Para ilmuwan terus mencari cara baru untuk membantu mengendalikan kadar gula darah melalui bahan pangan yang mudah ditemukan masyarakat. Salah satu minuman yang semakin banyak menarik perhatian adalah kombucha, yaitu minuman hasil fermentasi yang dikenal memiliki berbagai senyawa bioaktif. Ketika kombucha dibuat dari tanaman yang kaya antioksidan seperti jahe merah, muncul harapan bahwa minuman ini dapat memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan.
Sebuah kajian ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2026 di Jurnal Pijar MIPA mencoba mengumpulkan berbagai hasil penelitian mengenai kombucha dari tanaman pangan, termasuk jahe merah, untuk melihat apakah minuman tersebut benar benar memiliki potensi membantu menurunkan kadar gula darah. Hasil kajian menunjukkan adanya peluang yang cukup menjanjikan, tetapi bukti ilmiah yang tersedia hingga saat ini masih berasal dari penelitian laboratorium dan penelitian pada hewan. Oleh karena itu, para peneliti menegaskan bahwa manfaat tersebut masih memerlukan pembuktian melalui uji klinis pada manusia.
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang jumlah penderitanya terus meningkat di seluruh dunia. Penyakit ini muncul ketika tubuh tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup atau ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara efektif. Akibatnya, kadar gula di dalam darah tetap tinggi dalam waktu yang lama. Jika kondisi tersebut tidak dikendalikan, berbagai komplikasi dapat muncul, mulai dari gangguan pada pembuluh darah, penyakit jantung, kerusakan ginjal, gangguan penglihatan, hingga kerusakan saraf. Karena itu, selain mengembangkan obat baru, para ilmuwan juga terus meneliti berbagai bahan pangan yang mungkin dapat membantu mendukung pengelolaan kadar gula darah.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Salah satu pendekatan yang semakin berkembang adalah pemanfaatan pangan fungsional. Istilah ini mengacu pada makanan atau minuman yang tidak hanya menyediakan zat gizi, tetapi juga mengandung senyawa yang berpotensi memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan. Kombucha menjadi salah satu contoh pangan fungsional yang populer dalam beberapa tahun terakhir. Minuman ini dibuat melalui proses fermentasi menggunakan koloni bakteri dan ragi yang dikenal sebagai SCOBY. Selama fermentasi berlangsung, mikroorganisme mengubah gula menjadi berbagai senyawa baru seperti asam organik, polifenol, vitamin, antioksidan, dan metabolit lain yang diduga berperan dalam berbagai aktivitas biologis.
Pada awalnya kombucha lebih banyak dibuat menggunakan teh hitam atau teh hijau. Namun perkembangan penelitian membuat para ilmuwan mulai mencoba berbagai bahan lain yang berasal dari tanaman pangan. Mereka memanfaatkan buah, daun, bunga, maupun rimpang tanaman yang kaya senyawa bioaktif. Jahe merah menjadi salah satu bahan yang banyak mendapat perhatian karena mengandung gingerol, shogaol, flavonoid, serta berbagai senyawa fenolik yang telah lama diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.
Kajian ilmiah yang diterbitkan dalam Jurnal Pijar MIPA menggunakan metode tinjauan sistematis. Artinya, para penulis tidak melakukan percobaan baru di laboratorium, melainkan mengumpulkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan sebelumnya kemudian mengevaluasinya secara menyeluruh. Sebanyak sepuluh artikel ilmiah dipilih berdasarkan kriteria tertentu agar menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai potensi kombucha dari berbagai tanaman pangan sebagai minuman yang mungkin membantu mengendalikan kadar gula darah.
Salah satu temuan yang menarik adalah bahwa proses fermentasi ternyata dapat mengubah komposisi kimia bahan asalnya. Selama fermentasi berlangsung, mikroorganisme tidak hanya menghasilkan berbagai senyawa baru, tetapi juga mengubah sebagian senyawa yang sebelumnya telah ada di dalam jahe merah. Akibatnya, kandungan metabolit dalam kombucha berbeda dengan kandungan yang terdapat pada air rebusan jahe biasa. Perubahan inilah yang diduga ikut memengaruhi aktivitas biologis kombucha.
Beberapa penelitian yang dianalisis menunjukkan bahwa kombucha berbahan tanaman pangan, termasuk jahe merah, memiliki kemampuan menghambat aktivitas enzim alfa glukosidase. Enzim ini memiliki tugas memecah karbohidrat menjadi gula sederhana yang kemudian diserap oleh usus. Ketika aktivitas enzim tersebut berkurang, proses penyerapan gula berlangsung lebih lambat sehingga kenaikan kadar gula darah setelah makan juga berpotensi menjadi lebih terkendali. Mekanisme tersebut sebenarnya mirip dengan cara kerja beberapa obat antidiabetes yang telah digunakan dalam dunia medis. Namun para peneliti mengingatkan bahwa hasil tersebut sebagian besar masih berasal dari penelitian laboratorium sehingga belum dapat disamakan dengan efektivitas obat pada manusia.

Selain menghambat kerja enzim, beberapa penelitian yang dikaji juga menunjukkan adanya penurunan kadar gula darah pada hewan percobaan yang mengonsumsi kombucha dari berbagai tanaman. Para ilmuwan menduga bahwa berbagai senyawa hasil fermentasi bekerja secara bersama sama untuk memberikan efek tersebut. Polifenol dan flavonoid diduga membantu mengurangi stres oksidatif yang sering meningkat pada penderita diabetes. Asam organik hasil fermentasi mungkin ikut memengaruhi metabolisme glukosa. Di sisi lain, beberapa metabolit lain diduga membantu meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin sehingga gula darah lebih mudah masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai sumber energi.
Meskipun demikian, hubungan antara kombucha dan pengendalian gula darah ternyata jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan. Setiap penelitian menggunakan bahan baku yang berbeda, lama fermentasi yang tidak sama, jenis mikroorganisme yang bervariasi, serta metode pembuatan yang berbeda pula. Semua faktor tersebut dapat menghasilkan komposisi senyawa yang tidak sama. Dengan kata lain, dua kombucha yang sama sama menggunakan jahe merah belum tentu memiliki kandungan senyawa aktif yang identik apabila proses pembuatannya berbeda.
Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa fermentasi tetap memerlukan penambahan gula sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme. Memang sebagian gula akan dikonsumsi selama proses fermentasi, tetapi jumlah gula yang tersisa dapat berbeda tergantung lama fermentasi dan cara pembuatannya. Oleh karena itu, tidak semua produk kombucha memiliki kandungan gula yang sama. Faktor ini menjadi penting terutama bagi penderita diabetes yang harus memperhatikan asupan gula setiap hari.
Kajian ini juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipahami masyarakat. Sebagian besar penelitian yang dianalisis merupakan penelitian in vitro atau penelitian menggunakan hewan percobaan. Penelitian semacam ini sangat penting untuk memahami mekanisme biologis, tetapi hasilnya belum tentu memberikan efek yang sama pada tubuh manusia. Tubuh manusia memiliki sistem metabolisme yang jauh lebih kompleks dibandingkan kultur sel maupun hewan laboratorium.
Selain itu, jumlah penelitian klinis yang melibatkan manusia masih sangat terbatas. Para ilmuwan belum mengetahui secara pasti berapa dosis kombucha jahe merah yang paling efektif, seberapa lama konsumsinya diperlukan, serta bagaimana pengaruhnya terhadap berbagai kelompok pasien dengan kondisi kesehatan yang berbeda. Penelitian lanjutan juga perlu memastikan keamanan konsumsi jangka panjang, terutama bagi penderita diabetes yang sedang menggunakan obat penurun gula darah karena terdapat kemungkinan terjadinya interaksi yang belum sepenuhnya dipahami.
Karena alasan tersebut, hasil kajian ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa kombucha jahe merah mampu menyembuhkan diabetes atau menggantikan pengobatan medis. Penderita diabetes tetap harus menjalankan pola makan sehat, berolahraga secara teratur, menjaga berat badan ideal, memantau kadar gula darah sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta mengonsumsi obat yang diresepkan dokter. Kombucha jahe merah hanya dapat dipandang sebagai bahan pangan yang memiliki potensi untuk diteliti lebih lanjut, bukan sebagai terapi utama.
Secara keseluruhan, artikel tinjauan ini memberikan gambaran bahwa kombucha berbahan jahe merah memang memiliki potensi menarik sebagai minuman fungsional yang dapat membantu mengendalikan kadar gula darah melalui berbagai mekanisme biologis. Namun seluruh temuan tersebut masih berada pada tahap awal karena sebagian besar bukti berasal dari penelitian laboratorium dan hewan percobaan. Penelitian klinis dengan jumlah peserta yang lebih besar dan metode yang lebih seragam masih sangat diperlukan sebelum manfaat tersebut dapat dipastikan pada manusia. Hingga bukti yang lebih kuat tersedia, masyarakat sebaiknya memandang kombucha jahe merah sebagai minuman yang menjanjikan untuk diteliti lebih lanjut, bukan sebagai pengganti terapi medis yang telah terbukti efektif.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Wulansari, Nadya Treesna dkk. 2026. Kombucha from edible plants as a functional beverage with hypoglycemic potential: A review. Jurnal Pijar MIPA 21 (2), 255-263.






