Sains Alam

Bisakah Kecombrang Menjadikan Teh Lebih Sehat? Ini Temuan Penelitian Terbarunya

Menikmati secangkir teh telah menjadi bagian dari kehidupan sehari hari bagi jutaan orang di berbagai negara. Sebagian orang meminumnya pada pagi hari untuk memulai aktivitas, sementara yang lain menikmati teh sebagai teman bekerja, belajar, atau bersantai. Selain menghadirkan rasa yang…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email

Menikmati secangkir teh telah menjadi bagian dari kehidupan sehari hari bagi jutaan orang di berbagai negara. Sebagian orang meminumnya pada pagi hari untuk memulai aktivitas, sementara yang lain menikmati teh sebagai teman bekerja, belajar, atau bersantai. Selain menghadirkan rasa yang khas, teh juga dikenal mengandung berbagai senyawa alami yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan. Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pangan fungsional, para peneliti mulai mencari berbagai bahan alami yang dapat meningkatkan nilai gizi teh tanpa menghilangkan cita rasanya.

Salah satu penelitian yang diterbitkan pada tahun 2026 dalam Jurnal Pangan dan Agroindustri mencoba memanfaatkan bunga kecombrang dan daun kari sebagai bahan tambahan pada teh hitam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua bahan tersebut mampu meningkatkan kandungan senyawa antioksidan dan berbagai komponen bioaktif tanpa mengurangi penerimaan konsumen terhadap rasa maupun aroma teh. Temuan ini memberikan gambaran bahwa kekayaan tanaman tropis dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan minuman dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Teh hitam merupakan salah satu jenis teh yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Berbeda dengan teh hijau, daun teh hitam mengalami proses oksidasi sehingga menghasilkan warna yang lebih gelap, aroma yang lebih kuat, serta cita rasa yang khas. Walaupun sudah mengandung berbagai senyawa antioksidan alami, para peneliti meyakini bahwa kandungan tersebut masih dapat ditingkatkan melalui penambahan tanaman lain yang kaya senyawa bioaktif. Bunga kecombrang dan daun kari dipilih karena keduanya telah lama digunakan sebagai bahan pangan tradisional di berbagai negara Asia. Kecombrang sering dimanfaatkan sebagai bumbu masakan maupun lalapan, sedangkan daun kari terkenal sebagai penyedap alami pada berbagai hidangan. Selain memberikan aroma yang khas, kedua tanaman tersebut juga diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi berperan sebagai antioksidan.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Tujuan utama penelitian ini adalah membandingkan karakteristik fisik, kimia, dan sensoris teh hitam setelah memperoleh tambahan bunga kecombrang maupun daun kari. Penelitian tidak bertujuan membuktikan bahwa minuman tersebut mampu mengobati penyakit tertentu. Penelitian juga tidak menguji manfaatnya secara langsung pada tubuh manusia. Para peneliti hanya mengevaluasi perubahan komposisi kimia dan kualitas sensoris produk melalui berbagai pengujian laboratorium sehingga hasil penelitian perlu dipahami sesuai ruang lingkupnya.

Para peneliti menyiapkan beberapa formulasi teh yang berbeda. Satu formulasi menggunakan teh hitam tanpa tambahan sebagai kelompok pembanding. Formulasi lainnya memperoleh tambahan bunga kecombrang atau daun kari dalam jumlah tertentu. Setelah seluruh formulasi selesai dibuat, para peneliti melakukan berbagai pengujian yang meliputi nilai keasaman, warna, kandungan fenolik total, flavonoid total, tanin, kadar kafein, aktivitas antioksidan, komposisi senyawa volatil penyusun aroma, serta uji kesukaan oleh panelis.

Ilustrasi ini menunjukkan perbandingan teh bunga kecombrang dan teh daun kari melalui analisis sifat fisikokimia serta evaluasi sensori untuk menilai kualitas, kandungan bioaktif, dan tingkat penerimaan konsumen.

Penambahan bunga kecombrang menyebabkan nilai keasaman teh sedikit meningkat sehingga nilai pH menjadi lebih rendah. Kondisi tersebut terjadi karena bunga kecombrang mengandung berbagai asam organik alami. Walaupun demikian, perubahan tersebut masih berada dalam kisaran yang sesuai untuk produk minuman. Pengamatan terhadap warna juga memperlihatkan adanya perubahan pada beberapa parameter warna. Namun perubahan tersebut tidak menghilangkan karakter khas teh hitam sehingga penampilan produk tetap menarik bagi konsumen.

Bagian yang paling menarik muncul ketika para peneliti mengukur kandungan senyawa bioaktif pada setiap formulasi. Penambahan bunga kecombrang menghasilkan peningkatan kandungan fenolik total, flavonoid total, dan tanin dibandingkan teh hitam tanpa tambahan. Formulasi dengan penambahan bunga kecombrang sebanyak dua setengah gram memberikan hasil tertinggi pada ketiga parameter tersebut. Fenolik dan flavonoid merupakan kelompok senyawa yang banyak ditemukan pada tumbuhan serta dikenal memiliki kemampuan menangkap radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul yang sangat reaktif dan dapat merusak berbagai komponen sel apabila jumlahnya terlalu banyak. Oleh karena itu, meningkatnya kandungan kedua senyawa tersebut menunjukkan bahwa teh memperoleh tambahan komponen alami yang berpotensi meningkatkan aktivitas antioksidannya.

Untuk memastikan temuan tersebut, para peneliti melakukan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan tiga metode laboratorium, yaitu ABTS, FRAP, dan DPPH. Ketiga metode ini banyak digunakan dalam penelitian pangan untuk memperkirakan kemampuan suatu bahan dalam menangkap radikal bebas pada kondisi laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh formulasi yang mengandung bunga kecombrang maupun daun kari memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan teh hitam tanpa tambahan. Sekali lagi, formulasi dengan bunga kecombrang dua setengah gram memberikan hasil paling baik. Temuan ini menunjukkan bahwa penambahan bahan alami dapat memperkaya aktivitas antioksidan teh tanpa memerlukan bahan tambahan sintetis.

Penelitian juga menemukan perubahan menarik pada kadar kafein. Semua formulasi yang mengandung bunga kecombrang maupun daun kari memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibandingkan teh hitam murni. Penurunan tersebut terjadi karena sebagian komposisi teh digantikan oleh bahan tambahan yang secara alami tidak mengandung kafein. Walaupun demikian, penelitian ini tidak mengukur apakah penurunan kadar kafein tersebut memberikan manfaat tertentu bagi kesehatan maupun kenyamanan konsumen. Oleh karena itu, hasil tersebut hanya menggambarkan perubahan komposisi produk, bukan manfaat fisiologisnya.

Selain mengukur berbagai parameter kimia, para peneliti juga menganalisis senyawa volatil yang membentuk aroma teh. Analisis tersebut menemukan berbagai senyawa yang pada penelitian lain sering dikaitkan dengan aktivitas biologis seperti antiinflamasi dan antikanker. Akan tetapi, masyarakat perlu berhati hati dalam menafsirkan hasil tersebut. Kehadiran suatu senyawa tidak berarti minuman tersebut terbukti mampu mencegah atau mengobati penyakit. Penelitian ini hanya mengidentifikasi keberadaan senyawa tersebut melalui analisis laboratorium. Untuk membuktikan manfaat kesehatan pada manusia masih diperlukan penelitian lanjutan berupa uji pada sel, hewan percobaan, dan terutama uji klinis yang melibatkan manusia.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah penerimaan konsumen terhadap produk. Produk pangan dengan kandungan gizi tinggi belum tentu berhasil apabila rasa atau aromanya tidak disukai. Oleh karena itu, para peneliti melibatkan lima puluh panelis untuk mengevaluasi warna, aroma, rasa, rasa setelah diminum, serta tingkat kesukaan secara keseluruhan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara teh hitam biasa dengan formulasi yang mengandung bunga kecombrang maupun daun kari. Dengan kata lain, penambahan kedua bahan tersebut berhasil meningkatkan kandungan senyawa bioaktif tanpa mengurangi kenikmatan teh menurut para panelis.

Walaupun hasil penelitian tampak menjanjikan, masyarakat perlu memahami beberapa keterbatasannya. Seluruh pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode laboratorium sehingga hasilnya belum tentu sama ketika senyawa tersebut masuk ke dalam tubuh manusia. Penelitian juga belum mengevaluasi bagaimana tubuh menyerap senyawa bioaktif tersebut, berapa lama senyawa bertahan dalam tubuh, maupun apakah senyawa tersebut benar benar memberikan manfaat kesehatan setelah dikonsumsi. Selain itu, panelis yang mengikuti uji sensoris hanya berasal dari kelompok usia tertentu sehingga hasilnya belum tentu mewakili seluruh kelompok masyarakat dengan latar belakang budaya dan kebiasaan minum teh yang berbeda.

Penelitian ini juga tidak membuktikan bahwa mengonsumsi teh dengan tambahan bunga kecombrang atau daun kari dapat mencegah penyakit jantung, kanker, diabetes, maupun penyakit lainnya. Aktivitas antioksidan yang tinggi pada pengujian laboratorium tidak selalu menghasilkan manfaat yang sama di dalam tubuh manusia. Banyak faktor lain seperti proses pencernaan, metabolisme, dosis konsumsi, pola makan, dan kondisi kesehatan seseorang yang dapat memengaruhi hasil akhirnya. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menganggap produk ini sebagai pengganti pola hidup sehat ataupun terapi medis.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan bunga kecombrang dan daun kari mampu meningkatkan kandungan fenolik, flavonoid, tanin, serta aktivitas antioksidan teh hitam tanpa mengurangi penerimaan konsumen terhadap rasa dan aromanya. Temuan tersebut membuka peluang pengembangan minuman fungsional berbasis kekayaan hayati tropis yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai ilmiah. Namun manfaat kesehatan yang sebenarnya masih memerlukan pembuktian melalui penelitian pada manusia. Sampai bukti tersebut tersedia, hasil penelitian ini sebaiknya dipandang sebagai langkah awal yang menjanjikan dalam pengembangan produk pangan fungsional, bukan sebagai bukti bahwa minuman tersebut telah terbukti mampu mencegah atau mengobati penyakit tertentu.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Ramisham, Nur Sabrina & Seow, Eng Keng. 2026. Comparative Study of Torch Ginger Flower and Curry Leaves Tea: Physicochemical and Sensory Characteristics. Jurnal Pangan dan Agroindustri 14 (1), 1-11.

Maratus Sholikah
TENTANG PENULIS

Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Negara lain berlomba membelah atom. Kita berlomba membelah anggaran untuk kopdes dan dapur MBG. Ada typo, Sinkroton bukan sinklotron #sainstertinggal

Negara lain berlomba membelah atom. Kita berlomba membelah anggaran untuk kopdes dan dapur MBG. Ada typo, Sinkroton bukan sinklotron #sainstertinggal

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung…▧ Carousel

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung jawab antarwilayah.…