Pertanian di daerah tropis saat ini menghadapi berbagai masalah yang semakin besar. Salah satu tantangan utama adalah perubahan iklim, yang menyebabkan cuaca dan pola hujan yang tidak stabil, serta degradasi tanah, yang mengurangi kesuburan tanah dan kandungan unsur hara yang penting bagi tanaman. Tanah yang terus menerus digunakan untuk pertanian tanpa pemeliharaan yang tepat cenderung menjadi semakin miskin, sehingga menjadi lebih sulit untuk menumbuhkan tanaman dalam jangka waktu lama. Di kawasan hutan hujan Amazon, terutama di bagian tengah Peru, para peneliti sedang berusaha menemukan cara-cara baru untuk menjaga tanah tetap subur tanpa harus bergantung pada pupuk kimia. Pupuk kimia sering kali digunakan untuk menggantikan unsur hara yang hilang dari tanah, namun penggunaan berlebihan dapat merusak kualitas tanah dan mencemari lingkungan. Oleh karena itu, para peneliti mencari metode yang lebih ramah lingkungan untuk menjaga kesuburan tanah secara alami.
Salah satu solusi yang sedang diuji oleh para peneliti untuk mengatasi masalah ini adalah penggunaan pupuk hayati (biofertilizer). Pupuk hayati merupakan jenis pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik alami, seperti kompos, mikroba, atau hasil fermentasi dari bahan-bahan alami. Pupuk ini bekerja dengan cara memperbaiki struktur tanah, membuat tanah lebih gembur dan mudah untuk menyerap air serta nutrisi. Selain itu, pupuk hayati juga meningkatkan kehidupan mikroba di dalam tanah, yang berperan penting dalam proses penguraian bahan organik dan pengembalian unsur hara ke dalam tanah. Salah satu kelebihan dari pupuk hayati adalah membantu akar tanaman untuk lebih efisien dalam menyerap nutrisi yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dengan baik. Dengan menggunakan pupuk hayati, tanah menjadi lebih sehat dan subur, tanpa memberikan dampak negatif terhadap lingkungan seperti yang sering terjadi pada penggunaan pupuk kimia.
Penelitian yang dilakukan di komunitas Asháninka, kelompok masyarakat adat di hutan hujan Peru, menguji tiga jenis biofertilizer berbeda: biol, vermicompost, dan bokashi. Dua jenis tanaman tropis, yaitu mahoni (Swietenia macrophylla) dan nangka (Artocarpus heterophyllus), dipilih sebagai objek penelitian karena keduanya bernilai ekonomi tinggi sekaligus penting bagi ekosistem lokal.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Tanah yang Lebih Gembur dan Kaya Kehidupan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bokashi (kode T04) dan vermicompost (kode T03) memberikan hasil terbaik dalam memperbaiki kualitas tanah dan pertumbuhan tanaman. Tanah yang diberi dua jenis pupuk ini menjadi lebih gembur, lebih porus, dan mampu menahan air lebih lama dibandingkan tanah yang tidak dipupuk (kontrol T01).
Selain itu, kandungan bahan organik, nitrogen, fosfor, dan pH tanah juga meningkat secara signifikan. Ini berarti tanah menjadi lebih sehat dan mampu menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tanaman dalam jangka panjang.
Pupuk hayati juga terbukti meningkatkan keanekaragaman hayati tanah—dari mikroba, jamur, hingga serangga tanah kecil yang berperan penting dalam menjaga kesuburan alami. Dalam ekosistem seperti hutan tropis, keragaman organisme tanah adalah fondasi kehidupan tumbuhan di atasnya.
Mahoni dan Nangka Tumbuh Lebih Cepat dan Hijau
Dampak positif dari perbaikan tanah terlihat jelas pada dua tanaman uji coba. Baik mahoni maupun nangka menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang lebih cepat, dengan daun yang lebih lebat dan hijau. Analisis kandungan klorofil A dan B juga memperlihatkan peningkatan, yang menandakan bahwa fotosintesis berlangsung lebih efisien.
Tanaman yang ditanam di tanah dengan perlakuan T04 (bokashi) memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi, diikuti oleh T03 (vermicompost). Perbaikan ini bukan hanya penting bagi produksi pertanian, tetapi juga bagi konservasi hutan tropis, karena tanaman pohon seperti mahoni berperan besar dalam menyerap karbon dan menjaga siklus air di alam.

Menuju Pertanian yang Lebih Berkelanjutan
Temuan ini memberi pesan kuat: pupuk hayati dapat menjadi kunci pertanian tropis berkelanjutan. Dengan memanfaatkan bahan organik yang tersedia secara lokal, petani bisa meningkatkan hasil panen tanpa merusak tanah atau ketergantungan pada pupuk kimia impor.
Lebih dari itu, penerapan biofertilizer seperti bokashi dan vermicompost juga mendukung konservasi hutan tropis, karena memperbaiki struktur tanah yang sebelumnya rusak akibat pembukaan lahan dan erosi. Dengan demikian, pertanian dan pelestarian alam dapat berjalan seiring, bukan saling bertentangan.
Penelitian ini menegaskan bahwa menjaga kehidupan di bawah tanah sama pentingnya dengan menanam pohon di atasnya. Bokashi dan vermicompost bukan sekadar pupuk alami, tetapi juga agen restorasi ekosistem yang membantu tanah “bernapas” kembali.
Dengan hasil yang menjanjikan ini, para ilmuwan berharap metode biofertilizer dapat diadopsi lebih luas di wilayah tropis lainnya, termasuk Asia Tenggara. Ketika petani, ilmuwan, dan masyarakat adat bekerja bersama, masa depan pertanian yang subur dan hutan yang lestari bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang tumbuh dari tanah itu sendiri.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Castro-Cárdenas, Andrea dkk. 2025. Effects of Biofertilizers on Soil Quality and Vegetative Development of Mahogany (Swietenia macrophylla) and Yaca (Artocarpus heterophyllus) in the Central Peruvian Jungle. Soil Systems 9 (2), 55.

