Big Bang : Teori yang Paling Disukai tentang Asal Mula Alam Semesta

Terdapat banyak teori bermunculan yang menjelaskan tentang asal mula kelahirannya alam semesta. Mulai dari teori Big Bang, Teori Bintang Kembar, Teori Nebula, Teori Tidal, dan Teori Keadaan Tetap. Namun, diantara kelima teori tersebut, Teori Big Bang lebih condong disukai oleh para ilmuwan untuk dibicarakan. Hal tersebut dikarenakan Big Bang memiliki kebenaran serta kesesuaian berdasarkan latar belakang kosmis yang dicetuskan oleh seorang astronom bernama Arno Penzias.

Big Bang sendiri dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “Dentuman Dahsyat” atau juga terkadang lebih dikenal sebagai “Ledakan Dahsyat”. Teori ini juga dikenal dengan nama “Teori Ledakan Dahsyat” atau “Model Ledakan Dahsyat” yang memiliki kaitan dengan ledakan yang membuat fenomena terjadinya alam semesta. Akan tetapi, terdapat kesalahan umum yang sering dilakukan oleh orang – orang dalam mengartikan definisi dari “Dentuman Dahsyat” dalam teori tersebut. “Dentuman Dahsyat” yang dimaksud bukanlah suatu ledakan penghamburan materi di ruang kosong, melainkan suatu proses pengembangan alam semesta itu sendiri. Dentuman Dahsyat adalah proses pengembangan ruang dan waktu. Bahkan penggunaan istilah “Ledakan Dahsyat” merupakan sebuah istilah yang sesungguhnya kurang tepat untuk menggambarkan teori Big Bang.

Kehadiran Teori Big Bang dapat memecah kebuntuan yang dihadapi oleh para ilmuwan ditengah usahanya menjelaskan asal usul alam semesta. Selain itu, yang sangat menakjubkan adalah teori Big Bang juga mampu memprediksikan bagaimana akhir dari alam semesta kelak. Hingga pada saat ini belum ada teori yang mampu membantah kebenaran dari teori Big Bang tersebut.

blank

Geogers Lemaitre

Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Georges_Lema%C3%AEtre

Teori Big Bang dikemukakan pertama kali oleh Abbe Georges Lemaitre. Ia adalah seorang kosmolog yang berasal dari Belgia pada tahun 1920-an. Abbe Georges Lemaitre berpendapat bahwa alam semesta pada mulanya berasal dari gumpalan superatom yang berbentuk bola api kecil dengan ukuran sangat kecil. Gumpalan tersebut dalam waktu lama semakin memadat dan memanas. Setelah hal tersebut, terjadilah suatu dentuman yang memuntahkan seluruh isi alam semesta. Energi yang dihasilkan oleh Big Bang sangatlah besar yang kemudian membentuk seluruh materi alam semesta dan kemudian akan terus berkembang.

Atom hidrogen juga terbentuk bersamaan saat energi dari Big Bang meluas keluar. Atom hidrogen tersebut terus bertambah banyak dan berkumpul membentuk debu dan awan hidrogen atau yang biasa disebut sebagai nebula. Awan hidrogen tersebut akan terus bertambah padat dengan temperature hingga jutaan derajat celcius. Awan hidrogen inilah yang menjadi bahan pembentuk bintang – bintang di alam semesta. Setelah terbentuk banyak bintang, selanjutnya bintang tersebut berkumpul membentuk kelompok yang kemudian disebut galaksi. Dari galaksi tersebut, lahir bermilyar – milyar tata surya termasuk tata surya yang kita tinggali sekarang.

Dr. Rifki Muhida, seorang ilmuwan dari lembaga Institut Fisika Indonesia juga menyatakan secara sederhana bahwa teori Big Bang menjelaskan  alam semesta pada awalnya “kecil”, tidak seperti sekarang dan berada dalam keadaan yang sangat panas dan padat. Seiring waktu, kosmis yang panas itu mengalami penurunan suhu, kemudian mengalami pemuaian dan mengembang secara terus menerus, tanpa henti, hingga kini.

Beliau juga menjelaskan bahwa konsep penciptaan alam semesta berdasarkan teori Big Bang tersebut memiliki kesesuaian dengan penjelasan penciptaan yang tertulis dalam kitab suci. Namun, sepertinya apa yang ditemukan dalam sains tidaklah sesempurna dengan yang dituliskan dalam kitab suci. Hal tersebut karena penciptaan alam semesta secara fisika sebagaimana yang dikerjakan para fisikawan termasuk Einsten dan Hawking belumlah lengkap karena tidak dapat menjelaskan darimana datangnya materi alam semesta yang awalnya tiada.

blank

Dr. Rifki Muhida

Sumber : https://sites.google.com/site/institutfisikaindonesia/profil-dr-eng-rifki-muhida

Teori Big Bang juga menjelaskan bahwa alam semesta memiliki siklus yang berulang. Pada suatu titik, alam semesta akan berhenti mengembang dan malah menyusut. Semua benda akan ditarik dan menyisakan sebuah lubang hitam yang besar. Lubang inilah yang disebut dengan Big Crunch, yang merupakan kelanjutan dari Big Bang. Menurut teori Big Crunch, alam semesta tidak akan mengalami akhir, namun membantuk sebuah siklus. Ia akan meledak, mengembang, menyusut, lalu menghilang dan terus menerus seperti itu. Dengan kata lain, alam semesta akan bereinkarnasi.

Illustration of the Big Bang Theory

Evolusi alam semesta dimulai dari Big Bang

sumber : https://www.universetoday.com/54756/what-is-the-big-bang-theory/

Terdapat beberpa bukti yang dapat menjelaskan tentang kebenaran teori Big Bang. Diantaranya adalah

1. Bukti Pengamatan Hukum Humble

Pengamatan terhadap galaksi yang membuktikan bahwa objek tersebut, galaksi, melakukan pergeseran dan memancarkan warna merah. Pergeseran yang dialami oleh galaksi-galaksi tersebut terjadi secara merata pada semua galaksi yang dapat dipantau. Pergeseran tersebut diakibatkan oleh proses pengembangan alam semesta berdasarkan waktu cahaya galaksi itu sendiri dan waktu cahaya dipancarkan.

Singkatnya, hukum Humble mempunyai dua penjelasan. Pertama adalah manusia berada pada sebuah pusat pengembangan galaksi dimana galaksi ini tidak mungkin sesuai dengan prinsip kopernikus. Yang kedua adalah alam semesta ini mengembang ke segala arah

2. Gelombang Mikro Kosmis Sebagai Latar Belakang Radiasi

Pada awal terlahirnya alam semesta, alam semesta berada pada keseimbangan yang termal. Keseimbangan ini membuat foton berkesinambungan untuk dipancarkan dan juga diserap. Inilah yang akan menghasilkan radiasi spektrum benda hitam. Setelah itu, terjadinya ledakan sebagai dasar teori Big Bang, temperatur alam semesta menurun sehingga foton tidak bisa diciptakan ataupun dihancurkan. Karena tidak dapat diciptakan dan dihancurkan, foton terus menerus dipantulkan dari elektron – elektron bebas. Hal inilah yang menyebabkan pada masa awalnya, alam semesta tampak buram oleh cahaya.

3. Kelimpahan Unsur – Unsur Primordial

Berdasarkan teori Big Bang, kita dapat memperkirakan konsentrasi – konsetrasi yang ada di alam semesta berbanding dengan jumlah hidrogen pada umumnya. Konsentrasi tersebut adalah helium-3, helium-4, dan lithium-7. Rasio prediksi perbandingan ini adalah 0,25 untuk 4He/H, 10-3 untuk 2H/H, 10-4 untuk 3He/H dan 10-9 untuk 7Li/H. Hasil prediksi ini sudah sesuai dengan hasil pengukuran.

Idealnya antara prediksi dengan hasil pengukuran ini cukup baik untuk deuterium. Namun, sebenarnya masih terdapat perbedaan kecil yang terlihat pada 4He dan 7Li. Meskipun semua hal tersebut tidak seratus persen benar, akan tetapi konsistensi prediksi ini telah dapat menjadi salah satu bukti kuat akan terjadinya dentuman dahsyat yang membentuk alam semesta.

Dari beberapa bukti – bukti tersebutlah kita dapat mengetahui bahwa teori Big Bang sangatlah mendekati akan kebenaran tentang terciptanya asal mula alam semesta. Tapi, dikarenakan adanya teori munculnya alam semesta tersebut, timbulah sebuah pertanyaan, yaitu “apa yang terjadi dengan alam semesta sebelum terjadinya Big Bang? Apakah benar hanya ada debu angkasa di semesta pada saat itu?

Stephen Hawking, seorang fisikawan terkenal yang berasal dari Inggris pun menjawab bahwa peristiwa sebelum Big Bang tidak dapat didefinisikan secara pasti, hal tersebut karena tidak mungkin seseorang dapat mengukur hal yang terjadi pada saat itu. Hawking juga menambahkan bahwa karena peristiwa sebelum Big Bang tidak memiliki konsekuensi pengamatan, seseorang mungkin juga menyadur dari teori, dan mengatakan bahwa waktu dimulai saat Big Bang.

Picture

Sang Fisikawan, Stephen Hawking

sumber : http://www.hawking.org.uk/

Sumber

  1.  Flyish Geost.2018.”Teori Big Bang : Sang Teori Pembentukan Alam Semesta”.Astronomi, 15 Januari 2018. (https://www.geologinesia.com/2018/01/teori-big-bang.html) diakses 9 Januari 2019
  2. Maharani, Regita Cahya.2017.”Big Bang, Teori yang Menjelaskan Terbentuknya Alam Semesta dan Memprediksi Akhir Alam Semesta”.Artikel Sains, 4 September 2017.(https://www.kompasiana.com/regitacahyamhrn/59ad235982386a04970e5784/big-bang-teori-yang-menjelaskan-terbentuknya-alam-semesta-dan-memprediksi-akhir-alam-semesta) diakses 9 Januari 2019
  3. Ilmusiana. 2017. “Teori Big Bang tentang Kelahiran Alam Semesta”. Alam Semesta, April 2017.(https://www.ilmusiana.com/2016/04/teori-big-bang-tentang-alam-semesta.html) diakses 9 Januari 2019
  4.  Sartika, Resa Eka Ayu. 2018. “Apa yang Terjadi Sebelum Big Bang? Stephen Hawking Menjawabnya”. Sains Fenomena, 4 Maret 2018. (https://sains.kompas.com/read/2018/03/04/210205623/apa-yang-terjadi-sebelum-big-bang-stephen-hawking-menjawabnya) diakses 9 Januari 2019
  5. Wikipedia Bahasa Indonesia. Ledakan Dahsyat. (https://id.wikipedia.org/wiki/Ledakan_Dahsyat). Diakses 9 Januari 2019
  6. Hasan, Rizki Akbar. 2017. “Ilmuwan Indonesia Temukan Bukti Sains Penciptaan dan Kiamat”. Sains, 09 Agustus 2017. (https://www.liputan6.com/global/read/3052774/ilmuwan-indonesia-temukan-bukti-sains-penciptaan-dan-kiamat) diakses 14 Januari 2019

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Bima Prasetya
Latest posts by Bima Prasetya (see all)
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *