Sebuah studi meneliti kapan tepatnya era Antroposen dimulai, yaitu suatu periode dalam sejarah Bumi di mana aktivitas manusia mulai memberikan dampak signifikan terhadap sistem-sistem alam Bumi, hingga mengakibatkan penyimpangan dari perilaku alamiah planet ini. Era Antroposen merujuk pada waktu ketika pengaruh manusia terhadap lingkungan, seperti emisi gas rumah kaca, perubahan penggunaan lahan, dan polusi, telah cukup kuat untuk mengubah proses alami Bumi, menciptakan pola-pola yang berbeda dari yang pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah geologi.
Aktivitas manusia telah mencapai tingkat di mana dampaknya terhadap sistem Bumi dapat dilihat dengan jelas. Dampak ini tidak hanya terlihat dalam skala kecil, tetapi telah menyebabkan perubahan signifikan pada cara Bumi berfungsi secara alami. Misalnya, perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca, penggundulan hutan, dan pencemaran laut telah mengubah keseimbangan ekosistem secara global. Perubahan-perubahan ini tidak bersifat sementara; mereka diperkirakan akan terus mempengaruhi fungsi alami Bumi selama ribuan tahun ke depan, meninggalkan jejak yang akan dirasakan oleh generasi mendatang. Ini menunjukkan bahwa interaksi manusia dengan lingkungan sudah begitu mendalam sehingga telah mengubah proses-proses alam yang mendasari kehidupan di planet ini.
Namun, menentukan kapan tepatnya era baru yang dikenal sebagai Antroposen ini dimulai bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan karena dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan berbeda-beda di berbagai waktu dan tempat. Ada banyak momen penting dalam sejarah manusia yang memberi pengaruh signifikan terhadap Bumi. Salah satu contohnya adalah sekitar 12 ribu tahun yang lalu, ketika manusia mulai mengembangkan pertanian. Perkembangan ini menjadi titik perubahan besar karena manusia mulai memanfaatkan sebagian besar sumber daya alam secara intensif, termasuk menggunakan sekitar 75% dari lahan yang tersedia bagi mereka untuk keperluan bercocok tanam dan beternak. Perubahan ini menandai awal dari transformasi besar-besaran pada lanskap alami, mempengaruhi keanekaragaman hayati, siklus air, dan struktur ekosistem secara keseluruhan, yang pada akhirnya berdampak pada keseimbangan alam Bumi.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa transformasi awal Bumi yang disebabkan oleh aktivitas manusia tidak hanya terjadi pada satu periode waktu, tetapi pada berbagai momen berbeda dalam sejarah. Misalnya, sekitar 8.000 tahun yang lalu terjadi perubahan besar dengan munculnya masyarakat agraris, di mana manusia mulai menetap dan mengolah lahan untuk pertanian secara lebih terorganisir. Antara 6.500 hingga 5.000 tahun yang lalu, perubahan signifikan lainnya terjadi, salah satunya adalah pengembangan penanaman padi dengan sistem irigasi yang kompleks. Semua peristiwa ini membawa dampak besar pada lingkungan, seperti perubahan penggunaan lahan dan peningkatan emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dan metana, ke atmosfer, yang akhirnya mempengaruhi iklim global.
Namun, peristiwa-peristiwa ini terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda, serta menyebar secara geografis dengan kecepatan yang tidak seragam. Hal inilah yang membuat para ilmuwan kesulitan menentukan momen tepat ketika era yang didominasi oleh pengaruh manusia, atau Antroposen, dimulai. Perbedaan dalam waktu dan skala pengaruh ini menyulitkan para ilmuwan untuk menyepakati satu titik awal yang spesifik untuk era Antroposen.
Inilah salah satu alasan mengapa Anthropocene Working Group (AWG) masih menolak usulan untuk secara resmi mengakui masa saat ini sebagai Antroposen. Salah satu tantangan besar adalah kurangnya penanda stratigrafi yang jelas, yaitu bukti dalam lapisan batuan yang menunjukkan secara spesifik kapan aktivitas manusia mulai mengubah planet ini secara signifikan. Tanpa adanya penanda yang dapat diidentifikasi di seluruh dunia, penetapan batas waktu yang jelas untuk awal era Antroposen menjadi sulit, dan masalah ini tetap menjadi hambatan bagi pengakuan resmi era ini.
Untuk menjawab tantangan dalam menentukan kapan tepatnya era Antroposen dimulai, Michinobu Kuwae dari Center for Marine Environmental Studies di Ehime University, bersama dengan timnya, melakukan pengumpulan data mengenai dampak antropogenik, atau dampak yang disebabkan oleh aktivitas manusia, dari 137 lokasi di seluruh dunia dalam kurun waktu 7.700 tahun terakhir. Mereka menganalisis berbagai catatan perubahan lingkungan untuk mencari petunjuk kapan dampak manusia mulai mengubah sistem Bumi secara signifikan.
Dari penilaian mereka, ditemukan tiga periode waktu yang mungkin dapat dianggap sebagai titik awal era Antroposen. Salah satu periode yang dianggap sangat penting adalah antara tahun 1855 hingga 1890. Pada periode ini, terjadi perubahan besar yang berkaitan dengan Revolusi Industri. Periode ini ditandai oleh peningkatan konsentrasi timbal di lingkungan, perubahan rasio isotop stabil, dan gangguan pada keseimbangan nutrisi di ekosistem danau. Revolusi Industri membawa perubahan besar pada cara manusia memproduksi barang dan memanfaatkan energi, yang berdampak pada peningkatan polusi dan modifikasi lingkungan secara luas. Ketiga indikator ini menjadi bukti kuat bahwa pengaruh manusia terhadap sistem alam telah mencapai tingkat yang cukup signifikan untuk mengubah keseimbangan alami Bumi pada saat itu.
Periode kandidat kedua untuk menandai dimulainya era Antroposen adalah antara tahun 1909 hingga 1944. Pada masa ini, terjadi sejumlah perubahan besar dalam lingkungan yang dapat diukur. Salah satunya adalah perubahan signifikan dalam komposisi serbuk sari tanaman, yang menunjukkan adanya modifikasi dalam pola vegetasi akibat aktivitas manusia, seperti deforestasi dan pertanian. Selain itu, terjadi peningkatan konsentrasi karbon hitam, yaitu partikel karbon murni yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan biomassa. Karbon hitam ini menjadi salah satu penyumbang utama perubahan iklim karena kemampuannya dalam menyerap panas. Perubahan pada rasio isotop stabil juga teramati secara meluas, yang mengindikasikan perubahan dalam siklus biogeokimia di Bumi.
Kandidat terakhir adalah periode antara tahun 1948 hingga 1953, di mana Bumi mengalami peningkatan besar dalam dampak akibat aktivitas manusia. Pada periode ini, terjadi peningkatan masuknya polutan organik ke lingkungan, yang berasal dari produksi industri dan penggunaan bahan kimia dalam skala besar. Selain itu, mikroplastik, yang merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil, mulai muncul di lingkungan, mencerminkan perubahan besar dalam penggunaan dan pembuangan plastik. Ini juga merupakan periode ketika dampak dari era nuklir mulai terlihat dalam catatan geologi. Ledakan nuklir yang terjadi selama dan setelah Perang Dunia II menyebabkan masuknya isotop seperti plutonium dan karbon-14 modern ke dalam lapisan tanah dan sedimen, yang kemudian menjadi penanda unik di lapisan geologi Bumi.
Dengan adanya bukti-bukti ini, ketiga periode waktu tersebut dianggap sebagai kandidat utama yang menunjukkan kapan aktivitas manusia mulai memberikan dampak yang signifikan dan dapat dideteksi pada sistem Bumi, menjadikan mereka titik potensial bagi dimulainya era Antroposen.
Dari ketiga periode yang menjadi kandidat, Kuwae dan timnya meyakini bahwa periode terakhir, yaitu sekitar tahun 1952, merupakan waktu yang paling jelas menunjukkan peningkatan besar dalam dampak manusia terhadap lingkungan di seluruh dunia. “Studi ini telah mengidentifikasi adanya peningkatan pesat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam jejak aktivitas manusia di lapisan geologi, yang dimulai pada tahun 1952. Fenomena ini terjadi hampir bersamaan di berbagai wilayah, termasuk Eropa, Amerika Utara, Asia Timur, Oseania, Antartika, Arktik, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa dampak manusia terhadap lingkungan telah menyebar dalam skala global pada waktu itu,” kata Kuwae, seperti yang dikutip dari IFL Science pada Senin (30/9/2024).
Kuwae melanjutkan bahwa kesimpulan mereka, yang menyatakan bahwa era Antroposen dimulai sekitar tahun 1952, adalah temuan yang sangat penting bagi seluruh umat manusia. Temuan ini mengubah cara kita memandang “waktu manusia” dalam konteks sejarah panjang Bumi. Dengan menetapkan batasan geologis yang berdasarkan jejak global yang dapat diidentifikasi, kita bisa menemukan pendekatan yang mampu menjelaskan dampak manusia pada sistem Bumi, yang mulai signifikan sejak era Holosen dan berlanjut hingga kini.
Implikasi dari hasil studi ini sangat mendalam karena memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang seberapa serius situasi yang kita hadapi saat ini. “Menurut saya, belum pernah ada saat yang lebih penting untuk mengubah cara pandang masyarakat umum mengenai hubungan antara manusia dan planet ini. Konsep Antroposen, menurut saya, sangat penting untuk membantu mengubah pandangan ini,” tegas Kuwae.
Kuwae juga menambahkan bahwa generasi yang hidup saat ini mungkin adalah generasi terakhir yang memiliki kesempatan untuk meninggalkan kondisi lingkungan global yang lebih aman bagi generasi mendatang. Jika kita memahami ini, maka kita sebagai manusia memiliki tanggung jawab besar untuk mencegah terjadinya perubahan permanen pada Bumi, perubahan yang bisa merusak keseimbangan alam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, tindakan kita saat ini sangat menentukan masa depan planet ini dan generasi yang akan datang.
“Untuk dapat memahami situasi ini sepenuhnya, kita perlu memiliki pemahaman yang jelas bahwa kita saat ini hidup di era Antroposen, yaitu suatu era di mana pengaruh manusia terhadap lingkungan menjadi dominan. Dalam konteks ini, kita membutuhkan bukti ilmiah yang kuat untuk menunjukkan kapan tepatnya era ini dimulai. Bukti stratigrafi—yakni lapisan sedimen atau batuan yang mencatat perubahan lingkungan—yang disajikan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa era Antroposen secara informal dimulai sekitar tahun 1952. Bukti ini akan sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran masyarakat umum mengenai dampak aktivitas manusia terhadap Bumi,” ujar Kuwae sebagai penutup.
Dengan bukti stratigrafi yang jelas, masyarakat dapat melihat secara konkret bagaimana tindakan kita telah meninggalkan jejak dalam lapisan geologis Bumi, sama seperti peristiwa besar dalam sejarah Bumi lainnya. Hal ini diharapkan dapat membangkitkan kesadaran bahwa kita semua memiliki peran dalam menjaga keseimbangan planet kita dan bahwa dampak yang kita ciptakan saat ini akan tercatat dan mempengaruhi generasi mendatang.
REFERENSI:
Bell, M. & Walker, M. 2005. Late Quaternary Environmental Change: Physical and Human Perspectives. Pearson Education Limited.
Crutzen, P. J. 2002. Geology of Mankind: The Impact of Human Activities on Earth’s Geology and Climate. Nature, 415(6867), 23.
Keller, E. A., & DeVecchio, D. E. 2016. Natural Hazards: Earth’s Processes as Hazards, Disasters, and Catastrophes. Pearson.
Marshak, S. 2019. Earth: Portrait of a Planet. W.W. Norton & Company.
Steffen, W., Broadgate, W., Deutsch, L., Gaffney, O., & Ludwig, C. 2015. The Trajectory of the Anthropocene: The Great Acceleration. The Anthropocene Review, 2(1), 81-98.
Zalasiewicz, J., Williams, M., Waters, C. N., Barnosky, A. D., & Haff, P. 2014. The Geological Evidence for the Onset of the Anthropocene. The Anthropocene Review, 1(1), 3-15.

