Sepenggal Kisah Menyelesaikan Skripsiku

Ditulis oleh  Yunia Bani Pratiwi – Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Oktober 2013 lalu aku menjadi mahasiswa tingkat akhir. Bermula […]

Ditulis oleh  Yunia Bani Pratiwi – Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Oktober 2013 lalu aku menjadi mahasiswa tingkat akhir. Bermula dari sikap cuek dan anggap remeh terhadap ujian praktik ibadah dan praktek tilawah padahal pada saat itu praktik-praktik tersebut menjadi persyaratan supaya aku bisa mengikuti seminar proposal. Saat teman-teman yang lain sudah siap dengan judul proposal skripsinya akhirnya saya sadar bahwa saya harus segera menyelesaikan semua ujian praktik yang menjadi syarat mengikuti seminar proposal. Loh, memang kuliah dimana? Mungkin kalian bertanya-tanya, kampus mana yang menerapkan syarat seperti itu. Ya, aku kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati yang notabene banyak mata kuliah agama Islamnya walaupun sebenarnya aku bukanlah mahasiswa jurusan PAI atau sejenisnya melainkan jurusan Pendidikan Matematika. Pendidikanku bukanlah berlatar belakang pesantren ataupun dari madrasah melainkan dari sekolah umum. Makanya untuk bisa pintar mengaji ataupun hafal Al Quran mungkin agak sulit. Namun tidak ada yang tidak mungkin kan? Ketika kita mau belajar dengan sungguh-sungguh semuanya bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Saat itu hapalan Al Quranku sangat sedikit. Padahal untuk bisa lulus kuliah aku harus hafal bacaan Al Quran minimal 1 juz (Juz 30). Aku berjuang mati-matian agar bisa menyelesaikan hapalanku. Tak kenal panas ataupun hujan, dengan rutin aku setor hapalanku. Tidak berjalan mulus, dengan bacaan yang terbata-bata aku pun sering mengulangnya. Bolak-balik hingga akhirnya aku dinyatakan lulus ujian praktik tersebut. Alhamdulillah, Pak Dosennya baik sekali. Walaupun terbilang belum lancar tapi beliau meluluskannya juga. Jangan dulu senang, karena masih ada tahapan selanjutnya. Nanti juga sebelum sidang di tes begini lagi tetapi dengan dosen yang berbeda. Luar biasa ya.Perjuangan dilanjutkan dengan mencari judul skripsi. Masih belum terbayang apa yang akan ditulis, penelitian seperti apa yang akan dilakukan. Harus banyak datang ke perpustakaan nih. Tak cukup satu perpustakaan kampus. Kali itu aku pun sering sekali berkunjung ke berbagai perpustakaan, sering browsing, dan pergi ke toko buku. Hanya untuk mencari sebuah judul. Ternyata cukup sulit juga ya. Sudah  dapat judul pun masih berkali kali mendapat penolakan dari dosen. Ya, judul yang diajukan tidak mendapat persetujuan. Sedih sekali rasanya. Lelah sudah menjadi teman keseharian. Tetapi semua ini butuh pengorbanan. Setelah kurang lebih sebulan mencari dan terus mencari akhirnya judul yang kuajukan disetujui juga. Senangnya. Tinggal melanjutkan menulisnya nih. Tak lupa cari referensi yang banyak yang berkaitan dengan riset tersebut.

Desember 2013 akhir, tiba saatnya untuk seminar proposal. Rasa gugup yang kurasakan hingga tiba giliranku untuk mempresentasikan yang telah aku tulis. Tentunya isi dari proposal tersebut adalah gambaran penelitian yang akan aku lakukan. Bagaimana hasilnya? Hasilnya di ACC juga, tetapi tetap dengan revisi yang seabreg. Revisi judul, revisi metode penelitian dan masih banyak yang lain. Alhamdulillah semua ini harus disyukuri. Saat melakukan perbaikan proposal sebelum lanjut skripsi, aku baru menyadari ternyata judul yang aku ambil itu sulit. Sulit bagaimana? Ya, ternyata referensi buku yang aku perlukan untuk menulis skripsi sangat jarang bahkan jika ada pun kebanyakan berbahasa Inggris. Aku kan kurang bisa menggunakan bahasa Inggris. Oh, Ya Allah tolonglah hambaMu ini. Aku hampir putus asa. Namun apa boleh buat, judul ini telah aku pilih, dan dosen pun telah menyetujuinya. Lanjut saja! Proposal sudah ACC, sekarang tinggal pikirkan bagaimana mendapatkan referensi yang cukup untuk skripsi ini.

Januari 2014, penulisan skripsi yang sesungguhnya pun dimulai. Awal-awal masih banyak revisian. Aku jalani saja. Dengan pertolongan Allah dan dukungan orang tua serta teman-teman, aku bisa mendapatkan referensi untuk skripsiku. Apa kabarnya tes tahfid? Ya, aku belum coba tes untuk periode Januari. Ternyata sebelum tes tahfid atau hapalan Al Quran ada satu tes yang harus dijalani yaitu tes imla. Tes Imla adalah tes menulis Al Quran. Surat yang diajukan adalah surat-surat pada juz 30. Aku coba mendaftar pada periode bulan januari tersebut. Berharap segera lulus tes tersebut sehingga bisa lanjut ke tes tahfid dan bisa ikut ujian komprehensif. Karena sertifikat tahfid menjadi syarat jika ingin mengikuti komprehensif.

Ketika masuk ruangan, dosen bertanya “sudah bisa?” Aku diam sejenak, karena sebenarnya aku belum siap mengikuti tes, kemudian aku jawab “mau coba dulu pak.” Pak dosen berkata, “lebih baik bulan depan saja kalau belum bisa, ini bukan untuk ajang coba-coba.” Jleb, rasanya aku ingin menangis. Tetapi aku memaksa untuk bisa ikut tes. Dosen mengijinkanku untulk mrngikuti tes pada hari itu. Aku diberi selembar kertas yang bertuliskan huruf Arab “gundul”. Aku bingung, kemudian bertanya kepada teman sebelahku. “Ini apa tulisannya?” tanyaku. Temanku menjawab, :surat Al Humazah”.Bapak dosen mendengar kata-kataku. Beliau langsung berkata, “belajar dulu, kalau baca saja masih belum bisa”. Aku berpikir keras, mengingat-ingat bagaimana menulis surat Al Humazah. Tetapi aku tidak bisa menulisnya. Akhirnya aku katakan pada dosenku, “Pak, saya akan kembali bulan depan saja. Saya tidak bisa mengerjakan ini.” Aku pun meninggalkan ruangan dengan hati kecewa. Di depan orang terlihat tegar. Tetapi saat sendiri aku menangis. Seaakan menyesali kenapa tidak dari dulu belajar ini. Padahal memang seharusnya belajar ilmu agama ataupun mengaji dilakukan dengan niat karena Allah bukan karena ingin lulus ujian atau yang lainnya. Ya sudah, belajar lagi karena masih banyak waktu. Setiap hari aku pun belajar. Sambil belajar, aku lanjutkan menulis skripsi.

Sudah masuk bulan Februari, jadwalnya tes imla lagi. Kali ini aku merasa lebih siap dibandingkan tes sebelumnya. Aku mendaftar dan mengikuti tes. Bagaimana hasilnya? Ternyata masih gagal. Kesalahanku sebanyak 3 huruf. Loh kok tidak lulus? Karena kriteria lulus itu jika tulisan kita benar-benar sempurna. Tak boleh satu huruf pun salah atau terlewat. Tetapi karena kesalahannya tidak lebih dari 3 maka saya diperbolehkan untuk mengulang di bulan yang sama. Tidak harus menunggu bulan depan. Beberapa hari kemudian aku mengulang tes tersebut. Selesai ujian aku sadar bahwa ada kesalahan yang aku lakukan saat menulis. Aku sudah berpikir bahwa aku harus mengulangnya lagi bulan depan. Waktu pengumuman tak diduga sekali hasilnya, Alhamdulillah aku lulus juga tes imla. Kaget bercampur senang seakan tak percaya. Padahal kan ada tulisan yang keliru. Ya, rupanya sang dosen kurang teliti memeriksa jawabanku.

Akhir bulan februari telah tiba, jadwalnya KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa). Lokasinya bertempat di Purwakarta. Banyak lika-liku yang kulalui sebelum berangkat KKM maupun saat berlangsungnya KKM. Sebelum berangkat aku berkenalan dengan salah satu teman baru. Dia lah yang menjadi teman curhat selama aku di purwakarta. Walaupun kita berdua berbeda lokasi, aku di purwakarta, ia di Subang. Tetapi ntah kenapa kita bisa seakrab ini. Persahabatan pun berlangsung hingga sekarang.

Saat berangkat ada seseorang yang meminta tukar tempat. Aku menolaknya dengan alasan tidak mau mengacaukan administrasi. Namun orang tersebut marah. Ternyata dia adalah kekasih dari teman sekelompokku. Rupanya mereka ingin menjalani KKM ini di tempat yang sama. Akibatnya terjadi kecanggungan antara aku dan temanku itu. Suasana di tempat KKM pun menjadi kurang nyaman, terkadang kami berbeda pendapat. Tak sedikit percikan pertengkaran terjadi yang membuat aku merasa sedih. Untuk mengurangi rasa sedihku itu, aku sering sekali menelpon sahabat baruku itu.

Di tempat KKM, aku tidak bisa fokus mengerjakan skripsi maupun belajar untuk tes tahfid. Karena banyak kegiatan dan program kerja yang mesti diselesaikan disana. Namun, aku sudah berencana untuk melakukan penelitian sepulang KKM. Singkat cerita aku kembali ke Bandung pada akhir Maret. Hingga tiba saatnya untuk tes tahfid di bukan April 2014. Masih belum lancar juga hapalannya tetapi aku mencoba mendaftar. Hasilnya tidak lulus. Aku mulai sedih berpkir tidak akan lulus tepat waktu. Aku punya harapan untuk lulus tepat 4 tahun karena aku tidak mau menyusahkan orang tua jika aku tidak segera lulus ditambah lagi aku bukan dari keluarga berada. aku terus berusaha belajar agar segera bisa lulus tes tersebut. Penulisan skripsi terus berlanjut sambil aku melakukan penelitian di SMP Negeri 46 Bandung. Selama penelitian aku dibantu oleh salah seorang sahabatku. Ia mengantarku saat penelitian, menemaniku mencari referensi penelitian, dan masih banyak lagi bantuan yang tidak bisa dituliskan satu persatu. Aku punya sahabat yang begitu pengertian dan sayang padaku.

Skripsi berulang kali direvisi namun aku tak pernah menyerah walaupun rasa capek yang dirasakan. Berjam jam aku menunggu kehadiran dosen, bolak-balik mencari buku referensi, dan datang ke perpustakaan setiap hari. Sampai akhirnya aku masuk ke penulisan bab III atau hasil penelitian. Isinya tentang pengolahan data. Aku sudah mengumpulkan data dengan lengkap. Setelah data-data terkumpul dengan susah payah, akhirnya aku pun mulai mengolah semua data yang ada dengan dibantu sahabatku yang lain. Maklumlah saat itu aku agak lemah dengan statistik. Saat olah data masih di tengah perjalanan, masalah muncul. Ya, beberapa data penelitian tidak bisa dibuka kerena ada masalah dengan laptopku Aku pun jadi pesimis dan mood mengerjakan skripsi seakan-akan terjun bebas terus hilang. Aku bersyukur punya sahabat-sahabat yang pengertian. Sahabatku membantuku memperbaiki laptopku. Aku mulai optimis. Akhirnya aku bisa mulai merampungkan bab empat. Kali ini tanpa lupa menyimpan data-data skripsi yang ada di laptop ke dalam flashdisk.

Masuk bulan April aku kembali mengikuti tes tahfid. Tetapi aku kembali gagal. Rasanya sedih. Takut tidak bisa lulus tepat waktu. Teman-temanku sudah banyak yang lulus tes tahfid nih. Tinggal lanjut ke tes berikutnya. Aku terus belajar sambil penyelesaian skripsi. Bulan Mei aku merasa sangat tidak siap untuk kembali tes. Mungkin karena beberapa kali gagal aku menjadi putus asa. Allah memang tidak diam meskipun kadang kita menjauh dari-Nya.. Dia selalu punya cara merangkul kita lagi. Juni aku putuskan untuk ikut tes lagi. Lama sekali menunggu hasilnya. Ada sekitar 2 minggu aku menunggunya. Alhamdulillah lulus. Berkat perjuangan dan doa kali ini berjalan lancar. Aku bisa masuk ke tahap selanjutnya yaitu ujian komprehensif.

Juli 2014, aku mengikuti ujian komprehensif. Materi ujian komprehensif terdiri atas materi kependidikan, agama dan tentang matematika. Hasilnya tidak terlalu baik. Aku dapat nilai C. Aku sangat sedih. Aku menangis. Aku ceritakan pada kedua orang tua. merekalah yang menguatkanku agar aku tak menjadi patah semangat dan takut karena masih ada tes terakhir yaitu sidang skripsi.

Agustus 2014 aku berhasil merampungkan skripsiku dan mengikuti sidang pada bulan tersebut. Sidang skripsi benar-benar lancar. Sesuai dengan yang diharapkan. Aku mendapat nilai A. Alhamdulillah. Aku menangis bahagia di antara teman-teman yang pada saat itu sidang juga. Tak menyangka bisa lulus tepat waktu seperti yang diinginkan. Walaupun tidak cumlaude, nilaiku termasuk kategori baik. Aku bangga dengan yang kudapatkan di tengah keterbatasan yang aku punya.

Lewat pengalaman ini aku merasa dikuatkan, aku tak ragu akan pertolongan Allah. Namun kisah hidup bukanlah seperti cerita dongeng yang akan selalu happy ending. Proses masih terus berlanjut selama kita hidup. Ya, aku masih berjuang untuk menggapai cita-citaku yang lain. Semuanya butuh proses yang panjang. Mudah-mudahan pengalamanku bisa membantu dan mungkin kita saling menguatkan satu sama lain.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *