Meningkatkan Produksi Jeruk Hingga 16,4% dengan Integrasi Lebah



Siapa yang tidak kenal dengan buah jeruk? Pasti semua orang mengetahui buah dengan ciri khas warnanya yang oranye. Tidak dapat dipungkiri, buah yang juga identik dengan kandungan vitamin C yang tinggi ini begitu terkenal di seluruh dunia, begitu juga di negara kita Indonesia.

Meskipun jeruk di Indonesia banyak macamnya dan dapat beradaptasi dengan baik pada iklim Indonesia, sesungguhnya jeruk bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Iklim optimal pertumbuhan jeruk berada pada daerah yang memiliki curah hujan 1000-3000 mm/tahun, temperatur 13-35ยฐC, kelembaban 70-95% dan ketinggian berada pada 700 -1200 mdpl [1](DK dan Ariffin, 2018). Dapat dilihat, tanaman jeruk memiliki ciri harus berada di dataran tinggi, dan termasuk tanaman subtropis.

Tentu hal ini merupakan tantangan pada pengembangan komoditas jeruk di Indonesia, karena akan berkompetisi langsung dengan jeruk produksi mancanegara. Sebut saja Republik Rakyat Tiongkok, yang membanjiri pasar Indonesia dengan produk jeruk senilai US$ 17,2 juta [2](Boby, 2019). Harga jeruk impor yang lebih murah saat dijual juga menjadi tantangan bagi jeruk lokal [3](Idris, 2016), walaupun dari pihak Kementerian Pertanian melalui Balitjestro sendiri sudah menemukan lawan yang setara untuk berkompetisi dengan jeruk impor, yaitu varietas jeruk keprok lokal unggulan bernama Kertaji (Subagyo, 2020). Setidaknya, petani jeruk Indonesia dapat berharap untuk memperoleh laba melalui varietas ini, untuk berkompetisi dengan jeruk dari luar negeri.

blank

Sementara dari sisi petani jeruk lokal, tingginya angka permintaan jeruk, terutama sebagai buah yang dapat meningkatkan imunitas pada saat pandemi ini menjadi tantangan bagi mereka untuk memproduksi lebih banyak jeruk (ARM, 2020). Peningkatan produktivitas menjadi tantangan yang nyata untuk melawan dominasi jeruk impor, malah bisa jadi komoditas jeruk tersebut dapat diekspor ke luar negeri.

Pada tulisan ini, penulis akan membahas mengenai integrasi lebah pada perkebunan jeruk, yang berpotensi meningkatkan produksi jeruk, tapi juga menghasilkan ragam produk dengan nilai ekonomi tinggi melalui integrasi pertanian-bioindustri.

Wah, integrasi seperti apa itu? Mari simak pembahasan selanjutnya!

๐—•๐—ถ๐—ผ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ธ, ๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐— ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐—ป?

Konsep pertanian-bioindustri merupakan konsep yang memandang lahan bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga industri yang memanfaatkan seluruh faktor produksi untuk mencapai produksi yang seoptimal mungkin (Biro Perencanaan Kementerian Pertanian, 2013). Namun, jeruk masih dipandang sebagai komoditas perkebunan belaka, bukan sebagai suatu bioindustri yang sejatinya mampu menggerakkan ekonomi. Perubahan pola pikir dari perkebunan tradisional menuju bioindustri akan menghasilkan suatu upaya bagaimana melakukan pengoptimalan, diversifikasi, dan menambah nilai jual dari produk jeruk itu sendiri.

Apabila kita menginginkan produksi yang optimal, selain faktor alam seperti iklim, temperatur dan curah hujan, kita harus melihat faktor lain yang mendukung untuk produksi buah jeruk, yaitu polinator alami seperti lebah. Lebah mampu meningkatkan produksi buah jeruk dengan perannya sebagai polinator, sekaligus menghasilkan madu dari nektar bunga jeruk. Nektar dari bunga jeruk akan mampu menjadi madu yang bernilai ekonomi apabila dilakukan integrasi perkebunan jeruk dengan lebah madu (๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข). Berdasarkan penelitian oleh Klein (2003), integrasi perkebunan kopi dengan lebah mampu meningkatkan bakal buah kopi hingga 16%. Selain itu, integrasi ini mampu menghadirkan diversifikasi produk, yaitu jeruk, madu, dan koloni lebah yang semuanya memiliki nilai ekonomi.

Tidak hanya menawarkan diversifikasi produk, bioindustri jeruk dan lebah ini mampu dikembangkan lebih jauh menjadi pusat agrowisata jeruk dan lebah. Manfaat yang ditawarkan dari skema bioindustri ini tidak hanya memberikan dampak keuntungan pada perkebunan dengan diversifikasi produk, namun juga bernilai edukasi melalui agrowisata di kebun tersebut. Tulisan ini mengajak pembaca mengetahui beragam manfaat ini, dan dengan ragam manfaat tersebut, usaha bioindustri jeruk – lebah menjadi ๐—น๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ธ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ฒ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป.

Lalu, bagaimana potensi keuntungan yang didapat dari skema bioindustri ini? Tenang, penjelasan berikutnya berisi analisis sederhana untuk keekonomian, dan jawaban apakah skema bioindustri ini menguntungkan atau tidak.

๐—ฃ๐—ผ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜€๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ถ๐—ผ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ถ ๐—๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ธ ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—ด๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต

Perhitungan potensi keuntungan bioindustri ini dihitung dengan menggunakan data produksi jeruk tanpa integrasi lebah (konvensional) dan dengan integrasi lebah, dengan faktor peningkatan produksi sebanyak 1,16 yang didapat dari Klein (2003). Penulis memilih untuk melakukan studi kasus di Kota Batu, Malang, tempat jeruk varietas Keprok Batu 55 banyak dibudidayakan berdasarkan data yang telah diperoleh penulis dari DK dan Ariffin (2011).

Luas lahan yang digunakan untuk simulasi produksi jeruk adalah sebesar 200 hektar, yang merupakan luas lahan Jeruk Keprok Batu 55 di Kota Batu tahun 2015 (Hanif, 2015). Jumlah pohon yang menghasilkan buah diasumsikan sebanyak 1.000 pohon per hektar dengan dasar perhitungan dari Hanif (2015), dengan produksi Jeruk Keprok Batu 55 sebanyak 7.200 ton (Hanif, 2015), sehingga dengan demikian, analisis ini mengacu pada varietas Jeruk Keprok Batu 55 yang dijual sebagai buah jeruk.

Data luas lahan menjadi acuan untuk perhitungan jumlah koloni lebah yang diintegrasikan dengan kebun jeruk, dengan perhitungan satu koloni lebah setiap 50 ha (Couvillon dkk, 2015), sehingga untuk 200 ha dibutuhkan 4 koloni lebah. Satu koloni lebah mampu menghasilkan madu sebanyak 3,355 kg/tahun pada kebun kopi, yang dijadikan dasar perhitungan produktivitas madu (Saepudin dkk, 2011). Skema produksi jeruk konvensional dan integrasi jeruk โ€“ madu digambarkan pada Gambar 1a dan b.

Pada analisis keekonomian, penulis menggunakan analisis GPM (๐˜Ž๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ด ๐˜—๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ง๐˜ช๐˜ต ๐˜”๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ) sebagai dasar analisis. GPM merupakan analisis keekonomian sederhana berupa rasio dari harga keuntungan kasar dengan harga bahan baku. Pada tulisan ini, bibit jeruk keprok 55 dan koloni lebah A. cerana merupakan bahan baku, sedangkan jeruk dan madu merupakan produk yang akan dijual. Formulasi dari analisis ini dapat dilihat pada Gambar 2.

Artikel Lainnya:

Harga yang ditetapkan untuk analisis GPM ini berupa bibit jeruk keprok 55 seharga Rp 7.000,00/kg (CV Bibit Mitra, 2017), jeruk keprok 55 seharga Rp 10.000,00/kg (Hanif, 2015), koloni lebah ๐˜ˆ. ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข seharga Rp 400.000,00/koloni (Lazumasera, 2016) dan madu ๐˜ˆ. ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข seharga Rp 110.000,00/196 g (Lapak-Qoe, 2019). Hasil analisis menunjukkan, nilai dari GPM produksi jeruk konvensional sebesar 41,4 dan nilai GPM produksi jeruk terintegrasi dengan lebah sebesar 48, yang dapat dilihat pada Tabel 1a dan 1b, dengan potensi kenaikan keuntungan hingga 16,4%. Nilai GPM produksi jeruk terintegrasi dengan lebah yang lebih besar dibandingkan dengan produksi jeruk konvensional menunjukkan potensi keuntungan yang lebih besar. Namun, patut diingat hasil dari GPM adalah analisis keuntungan yang perlu dianalisis kelayakan bisnisnya melalui rancangan teknis yang lebih detail.

Kalkulasi sederhana ini menunjukkan bahwa usaha bioindustri jeruk โ€“ lebah ini layak direalisasikan, karena tidak hanya memiliki manfaat secara ekonomi, namun secara edukasi dan sosial melalui agrowisata. Aplikasi integrasi lebah dan bioindustri juga dapat diterapkan di tanaman subtropis lain, seperti lengkeng, anggur, apel dan stroberi sehingga dapat melipatgandakan manfaat perkebunan kita semua.

๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป

Bioindustri perkebunan jeruk dengan lebah mampu menambah keuntungan dari perkebunan jeruk konvensional dengan cara diversifikasi produk dan mengoptimalkan produktivitas perkebunan jeruk hingga 16,4%. Selain itu, integrasi ini juga dapat dijadikan agrowisata yang bernilai ekonomi. Aplikasi integrasi perkebunan subtropis dengan lebah juga mampu memberi inovasi sekaligus menjadi solusi tantangan pada pengembangan buah subtropis nasional, yaitu dengan memasukkan faktor polinasi alami untuk mengoptimalkan produktivitas tanaman subtropis sehingga produktivitas meningkat. Dengan demikian, terwujud negara yang kuat karena petaninya berdaulat.

Baca juga:

๐—ฅ๐—ฒ๐—ณ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐˜€๐—ถ :

Muhammad Naufal Hakim
Follow me
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar