Bencana alam terus membayangi kehidupan jutaan warga Amerika dan kenyataannya semakin banyak orang kehilangan tempat tinggal akibat kejadian yang datang tiba tiba itu. Data terbaru menunjukkan bahwa pergeseran iklim dan meningkatnya intensitas bencana tidak hanya merusak infrastruktur tetapi juga merobek jaring pengaman sosial masyarakat. Sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health memberikan gambaran rinci tentang betapa seriusnya masalah ini dan siapa saja yang paling menderita karenanya.
Penelitian ini dilakukan oleh Ther W Aung dan Ashwini R Sehgal. Mereka mengolah data dari sepuluh survei nasional besar yang dilakukan oleh Census Bureau Household Pulse Survey sepanjang Desember 2022 hingga September 2023. Survei ini mencakup lebih dari dua ratus juta orang dewasa di Amerika Serikat dan menyoroti proporsi warga yang pernah terpaksa meninggalkan rumah mereka karena bencana alam.
Baca juga artikel tentang: Bumi Terancam! Asteroid Bennu Bisa Sebabkan Bencana Global seperti Kiamat
Angka yang muncul mungkin terlihat kecil pada pandangan pertama, yaitu sekitar satu koma lima persen dari populasi dewasa. Namun jika dihitung ulang, jumlah itu berarti lebih dari tiga juta orang dewasa mengalami pengungsian dalam satu tahun. Bayangkan tiga juta manusia yang harus memutus rutinitas mereka, meninggalkan rumah yang mungkin mereka bangun selama puluhan tahun, dan memulai hari hari gelap karena situasi yang sama sekali tidak mereka pilih.
Lebih menarik lagi, penelitian ini memerinci siapa saja yang lebih mungkin menjadi korban pengungsian akibat bencana. Kelompok warga kulit berwarna, komunitas LGBTQ, penyandang disabilitas, serta warga berpendapatan rendah tampil sebagai kelompok yang lebih sering terdampak. Kondisi sosial ekonomi ternyata sangat menentukan. Mereka yang hidup dalam kondisi rentan cenderung tinggal di wilayah yang lebih mudah terdampak banjir, kebakaran hutan, badai, maupun bencana lain. Akses terbatas terhadap asuransi, hunian berkualitas, atau dana darurat semakin memperburuk situasi.
Kelompok yang hidup dengan ketidakamanan pangan dan tekanan lain dalam determinan sosial kesehatan juga menjadi kelompok yang lebih rentan. Ketidakamanan pangan misalnya membuat rumah tangga tidak mampu menimbun persediaan makanan atau air bersih saat bencana terjadi. Saat badai atau kebakaran memutus akses listrik dan air, rumah tangga berpendapatan rendah mengalami kondisi jauh lebih berat. Dalam situasi seperti itu mereka tidak hanya kehilangan rumah tetapi juga kehilangan stabilitas yang sudah rapuh sejak awal.
Jenis bencana juga memberi pola berbeda terhadap durasi pengungsian. Kebakaran hutan cenderung menghasilkan pengungsian yang berlangsung lebih lama. Hal ini masuk akal karena kebakaran sering kali menghancurkan rumah hingga tidak layak huni, memaksa penghuni mencari tempat tinggal sementara untuk waktu berbulan bulan. Bandingkan dengan badai atau banjir yang meski menghancurkan banyak hal tetapi terkadang masih memungkinkan warga kembali dalam waktu lebih singkat.
Efek dari pengungsian tidak hanya berhenti pada kehilangan rumah. Banyak responden melaporkan gangguan pada suplai makanan dan air, hilangnya sumber energi seperti listrik atau gas, kerusakan fasilitas sanitasi, perasaan terisolasi, hingga meningkatnya risiko menjadi korban penipuan. Beberapa juga menyebut kehilangan barang penting dan dokumen pribadi. Dampak psikologis pun tidak kalah berat. Ketidakpastian tentang masa depan dan trauma akibat bencana sering kali menghantui para korban bahkan setelah mereka kembali ke rumah.
Dari sisi kesehatan masyarakat, penelitian ini menekankan pentingnya memahami peran determinan sosial kesehatan dalam memperparah dampak bencana. Determinan sosial kesehatan mencakup faktor seperti pendapatan, pendidikan, lingkungan fisik, akses terhadap layanan kesehatan, dan stabilitas sosial. Ketika bencana datang, faktor faktor ini memperbesar jurang perbedaan antara kelompok yang mampu pulih dengan cepat dan kelompok yang harus berjuang lebih keras.
Warga yang memiliki pendapatan lebih tinggi cenderung mampu membayar asuransi rumah, menyewa akomodasi sementara, atau membeli perlengkapan darurat. Sebaliknya warga berpendapatan rendah mungkin harus bergantung pada bantuan pemerintah atau relawan yang sering kali membutuhkan waktu untuk tiba. Ketika bantuan datang terlambat atau jumlahnya tidak mencukupi, keluarga keluarga ini terpaksa menanggung beban lebih lama.
Penelitian ini memberikan dua pesan penting. Pertama bencana alam bukan hanya masalah lingkungan tetapi juga masalah sosial. Kerusakan fisik dapat diperbaiki tetapi kerentanan sosial membutuhkan solusi lebih komprehensif. Kedua upaya mitigasi bencana tidak bisa hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur atau teknologi peringatan dini. Masyarakat membutuhkan upaya yang lebih holistik yang mencakup peningkatan ketahanan sosial melalui perbaikan kondisi hidup kelompok rentan.
Upaya perbaikan bisa dimulai dengan peningkatan pendidikan publik tentang risiko bencana. Warga perlu mendapatkan informasi yang jelas tentang risiko wilayah tempat tinggal mereka serta cara mempersiapkan diri. Pemerintah lokal bisa berperan besar dalam menyediakan program edukasi kebencanaan dan simulasi evakuasi.
Akses terhadap tempat tinggal yang layak juga menjadi aspek kritis. Banyak keluarga berpendapatan rendah tinggal di bangunan yang tidak dirancang untuk menghadapi bencana. Investasi pada perbaikan kualitas rumah dan lingkungan dapat mengurangi jumlah warga yang terpaksa mengungsi.
Kebijakan sosial yang memperkuat jaringan pengaman juga memainkan peran penting. Program bantuan pangan, keringanan pajak bagi warga berpendapatan rendah, serta perluasan layanan kesehatan mental dapat mempercepat pemulihan pascabencana. Selain itu pemerintah pusat dan lokal perlu memperbarui data risiko bencana dan memastikan bahwa kebijakan penanganan bencana mempertimbangkan kelompok masyarakat yang paling rentan.
Penelitian ini juga membuka pintu untuk diskusi tentang kesiapsiagaan bencana di masa depan. Dengan perubahan iklim yang memicu bencana lebih sering dan lebih parah, jumlah warga yang terpaksa mengungsi kemungkinan akan meningkat. Tanpa langkah strategis yang memperkuat ketahanan sosial, kelompok rentan akan terus menjadi korban utama.
Pembuat kebijakan di tingkat federal maupun negara bagian dapat menggunakan temuan penelitian ini sebagai dasar untuk menetapkan prioritas baru. Fokus utama perlu diarahkan pada penguatan determinan sosial kesehatan melalui perbaikan lingkungan permukiman, perluasan akses terhadap layanan publik, serta peningkatan kemampuan adaptasi masyarakat berisiko tinggi.
Penelitian Aung dan Sehgal mengingatkan bahwa bencana tidak memihak. Namun dampaknya tidak pernah merata. Masyarakat yang sudah rapuh akan merasakan guncangan berkali kali lipat lebih kuat. Oleh sebab itu langkah terbaik adalah memperkuat mereka sebelum bencana datang. Upaya semacam ini bukan hanya menyelamatkan nyawa tetapi juga menjaga stabilitas sosial dan ekonomi dalam jangka panjang.
Baca juga artikel tentang: Farmasi dalam Bencana: Peran Apoteker saat Krisis Kesehatan Global
REFERENSI:
Aung, Ther W & Sehgal, Ashwini R. 2025. Prevalence, Correlates, and Impacts of Displacement Because of Natural Disasters in the United States From 2022 to 2023. American Journal of Public Health 115 (1), 55-65.

