Bayangkan sebuah gunung berapi raksasa, tetapi bukan berdiri megah di daratan seperti Gunung Merapi di Indonesia atau Gunung Etna di Italia. Gunung ini justru tersembunyi jauh di bawah permukaan laut, sekitar 1.500 meter di dasar Samudra Pasifik, berjarak kurang lebih 480 kilometer dari pesisir Oregon, Amerika Serikat. Gunung api bawah laut ini bernama Axial Seamount.
Meskipun tidak terlihat dari daratan, Axial Seamount bukanlah gunung mati. Ia termasuk kategori gunung api aktif, yaitu gunung yang masih memiliki potensi untuk meletus karena di dalamnya masih terjadi pergerakan magma. Bedanya, aktivitasnya berlangsung di bawah laut sehingga jarang disadari manusia secara langsung.
Para ilmuwan yang terus memantau gunung ini menemukan tanda-tanda bahwa Axial Seamount sedang “bersiap-siap” untuk meletus. Prediksi terkini bahkan memperkirakan letusan bisa terjadi pada tahun 2025. Prediksi ini dimungkinkan karena Axial Seamount merupakan salah satu gunung api bawah laut yang paling banyak diteliti di dunia. Para peneliti menggunakan sensor-sensor khusus yang bisa mendeteksi getaran, pergeseran tanah laut, hingga aliran magma yang bergerak di dalamnya.
Fenomena aktivitas gunung api bawah laut memang tidak selalu tampak spektakuler seperti letusan gunung di daratan yang mengeluarkan asap pekat dan lava berpijar. Namun, tanda-tandanya tetap bisa dikenali dengan jelas. Pada Axial Seamount, misalnya, caldera yaitu kawah besar berbentuk cekungan yang terbentuk di puncak gunung api setelah letusan besar atau runtuhnya ruang magma, kini mulai mengalami penggembungan. Ibarat balon yang ditiup, bagian dasar laut di sekitar caldera perlahan terangkat ke atas. Hal ini menandakan adanya tekanan dari dalam akibat penumpukan magma yang sedang berusaha mencari jalan keluar.
Selain itu, para ilmuwan juga mencatat adanya aktivitas gempa bumi kecil dalam jumlah yang sangat tinggi. Lebih dari seribu gempa mikro terjadi setiap harinya di sekitar gunung ini. Gempa mikro adalah getaran bumi dengan kekuatan sangat kecil, biasanya tidak terasa oleh manusia, tetapi bisa terdeteksi oleh seismograf bawah laut, alat khusus yang dipasang di dasar samudra untuk merekam pergerakan tanah. Rangkaian gempa kecil ini ibarat “denyut nadi” gunung api, yang memberi sinyal bahwa sistem di dalamnya sedang aktif dan bergolak.

Sains di Balik Gejala Letusan
Mengapa inflasi caldera penting? Itu tanda bahwa magma dari mantel bumi sedang naik ke reservoir di bawah gunung. Tekanan magma ini mendorong lantai laut ke atas. Sama seperti balon karet yang dipompa, semakin lama ia menahan tekanan, semakin besar kemungkinan pecah.
Ilmuwan memprediksi Axial Seamount akan meletus karena pola ini konsisten dengan tiga letusan sebelumnya: 1998, 2011, dan 2015. Kini, gejalanya bahkan lebih intens.
Baca juga artikel tentang: Olympus Mons, Gunung Tertinggi Di Tata Surya
Mengapa Tidak Perlu Panik?
Berita baiknya: letusan Axial hampir pasti tidak membahayakan manusia. Letusannya cenderung tenang, mengeluarkan lava dasar laut yang mengalir perlahan, bukan ledakan dahsyat seperti Krakatau. Posisi yang jauh dari pesisir juga membuat risiko tsunami hampir nihil.
Jadi, berbeda dengan kata “letusan” yang biasanya menakutkan, kali ini lebih tepat disebut sebagai pertunjukan geologi aman di bawah laut.
Mengapa Penting bagi Ilmu Pengetahuan?
Letusan Axial justru dinantikan para peneliti. Alasannya:
- Uji Model Prediksi – Jarang sekali ilmuwan bisa memprediksi letusan gunung dengan tingkat keyakinan tinggi. Jika benar terjadi, ini memperkuat pemahaman tentang mekanisme letusan.
- Ekologi Laut Dalam – Letusan membuka ventilasi hidrotermal baru, tempat mikroba ekstrem hidup. Ini memberi petunjuk tentang asal-usul kehidupan di Bumi, bahkan kemungkinan kehidupan di planet lain.
- Dinamika Tektonik – Axial berada di batas lempeng tektonik Juan de Fuca. Aktivitasnya membantu ilmuwan memahami interaksi antara lempeng dan mantel bumi.
Fisika Singkat: Bagaimana Lava Bisa Muncul di Laut Dalam?
Saat magma (batuan cair panas dari dalam bumi) berhasil menembus kerak samudra, ia langsung bertemu dengan air laut yang sangat dingin dan berada di bawah tekanan tinggi (karena berada di kedalaman ribuan meter). Dalam kondisi ini, magma tidak meledak seperti yang sering kita lihat pada letusan gunung api darat. Sebaliknya, cairan pijar yang keluar itu membeku dengan sangat cepat.
Akibat pembekuan instan tersebut, terbentuklah struktur khas yang dikenal sebagai lava bantal (pillow lava). Dinamakan demikian karena bentuknya menyerupai gundukan roti atau tumpukan bantal bulat-bulat yang saling bertumpuk. Setiap kali magma baru keluar, ia menambah lapisan gundukan baru di atas atau di samping yang sudah ada, sehingga lama-kelamaan terbentuk lanskap dasar laut yang unik dan bergelombang.
Fenomena ini hanya bisa terjadi di dasar laut, karena kombinasi suhu rendah dan tekanan air yang tinggi tidak ditemukan di daratan. Itulah sebabnya, lava bantal menjadi ciri khas gunung api bawah laut dan menjadi salah satu penanda utama bahwa pernah terjadi letusan di lokasi tersebut.
Dampak Global?
Meski lokal, letusan ini punya implikasi luas:
- Karbon dan Kimia Laut – Gas yang dilepaskan ikut memengaruhi siklus karbon samudra.
- Sistem Iklim – Meski kecil, aktivitas vulkanik laut dalam adalah bagian dari mesin iklim bumi.
- Teknologi Observasi – Kabel bawah laut yang memantau Axial adalah salah satu jaringan sensor paling canggih di dunia, menjadi contoh untuk memantau gunung api lain.
Axial sebagai “Kelas Alam”
Axial Seamount memberi kita pelajaran penting:
- Bumi bukan benda mati, tapi sistem dinamis.
- Ilmu geologi dan oseanografi membantu kita “mendengar” napas bumi di tempat tak terlihat.
- Dengan memahami fenomena ini, kita lebih siap menghadapi letusan gunung berapi daratan yang jauh lebih berisiko.
Axial Seamount adalah contoh bagaimana ilmu pengetahuan mengubah potensi bencana menjadi kesempatan belajar. Letusannya bukan alarm bahaya, melainkan laboratorium alam raksasa untuk menguji teori geologi, biologi laut dalam, dan prediksi bencana. Bumi berbicara lewat getaran kecil di kedalaman laut dan kali ini, kita cukup jadi pengamat yang kagum.
Baca juga artikel tentang: Gunung Es Tertua di Dunia Berpindah Tempat, Apa Risiko yang Mengintai?
REFERENSI:
All about Axial Seamount, the underwater Volcano that’s shaking with 1.000 tiny tremors every day and could erupt soon. The Economic Times: https://www.google.com/amp/s/m.economictimes.com/news/international/global-trends/an-underwater-volcano-shaking-with-1000-tiny-tremors-every-day-could-erupt-soon-heres-what-scientists-are-saying/amp_articleshow/123382924.cms diakses pada tanggal 24 Agustus 2025.
Wang, Li dkk. 2025. Monitoring dynamic magma movement in the lower crust during the 2015 eruption of Axial Seamount. Journal of Geophysical Research: Solid Earth 130 (7), e2024JB030481.
Xu, G dkk. 2025. Temporal variation of crustal permeability in relation to the volcano deformation cycle at Axial Seamount, northeast Pacific. Journal of Geophysical Research: Solid Earth 130 (8), e2024JB030112.

