Kesehatan

Akar Wangi Membantu Lansia Lebih Sehat Sekaligus Membuka Peluang Usaha di Desa

Masyarakat Indonesia menyimpan banyak pengetahuan tradisional yang lahir dari pemanfaatan tanaman obat di lingkungan sekitar. Sayangnya, sebagian besar kekayaan tersebut masih digunakan secara sederhana dan belum memberikan nilai ekonomi yang maksimal bagi masyarakat. Padahal, apabila dikembangkan melalui pendekatan ilmiah, pelatihan…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email

Masyarakat Indonesia menyimpan banyak pengetahuan tradisional yang lahir dari pemanfaatan tanaman obat di lingkungan sekitar. Sayangnya, sebagian besar kekayaan tersebut masih digunakan secara sederhana dan belum memberikan nilai ekonomi yang maksimal bagi masyarakat. Padahal, apabila dikembangkan melalui pendekatan ilmiah, pelatihan keterampilan, serta strategi pemasaran yang tepat, tanaman lokal dapat menjadi produk bernilai tinggi yang mendukung kesehatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Gagasan inilah yang menjadi dasar sebuah program pengabdian masyarakat yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam Jurnal Kreativitas Pengabdian kepada Masyarakat. Penelitian tersebut mengembangkan produk spa herbal berbahan akar wangi di Desa Bakalan, Kabupaten Malang, dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup lansia sekaligus membuka peluang usaha berbasis potensi lokal. Program ini menunjukkan bahwa perpaduan antara ilmu pengetahuan, budaya, komunikasi, dan pemberdayaan masyarakat mampu menghasilkan manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar menciptakan sebuah produk baru.

Penelitian ini bukan merupakan uji klinis yang bertujuan membuktikan efektivitas suatu obat atau terapi medis. Penelitian menggunakan pendekatan Participatory Action Research atau penelitian aksi partisipatif. Dalam pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi ikut terlibat secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Para peneliti bekerja bersama masyarakat mulai dari mengidentifikasi potensi desa, menyusun program pelatihan, mengembangkan produk, hingga mengevaluasi hasil kegiatan. Sebanyak tiga puluh peserta yang terdiri atas lansia, kelompok pralanjut usia, dan generasi muda mengikuti seluruh rangkaian program sehingga setiap kelompok dapat saling berbagi pengalaman dan keterampilan.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Desa Bakalan dipilih karena memiliki potensi tanaman obat yang cukup besar, terutama akar wangi atau Vetiveria zizanioides. Selama ini masyarakat lebih banyak memanfaatkan tanaman tersebut sebagai bahan tradisional dengan nilai ekonomi yang relatif rendah. Padahal akar wangi dikenal memiliki aroma khas yang banyak dimanfaatkan dalam industri minyak atsiri, kosmetik, hingga produk relaksasi. Para peneliti melihat peluang untuk mengembangkan tanaman tersebut menjadi produk spa herbal yang lebih bernilai sekaligus dapat menjadi identitas khas desa.

Produk utama yang dikembangkan dalam program ini adalah spa kaki berbahan akar wangi yang dipadukan dengan jahe merah dan kunyit. Ketiga bahan tersebut dipilih karena telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional dan banyak diteliti mengandung berbagai senyawa bioaktif. Formula yang digunakan relatif sederhana sehingga dapat dipraktikkan oleh masyarakat. Bahan bahan herbal dikeringkan kemudian dicampurkan ke dalam air hangat dengan suhu sekitar empat puluh dua derajat Celsius. Peserta kemudian merendam kaki selama sekitar lima belas menit sebagai bagian dari terapi relaksasi. Selain belajar membuat produk, masyarakat juga memperoleh pelatihan mengenai kebersihan produksi, pengemasan, serta cara menjaga kualitas produk agar memenuhi standar yang baik.

Keunikan program ini tidak hanya terletak pada produk spa yang dihasilkan, tetapi juga pada strategi komunikasi yang digunakan. Para peneliti menerapkan pendekatan yang disebut Authentic Communication. Pendekatan ini mengajarkan bahwa sebuah produk akan memiliki daya tarik lebih besar apabila mampu menyampaikan cerita yang jujur mengenai asal usul, budaya, serta masyarakat yang membuatnya. Dengan demikian, konsumen tidak hanya membeli produk spa herbal, tetapi juga mengenal kisah Desa Bakalan, tradisi masyarakat, dan perjalanan para lansia yang terlibat dalam proses pembuatannya. Cerita yang kuat dapat membangun kepercayaan konsumen sekaligus meningkatkan nilai jual produk.

Program ini juga memberikan pelatihan mengenai desain kemasan. Para peserta memanfaatkan keterampilan membuat makrame dan rajutan untuk menghasilkan kemasan yang menarik dan memiliki ciri khas budaya lokal. Kemasan tidak hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan identitas desa kepada masyarakat yang lebih luas. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat dapat memberikan nilai tambah yang tidak kalah penting dibandingkan kualitas produk itu sendiri.

Selain menghasilkan produk baru, program ini juga memperkuat kerja sama antar generasi. Para lansia membagikan pengetahuan mengenai tanaman herbal dan pengalaman pengobatan tradisional yang mereka miliki. Sementara itu, generasi muda membantu memanfaatkan teknologi digital untuk mempromosikan produk melalui media sosial dan berbagai platform komunikasi. Kolaborasi tersebut menciptakan hubungan yang saling melengkapi sehingga pengetahuan tradisional tetap terjaga sekaligus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Dari sisi kesehatan, penelitian melaporkan hasil yang cukup menarik. Setelah mengikuti terapi spa kaki menggunakan campuran akar wangi, jahe merah, dan kunyit, tekanan darah sistolik pada kelompok lansia mengalami penurunan rata rata sekitar tujuh koma tujuh persen. Nilai tekanan darah sistolik turun dari sekitar seratus empat puluh tujuh koma empat puluh empat menjadi seratus tiga puluh enam koma sebelas milimeter raksa. Para peserta juga melaporkan tubuh terasa lebih rileks dan nyaman setelah menjalani terapi. Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa kombinasi perendaman kaki menggunakan air hangat dan bahan herbal berpotensi memberikan efek relaksasi yang bermanfaat bagi lansia.

Ilustrasi ini menampilkan komunikasi autentik dalam layanan spa berbahan akar wangi (vetiver) di Desa Bakalan yang menciptakan suasana hangat, meningkatkan relaksasi, dan mendukung kesejahteraan lansia melalui kearifan lokal.

Namun hasil tersebut perlu dipahami secara hati hati. Penelitian ini tidak dirancang untuk membuktikan bahwa spa herbal secara langsung menjadi penyebab utama penurunan tekanan darah. Berbagai faktor lain juga dapat memengaruhi hasil tersebut, seperti efek relaksasi akibat air hangat, suasana kegiatan yang menyenangkan, interaksi sosial antar peserta, maupun perubahan gaya hidup selama mengikuti program. Oleh karena itu, hasil penelitian ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa spa herbal mampu mengobati hipertensi atau penyakit lainnya.

Keberhasilan program juga terlihat dari aspek sosial dan ekonomi. Produk spa herbal yang dikembangkan berhasil memperoleh perhatian masyarakat luas melalui berbagai media massa dan media digital. Strategi komunikasi yang diterapkan mampu memperkenalkan potensi Desa Bakalan kepada khalayak yang lebih luas sehingga membuka peluang pemasaran yang sebelumnya belum tersedia. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah produk tidak hanya bergantung pada kualitas bahan, tetapi juga pada kemampuan menyampaikan cerita yang menarik dan membangun kepercayaan konsumen.

Penelitian ini juga memperkenalkan sebuah pendekatan pemberdayaan yang disebut model PELUKAN. Model tersebut menggabungkan pelestarian budaya, pendidikan kesehatan, pengembangan produk herbal, pembelajaran lintas generasi, dan komunikasi pemasaran dalam satu kegiatan yang saling mendukung. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak harus dilakukan melalui investasi besar atau teknologi yang rumit. Potensi lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan justru dapat menjadi sumber inovasi apabila dikelola secara bersama sama.

Walaupun memberikan hasil yang menjanjikan, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah peserta hanya tiga puluh orang dan seluruhnya berasal dari satu desa sehingga hasilnya belum tentu dapat diterapkan pada daerah lain dengan karakteristik masyarakat yang berbeda. Penelitian juga tidak menggunakan kelompok pembanding maupun proses pengacakan peserta sebagaimana dilakukan pada uji klinis. Oleh karena itu, manfaat kesehatan yang dilaporkan masih memerlukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar serta metode penelitian yang lebih ketat. Selain itu, penelitian ini merupakan program pengabdian masyarakat sehingga fokus utamanya adalah pemberdayaan masyarakat, bukan pembuktian efektivitas terapi secara medis.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa spa herbal berbahan akar wangi, jahe merah, dan kunyit tidak dapat menggantikan pengobatan medis bagi penderita hipertensi maupun penyakit kronis lainnya. Lansia yang memiliki tekanan darah tinggi tetap perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan mengikuti terapi yang telah direkomendasikan. Spa herbal lebih tepat dipandang sebagai salah satu bentuk relaksasi dan pendukung gaya hidup sehat yang masih memerlukan pembuktian ilmiah lebih lanjut.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kekayaan tanaman herbal Indonesia dapat memberikan manfaat yang jauh lebih luas apabila dipadukan dengan ilmu pengetahuan, kreativitas, komunikasi, dan pemberdayaan masyarakat. Akar wangi tidak hanya berpotensi menjadi bahan spa yang memberikan rasa nyaman bagi lansia, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya, meningkatkan keterampilan masyarakat, serta membuka peluang ekonomi baru di tingkat desa. Penelitian ini memberikan contoh bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium berteknologi tinggi. Inovasi juga dapat tumbuh dari kemampuan masyarakat mengolah pengetahuan lokal menjadi solusi yang relevan bagi kesehatan, pelestarian budaya, dan kesejahteraan bersama.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Nirwana, Maya Diah dkk. 2026. Authentic Communication of Indonesian Vetiver Spa to Improve the Elderly’s Well-Being in Bakalan Village. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) 9 (1), 404-419.

Maratus Sholikah
TENTANG PENULIS

Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Artikel ngilmiah ke-8 JOKOWI telah terbit! Abstrak: Di mata masyarakat, meminta maaf merupakan perbuatan terpuji sehingga seharusnya dapat mendorong politikus untuk melakukannya.…▧ Carousel

Artikel ngilmiah ke-8 JOKOWI telah terbit! Abstrak: Di mata masyarakat, meminta maaf merupakan perbuatan terpuji sehingga seharusnya dapat mendorong politikus untuk melakukannya. Namun, nyatanya…

Negara lain berlomba membelah atom. Kita berlomba membelah anggaran untuk kopdes dan dapur MBG. Ada typo, Sinkroton bukan sinklotron #sainstertinggal

Negara lain berlomba membelah atom. Kita berlomba membelah anggaran untuk kopdes dan dapur MBG. Ada typo, Sinkroton bukan sinklotron #sainstertinggal

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign