkan momen tersebut sebagai titik balik dalam penelitian mereka. “Ketika kami membandingkan cairan tubuh dari bintang laut sehat dan terinfeksi, hanya ada satu hal yang berbeda: Vibrio. Kami semua merasa merinding. Kami pikir, ‘Ini dia. Kami menemukannya.'”

Untuk memastikan temuan ini, tim mengekstraksi bakteri dari bintang laut yang sakit, menumbuhkan strain murni, dan menyuntikkannya ke bintang laut sehat. Hasilnya konsisten: bintang laut segera menunjukkan gejala SSWD dan akhirnya mati. Penelitian tambahan di perairan British Columbia juga mengonfirmasi bahwa bakteri hanya ditemukan setelah wabah penyakit terjadi.

Langkah Selanjutnya: Memahami dan Mengatasi Penyakit

Identifikasi Vibrio pectenicida sebagai penyebab SSWD merupakan langkah besar dalam memahami epidemi ini. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengatasi penyebarannya. Salah satu fokus utama penelitian selanjutnya adalah memahami bagaimana bakteri ini menyebabkan penyakit pada bintang laut. Diketahui bahwa Vibrio pectenicida menghasilkan toksin ketika menginfeksi kerang jenis scallop, sehingga ada kemungkinan mekanisme serupa terjadi pada bintang laut.

Selain itu, penyebaran SSWD diketahui lebih cepat di perairan hangat – sebuah fakta yang menjadi perhatian besar di tengah pemanasan global akibat perubahan iklim. Dengan suhu lautan yang terus meningkat, risiko wabah massal di wilayah lain di dunia semakin besar. Memahami hubungan antara suhu air dan penyebaran penyakit dapat menjadi kunci untuk mencegah wabah di masa depan.

Dr Hugh Carter, kurator invertebrata laut dan ahli bintang laut, menekankan pentingnya penelitian lanjutan untuk mengelola SSWD secara efektif. “Mengetahui bakteri penyebabnya adalah langkah besar ke depan,” katanya. “Namun lingkungan laut adalah ekosistem tiga dimensi yang dinamis, sehingga sulit untuk melakukan karantina atau pengobatan secara efektif.”

Harapan untuk Masa Depan

Terlepas dari tantangan yang ada, temuan ini memberikan harapan baru bagi upaya pelestarian bintang laut dan ekosistem pantai Pasifik Utara secara keseluruhan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang penyebab penyakit wasting pada bintang laut, para ilmuwan kini memiliki peluang untuk mendeteksi wabah lebih awal dan merancang strategi mitigasi yang lebih efektif.

Penyakit wasting bukan hanya ancaman bagi bintang laut; ia adalah simbol dari kerentanan ekosistem laut terhadap perubahan lingkungan dan intervensi manusia. Dengan terus mendalami penelitian tentang SSWD dan dampaknya, kita dapat mengambil langkah-langkah penting untuk melindungi keanekaragaman hayati lautan – demi masa depan planet kita yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Referensi

  1. Prentice, M. B., Crandall, G. A., Chan, A. M., et al. (2025, Agustus 4). Vibrio pectenicida strain FHCF-3 is a causative agent of sea star wasting disease. Nature Ecology & Evolution. PubMedNature
  2. “Scientists identify bacterium behind West Coast sea star die-off.” Axios. (5 Agustus 2025). Axios
  3. “5 Billion Sea Stars Have Shattered and Died Over the Past 10 Years, Scientists May Finally Know Why.” People.com. (kurang lebih 5 hari lalu). People.com
  4. “Mystery of why sea stars keep turning into goo finally solved – and it’s not what scientists thought.” LiveScience. (sekitar 5 hari lalu). Live Science
  5. “Scientists solve mystery behind massive sea star die-off along Pacific Coast.” San Francisco Chronicle. (sekitar 5–6 hari lalu). San Francisco Chronicle
  6. “Scientists say they’ve solved the mystery of starfish that turn to goo.” The Washington Post. (sekitar minggu lalu). The Washington Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top