Shicheng: Saksi Bisu Kekaisaran China yang Hilang

Berawal dari runtuhnya Dinasti Ming pada tahun 1644 dan digantikan oleh Dinasti Qing. Runtuhnya Dinasti Ming melibatkan sejumlah peristiwa, termasuk […]

blank

Berawal dari runtuhnya Dinasti Ming pada tahun 1644 dan digantikan oleh Dinasti Qing. Runtuhnya Dinasti Ming melibatkan sejumlah peristiwa, termasuk pemberontakan, peperangan, dan faktor-faktor internal dan eksternal yang kompleks. Dinasti Ming, yang berdiri dari 1368 hingga 1644, mengalami tekanan dari pemberontakan dan serangan suku Manchu. Akhirnya, tentara Manchu merebut Beijing pada tahun 1644, dan Kaisar Ming terakhir, Chongzhen, bunuh diri. Setelah itu, Dinasti Qing berkuasa di Tiongkok. Meskipun Dinasti Ming secara resmi runtuh, keberlanjutan kebudayaan dan struktur pemerintahan China tetap ada dengan perubahan dinasti. Dinasti Qing kemudian memerintah Tiongkok hingga revolusi pada awal abad ke-20.

Terletak di bawah permukaan Danau Qiandao yang tenang di Provinsi Zhejiang, China, terdapat dunia bawah air yang membeku dalam waktu bernama Shicheng. Mirip Atlantis yang tenggelam, kota ini merupakan sisa-sisa Kekaisaran China yang ditenggelamkan 600 tahun lalu.

Shicheng disebut juga sebagai Kota Singa, karena kedekatannya dengan Gunung Wu Shi yang artinya adalah Gunung Lima Singa. Sebuah laporan menyebut bahwa wilayah ini pertama kali didirikan pada masa dinasti Han antara tahun 25-200 M atau Dinasti Tang (618-907). Namun, disepakati bahwa wilayah metropolitan pada masanya ini mencapai puncak kejayaan di zaman Dinasti Ming dan Qing (1368 hingga 1912).

Meskipun arsitekturnya luar biasa, kota ini sengaja dibanjiri pada tahun 1959 untuk dijadikan jalan bagi bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air Xin’an. Kini, kota tersebut tersembunyi 40 meter di bawah permukaan danau yang terletak sekitar 400 kilometer di selatan Shanghai. Saat wilayah itu dibanjiri air, hampir 300 ribu orang direlokasi. Banyak dari mereka memiliki ikatan leluhur dan budaya yang kuat dengan kota tersebut.

Selama berpuluh-puluh tahun, kota ini terlupakan hingga ‘ditemukan kembali’ pada tahun 2001, ketika pemerintah China mengadakan ekspedisi untuk melihat apa yang tersisa dari perairan buatan mereka. Ketertarikan terhadap situs ini semakin meningkat satu dekade kemudian ketika Chinese National Geography menerbitkan sebuah artikel yang membahas kota tersebut dan mengungkapkan beberapa foto dan ilustrasi yang belum pernah dilihat sebelumnya tentang seperti apa kota tersebut di masa lalu. Sejak itu, ekspedisi dan penjelajahan lain merilis foto-foto yang membantu para peneliti merekonstruksi kehidupan di zaman Kota Singa belum ditenggelamkan. Karena kota ini terendam air tawar, serta paparan cahaya dan oksigennya relatif rendah, kota ini tetap terpelihara dengan baik.

Seperti dikutip dari IFL Science, wilayah Shicheng tidak besar. Luasnya sekitar setengah kilometer persegi. Kota ini memiliki lima pintu masuk yang tidak umum, karena biasanya wilayah-wilayah di China zaman dulu hanya memiliki empat pintu masuk yang sejajar dengan arah mata angin. Kota ini juga memiliki banyak patung batu berbagai hewan yang diawetkan, termasuk singa, naga, dan burung phoenix, serta prasasti sejarah yang berasal dari tahun 1777.

Saat ini, dunia tersembunyi tersebut bisa dikunjungi wisatawan, namun hanya mereka yang memiliki pengalaman menyelam bersertifikasi. Hal ini karena lokasi tersebut belum sepenuhnya dipetakan sehingga dianggap tidak aman bagi wisatawan yang belum berpengalaman.

Meskipun kondisinya cukup baik, mempertahankannya mungkin merupakan suatu tantangan. Namun, minat terhadap situs ini diharapkan akan membantu upaya konservasinya, sehingga sisa-sisa Shicheng yang sunyi namun hidup dapat dieksplorasi oleh generasi mendatang.

REFERENSI:

  • John W. Dardess. 2012. Ming China, 1368-1644: A Concise History of a Resilient Empire. Rowman & Littlefield Publishers
  • Mark Edward Lewis. 2007. The Early Chinese Empires: Qin and Han. Belknap Press: An Imprint of Harvard University Pres
  • Timothy Brook. 1989. Ming China: Institutions and Culture. Journal of Asian Studies

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *