Dalam dunia medis modern, perawatan penyakit seperti kanker atau penyakit jantung sering kali dipersonalisasi—artinya dokter menyesuaikan perawatan berdasarkan hasil tes dan kondisi unik pasien. Namun, dalam kesehatan mental, pendekatan personalisasi seperti ini belum banyak diterapkan.
Baru-baru ini, para peneliti dari Heinz C. Prechter Bipolar Research Program di University of Michigan menemukan suatu pendekatan baru yang menjanjikan: menggunakan tes kepribadian yang mendalam untuk membantu menentukan perawatan terbaik bagi setiap orang dengan gangguan bipolar. Temuan ini berpotensi membuka jalan bagi perawatan yang lebih efektif dan dipersonalisasi untuk kondisi kesehatan mental ini—sesuatu yang sebelumnya lebih sering kita lihat pada penyakit fisik seperti kanker atau penyakit jantung.
Apa Itu Gangguan Bipolar?
Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang kompleks di mana seseorang mengalami perubahan suasana hati ekstrem antara fase sangat ceria atau aktif (mania atau hipomania) dan fase sangat sedih atau rendah (depresi). Perubahan ini sering tidak mudah diprediksi, dan setiap orang yang mengalaminya bisa berbeda jauh satu sama lain.
Karena sifatnya yang berulang dan berubah-ubah, diagnosis dan penanganan gangguan bipolar bisa sangat menantang. Bahkan dua orang dengan diagnosis yang sama pun bisa memiliki pengalaman yang sangat berbeda dalam gejala dan respons terhadap perawatan.
Mengapa Tes Kepribadian Bisa Relevan?
Kepribadian adalah pola berpikir, merasa, dan berperilaku yang relatif stabil dalam jangka waktu panjang. Setiap orang memiliki kombinasi karakteristik kepribadian yang unik, seperti cara mereka bereaksi terhadap stres, bagaimana mereka memandang dunia, atau bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain.
Selama ini, kepribadian dianggap jarang berubah dan sebagian besar tidak termasuk dalam pendekatan klinis utama untuk gangguan bipolar. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kombinasi ciri kepribadian tertentu dapat memengaruhi seberapa sering seseorang mengalami episode depresi, seberapa baik mereka berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, dan bagaimana mereka menanggapi perawatan.
Bagaimana Cara Peneliti Melakukan Studi Ini?
Untuk memahami hubungan antara kepribadian dan kondisi gangguan bipolar, tim peneliti mengumpulkan data dari lebih dari 2.500 orang yang telah didiagnosis bipolar. Semua peserta ini mengikuti dua penelitian jangka panjang (artinya mereka dipantau selama bertahun-tahun, bukan hanya sekali datang). Dengan cara ini, para peneliti bisa melihat perubahan dan pola yang muncul dalam jangka waktu lama—bukan sekadar gambaran singkat.
Agar bisa mengetahui profil kepribadian peserta, para peneliti menggunakan dua jenis tes kepribadian yang sudah lama dipakai di dunia psikologi klinis:
Revised NEO Personality Inventory (NEO PI-R)
Ini adalah tes kepribadian yang sangat komprehensif berisi 240 pertanyaan. Tes ini mengukur lima dimensi utama kepribadian, yaitu:
- Neurotisisme – kecenderungan mengalami emosi negatif seperti cemas, marah, atau sedih
- Ekstraversi – seberapa aktif dan sosial seseorang
- Keterbukaan terhadap pengalaman baru (Openness) – seberapa terbuka seseorang pada ide dan pengalaman baru
- Keramahan / Kebaikan (Agreeableness) – seberapa kooperatif, empatik, dan mudah mempercayai orang lain
- Kehati-hatian / Ketelitian (Conscientiousness) – seberapa terorganisir, disiplin, dan bertanggung jawab
Karena jumlah pertanyaannya banyak, tes ini memberikan gambaran kepribadian yang sangat detail dan mendalam.
NEO Five-Factor Inventory (NEO-FFI)
Ini adalah versi lebih singkat dari tes yang sama. Masih mengukur lima dimensi kepribadian utama di atas, tapi dengan lebih sedikit pertanyaan.
Tes ini berguna ketika waktu terbatas atau dibutuhkan gambaran umum yang lebih akurat. Hasilnya memang tidak sedetail NEO PI-R, tetapi tetap bisa memberikan informasi penting tentang karakter kepribadian seseorang.
Temuan Utama Penelitian
Penelitian ini menemukan bahwa ciri-ciri kepribadian tertentu, jika muncul bersama-sama, dapat memengaruhi perjalanan gangguan bipolar. Ada kombinasi sifat yang membuat seseorang lebih kuat menghadapi depresi, tetapi ada juga yang membuat risiko depresi menjadi lebih besar.
Artinya, kepribadian bukan hanya menentukan bagaimana seseorang bersikap, tetapi juga bisa berkaitan dengan seberapa sering gejala bipolar muncul dan seberapa baik seseorang mampu menjalani aktivitas sehari-hari seperti bekerja, bersosialisasi, dan mengurus diri sendiri.
Baca juga: Mengapa Bipolar Bisa Kambuh Lagi? Ini Penjelasan dan Solusi Ilmiahnya
Salah satu ciri yang paling berpengaruh adalah neurotisisme. Ini menggambarkan kecenderungan seseorang mengalami emosi negatif seperti cemas, marah, atau mudah tertekan. Orang dengan skor neurotisisme tinggi cenderung memiliki risiko yang lebih besar mengalami episode depresi. Sebaliknya, mereka yang memiliki neurotisisme rendah cenderung lebih tahan terhadap depresi dan lebih mampu berfungsi dengan baik.
Namun, ini bukan hanya soal neurotisisme saja—ciri kepribadian lain juga berperan jika muncul dalam kombinasi tertentu. Apa yang terlihat penting adalah rasio antara gaya kepribadian yang melindungi seseorang vs yang meningkatkan risiko.
Untuk memastikan bahwa temuan ini bukan kebetulan, para peneliti juga menguji model mereka pada kelompok besar lainnya yang mengambil tes kepribadian yang lebih pendek dan memiliki penilaian klinis lanjutan. Hasilnya tetap konsisten: gaya kepribadian tertentu tetap berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi atau lebih rendah untuk depresi dan fungsi hidup yang buruk.
Ini meningkatkan kepercayaan para peneliti bahwa pendekatan ini tidak hanya berlaku di satu kelompok saja, tetapi bisa diterapkan lebih luas.
Mengapa Gaya Kepribadian Penting?
Penelitian ini menunjukkan bahwa bukan hanya satu ciri kepribadian tertentu yang menentukan hasilnya, melainkan kombinasi beberapa ciri sekaligus — pola yang unik pada setiap individu. Jumlah ciri kepribadian yang bersifat “melindungi” vs. yang meningkatkan risiko tampaknya menjadi salah satu kunci utama.
Ini juga menunjukkan bahwa kepribadian tidak selamanya tetap—dengan terapi atau bimbingan yang tepat, seseorang mungkin dapat memperkuat sifat yang membantu mereka mengatur suasana hati dan hidup lebih efektif. Misalnya eseorang yang cenderung kurang keterbukaan terhadap pengalaman baru (openness)—yang dalam rangka normal dapat melindungi seseorang—bisa dibantu dengan terapi atau aktivitas yang mendorong eksplorasi dan kreativitas.
Apa Artinya untuk Masa Depan Perawatan Bipolar
Walau masih diperlukan penelitian lanjutan, temuan ini mengisyaratkan perubahan besar dalam cara kita memahami gangguan bipolar:
- Tidak hanya berdasarkan diagnosa umum, tetapi berdasarkan profil psikologis individu.
- Perawatan mental dapat menjadi semakin dipersonalisasi, mirip dengan bagaimana perawatan penyakit fisik dilakukan saat ini.
- Tujuan akhirnya adalah mengurangi frekuensi episode depresi, meningkatkan kualitas hidup sehari-hari, dan membantu pasien hidup lebih stabil dan seimbang.
Baca juga: Hubungan Brain-Derived Neurotrophic Factor dengan Bipolar
Kesimpulan
Penelitian terbaru dari University of Michigan menunjukkan bahwa tes kepribadian dapat membantu mempersonalisasi perawatan gangguan bipolar, sehingga pengobatan tidak lagi harus bersifat sama untuk semua orang. Dengan memahami kombinasi ciri kepribadian setiap individu, dokter dapat memperkirakan risiko depresi berulang dan menyesuaikan pendekatan perawatan yang paling tepat.
Temuan ini membuka peluang besar bagi dunia kesehatan mental untuk menerapkan pendekatan yang lebih personal, seperti yang sudah lama dilakukan pada penyakit fisik. Harapannya, langkah ini dapat membantu penderita gangguan bipolar hidup lebih stabil, berfungsi lebih baik dalam aktivitas sehari-hari, serta memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Referensi:
[1] https://medschool.umich.edu/department-news/could-personality-tests-help-make-bipolar-disorder-treatment-more-precise, diakses pada 27 Desember 2025.
[2] Kelly A. Ryan, Anastasia K. Yocum, Yuhua Zhang, Peisong Han, David F. Marshall, Paul T. Costa, Sarah H. Sperry, Takakuni Suzuki, Melvin G. McInnis, Sebastian Zöllner. Predictive evidence for the impact of personality styles on depression and functioning in two bipolar disorder cohorts. Journal of Affective Disorders, 2025; 380: 746 DOI: 10.1016/j.jad.2025.03.131

