Remaja hidup dalam masa penuh perubahan. Mereka sedang membangun jati diri, mengatur emosi, dan belajar memahami dunia. Pada saat yang sama, banyak daerah kini mengalami bencana alam yang semakin sering seperti banjir, kebakaran hutan, badai, dan kekeringan. Perubahan iklim membuat bencana datang lebih cepat dan lebih sering daripada beberapa dekade sebelumnya. Dalam kondisi ini, pertanyaan penting muncul. Bagaimana kesehatan mental remaja terpengaruh ketika mereka tidak hanya menghadapi satu bencana, tetapi beberapa bencana dalam waktu berdekatan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Adolescent Health tahun 2025 memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Studi ini meneliti hubungan antara paparan bencana dan perilaku remaja dengan menggunakan data jangka panjang dari ribuan remaja Australia. Hasilnya memberikan gambaran jelas bahwa bencana alam bukan hanya merusak bangunan dan lingkungan, tetapi juga mempengaruhi cara remaja berperilaku dan merespons dunia di sekeliling mereka.
Baca juga artikel tentang: Bumi Terancam! Asteroid Bennu Bisa Sebabkan Bencana Global seperti Kiamat
Mengapa Remaja Lebih Rentan
Remaja sedang berada pada tahap perkembangan di mana otak, emosi, dan kemampuan mengambil keputusan masih berubah dengan cepat. Ketika bencana terjadi, banyak hal di sekitar mereka ikut terguncang. Rumah rusak, sekolah terganggu, orang tua kehilangan pekerjaan, atau lingkungan sosial berubah drastis. Keadaan tidak menentu ini dapat menjadi tekanan besar yang tidak selalu mudah diatasi.
Penelitian ini juga membedakan dua jenis bencana. Bencana yang datang mendadak seperti banjir, badai, dan kebakaran hutan, serta bencana yang berkembang perlahan seperti kekeringan panjang. Kedua jenis bencana ini memberikan dampak berbeda terhadap keseharian remaja.
Cara Studi Ini Dilakukan
Para peneliti mengikuti remaja selama beberapa tahun melalui lima gelombang survei nasional di Australia. Mereka mencatat apakah remaja mengalami satu atau beberapa bencana dalam satu tahun terakhir dan mencatat perilaku mereka menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire. Instrumen ini banyak digunakan di berbagai negara untuk menilai kondisi emosional dan sosial anak serta remaja.
Survei tidak hanya berfokus pada emosi. Peneliti juga melihat perilaku eksternal seperti masalah kedisiplinan atau konflik dengan teman. Semua faktor digabungkan dengan variabel lain seperti kondisi ekonomi keluarga dan lokasi geografis agar hasilnya lebih akurat.
Paparan Bencana Berulang dan Masalah Perilaku
Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang terkena dua atau lebih bencana dalam dua belas bulan terakhir memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami masalah perilaku. Masalah ini termasuk meningkatnya kecenderungan melanggar aturan, kesulitan mengendalikan emosi, atau konflik dengan orang lain. Kondisi ini dapat membuat remaja tampak lebih agresif atau lebih mudah marah dibandingkan teman sebaya yang tidak mengalami bencana berulang.
Dampak ini tidak hanya muncul pada satu jenis bencana. Kombinasi antara bencana mendadak dan bencana yang berkembang perlahan menyebabkan tekanan berlapis yang sulit diabaikan. Remaja yang beberapa kali mengalami kebakaran hutan kemudian menghadapi kekeringan panjang memiliki beban emosional yang sangat besar.
Masalah dengan Teman Sebaya
Penelitian juga menunjukkan bahwa paparan terhadap beberapa bencana mendadak dalam dua gelombang survei sebelumnya terkait kuat dengan meningkatnya masalah dalam hubungan pertemanan. Remaja menjadi lebih sulit berinteraksi secara positif. Mereka mungkin menjadi lebih tertutup, kurang percaya pada orang lain, atau merasakan tekanan sosial yang lebih berat.
Hubungan dengan teman merupakan aspek penting dalam perkembangan remaja. Ketika hubungan ini terganggu, dampaknya dapat meluas ke sekolah, keluarga, hingga masa depan psikologis mereka.
Bencana Tunggal Tidak Memberikan Dampak Sama Besar
Menariknya, penelitian menemukan bahwa paparan terhadap satu bencana mendadak atau satu bencana yang berlangsung lama tidak memberikan dampak signifikan pada hasil tes perilaku. Hal ini menunjukkan bahwa remaja memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik ketika menghadapi satu krisis. Namun kemampuan ini tidak cukup ketika bencana terjadi berulang dan menumpuk.
Hasil ini juga mengingatkan kita bahwa frekuensi bencana adalah faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Dalam situasi di mana bencana terjadi satu kali, remaja masih mampu menerima dukungan dari keluarga, sekolah, dan komunitas. Akan tetapi ketika bencana datang berturut turut, dukungan ini sering tidak lagi cukup.
Ketika Adaptasi Tidak Cukup
Penelitian ini memberikan pesan penting. Paparan terhadap beberapa bencana tidak membuat remaja semakin terbiasa. Sebaliknya, tekanan yang berlapis membuat kesejahteraan psikologis mereka semakin menurun. Akibatnya remaja tidak hanya mengalami kesulitan sementara. Dampak jangka panjang mungkin muncul jika tidak ada intervensi yang tepat.
Para peneliti menegaskan bahwa remaja yang menghadapi bencana berturut turut justru lebih menderita dibandingkan teman sebaya yang hanya mengalami satu bencana. Temuan ini menepis anggapan bahwa remaja akan otomatis menjadi lebih kuat setelah berulang kali menghadapi situasi krisis.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Membantu Remaja
Memahami dampak bencana terhadap kesehatan mental remaja sangat penting untuk merancang kebijakan tepat sasaran. Komunitas, sekolah, dan pemerintah daerah dapat mengambil sejumlah langkah kunci.
Sekolah dapat menyediakan layanan konseling reguler bagi siswa yang terdampak bencana. Guru perlu diberi pelatihan untuk mengenali tanda tanda stres berat pada murid. Pemerintah daerah dapat memperkuat program kesehatan mental dan memastikan bahwa keluarga mendapat dukungan setelah bencana. Komunitas dapat berperan menciptakan ruang aman bagi remaja agar mereka bisa berbagi cerita dan menjaga hubungan sosial.
Bencana alam yang semakin sering bukan hanya persoalan infrastruktur atau ekonomi. Dampaknya menembus ruang yang lebih pribadi yaitu dunia batin remaja. Penelitian dari Australia ini menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap bencana memberikan tekanan besar pada perkembangan perilaku dan kesehatan mental mereka. Upaya perlindungan dan dukungan psikologis menjadi sama pentingnya dengan pembangunan kembali rumah dan fasilitas publik.
Remaja adalah generasi masa depan. Melindungi kesehatan mental mereka berarti melindungi masa depan itu sendiri.
Baca juga artikel tentang: Farmasi dalam Bencana: Peran Apoteker saat Krisis Kesehatan Global
REFERENSI:
Campbell, Paul dkk. 2025. Exposure to multiple natural disasters and externalising and internalising behavior: a longitudinal study of adolescents. Journal of Adolescent Health 76 (1), 89-95.

