Transmutasi Modern: Sains di Balik Emas Buatan Manusia

Sejak ribuan tahun lalu, para alkemis, ilmuwan sekaligus filsuf di zaman kuno memiliki impian besar: mengubah logam biasa seperti timah […]

Sejak ribuan tahun lalu, para alkemis, ilmuwan sekaligus filsuf di zaman kuno memiliki impian besar: mengubah logam biasa seperti timah atau besi menjadi emas. Mereka mencoba berbagai cara, mulai dari eksperimen kimia, pemanasan dengan api, hingga ritual-ritual mistis, namun semuanya gagal. Sebab, emas bukanlah sekadar logam berwarna kuning; ia adalah unsur kimia yang identitasnya ditentukan oleh jumlah proton di inti atomnya. Untuk mengubah suatu unsur menjadi unsur lain, kita harus memodifikasi inti atom itu sendiri, sesuatu yang mustahil dilakukan dengan teknologi kuno.

Baru pada abad ke-20, saat teknologi nuklir berkembang, manusia memiliki alat yang cukup kuat untuk mengutak-atik inti atom. Kini, berkat kemajuan fisika partikel dan penggunaan akselerator partikel (mesin raksasa yang mempercepat partikel hingga mendekati kecepatan cahaya) impian kuno itu menjadi kenyataan. Hanya saja, hasilnya masih terbatas pada skala mikroskopis, jauh dari cukup untuk membuat emas batangan.

Detektor ALICE

Baca juga artikel tentang: Peluang Emas: AS Hampir Menguasai Harta Karun Langka di Ukraina yang Bernilai Triliunan Dollar

Prinsip Ilmiah: Bagaimana Unsur Berubah Menjadi Emas

Setiap unsur di tabel periodik dibedakan oleh jumlah proton di inti atomnya. Emas memiliki 79 proton, sedangkan logam lain punya jumlah proton yang berbeda.
Untuk menciptakan emas dari logam lain, ilmuwan harus melakukan transmutasi (proses mengubah jumlah proton dalam inti atom). Caranya meliputi:

  • Pembombardiran nuklir: menembakkan partikel berenergi tinggi ke inti unsur seperti bismut atau merkuri, sehingga strukturnya berubah menjadi emas.
  • Benturan ultra-periferal di Large Hadron Collider (LHC): menabrakkan inti timbal dengan kecepatan nyaris setara cahaya. Benturan ekstrem ini dapat membuat inti kehilangan beberapa proton dan berubah menjadi emas, meskipun hanya untuk waktu singkat.

Proses ini mirip dengan reaksi yang terjadi di dalam bintang, tempat unsur-unsur berat seperti emas terbentuk secara alami lewat ledakan supernova.

Tantangan Besar: Mengapa Tidak Bisa untuk Bisnis

Walaupun secara teknis emas buatan sudah bisa dibuat, secara ekonomi proses ini sangat tidak efisien. Ada beberapa alasan utama:

  • Biaya energi sangat tinggi: akselerator partikel mengonsumsi listrik setara satu kota kecil untuk beroperasi.
  • Infrastruktur super mahal: membangun dan merawat fasilitas berteknologi tinggi ini memerlukan investasi miliaran dolar.
  • Hasil yang sangat sedikit: produksi emas hanya menghasilkan beberapa atom, terlalu sedikit untuk dimanfaatkan atau dijual.
  • Masalah radioaktivitas: emas hasil transmutasi nuklir kadang bersifat radioaktif, sehingga berbahaya dan memerlukan waktu lama untuk menjadi stabil dan aman digunakan.

Dengan kata lain, membuat emas di laboratorium saat ini lebih mirip demonstrasi kemampuan sains ketimbang solusi bisnis atau cara cepat jadi kaya.

Dampak terhadap Pasar Emas

Meski secara ilmiah menarik, emas buatan laboratorium tidak memberikan pengaruh berarti terhadap harga atau ketersediaan emas di pasaran. Berbeda dengan berlian sintetis yang kini bisa diproduksi massal dan dijual dengan harga lebih terjangkau, produksi emas lewat transmutasi nuklir masih berada di tahap eksperimental dan berskala sangat kecil.

Pasar emas dunia masih sepenuhnya bergantung pada tambang tradisional yang menghasilkan logam mulia ini dalam jumlah ton per tahun. Sementara itu, emas dari laboratorium hanya muncul dalam jumlah atom atau molekul, jauh dari cukup untuk menjadi komoditas perdagangan.

Bagi investor, emas buatan manusia saat ini lebih dianggap sebagai prestasi teknologi ketimbang aset investasi. Nilainya ada pada pembuktian kemampuan sains dan teknik manusia, bukan pada logamnya itu sendiri. Jadi, setidaknya untuk beberapa dekade ke depan, kalung emas di toko perhiasan Anda hampir pasti masih berasal dari perut bumi, bukan dari dalam akselerator partikel.

Signifikansi Ilmiah

Walaupun emas buatan dari laboratorium tidak memiliki dampak langsung terhadap ekonomi global, pencapaiannya dalam dunia sains sangat besar. Keberhasilan ini membuktikan bahwa transmutasi unsur yang dulu hanya menjadi mimpi para alkemis benar-benar bisa dilakukan dengan metode fisika modern.

Lebih dari sekadar membuat logam mulia, penelitian ini memperluas pemahaman kita tentang struktur inti atom dan bagaimana partikel dapat berinteraksi pada energi sangat tinggi. Kemajuan ini juga bisa menjadi langkah awal menuju teknologi baru, misalnya memanfaatkan proses serupa untuk menciptakan material langka atau isotop khusus yang berguna dalam kedokteran nuklir, industri, atau eksplorasi luar angkasa.

Dengan kata lain, emas buatan bukan hanya soal “logam kuning”, tapi juga simbol kemampuan manusia mengendalikan materi pada tingkat paling fundamental.

Emas hasil laboratorium adalah bukti bahwa manusia mampu merealisasikan impian kuno melalui kemajuan teknologi dan pengetahuan. Namun, hingga teknologi ini bisa dilakukan secara efisien dan murah, emas buatan akan tetap menjadi prestasi ilmiah daripada produk komersial.

Emas hasil rekayasa manusia memang hanya berjumlah sangat kecil dan belum punya arti besar dalam skala ekonomi global. Kita tidak bisa begitu saja mencetak batang emas dan menggunakannya untuk perhiasan atau cadangan bank sentral. Namun, pencapaian ini merupakan sebuah terobosan penting bagi dunia sains. Ia ibarat “butiran kecil” secara nilai pasar, tetapi sekaligus “lompatan besar” dalam sejarah penelitian.

Mengapa demikian? Karena kemampuan membuat emas buatan menandai betapa tipisnya batas antara sesuatu yang dulu hanya dianggap mimpi, legenda, atau bahkan sihir, dengan kenyataan ilmiah. Dahulu kala, para alkemis berabad-abad mencoba mengubah logam biasa menjadi emas, sebuah obsesi yang dianggap mustahil. Kini, dengan pemahaman mendalam tentang struktur atom dan teknologi nuklir, sains menunjukkan bahwa hal tersebut bukan lagi sekadar khayalan.

Dengan kata lain, emas buatan menjadi simbol perkembangan ilmu pengetahuan: meskipun secara praktis belum memberi dampak ekonomi, ia mengingatkan kita bahwa kemajuan sains terus membuka kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya hanya hidup dalam imajinasi manusia.

Baca juga artikel tentang: Misteri Abad pertengahan Terungkap: Situs Pemujaan Berlimpah Emas Ditemukan!

REFERENSI:

Carpineti, Alfredo. 2025. “Alchemy” In Action As CERN Detects Lead Atoms Turning Into Gold. IFLScience: https://www.iflscience.com/alchemy-in-action-as-cern-detects-lead-atoms-turning-into-gold-79124 diakses pada tanggal 20 Agustus 2025.

Wiescher, Michael. 2025. Radioactivity-Two-Volume Set. CRC Press.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top