Berencana Beli atau Jual Smartphone? Penelitian ini Ungkap Apa yang Perlu Dipertimbangkan

Smartphone bukan lagi menjadi bagian dari kebutuhan tersier. Fungsinya berkembang pesat baik secara sosial, ekonomi dan budaya sehingga gawai (kata baku untuk gadget) ini tak bisa dilepaskan dari pola hidup masyarakat. Maka tak heran, kepemilikan telepon di negara berkembang mendekati 90%. Tingginya angka penetrasi tersebut mengakibatkan ketatnya persaingan antar merek sehingga revolusi smartphone berkembang lebih pesat dibandingkan dengan barang elektronik lainnya. Bisa kita lihat, berapa banyak model smartphone yang keluar setiap bulannya?

Perkembangan smartphone bukan hanya dari sisi model tetapi juga fitur teknologi yang ditawarkan. Saat ini ada dua brand smartphone yang dianggap memiliki pangsa pasar terbesar di dunia yaitu Apple dan Samsung. Jumlah pangsa pasar yang diraih dua brand ini mencapai 70%. Selain kualitas, pangsa pasar yang besar tentu ditunjang dengan strategi pemasaran. Salah satunya dengan selalu mengeluarkan model-model terbaru. Apple akan menghasilkan model baru setiap tahun. Sedangkan Samsung dinilai lebih rajin mengeluarkan model terbarunya daripada Apple. Revolusi model smartphone ini tentu saja juga berimbas pada pergantian smartphone. Mengutip dari analisis Tirto.id rata-rata orang akan mengganti ponselnya setiap 22 bulan sekali.

Ternyata sesering ini seseorang mengganti ponselnya

Hal yang biasanya tidak disadari adalah ada harga yang harus dibayar dari cepatnya pergantian model smartphone. Sama seperti perangkat elektronik lainnya, smartphone mengandung 50 elemen yang berbeda termasuk mineral langka dan toxic seperti timbal dan arsen. Mineral ini mengakibatkan kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan masyarakat. Meskipun jika dihitung secara matematis, perubahan iklim yang disumbangkan cukup kecil tetapi secara agregat angka yang dihasilkan cukup mengkhawatirkan.

Contohnya 95 kgCO2 dalam iPhone 6 akan menjadi 140 M kgCO2 jika dihitung berdasarkan data penjualan smartphone model tersebut secara agreget sebanyak 1,5 M tahun 2016.  Bisa dibayangkan berapa banyak kgCO2 yang dihasilkan jika semua merek berlomba mengeluarkan model baru. Selain itu, smartphone dinilai menjadi barang elektronik yang paling sering diganti daripada lainnya.

Solusi yang ditawarkan untuk meringankan beban lingkungan berupa peningkatan kualitas dan kemudahan perbaikan smartphone sehingga masa pakai smartphone lebih panjang. Kondisi tersebut bisa menekan pemakaian sumberdaya dan energi produksi smartphone. Artinya dari praktik 3R (Reduce, reuse, recycle), reuse (pemakaian ulang) menjadi langkah paling awal yang bisa dilakukan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.

Disadari atau tidak, kegiatan reuse smerupakan bagian dari kegiatan dalam pasar barang bekas. Saat ini, pasar barang bekas berkembang pesat dengan bantuan internet. Internet membantu memangkas batas wilayah perdagangan sehingga konsumen bisa menemukan produk mereka dan secara otomatis masa hidup smartphone mengembang. Perdagangan smartphone bekas bahkan meningkat 4-5 kali lebih tinggi daripada pasar smartphone secara keseluruhan. Artinya, fenomena reuse melalui pasar bekas memainkan peran penting untuk masa hidup smartphone.

Perbaikan untuk upgrade teknologi dalam smartphone berpengaruh pada keputusan pembelian

Jika demikian, lantas apa yang bisa mempengaruhi konsumen membeli smartphone bekas? Penelitian sebelumnya menemukan kebaharuan teknologi dan fungsi smartphone yang sesuai keinginan dinilai menjadi tolok ukur utama keputusan pembelian (Wilson et al (2017), Wieser and Troger (2017)). Selain itu, konsumen dianggap tidak akan mengganti smartphone hanya karena kesalahan fungsi atau fisik yang kecil. Sedangkan Bellezza et al (2017) menemukan bahwa keberadaan perbaikan pada smartphone bekas menyebabkan konsumen cukup acuh pada detail fitur dalam smartphone. Artinya, teknologi dan layanan perbaikan berperan penting dalam meningkatkan keputusan pembeli smartphone bekas.

Hal yang perlu diperhatikan, selain teknologi dan perbaikan yang dilakukan, merek smartphone ternyata juga berpengaruh besar. Smartphone sudah menjelma menjadi simbol eksistensi diri secara sosial sehingga kualitas di luar aspek fungsional seperti merek dapat meningkatkan peluang pembelian. Kita ambil Apple dan Samsung sebagai contoh. Apple dinilai memiliki merek yang stabil karena kontrol harga setiap produk dibandingkan Samsung yang terlalu sering memberikan promosi. Perbedaan strategi juga pemasaran berdampak pada kualitas merek sehingga umur ekonomis dan harga Samsung di pasar bekas berada jauh di bawah Apple. Dari sini kita bisa melihat bahwa kualitas fisik yang tampak bukan hanya penentu tunggal keputusan pembelian smartphone di pasar bekas.

Apple dan Samsung adalah dua merek yang mendominasi pasar

Makov et al (2018) mengambil data penjualan Apple dan Samsung bekas dari paltform online pasar bekas eBay. Beberapa alasan yang pemilihan Apple dan Samsung sebagai fokus brand yang diteliti adalah dominansi keduanya dalam pasar, keduanya tidak memperkenalkan diri sebagai produk dengan masa hidup panjang, kedua brand memiliki model yang sebagian mudah diperbaiki dan tingkat penjualan di Amerika Serikat juga seimbang. Data dikumpulkan dalam dua periode yaitu 4 bulan pertama di tahun 2015 dan 2016. Sebanyak 500.000 listings pengguna Apple dan Samsung yang terjual via eBay.com diolah untuk menjelaskan perbedaan peran masing-masing fitur smartphone terhadap masa hidupnya. Perhitungan nilai yang hilang dengan cara membandingkannya harga saat saat pertama kali diluncurkan dengan harga di pasar bekas eBay. Data kemudian diregresikan menggunakan regresi OLS untuk dapat merumuskan variabel berupa fungsi kualitas yang tidak tampak.

Peneliti merumuskan dua model untuk memahami pergerakan penyusutan nilai. Model pertama digunakan untuk mengetahui nilai depresiasi smartphone dari variabel yang dianggap berpengaruh. Model 1, fokus pada fitur berkaitan dengan daya tahan fungsional (perbaikan dan kapasitas) dan kondisi keausan smartphone dibandingkan dengan fitur tak tampak (merek dan kebaharuan model) sementara variabel kontrol berupa umur perangkat dan spesifikasi teknis lainnya (ukuran layar, kamera dan berat smartphone) dan faktor eksternal lainnya (jenis provider, reputasi penjual, pengiriman gratis, dan jenis penjualan).

Model 1

Ketidaklengkapan informasi kondisi smartphone dan jenis provider di eBay membuat hanya 27% data listings smartphone yang diolah menggunakan Stata dengan test White. Test ini digunakan untuk mengetahui heteroskedasitasnya. Dan didapatkan hasil ada korelasi yang kuat antara variabel yang menerangkan dengan variasi eror, variasi eror terbesar pada perbandingan antara smartphone model baru dan model lama.
Model 1 menunjukkan hasil bahwa kualitas tidak tampak seperti merek dan kebaharuan sama penting dengan kondisi fisik atau fitur yang berkaitan dengan daya tahan fungsional (perbaikan dan kapasitas). Peneliti mempekirakan jika smartphone Apple dan Samsung dengan spesifikasi yang sama berada masuk pasar bekas, maka nilai smartphone Samsung menyusut sebesar 12,3 ± 0,2% daripada Apple. Kondisi tersebut juga terjadi pada aspek kebaharuan model smartphone meskipun angka perbandingan penyusutan lebih kecil. Model baru smartphone secara signfikan kehilangan sekitar 4,5 ± 0,3% lebih sedikit daripada model lama.

Sementara hal sebaliknya justru terjadi pada variabel perbaikan dan kapasitas memori. Semakin besar kapasitas memori dan perbaikan yang dilakukan justru meningkatkan nilai penyusutan di pasar bekas. Apa yang bisa diindikasikan dari hal ini? Ada kecenderungan jika smartphone yang memiliki memori besar dan performanya telah ditingkatkan tidak terlalu mempengaruhi masa hidup smartphone. Artinya konsumen dinilai cenderung abai terhadap kedua variabel ini saat memutuskan membeli smartphone tertentu. Hal ini dapat dilihat dari angka smartphone yang diperbaiki dan memorinya besar (128 GB) justru kehilangan 2,7 ± 0,3% dari smartphone yang tidak diperbaiki dan memori yang besar.

Variabel fisik lainnya yang diestimasi nilai penyusutannya oleh peneliti adalah kondisi smartphone. Gawai yang dideskripsikan dalam kondisi fisik buruk tentu akan kehilangan nilai lebih banyak daripada gawai kondisi terbaik meskipun spesifikasinya sama. Akan tetapi, hal yang mengejutkan adalah nilai penyusutan kondisi fisik hanya sebesar 8,8 ± 0,1%. Nilai ini lebih rendah dari nilai penyusutan akibat variabel tak tampak seperti merek dan kebaharuan model.

Model 2

Model 1 sebenarnya dapat digunakan untuk merumuskan efek dari merek dan estimasi umur merek tidak layak lagi masuk pasar bekas. Akan tetapi, perbedaan spesifikasi fitur yang dimiliki masing-masing smartphone tidak sama persis sehingga tidak semua predictor konstan. Oleh karena itu, untuk memperkirakan estimasi masa hidup smartphone berdasarkan merek dan usia ponsel digunakan model kedua. Untuk memenuhi aturan asumsi klasik dalam regresi OLS maka interaksi merek dan usia ponsel juga dimasukkan dalam model.
Model ini memberikan dua keuntungan. Pertama, pembatasan data pada merek dan usia ponsel menyebabkan data listings yang bisa diolah lebih banyak.

Kedua, model ini mempermudah untuk mengetahui dampak merek dan kuantitas nilai penyusutannya secara spesifik. Sedangkan pada model 1, kuantifikasi data tidak bisa dilakukan karena smartphone Samsung dan Apple di pasar bekas sudah melalui perbaikan sehingga semua variabel selain merek tidak bisa konstan sama. Berdasarkan data tersebut, peneliti menggunakan model kedua untuk menghitung dampak usia smartphone terhadap nilai penyusutannya.

Penyusutan nilai pasar Apple dan Samsung berdasarkan umur

Sesuai model pertama, model kedua juga menunjukkan semakin lama usia smartphone maka nilai penyusutan juga semakin bertambah. Persamaan model ini juga menggambarkan adanya dampak signifikan dari merek dan usia smartphone terhadap merek. Samsung akan kehilangan nilai dari peluncuran pertama sampai dijual kembali setelah 54 ± 0,2 bulan sedangkan Apple mencapai 66,9 ± 0,6 bulan. Walaupun merek tidak berpengaruh pada kualitas fisik, variabel ini tetap menambah masa hidup smartphone rata-rata sebesar 12,5 bulan. Jika dibandingkan, maka satu Apple maka nilainya sama dengan 1,23 Samsung dengan umur, ukuran dan fungsi-sungsi lain yang sama. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa layanan perbaikan hanya akan berdampak kecil pada umur ekonomis dan fase penggunaan smartphone.

Walaupun ada kemungkinan kebutuhan konsumen selalu berubah tetapi dua periode waktu yang dipilih menunjukkan kualitas tidak tampak seperti merek justru lebih berdampak pada umur ekonomis daripada layanan perbaikan. Merek-merek berumur panjang bisa menjaga keberlanjutan konsumsi smartphone tersebut lebih lama sehingga produksi dan biaya pengangkutan bisa ditekan. Artinya, bertambahnya umur ekonomis smartphone bisa mengefisiensikan sumberdaya dan energi.

Hal ini sejalan dengan perubahan gaya hidup yang mengedepankan nilai sosio-ekonomi daripada nilai ekonomis dari suatu produk. Branding dan sosial status yang terbentuk akan menggeser peran harga dalam keputusan pembelian barang elektronik di pasar termasuk pasar bekas. Meskipun berhasil menghitung berapa lama masa ekonomis suatu smartphone, peneliti menganggap beberapa penelitian lebih mendalam tetap diperlukan. Kelemahan yang dimaksud adalah batasan-batasan dalam penelitian yang dilakukan. Pertama, analisis yang dilakukan hanya dari penjualan eBay di Amerika Serikat yang dilakukan hanya dalam dua periode transasksi sehingga belum bisa mempresentasikan keseluruhan. Kedua, peneliti tidak memperhitungkan adanya smartphone yang kemungkinan sudah tua dan tidak bisa lagi ditawarkan di eBay dan smartphone terbaik yang tidak ditawarkan di eBay. Terakhir, beberapa smartphone tidak memiliki informasi lengkap terkait kondisinya setelah perbaikan.

Konsumen juga dinilai tidak sadar bahwa beberapa smartphone mudah untuk diperbaiki dan kemudahan ini tidak dimasukkan dalam variabel. Untuk mengetahui, apakah konsumen benar-benar lebih mementingkan merek dibandingkan layanan konsumen, maka penelitian selanjutnya bisa mengulas efek dari keberadaan informasi perbaikan kepada konsumen dengan baik. Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga mempertimbangkan adanya layanan perbaikan tersebut saat akan membeli atau menjual smartphone bekas? Semoga keputusanmu dalam membeli dan menggunakan smartphone lebih bijak setelah membaca penelitian ini, ya.

Referensi

  • Makov, Tamar., Fishman, Tomer., Chertow, Marian R., Blass, Vered. 2018. What Affects the Secondhand Value of Smartphones. Journal of Industrial Ecology. Page : 1-11 Online : https://doi.org/10.1111/jiec.12806
  • Bellezza, S., J. M. Ackerman, and F. Gino. 2017. “Be careless with that!” Availability of product upgrades increases cavalier behavior toward possessions. Journal of Marketing Research 54(5): 768–784.
  • Wieser, H. and N. Tr¨oger. 2017. Exploring the inner loops of the circular economy: Replacement, repair, and reuse of mobile phones in Austria. Journal of Cleaner Production 172: 3042–3055.
  • Wilson, G. T., G. Smalley, J. R. Suckling, D. Lilley, J. Lee, and R. Mawle. 2017. The hibernating mobile phone: Dead storage as a barrier to efficient electronic waste recovery. Waste Management 60: 521–533.
  • Zaenudin, Ahmad. 2017. Berapa lama orang mengganti ponsel?. Online : https://tirto.id/berapa-lama-orang-mengganti-ponsel-clBj

Spekulasi Asal-usul Atmosfer Bumi (Bagian 1) – Fenomena Langit, Fluktuasi Oksigen

Spekulasi asal-usul atmosfer bumi dan fenomena langit telah menarik fokus manusia dalam setiap peradaban sejak jaman purbakala. Berbagai pandangan, penafsiran, kepercayaan, tentang langit mewarnai sejarah kehidupan manusia. Berbagai artefak-artefak ataupun mitos-mitos tentang benda langit, menjadi bukti fokus perjalanan umat manusis pada pengamatan langit. Pengetahuan ini telah mewarnai pola hidup manusia. Dengan imajinasi dan pengetahuannya, dalam upaya untuk menata hidup material dan spiritualnya, manusia telah mencoba mengungkap rahasia langit. Sebagian cukup realistis, berdasarkan pengamatan dan metodologi ilmiah, seperti teori-teori geosentris, heliosentris, astronomi, meteorologi, dan sebagainya. Namun demikian tiap babak sejarah kehidupan manusia, ada yang mengungkapkan rahasia langit dari mitos yang irrealistis, seperti ramalan bintang, keberuntungan dan kesialan bersama kemunculan bintang tertentu, atau fenomena komet, gerhana, angin, hujan, petir, dan seterusnya, dihubungkan dengan tanda akan ada peristiwa khusus menimpa manusia/alam.

Jika ditelaah lebih lanjut, kedua hal diatas, pendekatan realistis dan irrealistis fenomena langit, telah membawa umat manusia pada pemahaman yang lebih baik pada atmosfer maupun langit. Studi tentang atmosfer awalnya dilakukan untuk memahami fenomena-fenomena yang berhubungan dengan permukaan bumi seperti cuaca/iklim, fenomena pembiasan sinar matahari saat terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang, komet, meteor, dan lain-lain. Atau bahkan dalam rangka membuktikan apakah nasib individu seseorang atau sekelompok orang, bangsa, dan dunia berhubungan dengan fenomena langit. Percaya atau tidak, suatu saat kedua pendekatan itu, pendekatan realistis dan irrealistis yang benar pijakannya, akan bertemu pada satu titik pemahaman yang mendalam bagi ilmu pengetahuan manusia, tentang kebesaran penciptaan alam oleh Tuhan.

Skenario Ilmuwan Modern tentang Asal-usul Atmosfer di Bumi

Menurut para ahli modern, sistem galaksi dan material cikal bakal planet Bumi dibentuk kira-kira 5 milyar tahun yang lalu. Proses ini berlangsung lama setelah awal penciptaan jagad raya mengikuti teori big bang (diperkirakan big bang terjadi 15 miliar tahun yang lalu) [1]. Reaksi fusi terjadi dengan suhu sangat tinggi dikenal dengan “the hydrogen burning reaction”, telah menggabungkan hidrogen (1H) menjadi helium (2He) dengan reaksi inti. Reaksi menghasilkan energi tinggi hingga mencapai 100 juta kelvin. Pada suhu sangat panas ini beberapa helium menjalani reaksi inti lanjutan membentuk atom karbon (6C). Tiap 3 helium yang bereaksi fusi menghasilkan 1 atom karbon. Berikutnya beberapa atom karbon terbentuk melanjutkan reaksinya dengan sisa helium menghasilkan atom oksigen (8O), atom flour (7F) dan seterusnya [2]. Atom-atom O dan C yang baru terbentuk segera mengambil posisi kestabilan dan bergabung secara kimia menjadi CO2.

Reaksi-reaksi Fusi dari Dalam Bumi

Pembentukan sistem galaksi (5 milyar tahun lalu) telah memantapkan sistem tata surya dan orbit bintang, planet, dan benda langit lain. Diperkirakan 500 juta tahun pertama setelah penciptaannya, atmosfer terbentuk di bumi dengan kerapatan tinggi, utamanya berisi hidrogen, helium dan gas-gas yang terbentuk pada reaksi fusi selama jutaan tahun sebelumnya. Beberapa gas (asap) juga dikeluarkan dari hasil reaksi-reaksi fusi dalam bumi ketika masih sangat panas. Asap tersebut, diperkirakan terdiri atas utamanya hidrogen (H2), ammonia (NH3), uap air (H2O), methana (CH4), dan karbon dioksida (CO2) [1]. Sampai kira-kira 3,5 juta tahun yang lalu, atmosfer diperkirakan terdiri atas gas-gas tersebut. Karbon dioksida ini menjadi dominan, karena proses oksidasi termal yang berlangsung milyaran tahun dan tidak banyak dimanfaatkan untuk proses lain. Keberadaan air, menyebabkan pengurangan gas CO2, melalui proses pelarutan manjadi garam karbonat atau batuan karbonat. Bumi makin mengeras.

Pada awal penciptaan, atmosfer bumi tidak memiliki molekul-molekul atau atom-atom oksigen bebas di dekat permukaan. Data-data yang menjelaskan ini tersimpan pada formasi batuan purba yang dominan mengandung besi dan uranium, dengan keadaan tereduksi. Unsur-unsur tersebut tidak ditemui lagi pada batuan Precambrian dan yang lebih muda (< 3 juta tahun). Atmosfer  bawah pada saat itu lebih bersifat reduktor karena belum mengandung oksigen. Namun beberapa penyelidikan menyebutkan pada bagian atas terdapat molekul oksigen yang cukup melimpah, didesain untuk membentuk lapisan ozon.

Organisma Penghasil Oksigen di Bumi

Diperkirakan 1 juta tahun yang lalu, ketika bumi sudah mulai cukup dingin,  diciptakan organisma-aquatik awal yang oleh para kosmolog dinamakan blue-green algae (tidak ada satupun toeri ilmiah yang dengan meyakinkan dapat membuktikan alga ini terbentuk dengan sendirinya atau karena evolusi alam). Kehidupan ini masih terbatas pada perairan. Organisma ini, mulai ditugaskan untuk menggunakan energi dari matahari yang tidak terserap ozone, memecah molekul air dan karbon dioksida, dan menggabungkan kembali menjadi senyawa organik esensial dan membuat molekul oksigen. Inilah pertama kali proses fotosintesis terjadi. Walaupun terjadi respirasi yang melepaskan kembali CO2, tetapi pertumbuhan alga ini cukup besar dengan cepat mendeposit carbon ke jaringan/senyawa organiknya. Proses awal ini berlangsung selama ratusan ribu tahun, sehingga cukup membuat akumulasi oksigen di atmosfer. Bersamaan dengan meningkatnya oksigen (O2) tersebut, kadar karbon dioksida (CO2) menurun.

Proses di Bumi Menyebabkan Oksigen Atmosfer Berfluktuasi

Dalam kesimpulan berbagai penelitian atmosfer awal, terdapat dua proses utama yang mengarah pada perubahan komposisi atmosfer:

Pertama, adanya tumbuhan yang mengkonversi karbon dioksida menjadi massa jaringan organik, dengan mengemisikan oksigen ke atmosfer. Akumulasi ratusan juta tahun dari proses ini telah menyebabkan oksigen sangat besar di atmosfer. Walaupun secara meyakinkan perubahan konsentrasi oksigen di atmosfer ini tidak diketahui penyebab jelasnya, namun periode naiknya oksigen ini menjadikan bumi layak bagi kehidupan hewan dan manusia di jaman-jaman berikutnya.

Kedua peluruhan batuan pyrite yang melepaskan sulfur sehingga kadar sulfur di lautan menjadi tinggi. Proses oksidasi sulfur menurunkan kembali kadar oksigen di atmosfer yang tinggi akibat akumulasi proses pertama.

Sumber: http://media.hhmi.org/biointeractive/click/oxygen/

Dianalisis akibat kedua proses ini, dalam sejarahnya, komposisi atmosfer berfluktuasi, sampai terbentuk kesetimbangan seperti sekarang. Kadar oksigen hasil analisis, penyelidikan, dan simulasi diketahui berfluktuasi mulai kurang dari 3 % sampai mencapai 35 % (300 juta tahun yang lalu), sebelum akhirnya berada dalam kesetimbangan 21 % (sejak 3 juta tahun yang lalu). Berbagai proses reaksi kimia, kondisi fsika, dan interverensi biokimia, telah berangsur-angsur membentuk komposisi atmosfer yang setimbang [3].

Lapisan Ozon Terbentuk pada Reaksi Fotokimia Akumulasi Oksigen Purba

Akumulasi oksigen pada awal pembentukan tersebar hingga mencapai ketinggian puluhan kilometer. Pada atmosfer bagian atas, sebagian molekul-molekul oksigen (O2) bekerja menyerap energi UV dari matahari dan terpecah menjadi atom oksigen tunggal. Sebagian molekul oksigen tunggal ini berkoalisi dengan molekul oksigen yang masih ada mulai membentu ozon (O3). Ozon ini akan menyerap UV dengan panjang gelombang yang berbeda, kembali pecah menjadi O2 dan O. Akumulasi ozon dalam jutaan tahun ini menghasilkan lapisan ozon di bagian atas (sekarang dikenal dengan troposfer). Lapisan ini bereaksi terus menerus dan sangat efektif menyerap UV (200-300 nm), dan melindungi permukaan bumi dari irradiasi UV kuat dari matahari [4]. Reaksi ini merupakan desain siklus yang berkesetimbangan di lapisan ozon atmosfer. Keberadaan lapisan ozon ini, membuat daratan di Bumi menjadi mungkin untuk diberi kehidupan. Radiasi yang diterima permukaan bumi menjadi lebih kecil dan cukup untuk menjaga ikatan senyawa organik tetap utuh.

Penyelidikan Atmosfer Mengarahkan Kita pada Pengenalan Tuhan

Penelitian asal usul atmosfer masih terus berkembang. Perkembangan teknologi dan simulasi model, menjadikan semua usaha manusia menguak  asal-usul atmosfer telah menghasilkan berbagai teori pendekatan. Pemahaman yang benar akan perilaku alam akan membawa manusia mengenal proses penciptaan alam yang sangat agung. Tuhan telah mendesain dan memproses alam ini untuk menjamin kehidupan manusia sangat sempurna. Penyelidikan tentang proses pembentukan alam, mengarahkan semua pengetahuan manusia pada eksistensi Tuhan. Bahwa alam ini direncanakan dan diciptakan, bukan terbentuk secara kebetulan. Bahkan sampai hari ini, tidak ada satupun ilmuwan yang dapat menjelaskan dengan pasti kenapa ada hidrogen, dengan satu elektron dan satu proton? bagaimana tercipta? Bagaimana hidrogen mengetahui hukum kesetimbangan muatan, dan mematuhinya? Bagaimana elektronnya terus berputar dan tidak runtuh? Dalam skala makro bagaimana dengan alam raya ini mematuhi hukum-hukum yang ditetapkan? Sungguh terlalu banyak yang manusia tidak ketahui dari rencana dan ciptaan Tuhan.

Referensi

[1] J. Fenger and J. C. Tjell, Air Pollition From A Local to A Global Perspective, Denmark: RSC Publishing and Polyteknisk Forlag, 2009.
[2] M. Dole, “The Natural History of Oxygen: Structure and Function of Axygen,” The Journal of General Physiology, pp. 5-25, 1964.
[3] K. Dr, “Howard Hughes Medical Institute,” BioInteractive, [Online]. Available: http://media.hhmi.org/biointeractive/click/oxygen/?_ga=2.231016223.1442296077.1539752106-657404079.1539752106. [Accessed 17 10 2018].
[4] B. J. Finlayson-Pitts and J. N. Pitts Jr., Armospheric Chemistry: Fundamental and Experimental Techniques, New York: A Wiley-Interscience Publication, John Wiley & Sons, 1986.

Jangan Asal Simpan Buku! Ini Dia Dampak Jika Menyimpannya Sembarangan

Tumpukan Buku Lama

Hayo siapa yang suka mengoleksi buku? Pernahkan kalian melihat bahwa semakin lama, buku yang kalian simpan akan berubah warna menjadi kuning? Para pengoleksi buku pasti merasakan hal ini deh. Kira-kira mengapa ya hal itu bisa terjadi?

Ternyata menurut salah seorang professor kimia dari University of South Carolina, Susan Richardson, peristiwa berubahnya warna tersebut disebabkan oleh peristiwa oksidasi [2].

Kamu tahu kan kertas terbuat dari apa? Ya, kertas terbuat dari batang pohon. Sementara itu, batang pohon sendiri tersusun dari berbagai molekul, diantaranya adalah [Mohon maaf artikel terpotong]

Artikel dapat dibaca di Majalah Warstek Edisi #4 > Download Majalah Warstek (KLIK)