Perjalanan Mengungkap Situs Maelang

Ditulis oleh M. Fauzan Dwiharto – Institut Teknologi Sepuluh Nopember  “Sebuah ikhtiar menemukan peradaban yang sengaja dihilangkan” Sejarah nusantara tidak ada […]

Ditulis oleh M. Fauzan Dwiharto – Institut Teknologi Sepuluh Nopember 

“Sebuah ikhtiar menemukan peradaban yang sengaja dihilangkan”

Sejarah nusantara tidak ada habisnya untuk dicari dan dipelajari. Kejayaan Kerajaan Majapahit adalah salah satu bukti bahwa peradaban nusantara sangatlah maju. Namun, sebenarnya sebelum kerajaan Majapahit pun terdapat kisah peradaban masa lalu yang juga maju. Salah satunya yang baru ditemukan akhir – akhir ini adalah Situs Megalithikum Gunung Padang. Bahkan sampai diklaim bahwa komplek situs gunung padang lebih besar dari Candi Borobudur. Sebenarnya tidak perlu heran dengan penemuan peninggalan di masa lalu ini, sebab masih banyak peninggalan dan kebesaran peradaban masa lalu yang belum terungkap. Ketertarikan saya untuk mencari tahu sejarah bangsa ini, diberikan jalan oleh Yang Maha Mengatur, yaitu saya dipertemukan dengan WNI yang bekerja di UNESCO selama 6 tahun lalu memilih keluar untuk meneliti dan maencari tahu banyak tentang sejarah dan budaya Nusantara.

Situs yang kami temui di tengah hutan tersebut sekilas tampak bangunan dua sisi setengah lingkaran yang menyatu. Kalau dilihat dari foto udara atau drone tampak jelas seperti kaca mata seluas 0.64 Ha. Di sebagian dinding luar bangunan ditemukan susunan batuan vulkanik atau orang awam menyebutnya batuan padas yang  tertata rapi.Dalam studi sejarah dan arkeologi penamaan terhadap suatu wilayah memang menjadi hal yang unik. Sebab dalam nama wilayah itu mengandung arti dan sejarah dari wilayah itu sendiri. Begitu pula dengan Dusun Maelang, Desa Watu kebo, Kelurahan Bajul mati, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Dalam bahasa Madura kata maelang itu berarti sengaja dihilangkan Hal tersebut yang kemudian dicari lebih lanjut, melalui wawancara dengan warga sekitar didapatkan informasi bahwa di tengah hutan jati di dusun Maelang terdapat sebuah goa yang dianggap angker, yang sering disebut goa macan. Dari penjelasan warga setempat dulu di goa tersebut sering dihuni oleh macan atau harimau. Dari informasi tersebut kami mencoba untuk menelusuri apa sebenarnya sesuatu yang sengaja dihilangkan dan dianggap angker tersebut. Menuju ke situs tersebut banyak dijumpai pohon jati yang merupakan hutan produksi kawasan Perhutani. Berjalan menuju situs yang dimaksud kami menemukan dua sungai yang melingkari areal situs. Anehnya, semakin mendekat kea rah situs jenis tumbuhan yang banyak ditemui adalah jagung.

Gambar 1. Foto drone situs maelang

Situs yang kami temui di tengah hutan tersebut sekilas tampak bangunan dua sisi setengah lingkaran yang menyatu. Kalau dilihat dari foto udara atau drone tampak jelas seperti kaca mata seluas 0.64 Ha. Di sebagian dinding luar bangunan ditemukan susunan batuan vulkanik atau orang awam menyebutnya batuan padas yang  tertata rapi.

Gambar 2. Tatanan batuan vulkanik

Terdapat juga sendang dengan dinding batuan berupa bata merah. Ketika musim hujan maka  sendang itu akan berisi air. Sementara ketika sedang tidak dipenuhi air maka tampak dasarnya berupa tanah gembur yang memungkinkan untuk digali lebih dalam.

Gambar 3. Sendang di situs maelang

Di situs tersebut kami juga menemukan ruang seperti goa dengan bagian depan terdapat rupa buaya yang membatu atau relief buaya. Ini menjadi petunujuk adanya peradaban karena sesuai dengan nama kelurahannya yaitu kelurahan bajulmati.

Gambar 4. Relief buaya di situs maelang

Tersusun dari beberapa batuan diantaranya adalah batu  gamping, batu lempung, batu pasir, Selain itu terdapat fosil kayu yang menjadi perekat antar batuan. Fosil kayu tersebut terdapat juga di beberapa dinding goa. Untuk memastikan jenis batuan tersebut dilakukan pengujian menggunakan larutan HCl.

Gambar.5 Pengujian HCl pada batu

Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan apakah terdapat kandungan karbon didalamnya. Menariknya bagian lantainya adalah campuran antara gamping, pasiran dan clay. Batu gamping yang bereaksi terhadap HCl sebab mengandung unsur karbon. Sementara batu lempung dan pasir tidak bereaksi. Sedangkan untuk bagian dinding lebih didominasi oleh batuan vulkanik, campuran breksi dan andesit, dan di bagian atap ada perselingan fosil kayu.

Di dalam goa  tersebut terdapat beberapa lorong yang nampaknya tersambung satu sama lain. Kemudian bertemu pada suatu titik ruang kosong. Di bibir lorong juga terlihat jelas warna hitam. Temuan tersebut mengindikasikan sementara bahwa lorong tersebut merupakan aliran keluarnya asap dari hasil pembakaran sebuah ruang dibawahnya. Beberapa kelelawar juga terlihat berseliweran di sekitar lorong. Kadang juga keluar masuk kedalam lorong tersebut.

Awalnya setiap lorong tersebut ditutupi dengan tumpukan batuan  sebagai penghalang. Untuk memastikan kondisi lorong ke arah dalam digunakan mobil remot kontrol yang dilengkapi dengan tiga kamera.  Dengan masuknya mobil remot kontrol pada jarak 10-15 meter kami menemukan batuan yang tertata dengan jarak per satu meter. Otomatis untuk melancarkan mobil tersebut kami harus memungutnya keluar lorong.  Dikarenakan keterbatasan peralatan yang tidak memungkinkan untuk menempuh jarak lebih jauh, kami memutuskan untuk menghentikan penelusuran jejak lorong. Hal menarik di bibir lorong dapat dilihat terdapat warna hitam semacam bekas aliran asap. Warna hitam tersebut juga ditemui pada langit-langit lorong sepanjang jangkauan mobil remot kontrol.

Gambar 6.  RC dengan 3 kamera  coba memasuki lorong

Gambar 7. Mobil RC dan kamera real time

Susunan atap goa nampaknya seperti campuran dari berbagai bahan batuan, kayu, koral. Dengan terlihat desain yang cukup menarik terdapat ornamen melingkar secara simetris. Sementara itu lantai goa sepertinya adalah luluhan dengan bahan dasar semen. Indikasi bahwa dibawah goa terdapat ruangan kosong diperkuat ketika salah seorang dari kami menghentakkan kakinya pada lantai goa. Dari hentakan kaki tersebut terdengar suara menggema dibawah yang menunjukkan seperti terdapat ruangan kosong. Penelusuran yang telah dilakukan memasuki dua goa dengan kondisi hampir mirip yakni terdapat lorong-lorong yang tertutupi oleh bebatuan.

Temuan lain di situs ini juga dapat dilihat dari pilihan arsitektur bagian atas bangunan. Kami menyebutnya sebagai atap. Secara kasat mata desain yang digunakan berbentuk geometri simetris secara berulang-ulang hingga terbentuk sebuah kesatuan. Di salah satu bagian atas bangunan juga ditemukan lubang yang sangat presisi bentukannya. Semacam talang yang berfungsi sebagai pengaliran air yang jatuh dari permukaan diatasnya.

Saya pribadi merasa tertantang untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan dari situs maelang ini. Mencoba menerapkan ilmuan geofisika untuk studi kawasan arkeologi.

Maka dilakukanlah pengukuran geolistrik resistivitas 2D pada 23-28 Maret 2017. Hasil dari data geolistrik cukup mengejutkan dimana pada titik pengukuran didalam situs ditemukan anomali dengan nilai resistivitas >5000 Ohm meter. Sedangkan di titik pengukuran lereng depan mulut goa situs maelang didapatkan anomaly dengan nilai resistivitas >3000 Ohm meter. Dengan nilai resistivitas sebesar ini bisa jadi mengindikasikan adanya rongga udara, sebab udara tidak menghantar listrik. Kemungkinan besar masih ada ruang yang cukup besar di bawah situs yang tampak dipermukaan ini.

Gambar 8. Pengukuran geolistrik didalam goa

Integrasi dari berbagai disiplin ilmu  akan sangat membantu untuk mengungkap sebuah peradaban yang sengaja dihilangkan ini.

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *