Ketika seseorang menua, tubuhnya tentu berubah, rambut memutih, sendi melemah, penglihatan menurun. Tapi di balik perubahan fisik yang tampak, ada perubahan yang jauh lebih misterius: cara otak bekerja dan berpikir juga ikut berubah. Mengapa sebagian orang tetap tajam dan cepat berpikir di usia 70-an, sementara yang lain mulai kehilangan fokus dan memori di usia 50-an?
Pertanyaan besar inilah yang ingin dijawab oleh cabang ilmu bernama neurosains kognitif tentang penuaan (cognitive neuroscience of aging). Sebuah jurnal Neuron tahun 2025, karya Zoya Mooraj dan rekan-rekannya, mengajak dunia ilmiah untuk meninjau ulang cara kita memahami otak yang menua dan bagaimana penelitian di bidang ini perlu bertransformasi agar lebih relevan dengan kehidupan nyata manusia.
Baca juga artikel tentang: Mengungkap Perasaan Sedih dari Pandangan Neurosains, Psikologi, dan Fisiologi
Mengenal “Ilmu Otak Penuaan”
Secara sederhana, neurosains kognitif penuaan mempelajari bagaimana otak dan kemampuan berpikir berubah seiring bertambahnya usia. Peneliti di bidang ini berusaha mencari tahu:
- Mengapa memori menurun pada sebagian orang, tapi tetap kuat pada orang lain?
- Bagaimana otak mengkompensasi kehilangan sel-sel saraf?
- Faktor apa saja (genetik, lingkungan, atau kebiasaan hidup) yang memengaruhi kesehatan otak di masa tua?
Tujuan akhirnya adalah memahami mekanisme saraf di balik perubahan perilaku dan kemampuan kognitif akibat penuaan, baik yang bersifat umum maupun unik pada tiap individu.
Dua Cara Melihat Otak yang Menua
Selama ini, ada dua pendekatan utama untuk mempelajari otak lansia:
- Pencitraan struktural (structural imaging)
Pendekatan ini melihat “bentuk” otak, misalnya seberapa tebal korteks otak, seberapa besar volume hippocampus, atau seberapa banyak koneksi saraf yang menyusut. Hasilnya membantu kita memahami “kerusakan fisik” atau penyusutan struktur yang terjadi seiring usia. - Pencitraan fungsional dalam kondisi istirahat (resting-state functional imaging)
Berbeda dari yang pertama, pendekatan ini memindai otak ketika seseorang tidak sedang mengerjakan tugas apa pun, misalnya berbaring santai di alat MRI. Tujuannya untuk melihat bagaimana jaringan otak tetap berkomunikasi dalam keadaan diam.
Kedua metode ini telah menghasilkan banyak pengetahuan penting: kita tahu bahwa penuaan bisa mengubah konektivitas antarjaringan otak, memperlambat transmisi sinyal, dan menyebabkan penurunan pada area-area tertentu.
Namun, seperti dikatakan Mooraj dan timnya, ada masalah besar: dua pendekatan ini tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya dilakukan otak saat berpikir atau berperilaku. Mereka hanya memberikan “foto statis”, bukan “video dinamis”.
Masalah: Kita Belum Melihat Otak dalam Aksi
Bayangkan kamu ingin memahami bagaimana mesin mobil bekerja. Kamu bisa membongkar mesin dan memeriksa setiap komponennya, itu seperti pendekatan struktural. Atau kamu bisa mendengarkan suara mesin saat menyala tanpa melihat bagian dalamnya, itu seperti pendekatan resting-state.
Tapi untuk benar-benar tahu bagaimana mesin menghasilkan tenaga, kamu perlu melihatnya beroperasi di jalan, saat gas diinjak dan roda berputar.
Hal yang sama berlaku untuk otak manusia. Menurut para penulis artikel, pendekatan yang hanya memotret struktur atau kondisi “diam” otak tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana otak berpikir dalam waktu nyata.
Otak tidak pernah benar-benar diam. Setiap kali kita berbicara, membaca, mengingat, atau mengambil keputusan, terjadi interaksi kompleks antara banyak wilayah otak dan hanya pendekatan yang mengamati otak selama menjalankan tugas tertentu yang bisa menangkap hal ini.
Solusi: Kembalikan Fokus pada Otak yang Sedang Bekerja
Penulis artikel menekankan pentingnya pendekatan yang disebut “task-based functional imaging” pencitraan otak saat seseorang melakukan aktivitas tertentu, seperti memecahkan teka-teki, mengingat kata, atau mengenali wajah.
Dengan cara ini, peneliti bisa melihat hubungan langsung antara aktivitas otak dan perilaku nyata. Mereka bisa mengamati bagaimana penuaan memengaruhi proses berpikir dari tahap awal (persepsi) hingga tahap lanjutan (penalaran, pengambilan keputusan, dan kreativitas).
Misalnya, alih-alih hanya melihat berapa besar volume hippocampus seseorang, penelitian berbasis tugas bisa menunjukkan bagaimana hippocampus bereaksi ketika orang tua mencoba mengingat nama cucunya dan bagian otak mana yang ikut membantu jika hippocampus mulai melemah.
Menuju Pendekatan Baru: “Behavior-First”
Mooraj dan rekan-rekannya mengusulkan kerangka penelitian baru yang berpusat pada perilaku (behavior-first). Artinya, penelitian otak seharusnya dimulai dari bagaimana manusia benar-benar berperilaku dan berpikir, baru kemudian mencari mekanisme saraf di baliknya.
Pendekatan ini menekankan tiga hal:
- 🧩 Eksperimen kognitif sebagai titik awal
Peneliti perlu merancang tugas yang merepresentasikan aktivitas kehidupan nyata, bukan sekadar tes sederhana di laboratorium. - 🧠 Pendekatan multi-modal
Gunakan berbagai teknik (MRI, EEG, tes perilaku, dan data biologis lain) secara bersamaan untuk mendapatkan gambaran utuh tentang otak yang menua. - ⏳ Desain longitudinal (jangka panjang)
Alih-alih memindai orang dari kelompok usia berbeda sekali waktu, para ilmuwan harus mengikuti individu yang sama selama bertahun-tahun. Dengan begitu, kita bisa benar-benar melihat bagaimana otak seseorang berubah dari waktu ke waktu, bukan sekadar membandingkan “orang muda” vs “orang tua”.
Mengapa Ini Penting bagi Kita Semua
Meneliti penuaan otak bukan hanya tentang memahami penyakit seperti Alzheimer. Ini juga tentang menjaga kualitas hidup dan kemandirian manusia di masa tua.
Jika kita tahu bagaimana otak mempertahankan fungsi-fungsi tertentu meski sel-sel menua, kita bisa menemukan strategi untuk memperlambat penurunan kognitif. Misalnya, apakah latihan mental, olahraga, atau interaksi sosial bisa membantu menjaga jaringan otak tetap aktif?
Lebih jauh lagi, pendekatan yang diusulkan tim ini bisa membantu mendesain intervensi personal, misalnya program latihan otak yang disesuaikan dengan profil aktivitas otak tiap individu, bukan satu resep untuk semua orang.
Menatap Masa Depan Otak Manusia
Artikel ini bukan sekadar ajakan ilmiah, tapi juga seruan perubahan paradigma: dari melihat otak sebagai benda pasif yang “berkurang” dengan usia, menjadi sistem aktif yang beradaptasi dan berinovasi sepanjang hidup.
Dengan memadukan teori perilaku, eksperimen kognitif, dan teknologi pencitraan canggih, para ilmuwan berharap bisa membangun masa depan di mana penuaan otak bukan berarti kemunduran, melainkan transformasi menuju cara berpikir yang berbeda, mungkin lebih lambat, tapi juga lebih bijak.
Penuaan adalah bagian tak terelakkan dari kehidupan, tetapi pemahaman kita tentang otak yang menua baru menyentuh permukaannya. Seperti yang ditulis Mooraj dan rekan-rekannya, masa depan ilmu otak penuaan harus lebih “fungsional” berfokus pada apa yang dilakukan otak, bukan hanya bagaimana bentuknya.
Dengan pendekatan baru yang memprioritaskan perilaku, observasi langsung, dan penelitian jangka panjang, kita mungkin bisa menjawab pertanyaan paling mendasar tentang manusia: bagaimana otak mempertahankan jati dirinya, bahkan ketika waktu terus berjalan?
Baca juga artikel tentang: Bagaimana Cara Neurosains mengubah Mindset Manusia?
REFERENSI:
Mooraj, Zoya dkk. 2025. Toward a functional future for the cognitive neuroscience of human aging. Neuron 113 (1), 154-183.

