Anak-Anak dan Krisis Iklim: Saat Masa Depan Dipenuhi Cuaca Ekstrem yang Belum Pernah Terjadi

Bayangkan seorang anak yang lahir hari ini. Di sepanjang hidupnya—dari masa balita hingga usia dewasa—ia akan berkali-kali berhadapan dengan gelombang panas, banjir sungai, kebakaran hutan, kekeringan, badai tropis, dan gangguan panen. Pertanyaannya: apakah jumlah kejadian ekstrem yang akan ia alami itu masih “wajar” dalam ukuran sejarah iklim Bumi, atau sudah melampaui apa pun yang pernah dialami generasi sebelumnya?

Bayangkan seorang anak yang lahir hari ini. Di sepanjang hidupnya—dari masa balita hingga usia dewasa—ia akan berkali-kali berhadapan dengan gelombang panas, banjir sungai, kebakaran hutan, kekeringan, badai tropis, dan gangguan panen. Pertanyaannya: apakah jumlah kejadian ekstrem yang akan ia alami itu masih “wajar” dalam ukuran sejarah iklim Bumi, atau sudah melampaui apa pun yang pernah dialami generasi sebelumnya?

Sebuah studi baru yang terbit di Nature dan dipimpin ilmuwan iklim dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) memberikan jawaban yang tegas: jika emisi gas rumah kaca berlanjut seperti sekarang, jutaan anak muda hari ini akan menjalani “kehidupan tanpa preseden”—yakni hidup dengan paparan seumur hidup terhadap ekstrem iklim yang jauh lebih banyak daripada yang mungkin terjadi tanpa perubahan iklim akibat ulah manusia.

Apa itu “tanpa preseden” dan “paparan seumur hidup”?

Tanpa preseden (unprecedented): dalam konteks studi ini, “tanpa preseden” berarti banyaknya kejadian ekstrem iklim yang dialami seseorang melebihi ambang yang hampir mustahil terjadi pada iklim praindustri. Secara teknis, peneliti menggunakan ambang kurang dari 1 banding 10.000 peluang: tanpa perubahan iklim, kemungkinan seseorang mengalami sebanyak itu kejadian ekstrem sepanjang hidup <0,01%.

Paparan seumur hidup (lifetime exposure): jumlah kumulatif kejadian ekstrem yang dialami seseorang sejak lahir hingga akhir hayat. Misalnya, berapa kali ia menghadapi gelombang panas berat, banjir besar, atau kekeringan panjang sepanjang hidupnya.

Kedua istilah ini penting agar kita tidak sekadar bicara “cuaca buruk yang kebetulan sering,” melainkan lonjakan paparan yang sangat besar dan sistemik, yang tidak akan terjadi bila iklim kita tetap stabil seperti sebelum era industri.

Temuan kunci: generasi yang lebih muda menanggung beban lebih berat

Studi ini menggabungkan proyeksi model iklim untuk tiap lokasi di Bumi dengan data demografi (usia/angkatan lahir). Hasilnya memperlihatkan pola lintas generasi yang jelas: semakin muda seseorang, semakin besar peluangnya menjalani kehidupan tanpa preseden.

  • Jika pemanasan global mencapai 3,5 °C pada 2100, 92% anak yang lahir pada 2020 akan mengalami paparan gelombang panas tanpa preseden sepanjang hidup. Jumlah ini setara dengan sekitar 111 juta anak.
  • Jika dunia berhasil memenuhi target 1,5 °C Perjanjian Paris, 49 juta anak dapat terlindungi dari risiko gelombang panas tanpa preseden tersebut.
  • Perbandingan lintas generasi tajam: bahkan pada skenario 1,5 °C, 52% anak kelahiran 2020 diproyeksikan mengalami paparan gelombang panas tanpa preseden—dibanding 16% pada mereka yang lahir 1960.
Meningkatnya proporsi kelompok kelahiran yang menghadapi paparan gelombang panas seumur hidup yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Temuan di ini baru untuk satu tahun kelahiran, yaitu kohort 2020. Saat jangkauan diperluas ke seluruh anak usia 5–18 tahun saat ini, angkanya melonjak: di skenario 3,5 °C, total sekitar 1,5 miliar anak akan terdampak. Jika dunia berhasil menahan pemanasan di bawah 1,5 °C, sekitar 654 juta anak dapat dilindungi dari hidup tanpa preseden.

Mengapa anak-anak paling terdampak?

Ada beberapa alasan:

  1. Durasi hidup lebih panjang
    Anak yang lahir hari ini masih akan hidup puluhan tahun ke depan—melewati dekade saat dampak iklim terus menguat. Akumulasi kejadian selama 60–80 tahun tentu lebih besar daripada paparan generasi yang sekarang sudah tua.
  2. Kerentanan biologis dan sosial
    Tubuh anak lebih rentan terhadap panas ekstrem dan penyakit terkait iklim. Dari sisi sosial, banyak anak tinggal di daerah dengan infrastruktur adaptasi terbatas (akses air bersih, layanan kesehatan, pendinginan, dlsb).
  3. Dampak jangka panjang pada pendidikan & ekonomi
    Sekolah yang tutup akibat banjir/siklon, gagal panen yang memukul gizi dan ekonomi keluarga, atau asap kebakaran hutan yang menurunkan kualitas udara—semua itu mengganggu modal manusia (pendidikan, kesehatan, produktivitas) yang menentukan masa depan mereka.

Ketidakadilan iklim: yang paling rentan menanggung beban terbanyak

Studi ini menunjukkan ironi yang pahit: anak-anak dengan kerentanan sosial ekonomi tertinggi justru yang paling mungkin menjalani kehidupan tanpa preseden. Di bawah kebijakan iklim sekarang, 95% anak paling rentan (lahir 2020) diproyeksikan mengalami paparan gelombang panas tanpa preseden sepanjang hidup—dibanding 78% pada kelompok paling tidak rentan.

Dengan kata lain, ketidaksetaraan memperparah risiko iklim: wilayah/keluarga yang paling sedikit sumber dayanya adalah yang paling berat bebannya—padahal mereka paling sedikit menyumbang emisi historis.

Baca juga: Waterspout: Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Fenomena Alam

Negara tropis: pukulannya terasa bahkan pada skenario ambisius

Temuan lain yang tidak kalah penting adalah bahwa dalam skenario ambisius 1,5 °C, anak-anak di negara tropis relatif lebih dirugikan dibanding wilayah beriklim sedang. Ini konsisten dengan fakta bahwa banyak negara tropis sudah memiliki iklim panas dan musim basah/kering yang jelas, sehingga sedikit tambahan pemanasan dapat mendorong mereka lebih sering menembus ambang bahaya (misalnya indeks panas sangat tinggi atau hujan ekstrem yang memicu banjir).

Namun, pada skenario emisi tinggi (pemanasan 3,5 °C), hampir semua anak di dunia berpotensi hidup tanpa preseden. Artinya, tidak ada wilayah yang benar-benar aman jika kita gagal menurunkan emisi.

Gambaran angka untuk anak usia 5–18 tahun (2025)

Paparan yang lebih besar dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap iklim ekstrem bagi generasi muda dan jalur pemanasan yang lebih tinggi.

Untuk memberi rasa skala, berikut ringkasan jumlah anak (dari total 1,69 miliar) yang menghadapi paparan seumur hidup tanpa preseden pada 2025, menurut jenis bahaya dan jalur pemanasan:

Gelombang panas: Pada skenario 1,5 °C, 855 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 50,6% dari total 1,69 miliar jumlah anak, atau kira-kira 5 dari 10 anak akan hidup dengan jumlah gelombang panas yang jauh melampaui “normal” iklim pra-industri. Pada skenario 2,7°C, 1.353 juta akan terdampak (sekitar 80,1%), dan pada skenario 3,5°C, 1.509 juta akan terdampak (sekitar 89,3%). Semakin besar pemanasan, semakin banyak anak yang terdampak.

Penurunan pemanasan ini memberi dampak perlindungan yang besar: Dari 3,5 °C menjadi 2,7°C: sekitar 156 juta anak terlindungi; dari 3,5 °C → 1,5 °C: terselamatkan sekitar 654 juta anak dari hidup dengan gelombang panas “tanpa preseden”; dari 2,7 °C → 1,5 °C: sekitar 498 juta anak terlindungi. Bayangkan dari setiap 10 anak, pada 1,5 °C sekitar 5 yang hidupnya akan “banjir” gelombang panas; pada 2,7 °C jadi 8; pada 3,5 °C jadi hampir 9.

Gagal panen: Pada skenario 1,5 °C, 316 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 18,7%, pada skenario 2,7 °C, 400 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 23,7%, pada skenario 3,5 °C, 431 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 25,4%. Tambahan terdampak: dari 1,5°C → 2,7 °C sebesar 84 juta, dari 2,7 °C → 3,5 °C sebesar 31 juta. Total penambahan berdampak dari 1,5 menjadi 3,5 °C sebesar 115 juta.

Kebakaran hutan: Pada skenario 1,5 °C, 119 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 7,0%, pada skenario 2,7 °C, 134 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 7,9%, pada skenario 3,5 °C, 147 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 8,7%. Tambahan terdampak: dari 1,5°C → 2,7 °C sebesar 15 juta, dari 2,7 °C → 3,5 °C sebesar 13 juta. Total penambahan berdampak dari 1,5 menjadi 3,5 °C sebesar 28 juta.

Kekeringan: Pada skenario 1,5 °C, 89 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 5,3%, pada skenario 2,7 °C, 111 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 6,6%, pada skenario 3,5 °C, 116 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 6,9%. Tambahan terdampak: dari 1,5°C → 2,7 °C sebesar 22 juta, dari 2,7 °C → 3,5 °C sebesar 5 juta. Total penambahan berdampak dari 1,5 menjadi 3,5 °C sebesar 27 juta.

Banjir sungai: Pada skenario 1,5 °C, 132 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 7,8%, pada skenario 2,7 °C, 188 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 11,1%, pada skenario 3,5 °C, 191 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 11,3%. Tambahan terdampak: dari 1,5°C → 2,7 °C sebesar 56 juta, dari 2,7 °C → 3,5 °C sebesar 3 juta. Total penambahan berdampak dari 1,5 menjadi 3,5 °C sebesar 59 juta.

Siklon tropis: Pada skenario 1,5 °C, 101 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 6,0%, pada skenario 2,7 °C, 163 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 9,6%, pada skenario 3,5 °C, 163 juta orang akan terdampak. Itu sekitar 9,6%. Pada siklon tropis terlihat plateau (menetap) dari 2,7 ke 3,5 °C untuk kelompok umur ini dalam model studi: tambahan pemanasan tidak lagi menambah jumlah anak yang melewati ambang “tanpa preseden” untuk siklon tropis. Bukan berarti siklonnya tidak makin parah, tapi jumlah anak yang melampaui ambang tidak bertambah lebih jauh pada rentang tersebut.

Bagaimana para peneliti sampai pada kesimpulan ini?

  1. Model iklim global & regional
    Mereka menjalankan proyeksi untuk berbagai skenario pemanasan—1,5 °C, 2,7 °C (perkiraan di bawah kebijakan saat ini), dan 3,5 °C—hingga tahun 2100.
  2. Ambang tanpa preseden yang ketat
    Untuk tiap lokasi dan jenis bahaya, ditetapkan ambang “tanpa preseden” yang mencerminkan kejadian yang hampir mustahil terjadi dalam iklim praindustri (peluang <1/10.000).
  3. Penggabungan dengan demografi
    Proyeksi bahaya kemudian “ditumpangsusunkan” ke data populasi menurut tahun kelahiran (1960–2020) untuk menghitung persentase tiap generasi yang akan hidup tanpa preseden.

Hasil contoh untuk Brussel, Belgia menunjukkan bahwa bahkan pada skenario 1,5 °C, ambang tanpa preseden untuk gelombang panas akan terlampaui bagi anak yang lahir di sana pada 2020—dan tentu lebih parah pada 2,5 °C sampai 3,5 °C.

Lalu, apa yang bisa (dan harus) dilakukan?

Pertama, kurangi emisi secara cepat dan besar-besaran. ni inti dari semuanya. Setiap sepersepuluh derajat yang bisa kita hindari akan mengurangi jumlah anak yang hidup tanpa preseden—dalam skala puluhan hingga ratusan juta. Menjelang COP30 di Brasil, negara-negara diminta memperbarui komitmen iklimnya. Di bawah kebijakan saat ini, pemanasan abad ini diperkirakan sekitar 2,7 °C. Menahan pemanasan mendekati 1,5 °C bukan sekadar angka di kertas; itu berarti nyawa dan masa depan anak-anak.

Kedua, perkuat adaptasi berbasis keadilan. Sambil menurunkan emisi, kita perlu melindungi anak-anak paling rentan:

  • Sistem peringatan dini & perlindungan panas (ruang sejuk publik, kalender sekolah yang fleksibel saat gelombang panas, panduan kesehatan anak).
  • Infrastruktur air & sanitasi untuk menghadapi kekeringan dan banjir.
  • Perlindungan sosial & gizi untuk menahan dampak gagal panen.
  • Bangunan & sekolah tahan bencana di wilayah rawan siklon/banjir.
  • Kebijakan anti-asap dan pengelolaan lahan untuk mencegah kebakaran.

Ketiga, letakkan hak anak di pusat kebijakan iklim. Seperti diingatkan Save the Children, anak-anak mengalami panas berbahaya, badai yang merusak sekolah/rumah, dan kekeringan yang mengganggu makanan mereka—padahal mereka tidak bertanggung jawab atas krisis ini. Kebijakan yang adil berarti mendengar suara mereka, dan memastikan setiap rencana mitigasi/adaptasi mengutamakan kebutuhan anak.

Penutup

Anak-anak tidak memilih dilahirkan di zaman ini, tetapi kitalah yang memilih apakah mereka akan menjalani kehidupan tanpa preseden atau tidak. Ilmu pengetahuan jelas: setiap derajat yang kita selamatkan, setiap kebijakan yang lebih adil, setiap adaptasi yang tepat sasaran—mengubah statistik menjadi harapan. Jika dunia bergerak cepat untuk menahan pemanasan di sekitar 1,5 °C dan menempatkan hak anak di pusat kebijakan, jutaan anak dapat terhindar dari masa depan yang terlalu panas, terlalu kering, terlalu banjir, dan terlalu berbahaya. Pilihan itu ada pada kita, sekarang.

Referensi:

[1] https://press.vub.ac.be/will-you-live-an-unprecedented-life, diakses pada 15 September 2025.

[2] Grant, L., Vanderkelen, I., Gudmundsson, L. et al. Global emergence of unprecedented lifetime exposure to climate extremesNature, 2025 DOI: 10.1038/s41586-025-08907-1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top