Salah satu teka-teki terbesar dalam kosmologi modern bukanlah pertanyaan tentang asal usul alam semesta, melainkan tentang kecepatannya saat ini. Lebih tepatnya, seberapa cepat alam semesta kita mengembang? Pertanyaan sederhana ini telah melahirkan perdebatan panjang yang dikenal dengan istilah “ketegangan Hubble” (Hubble tension).
Dalam beberapa dekade terakhir, ilmuwan menemukan bahwa hasil pengukuran laju ekspansi alam semesta, konstanta Hubble (H₀) tidak konsisten. Ketika dihitung menggunakan radiasi purba dari Big Bang yang ditangkap satelit Planck, nilainya berbeda dari pengukuran berbasis supernova dan bintang variabel Cepheid di alam semesta yang lebih dekat dengan kita. Perbedaan ini kecil dalam angka, tetapi besar dalam makna. Ia bisa jadi tanda bahwa fisika baru menunggu untuk ditemukan.
Baca juga artikel tentang: Menembus Batas Berbicara: Penemuan Baru dalam Memahami Pengaruh Kerusakan Otak pada Kemampuan Berbicara dan Harapan untuk Terapi Baru
Apa Itu Ketegangan Hubble?
Mari kita sederhanakan. Ada dua cara utama mengukur laju ekspansi alam semesta:
- Cara awal (early universe):
Menggunakan radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik (CMB), yaitu sisa cahaya dari Big Bang berusia 13,8 miliar tahun. Satelit Planck mengukur pola fluktuasi kecil pada CMB dan menggunakannya untuk menghitung laju ekspansi di masa kini. Hasilnya: sekitar 67 km/detik/megaparsec. - Cara akhir (late universe):
Menggunakan “lilin standar” seperti supernova Tipe Ia atau bintang Cepheid di galaksi jauh. Teknik ini langsung mengukur seberapa cepat galaksi bergerak menjauh dari kita. Hasilnya: sekitar 73 km/detik/megaparsec.
Bedanya sekitar 5–6 km/detik/megaparsec mungkin terdengar kecil. Tetapi dalam kosmologi, perbedaan ini sudah cukup besar untuk menimbulkan “krisis kosmologi”.
Ternyata Bukan Hanya H0
Artikel ilmiah terbaru yang dibahas di sini menyoroti bahwa ketegangan ini bukan sekadar soal H₀. Ada yang disebut “cosmic calibration tension”, yaitu ketidaksesuaian yang muncul ketika kita mencoba menyatukan berbagai metode kalibrasi jarak kosmik.
Jika dihitung dengan teliti, masalah ini tidak hanya soal konstanta Hubble, tetapi juga menyangkut parameter lain, seperti:
- ωₘ (kepadatan materi fisik): seberapa banyak materi (termasuk materi gelap) yang ada di alam semesta.
- rₛ (baryon acoustic oscillation sound horizon): ukuran “gelombang bunyi purba” dari awal alam semesta yang menjadi acuan untuk mengukur jarak kosmik.
Dengan kata lain, ada lebih dari satu hal yang tidak cocok antara pengukuran di alam semesta awal dan alam semesta sekarang.
Apa Artinya?
Jika alam semesta kita benar-benar mengikuti model standar kosmologi (ΛCDM: Lambda Cold Dark Matter), seharusnya pengukuran-pengukuran itu konsisten. Tetapi ketidaksesuaian yang terus muncul membuat para ilmuwan bertanya:
Apakah model ΛCDM sudah usang? Apakah kita perlu fisika baru untuk menjelaskan ini?
Ada dua kemungkinan besar:
- Modifikasi pada masa awal (early-time physics)
Misalnya, ada partikel baru atau interaksi baru yang memengaruhi alam semesta di era sebelum recombination (sekitar 380.000 tahun setelah Big Bang). Hal ini bisa mengubah nilai rₛ, yang kemudian berdampak pada semua pengukuran jarak. - Modifikasi pada masa akhir (late-time physics)
Alternatifnya, mungkin energi gelap tidak konstan seperti yang kita pikirkan. Bisa jadi sifat energi gelap berubah seiring waktu, mempercepat atau memperlambat ekspansi alam semesta di era belakangan.
Yang menarik, studi ini menekankan bahwa tidak cukup hanya mengubah salah satu sisi (awal atau akhir). Kita mungkin memerlukan kombinasi keduanya agar pengamatan cocok.
Kenapa Ini Penting?
Ketegangan Hubble bukan sekadar perbedaan angka. Ini adalah peluang untuk menemukan sesuatu yang revolusioner. Jika ternyata ada partikel baru, gaya baru, atau sifat energi gelap yang berbeda dari dugaan, maka kita sedang berbicara tentang fisika di luar Standard Model teori dasar yang saat ini menjadi pijakan utama fisika partikel.
Bayangkan, selama seabad terakhir kita percaya bahwa model ΛCDM sudah cukup menjelaskan hampir semua data kosmologi. Tapi kini, data terbaru menunjukkan ada “retakan kecil” yang bisa membuka pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kosmos.
Jalan ke Depan: Observasi Baru
Untungnya, dekade ini adalah masa keemasan bagi kosmologi observasional. Beberapa proyek besar yang sedang atau segera berjalan bisa membantu menjawab misteri ini:
- Teleskop James Webb (JWST): mampu mengukur galaksi jauh dengan presisi tinggi.
- Observatorium Vera Rubin (LSST): akan memetakan miliaran galaksi dan supernova.
- Misi satelit Euclid dan Roman Space Telescope: dirancang untuk mempelajari energi gelap dengan detail belum pernah ada.
- Pengamatan gelombang gravitasi: mungkin bisa memberikan cara independen untuk mengukur konstanta Hubble.
Dengan kombinasi data ini, kita bisa menguji apakah ketegangan Hubble hanyalah kesalahan sistematis pada pengukuran, atau benar-benar tanda dari fisika baru.
Analogi Sederhana
Untuk membantu membayangkan, bayangkan kita ingin tahu berapa panjang sebuah stadion. Kita punya dua cara:
- Menggunakan peta satelit lama (versi CMB).
- Mengukur langsung dengan langkah kaki (versi supernova).
Ternyata hasilnya berbeda. Pertanyaannya: apakah peta satelit salah ukur, ataukah stadionnya sendiri sudah berubah bentuk sejak peta itu dibuat?
Dalam kasus kosmologi, “stadion” itu adalah alam semesta. Apakah sejak Big Bang hingga sekarang ada sesuatu yang membuat cara kita mengukurnya jadi tidak konsisten?
Ketegangan kosmik ini sering disebut sebagai “krisis kosmologi”, tapi banyak ilmuwan lebih suka menyebutnya sebagai “kesempatan kosmologi”. Mengapa? Karena setiap kali ada hasil yang tidak cocok dengan teori lama, itu berarti kita sedang berdiri di ambang penemuan besar.
Mungkin saja kita akan menemukan bentuk energi gelap yang baru, partikel eksotik yang belum pernah terdeteksi, atau bahkan revisi besar pada teori kosmologi standar.
Apa pun jawabannya, satu hal pasti: ketegangan Hubble adalah undangan bagi manusia untuk terus mengeksplorasi misteri alam semesta.
Baca juga artikel tentang: Kamera 3,2 Gigapiksel di Teleskop Rubin: Tonggak Baru dalam Observasi Alam Semesta
REFERENSI:
Poulin, Vivian dkk. 2025. Implications of the cosmic calibration tension beyond and the synergy between early- and late-time new physics. Physical Review D 111 (8), 083552.

