Cahaya Putih Terbang di Langit Amerika Gegerkan Warga: UFO, Aurora, atau Roket Rahasia?

Pada malam tanggal 17 Mei 2025, langit di atas beberapa wilayah Amerika Serikat seperti Colorado, New Mexico, dan Kansas menampilkan […]

Pada malam tanggal 17 Mei 2025, langit di atas beberapa wilayah Amerika Serikat seperti Colorado, New Mexico, dan Kansas menampilkan pertunjukan alam yang sangat mengesankan. Ada dua kejadian luar biasa yang membuat banyak orang terpesona sekaligus penasaran.

Pertama adalah kemunculan aurora borealis, atau yang sering disebut “cahaya utara.” Aurora ini adalah cahaya berwarna-warni yang menari di langit malam, biasanya hanya bisa dilihat di daerah dekat kutub. Fenomena ini terjadi karena badai geomagnetik, yaitu gangguan pada medan magnet Bumi yang disebabkan oleh partikel bermuatan dari matahari. Saat partikel-partikel ini bertabrakan dengan atmosfer Bumi, mereka menghasilkan cahaya yang terlihat sangat indah.

Kejadian kedua yang membuat heboh adalah kemunculan garis cahaya putih yang sangat terang dan melesat cepat melintasi langit. Cahaya ini tidak seperti pesawat atau bintang jatuh. Karena bentuk dan gerakannya yang tak biasa, banyak orang bertanya-tanya, bahkan menduga-duga apakah itu mungkin pesawat luar angkasa, benda asing, atau bahkan UFO (Unidentified Flying Object). Spekulasi pun berkembang cepat, terutama karena momen itu terjadi bersamaan dengan aurora, membuat pemandangan di langit tampak semakin luar biasa dan misterius.

Fotografer Mike Lewinski, yang berada di Crestone, Colorado, menggambarkan pengalamannya:

“Aurora beriak rendah di cakrawala utara ketika tiba-tiba seberkas cahaya terang, yang mengingatkan pada roket yang kembali ke Bumi, muncul di langit dan terbang ke arah cakrawala.”

Di tempat lain, seperti kota Farmington di negara bagian New Mexico dan wilayah selatan Kansas, sejumlah warga juga melihat cahaya putih terang yang tidak biasa di langit malam. Dua saksi mata, Derick Wilson dan Tyler Schlitt, termasuk di antara mereka yang menyaksikan kejadian tersebut dan melaporkannya.

Beberapa orang yang terbiasa mengamati fenomena langit menduga bahwa cahaya itu mungkin adalah STEVE, singkatan dari Strong Thermal Emission Velocity Enhancement. Meski namanya terdengar rumit, STEVE sebenarnya adalah sebuah pita cahaya yang bisa terlihat di langit, sering kali berwarna ungu kemerahan atau keputihan, dan muncul di dekat aurora borealis.

Tidak seperti aurora yang disebabkan langsung oleh partikel dari matahari, STEVE belum sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan. Namun, diduga ia terbentuk akibat aliran partikel panas dan cepat di lapisan atas atmosfer Bumi. Meskipun terlihat berdekatan, STEVE dan aurora berasal dari proses yang sedikit berbeda. Kemunculan STEVE sangat langka, sehingga setiap kemunculannya selalu menarik perhatian para pengamat langit dan ilmuwan.

Namun, dugaan bahwa cahaya tersebut berasal dari UFO atau makhluk luar angkasa dengan cepat dibantah oleh para ilmuwan. Salah satunya adalah Jonathan McDowell, seorang ahli astronomi dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics—sebuah lembaga penelitian bergengsi di Amerika Serikat yang mempelajari berbagai fenomena luar angkasa.

McDowell menjelaskan bahwa cahaya putih terang yang melintas di langit itu sebenarnya adalah jejak dari peluncuran roket. Roket tersebut bernama Zhuque-2E, yang merupakan milik perusahaan antariksa swasta asal Tiongkok bernama LandSpace. Roket ini menggunakan bahan bakar metana—jenis bahan bakar yang lebih bersih dan ramah lingkungan dibanding bahan bakar roket tradisional seperti hidrogen cair atau minyak tanah.

Peluncuran dilakukan dari Jiuquan Satellite Launch Center, sebuah pusat peluncuran satelit yang terletak di daerah gurun Gobi, Tiongkok. Pada misi tersebut, roket membawa enam satelit ke luar angkasa. Satelit-satelit ini nantinya akan digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pemetaan Bumi, pengamatan cuaca, dan komunikasi.

Cahaya putih yang terlihat dari wilayah Amerika Serikat muncul karena proses yang disebut pembuangan bahan bakar oleh tahap atas roket di ketinggian sekitar 250 kilometer dari permukaan Bumi. Pada tahap ini, sisa-sisa bahan bakar yang tidak terpakai dikeluarkan ke luar angkasa agar tidak membahayakan saat roket kembali memasuki atmosfer. Ketika sisa bahan bakar ini menyebar dan terkena cahaya matahari di atmosfer atas, ia tampak seperti garis cahaya terang yang melintas cepat di langit malam—mirip dengan penampakan “misterius” yang dilaporkan warga.

Zhuque-2E adalah versi terbaru dan lebih canggih dari roket Zhuque-2, yang dikembangkan oleh LandSpace, sebuah perusahaan antariksa swasta dari Tiongkok. Perusahaan ini adalah salah satu dari sedikit perusahaan non-pemerintah di China yang sedang membangun dan meluncurkan roket ke luar angkasa—mirip dengan peran SpaceX di Amerika Serikat.

Roket Zhuque-2E ini menggunakan bahan bakar metana (gas alam) yang dipadukan dengan oksigen cair sebagai pengoksidasi. Ini adalah teknologi baru yang dianggap lebih ramah lingkungan, karena pembakarannya menghasilkan lebih sedikit polusi dibandingkan bahan bakar roket tradisional seperti kerosin atau hidrogen cair. Selain itu, bahan bakar metana juga lebih mudah disimpan dan lebih aman digunakan dalam misi antariksa berulang.

Peluncuran pada 17 Mei 2025 adalah misi kelima dari keluarga roket Zhuque-2 dan merupakan peluncuran kedua untuk tipe Zhuque-2E yang lebih baru ini. Dalam misi tersebut, roket ini mengangkut enam satelit bernama Tianyi ke orbit. Satelit-satelit ini dirancang untuk berbagai fungsi, seperti pengamatan menggunakan radar, pemantauan kondisi permukaan Bumi, serta eksperimen ilmiah yang dilakukan dari luar angkasa.

Misi seperti ini menunjukkan betapa pesatnya perkembangan teknologi antariksa di Tiongkok dan bagaimana peran perusahaan swasta semakin besar dalam eksplorasi luar angkasa—bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh sektor industri. Ini adalah langkah besar menuju era baru perjalanan luar angkasa yang lebih terbuka dan beragam.

Ini bukan pertama kalinya peluncuran roket menyebabkan fenomena cahaya yang membingungkan. Pada Desember 2009, langit Norwegia dihiasi oleh spiral cahaya biru yang kemudian diketahui berasal dari kegagalan peluncuran roket Bulava milik Rusia. Demikian pula, peluncuran roket Falcon 9 milik SpaceX beberapa kali menghasilkan spiral berwarna biru di langit, yang awalnya dikira sebagai UFO.

Baca juga artikel tentang: Langit AS Berpendar Hijau: Fenomena Alam Langka atau Kejadian Luar Biasa?

Mengapa Kita Sering Mengira Cahaya di Langit sebagai UFO?

Ketika orang-orang melihat cahaya aneh atau tidak biasa di langit, reaksi pertama yang sering muncul adalah menduga bahwa itu mungkin berasal dari makhluk luar angkasa atau UFO. Fenomena seperti ini memang sering mengundang spekulasi yang liar dan imajinatif.

Namun, menurut para psikolog, kecenderungan kita untuk langsung mengaitkannya dengan hal-hal seperti alien sebenarnya adalah bagian dari cara kerja otak manusia. Secara alami, manusia punya dorongan kuat untuk memahami dan memberi makna pada apa pun yang mereka lihat atau alami. Ketika kita menghadapi situasi yang belum kita mengerti atau tidak punya informasi lengkap, otak kita akan mencoba mengisi celah informasi itu dengan dugaan.

Dan dugaan tersebut sering kali bukan yang masuk akal atau ilmiah terlebih dahulu, melainkan justru yang paling menarik, misterius, atau dramatis. Itulah sebabnya gagasan tentang UFO atau makhluk luar angkasa sering muncul lebih dulu dalam pikiran banyak orang sebelum mereka mempertimbangkan penjelasan ilmiah seperti satelit, roket, atau fenomena atmosfer.

Fenomena ini disebut apophenia, yaitu kecenderungan manusia untuk melihat pola atau hubungan dalam hal-hal yang sebenarnya acak atau tidak berkaitan. Dalam konteks ini, apophenia membuat kita cepat menghubungkan cahaya aneh di langit dengan cerita-cerita fiksi ilmiah yang sudah sering kita lihat di film atau baca di berita.

Peristiwa cahaya misterius di langit ini menjadi pengingat penting bagi kita semua tentang betapa pentingnya literasi sains dalam kehidupan sehari-hari. Literasi sains berarti kemampuan untuk memahami konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan dan cara kerja dunia di sekitar kita—mulai dari cuaca, luar angkasa, hingga teknologi modern.

Ketika kita memiliki pengetahuan ilmiah yang cukup, kita bisa membedakan mana informasi yang berdasarkan fakta dan mana yang hanya dugaan atau sensasi. Ini membantu kita untuk tidak langsung percaya pada spekulasi liar atau teori konspirasi setiap kali terjadi fenomena alam yang tampak luar biasa.

Cahaya terang yang melesat di langit memang bisa terlihat seperti sesuatu yang berasal dari dunia lain. Tapi jika kita membekali diri dengan pemahaman dasar tentang ilmu fisika, atmosfer, dan teknologi antariksa, kita akan tahu bahwa fenomena seperti ini seringkali punya penjelasan yang masuk akal secara ilmiah—seperti roket yang melepaskan sisa bahan bakar, atau cahaya yang dipantulkan partikel di atmosfer.

Dengan kata lain, memahami sains bukan hanya untuk ilmuwan atau orang di laboratorium—tapi untuk siapa saja yang ingin melihat dunia dengan lebih jernih dan kritis. Pengetahuan sains membuat kita lebih siap menghadapi informasi yang membingungkan, dan lebih mampu mengambil kesimpulan yang tepat berdasarkan bukti.

Jadi, sebelum kita terburu-buru menyimpulkan bahwa cahaya aneh di langit adalah tanda kehadiran UFO (benda terbang tak dikenal) atau makhluk luar angkasa, alangkah baiknya jika kita berhenti sejenak dan mencari tahu penjelasan yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Di era informasi seperti sekarang, kita bisa dengan mudah menemukan penjelasan ilmiah dari para ahli, baik melalui berita terpercaya maupun sumber edukatif lainnya.

Dengan cara ini, kita tidak hanya menghindari kesalahpahaman, tetapi juga bisa melihat keindahan langit malam dengan rasa ingin tahu yang sehat. Kita bisa mengagumi fenomena alam seperti cahaya aurora, lintasan roket, atau bahkan hujan meteor—bukan sebagai sesuatu yang menakutkan atau penuh misteri, tetapi sebagai bagian dari alam semesta yang luar biasa dan terus kita pelajari.

Lebih dari itu, memahami bahwa cahaya di langit bisa berasal dari hasil karya manusia, seperti satelit atau peluncuran roket, juga membuat kita semakin menghargai kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hal-hal yang dulu hanya bisa dibayangkan dalam fiksi ilmiah, kini menjadi nyata berkat kerja keras para ilmuwan, insinyur, dan peneliti dari seluruh dunia.

Menjelajahi keindahan langit dengan dasar pengetahuan bukan hanya membuat kita lebih bijak, tetapi juga membantu kita merasa lebih terhubung dengan dunia dan zaman kita hidup sekarang—zaman ketika ilmu pengetahuan membuka jendela kita ke alam semesta.

Baca juga artikel tentang: Tahun Baru dengan Gunungan Sampah dan Polusi Udara, Tanggung Jawab Siapa?

REFERENSI:

Spaceweather.com: https://www.spaceweather.com/archive.php?view=1&day=17&month=05&year=2025 diakses pada tanggal 25 Mei 2025.

Wu, Hui dkk. 2025. Research on the effects and related mechanisms of geomagnetic storm on depression. Brain Research Bulletin, 111369.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top