Ketika kita memikirkan satwa liar di kota, yang muncul di benak biasanya kucing jalanan, burung gereja yang berkicau di atap, atau mungkin tikus yang sesekali melintas di selokan. Namun tahukah Anda bahwa salah satu penghuni kota yang paling beradaptasi dengan baik adalah seekor bebek? Ya, bebek mallard, spesies air yang sering kita lihat di danau taman kota, ternyata bukan hanya singgah. Mereka kini menjadi warga kota dengan kebiasaan berkembang biak yang unik.
Sebuah penelitian jangka panjang di Berlin, Jerman, selama 16 tahun mengungkap kehidupan rahasia mallard (Anas platyrhynchos) dalam memilih lokasi bertelur di lingkungan perkotaan. Temuan ini menawarkan wawasan penting untuk pengelolaan satwa liar di kota, khususnya pada populasi burung air yang semakin bergantung pada struktur buatan manusia.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Kota: Rumah Baru yang Menantang
Kota selalu menuntut kemampuan adaptasi tinggi bagi satwa liar. Ruang hijau semakin berkurang, aktivitas manusia semakin padat, dan predator perkotaan (seperti kucing, anjing, serta kendaraan) menjadi ancaman terbesar bagi banyak spesies.
Namun mallard bukan burung biasa. Mereka mampu memanfaatkan berbagai celah kota untuk bertahan hidup. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Urban Ecology (2025) menemukan bahwa mallard betina membangun sarang di lokasi-lokasi yang tidak biasa bagi burung air, seperti:
- Balkon apartemen
- Teras atap
- Halaman dalam gedung
- Struktur buatan yang jauh dari sumber air
Ketika lahan alami menyempit, mallard justru menjadikan bangunan perkotaan sebagai rumah nyaman untuk menetaskan keturunannya.
Kebiasaan yang Menarik: “Setia dengan Sarang”
Dalam dunia ekologi, ada istilah breeding site fidelity, yaitu kecenderungan hewan kembali ke lokasi yang sama ketika berkembang biak. Pada mallard kota, sekitar 22,8 persen induk memilih tempat yang sama pada musim bertelur berikutnya.
Artinya, jika seekor mallard pernah menetaskan anak dengan sukses di balkon rumah Anda, sangat mungkin ia akan datang lagi tahun depan!
Mengapa mereka setia?
Penelitian ini menemukan beberapa faktor kunci:
- Identitas betina sangat menentukan
Beberapa individu memiliki kecenderungan alami untuk kembali ke lokasi yang sama, seperti manusia yang lebih nyaman tinggal di rumah lama daripada pindah ke tempat baru. - Lebih setia dalam satu musim ketimbang beda tahun
Mallard cenderung kembali dalam waktu dekat setelah penetasan berhasil, namun pola tersebut bisa berubah antar musim. - Semakin jauh dipindahkan, makin kecil peluang kembali
Ketika otoritas kota memindahkan mamalia ini demi keselamatan anak-anaknya ke badan air terdekat, kebanyakan betina justru enggan kembali ke sarang lama.
Dengan kata lain, mallard memilih lokasi berbiak berdasarkan pengalaman keberhasilan dan kondisi unik lingkungan setempat.
Faktor Risiko: Semakin Padat Manusia, Makin Besar Tantangan
Peneliti menemukan bahwa semakin padat populasi manusia, semakin rendah kecenderungan mallard untuk kembali ke sarang sebelumnya. Tidak sulit memahami alasannya:
- Kebisingan dan interaksi manusia menambah stres
- Hewan peliharaan menjadi ancaman bagi telur atau anak bebek
- Aktivitas pembangunan dapat menghancurkan lokasi sarang
Namun kota tetap menawarkan banyak peluang. Banyak mallard justru bertahan di tengah keramaian dengan memilih tempat yang lebih tinggi dan sulit dijangkau predator darat, itulah mengapa balkon menjadi favorit.
Ketika Anak Menetas di Atap: Perjuangan Menuju Air
Walaupun mallard dapat bertelur jauh dari air, anaknya tetap harus mencapai sumber air dalam waktu singkat setelah menetas untuk bertahan hidup. Itulah bagian tersulit dalam hidup mereka di kota.
Anak bebek yang baru menetas harus:
- Melompat dari ketinggian
- Menyusuri jalanan dan trotoar yang ramai
- Menghindari mobil, sepeda, dan manusia
- Menghadapi hewan liar seperti gagak atau kucing
Sering kali, relawan atau pihak berwenang perlu membantu mengarahkan keluarga mallard menuju danau taman kota terdekat.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Memahami pola pilihan sarang mallard membantu pengelola kota:
- Melindungi lokasi sarang yang sudah terbukti aman
Jika mallard setia pada lokasi tertentu, lebih baik lokasi itu dibiarkan tidak terganggu selama musim berkembang biak. - Merancang ruang kota yang ramah burung air
Termasuk menyediakan akses aman dari titik sarang menuju badan air. - Mengelola pemindahan secara bijaksana
Karena pemindahan terlalu jauh bisa memutus hubungan mallard dengan habitat yang dianggap cocok.
Pada dasarnya, studi ini menunjukkan bahwa keputusan mallard untuk bertelur di lokasi tertentu bukan kebetulan, melainkan hasil kombinasi antara pengalaman pribadi, sifat biologis, dan kualitas lingkungan mikro di kota.
Bagaimana Kita Dapat Membantu?
Warga kota bisa terlibat dalam konservasi sederhana namun berdampak besar, seperti:
- Melaporkan lokasi sarang mallard kepada pihak konservasi atau komunitas pecinta burung
- Membatasi gangguan pada balkon atau teras yang menjadi lokasi sarang
- Menjauhkan hewan peliharaan seperti kucing selama musim penetasan
- Memberi akses aman ke perairan terdekat setelah telur menetas
Terkadang, bantuan sekecil membuka gerbang atau mengarahkan lalu lintas bisa menyelamatkan banyak nyawa anak bebek.
Hutan Beton yang Tak Lagi Sepi
Kota tidak hanya dihuni manusia. Mallard dan satwa lain telah menjadikan urbanisasi sebagai kesempatan untuk berkembang, bukan ancaman. Kehadiran mereka mengingatkan kita bahwa alam tidak pernah sepenuhnya hilang dari kota, hanya berubah rupa dan strategi bertahan hidup.
Di balik hiruk-pikuk kendaraan dan gedung tinggi, ada cerita ketangguhan seekor bebek yang kembali ke balkon yang sama setiap tahun, percaya bahwa itu adalah tempat terbaik untuk kehidupan baru.
Jika suatu hari Anda menemukan sarang bebek di dekat rumah, anggaplah itu sebagai kehormatan: Anda telah menjadi bagian dari perjalanan evolusi kehidupan liar di tengah hutan beton.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Engler, Marc dkk. 2025. Breeding site fidelity in the concrete jungle: implications for the management of urban mallards. Journal of Urban Ecology 11 (1), juae023.

