Perbedaan antara Dry Bulb Temperature dan Wet Bulb Temperature

Suhu udara adalah salah satu parameter penting dalam memahami kondisi lingkungan atmosfer. Dalam kaitannya dengan pengukuran suhu udara, terdapat dua […]

Suhu udara adalah salah satu parameter penting dalam memahami kondisi lingkungan atmosfer. Dalam kaitannya dengan pengukuran suhu udara, terdapat dua istilah penting yang sering digunakan: “dry bulb temperature” (suhu bola kering) dan “wet bulb temperature” (suhu bola basah). Kedua istilah ini merujuk pada dua jenis pengukuran suhu yang memberikan informasi berbeda tentang keadaan udara di sekitar kita. Mari kita bahas perbedaan antara dry bulb temperature dan wet bulb temperature.

1. Dry Bulb Temperature (Suhu Bola Kering):

Suhu bola kering mengacu pada suhu udara yang diukur dengan menggunakan termometer biasa atau termometer digital standar. Ini adalah jenis pengukuran suhu yang paling umum dan sering kali disebut sebagai “suhu udara” secara sederhana. Pengukuran ini tidak memperhitungkan kelembaban udara atau uap air yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, suhu bola kering memberikan gambaran tentang sejauh mana suhu udara yang diukur tersebut.

2. Wet Bulb Temperature (Suhu Bola Basah):

Suhu bola basah adalah suhu yang diukur dengan menggunakan termometer yang dililitkan kain basah di sekitar bola/pangkal termometer sebagaimana dijelaskan pada gambar berikut.

blank
Perbedaan dry bulb temperature (kiri) dan wet bulb temperature (kanan)

Saat air di kain basah menguap, hal tersebut akan menyerap panas dari termometer, menyebabkan suhu pada termometer menjadi turun. Proses ini mensimulasikan pendinginan yang terjadi ketika uap air menguap dari kulit manusia, seperti yang terjadi dalam kondisi pengukuran skala yang lebih besar, seperti iklim. Oleh karena itu, suhu bola basah memberikan gambaran tentang pendinginan evaporatif yang terjadi dalam lingkungan tersebut.

Perbedaan Utama:

  1. Informasi yang Diberikan:
    • Dry Bulb Temperature: Memberikan informasi tentang suhu udara aktual di lokasi pengukuran.
    • Wet Bulb Temperature: Memberikan gambaran tentang sejauh mana pendinginan evaporatif berpengaruh pada suhu udara. Ini mengindikasikan seberapa nyaman atau panas perasaan manusia akan tergantung pada tingkat kelembaban udara.
  2. Pengukuran:
    • Dry Bulb Temperature: Diukur dengan menggunakan termometer biasa tanpa ada pengaruh uap air.
    • Wet Bulb Temperature: Diukur dengan menggunakan termometer yang dililitkan dengan kain basah, sehingga perhitungan melibatkan efek pendinginan evaporatif.
  3. Aplikasi:
    • Dry Bulb Temperature: Penting dalam berbagai aplikasi, termasuk meteorologi, klimatologi, dan kendali iklim dalam bangunan.
    • Wet Bulb Temperature: Digunakan dalam perhitungan terkait kesejukan manusia, penilaian potensial heat stress (tekanan panas), serta dalam perencanaan sistem pendingin dan udara.

Dalam kesimpulannya, perbedaan antara dry bulb temperature dan wet bulb temperature mencerminkan fokus mereka masing-masing pada suhu udara aktual dan dampak pendinginan evaporatif. Keduanya adalah parameter penting dalam memahami kondisi lingkungan udara dan dampaknya pada manusia dan sistem.

Mengukur wet bulb temperature menggunakan sensor DHT11

Sensor DHT11 adalah sensor yang umumnya digunakan untuk mengukur suhu dan kelembaban udara. Namun, sensor ini tidak secara langsung mengukur wet bulb temperature, karena itu melibatkan proses khusus dengan menggunakan kain basah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, Anda dapat melakukan aproksimasi suhu bola basah dengan menggunakan nilai suhu dan kelembaban yang diukur oleh sensor DHT11.

Berikut adalah langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengukur suhu bola basah secara aproksimatif dengan sensor DHT11:

Bahan yang Diperlukan:

  1. Sensor DHT11
  2. Mikrokontroler (seperti Arduino atau Raspberry Pi)
  3. Kabel jumper

Langkah-langkah:

  1. Hubungkan Sensor DHT11: Sambungkan sensor DHT11 ke mikrokontroler Anda menggunakan kabel jumper. Pastikan Anda mengikuti petunjuk pinout yang disediakan oleh sensor DHT11.
  2. Program Mikrokontroler: Buat program untuk membaca data suhu dan kelembaban dari sensor DHT11. Jika Anda menggunakan Arduino, Anda perlu menginstal library DHT untuk mendukung sensor ini. Berikut adalah contoh program sederhana untuk membaca data dari sensor DHT11 menggunakan Arduino:
cppCopy code#include <DHT.h>

#define DHTPIN 2       // Pin data sensor DHT11 terhubung ke pin 2
#define DHTTYPE DHT11  // Jenis sensor DHT

DHT dht(DHTPIN, DHTTYPE);

void setup() {
  Serial.begin(9600);
  dht.begin();
}

void loop() {
  float temperature = dht.readTemperature(); // Membaca suhu dalam derajat Celsius
  float humidity = dht.readHumidity();       // Membaca kelembaban dalam persen

  // Menampilkan data suhu dan kelembaban pada Serial Monitor
  Serial.print("Suhu: ");
  Serial.print(temperature);
  Serial.print(" °C - Kelembaban: ");
  Serial.print(humidity);
  Serial.println(" %");

  delay(2000); // Jeda 2 detik sebelum membaca data lagi
}
  1. Perhitungan Suhu Bola Basah (Aproksimasi): Setelah Anda memiliki data suhu (dalam derajat Celsius) dan kelembaban (dalam persen), Anda dapat menggunakan rumus aproksimasi untuk menghitung suhu bola basah:
plaintextCopy codeTwb = T - ((100 - RH) / 5)

Dalam rumus ini:

  • Twb adalah suhu bola basah yang dihitung (dalam derajat Celsius).
  • T adalah suhu udara (dalam derajat Celsius) yang diukur oleh sensor DHT11.
  • RH adalah kelembaban relatif udara (dalam persen) yang diukur oleh sensor DHT11.

Harap diingat bahwa ini hanya merupakan pendekatan aproksimatif dan mungkin tidak memberikan hasil yang sangat akurat seperti pengukuran suhu bola basah yang sebenarnya dengan menggunakan kain basah.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat mencoba melakukan aproksimasi suhu bola basah menggunakan sensor DHT11. Namun, jika Anda memerlukan hasil yang lebih akurat, lebih baik menggunakan peralatan yang dirancang khusus untuk mengukur suhu bola basah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *