Ketika para pemimpin Uni Eropa berbicara tentang posisinya di dunia, mereka tidak hanya menyampaikan kebijakan. Mereka juga membangun cerita tentang siapa mereka dan bagaimana mereka memandang negara lain. Cerita itu sering kali hadir dalam bentuk metafora sederhana, namun memiliki makna besar dan dampak politis yang jauh lebih dalam. Salah satu metafora yang kini menjadi sorotan adalah penyebutan Uni Eropa sebagai sebuah “kebun” dan wilayah lain sebagai “rimba”.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Common Market Studies pada tahun 2025, ditulis oleh Münevver Cebeci, menunjukkan bagaimana Uni Eropa menggunakan narasi semacam ini untuk memperkuat identitas geopolitiknya. Metafora kebun dan rimba telah digunakan oleh tokoh penting seperti Josep Borrell, diplomat tertinggi Uni Eropa, yang pada tahun 2022 menggambarkan Eropa sebagai tempat yang tertib dan damai, sementara dunia luar diposisikan sebagai wilayah yang kacau dan perlu dikendalikan.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti bahasa retorika biasa. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa metafora tersebut tidak muncul secara kebetulan. Sebaliknya, ia menggambarkan pola pikir yang mengakar dalam sejarah panjang kolonialisme Eropa, dan kembali hadir dalam bentuk yang lebih mutakhir melalui kebijakan luar negeri Uni Eropa.
Penulis menjelaskan bahwa narasi seperti ini bekerja dengan membagi dunia menjadi dua kelompok yang saling bertentangan. Di satu sisi ada Eropa yang digambarkan sebagai daerah yang maju, aman, dan penuh peradaban. Di sisi lain ada wilayah yang dianggap membutuhkan bimbingan, pengawasan, atau bahkan intervensi. Narasi tersebut bukan hanya menjadi pembeda, tetapi juga alat pembenaran ketika Uni Eropa membuat keputusan politik yang memperluas pengaruhnya.
Selama beberapa dekade, Uni Eropa sering memposisikan dirinya sebagai kekuatan moral yang menekankan kerja sama, demokrasi, dan hak asasi manusia. Peran ini dikenal sebagai normative power, yaitu kekuatan yang berpengaruh karena nilai dan prinsip yang dibawanya. Namun, penelitian Cebeci menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Uni Eropa tampak bergeser menuju kekuatan yang lebih berorientasi keamanan dan geopolitik. Dengan kata lain, alih-alih mengutamakan nilai, ia semakin fokus pada kepentingan strategis dan pertahanan.
Dalam situasi geopolitik global yang tegang, termasuk perang di Ukraina dan kompetisi ekonomi dengan Tiongkok, Uni Eropa terlihat lebih siap memperkuat batas-batasnya dan memandang dunia luar sebagai ancaman. Inilah yang disebut penulis sebagai pergeseran menuju power politics. Metafora kebun dan rimba memperjelas cara pandang ini. Jika Eropa adalah kebun yang harus dirawat, maka ancaman dari luar dipandang seperti hama atau tanaman liar yang tidak boleh dibiarkan masuk.
Konsekuensi dari narasi ini dapat terlihat dalam kebijakan migrasi yang semakin ketat, peningkatan anggaran pertahanan, dan upaya memperkuat hubungan dengan negara yang dianggap dapat mendukung kepentingan strategis Uni Eropa. Ketika narasi tentang keamanan dan keteraturan semakin kuat, suara yang menekankan solidaritas dan keterbukaan berpotensi terpinggirkan.
Di balik metafora yang tampak sederhana tersebut, terdapat pesan yang jauh lebih besar. Ia menyiratkan bahwa orang yang tinggal di luar Eropa perlu diarahkan, dimodernisasi, atau dijaga agar tidak mengganggu stabilitas yang dinikmati Eropa. Ini adalah cara pandang yang pernah menjadi dasar kolonialisme berabad-abad lalu. Pada masa itu, negara-negara Eropa membenarkan penjajahan dengan alasan membawa peradaban ke wilayah yang mereka anggap primitif.
Penelitian ini menyoroti bahwa meskipun kolonialisme telah berakhir secara formal, jejak pemikirannya masih bertahan dalam wacana politik modern. Dengan menggambarkan dunia luar sebagai rimba, Uni Eropa secara tidak langsung menempatkan dirinya sebagai pusat peradaban. Ini melanjutkan apa yang disebut sebagai pandangan Euro-sentris, yaitu pemikiran yang menempatkan Eropa sebagai acuan utama dalam menilai dunia.
Bagi negara-negara di luar Eropa, termasuk Indonesia, penting untuk memahami bagaimana wacana ini bekerja. Dalam hubungan internasional, bahasa memainkan peran strategis. Ia bisa memperhalus ekspansi kekuasaan, menjaga citra baik, sekaligus membentuk opini publik. Ketika narasi tertentu diulang oleh pemimpin dan media, lama-kelamaan narasi itu dianggap benar dan wajar.
Penelitian Cebeci menyarankan perlunya sikap kritis terhadap bahasa diplomatik yang terdengar halus namun bermuatan politis. Jika dunia luar terus diposisikan sebagai wilayah yang kurang maju dan penuh ancaman, maka ketimpangan global akan semakin melebar. Negara-negara berkembang dapat terus ditempatkan pada posisi yang harus mengikuti standar yang ditetapkan dari luar, alih-alih diakui sebagai mitra yang setara.
Dari sudut pandang Indonesia, memahami narasi ini penting untuk memperkuat posisi dalam diplomasi internasional. Indonesia berada di kawasan yang sering menjadi arena persaingan kekuatan besar. Dengan mengenali pola pikir yang memengaruhi kebijakan mereka, Indonesia dapat bernegosiasi dengan lebih percaya diri, mendorong kerja sama yang setara, serta menolak pandangan yang merendahkan kemandirian dan kemampuan bangsa lain.
Artikel ini tidak bermaksud menyatakan bahwa hubungan dengan Uni Eropa bersifat negatif seluruhnya. Uni Eropa tetap merupakan mitra penting dalam perdagangan, lingkungan, dan pengembangan teknologi. Namun, memahami dasar-dasar narasi dalam kebijakan internasional memberikan bekal bagi negara seperti Indonesia untuk memastikan bahwa hubungan itu tumbuh di atas sikap saling menghormati.
Narasi kebun dan rimba adalah cerminan bahwa dunia masih dipengaruhi pembagian lama antara pusat dan pinggiran. Ketika para pemimpin berbicara, mereka bukan hanya menyampaikan kebijakan, tetapi juga membentuk cara kita melihat dunia dan tempat kita di dalamnya. Oleh karena itu, semakin kritis kita terhadap bahasa yang digunakan dalam diplomasi global, semakin besar peluang kita untuk menciptakan hubungan internasional yang lebih adil.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Cebeci, Münevver. 2025. ‘Europe and the Rest’in Official EU Discourse: Legitimising ‘Geopolitical Europe’Through the ‘Jungle’Analogy and Beyond. JCMS: Journal of Common Market Studies 63 (5), 1438-1459.

