2019 Menjadi Tahun Terpanas Kedua Sepanjang Empat Dekade

2019 Menjadi Tahun Terpanas Kedua Sepanjang Empat Dekade

Tahun 2019 tercatat dalam sejarah sebagai tahun terpanas kedua setelah tahun 2016. Fakta tersebut diungkapkan oleh NASA dan NOAA bersamaan dengan dirilisnya laporan mengenai kondisi iklim global tahun 2019.

Kenaikan Temperatur

Dengan menggunakan metode pemodelan iklim dan analisis statistik, para ilmuwan menemukan bahwa tahun 2019 memiliki nilai anomali suhu udara sebesar 0.95°C di atas rata-rata suhu abad ke-20. Anomali suhu udara adalah perbandingan suhu udara pada periode tertentu terhadap periode normal yang ditetapkan. Angka yang didapatkan melalui riset ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pengukuran suhu global sejak tahun 1880 dan hanya terpaut 0.04°C lebih rendah dibandingkan rekor tahun terpanas pada tahun 2016.

Pada skala regional, negara-negara di Eropa Tengah, Asia, Australia, Afrika bagian selatan, Amerika Utara, dan Amerika Selatan bagian timur mengalami kenaikan suhu di atas rata-rata. Meksiko menjalani bulan Agustus paling panasnya pada tahun 2019 dengan nilai anomali suhu udara bulan itu sebesar 3.3°C. Amerika Selatan merasakan tahun 2019 sebagai tahun terpanas kedua dengan nilai anomali sebesar 1.24°C. Suhu udara di Chile menyentuh angka 40°C akibat efek dari gelombang panas yang melanda wilayah tersebut.

Di Perancis, suhu yang terjadi di 9 dari 12 bulan di tahun 2019 berada di atas rata-rata. Benua Afrika juga menobatkan 2019 sebagai tahun terpanas ke-3 dalam 110 tahun terakhir, setelah tahun 2016 dan 2010. Suhu di Israel pada tahun 2019 menyentuh angka 43-45°C. Sementara itu di Australia, suhu rata-rata tahun 2019 merupakan yang terpanas dalam sejarah mereka dengan suhu yang tercatat hingga 40°C.

Bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan analisis anomali suhu udara rata-rata tahunan yang dilakukan oleh Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), 2019 juga tercatat sebagai tahun terpanas kedua di Indonesia. Dalam hal ini, BMKG mengambil rata-rata suhu suatu provinsi pada rentang waktu tahun 1981 hingga tahun 2010. Berdasarkan analisis tersebut, tahun 2019 memiliki nilai anomali sebesar 0.58°C atau hanya 0.22°C lebih kecil dibandingkan nilai anomali tahun 2016.

Pada laporan yang sama, diketahui pula bahwa 33 dari 34 provinsi di Indonesia memiliki nilai anomali suhu udara positif yang berarti terjadi kenaikan suhu terhadap acuan periode normal. Berdasarkan data tersebut, Provinsi Banten memegang rekor sebagai provinsi dengan nilai anomali suhu udara tertinggi pada tahun 2019 dengan angka 1.03°C. Sementara itu, Provinsi Bali tercatat mengalami anomali suhu udara sebesar -0.10°C. Itu artinya suhu udara rata-rata Bali berada pada angka 0.10°C dibawah rata-rata suhu periode normal.

Beda halnya dengan suhu udara, suhu permukaan laut Indonesia khususnya di pantai selatan Jawa dan Sumatera mengalami penurunan setidaknya 0.5°C pada periode Juni-November. Kondisi ini menyebabkan sulitnya pertumbuhan awan di Indonesia yang turut menjadi penyebab kemarau panjang di pertengahan tahun 2019.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Hal yang menarik dari kasus ini adalah fakta bahwa lima tahun terakhir adalah lima tahun terpanas dalam sejarah. Selain itu, peningkatan temperatur terjadi saat Matahari mencapai siklus minimum terendah dalam 100 tahun terakhir. Ditambah lagi tidak terjadinya El Nino yang sangat kuat di tahun 2019 (El Nino lemah terjadi di awal tahun 2019). Kondisi ini menandakan bahwa alam bukanlah penyebab utama kerusakan di Bumi.

Sejak tahun 1880, suhu udara di permukaan Bumi terus mengalami tren kenaikan hingga 2°C saat ini. Dilansir dari NASA, suhu yang yang diukur pada era pra-industri bahkan lebih panas sekitar 5.5°C daripada zaman es terakhir seiring dengan efek rumah kaca yang semakin parah. Hal tersebut diperparah dengan emisi gas CO2 yang terus meningkat akibat aktivitas perindustrian, penggunaan kendaraan bermotor, kebakaran hutan, dan lain sebagainya.

Jadi, akankah iklim di tahun 2020 ini semakin bersahabat dengan manusia atau justru manusia sendiri yang semakin tidak bersahabat?

Referensi:

  1. NOAA.gov. (2020, Januari). Global Climate Report – Annual 2019. Diakses pada 18 Januari 2019, dari https://www.ncdc.noaa.gov/sotc/global/201913
  2. NASA.gov. (2020, 15 Januari). NASA, NOAA Analyses Reveal 2019 Second Warmest Year on Record. Diakses pada 18 Januari 2020, dari https://www.nasa.gov/press-release/nasa-noaa-analyses-reveal-2019-second-warmest-year-on-record
  3. BMKG.go.id. Ekstrem Perubahan Iklim. Diakses pada 19 Januari 2020, dari https://www.bmkg.go.id/iklim/?p=ekstrem-perubahan-iklim
  4. ScientificAmerican.com. (2020, 15 Januari). Earth Had Its Second Warmest Year in Recorded History in 2019. Diakses pada 19 Januari 2020, dari https://blogs.scientificamerican.com/eye-of-the-storm/earth-had-its-second-warmest-year-in-recorded-history-in-2019