Pada malam 20 Agustus 2025, sebuah gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 4,7 terjadi di wilayah Kabupaten Bekasi. Secara angka, magnitudo ini memang tidak tergolong besar dibandingkan gempa besar yang bisa mencapai magnitudo 7 atau lebih. Namun, guncangannya tetap terasa luas hingga menjangkau kota-kota sekitar, mulai dari Jakarta, Depok, hingga Purwakarta.
Dampaknya pun nyata. Beberapa rumah warga mengalami retakan pada dinding, sebuah mushola roboh, dan aktivitas transportasi sempat terganggu akibat kepanikan masyarakat. Walaupun kerusakan yang ditimbulkan relatif terbatas, kejadian ini menjadi pengingat bahwa gempa dengan magnitudo menengah sekalipun bisa membawa konsekuensi, terutama di daerah padat penduduk.
Dari sudut pandang ilmiah, gempa tersebut digolongkan sebagai gempa dangkal, karena terjadi di kedalaman sekitar 10 kilometer di bawah permukaan tanah. Istilah gempa dangkal merujuk pada gempa dengan sumber guncangan yang berada dekat dengan permukaan bumi (umumnya kurang dari 70 km). Pada gempa jenis ini, energi yang dilepaskan lebih cepat merambat ke permukaan, sehingga guncangannya terasa lebih kuat oleh manusia, meski kekuatannya tidak terlalu besar secara magnitudo.
Dengan kata lain, bukan hanya “seberapa besar” magnitudo yang menentukan dampak gempa, tetapi juga seberapa dalam sumber gempanya. Inilah sebabnya gempa 4,7 di Bekasi bisa dirasakan cukup luas dan menimbulkan kerusakan, meski angka magnitudonya tidak tergolong tinggi.
Sesar: Garis Retakan yang Hidup
Gempa yang mengguncang Bekasi ternyata dipicu oleh pergerakan Sesar Baribis, yaitu salah satu sesar aktif yang membentang di wilayah Jawa Barat. Untuk memahami hal ini, kita perlu tahu dulu apa itu sesar.
Sesar adalah retakan besar di kerak bumi (lapisan terluar bumi yang keras) di mana dua blok batuan di sekitarnya bisa bergerak relatif satu sama lain. Pergerakan ini bisa berupa geseran mendatar, naik-turun, atau kombinasi keduanya. Sesar terbentuk karena kerak bumi selalu mengalami tekanan akibat dinamika lempeng tektonik yang terus bergerak.
Selama bertahun-tahun, tekanan tersebut menumpuk di sepanjang bidang sesar, mirip seperti pegas yang ditarik. Jika batuan akhirnya tidak mampu lagi menahan tekanan itu, maka terjadi pelepasan energi secara tiba-tiba. Pelepasan inilah yang kita rasakan sebagai gempa bumi.
Dalam kasus Bekasi, Sesar Baribis yang masih aktif menjadi “jalur lemah” tempat energi dilepaskan. Itulah sebabnya gempa bisa muncul meski daerah tersebut tidak berada di jalur gunung api. Fenomena ini menunjukkan bahwa sumber gempa tidak selalu berasal dari letusan gunung berapi, tetapi juga bisa dari pergeseran sesar tektonik yang ada di bawah permukaan tanah.
Sesar Baribis termasuk jenis sesar naik (thrust fault), artinya satu blok batuan terdorong naik di atas blok lain akibat tekanan tektonik. Energi tektonik yang mendorongnya berasal dari tumbukan lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Eurasia di selatan Jawa.
Kenapa Bekasi Bisa Terguncang?
Dari sisi geologi, wilayah Bekasi berdiri di atas tanah yang terbentuk dari endapan muda, yang dikenal sebagai sedimen aluvial. Sedimen aluvial adalah material lepas seperti pasir, kerikil, lumpur, atau tanah liat yang terbawa dan diendapkan oleh sungai atau air hujan dalam jangka waktu geologi yang relatif singkat. Karena usianya masih muda, jenis tanah ini umumnya belum memadat menjadi batu keras, sehingga sifatnya lebih lunak dan kurang stabil dibandingkan lapisan batuan padat di daerah pegunungan.
Kondisi tanah yang lunak ini punya konsekuensi penting ketika terjadi gempa. Alih-alih meredam guncangan, lapisan sedimen justru berperan sebagai penguat getaran. Gelombang seismik yang datang dari bawah tanah bisa dipantulkan dan diperlambat di dalam lapisan sedimen, sehingga getarannya bertahan lebih lama dan terasa lebih kuat di permukaan. Fenomena ini disebut sebagai efek amplifikasi lokal.
Itulah sebabnya, meskipun gempa di Bekasi pada Agustus 2025 tergolong relatif kecil, dampaknya tetap signifikan ketika dirasakan di kawasan perkotaan padat penduduk seperti Bekasi dan Jakarta. Gedung-gedung tinggi, infrastruktur transportasi, hingga permukiman berada di atas tanah yang secara alami memperbesar guncangan. Dengan kata lain, bukan hanya besarnya gempa yang menentukan tingkat kerusakan, tetapi juga karakteristik tanah di atasnya.
Baca juga artikel tentang: Menguak Suara ‘Gempa Langit’ yang Terdengar di Seluruh Dunia: Apakah Ini Pertanda Alam?
Deretan Sesar Aktif di Jawa Barat
Jawa Barat ternyata “dikelilingi” oleh sejumlah sesar aktif selain Baribis, di antaranya:
- Sesar Lembang – membentang di utara Bandung, berpotensi menimbulkan gempa merusak.
- Sesar Cimandiri – dari Pelabuhan Ratu ke arah Sukabumi, dikenal aktif.
- Sesar Cugenang – pemicu gempa Cianjur M5,6 tahun 2022.
- Sesar Cirata – dekat Purwakarta, potensinya terus dikaji.
- Sesar Baribis–Kendeng – melewati Purwakarta, Subang, Karawang, Bekasi, hingga Majalengka.
Deretan sesar ini menunjukkan bahwa Jawa Barat berada di wilayah tektonik yang dinamis, meski jauh dari zona subduksi utama di selatan Jawa.

Sesar Baribis diperkirakan mampu menghasilkan gempa dengan magnitudo hingga 6–7 bila segmen panjangnya bergerak serentak. Ini cukup untuk merusak bangunan tidak tahan gempa, terutama di kawasan padat penduduk seperti Bekasi, Karawang, hingga pinggiran Jakarta.
Namun, gempa-gempa kecil seperti M4–M5 juga punya sisi positif: mereka membantu melepaskan energi secara bertahap, sehingga mengurangi risiko akumulasi tegangan besar yang bisa memicu gempa lebih kuat.
Ilmu geologi dan seismologi memberi kita peta sesar aktif, yang penting untuk:
- Perencanaan tata ruang: menghindari pembangunan vital di atas jalur sesar.
- Arsitektur tahan gempa: rumah sederhana sekalipun bisa diperkuat dengan teknik konstruksi tepat.
- Edukasi masyarakat: latihan evakuasi, memahami jalur sesar, dan membangun budaya siaga.
Dengan langkah berbasis sains ini, risiko korban jiwa bisa ditekan meskipun gempa tak bisa dicegah.
Gempa Bekasi adalah pengingat bahwa bumi selalu hidup dan bergerak. Garis sesar seperti Baribis hanyalah bagian dari sistem tektonik yang menjaga dinamika planet ini. Bagi kita, tantangannya bukan menghentikan gempa, tetapi hidup berdampingan dengan sains: membangun dengan bijak, siap siaga, dan selalu belajar dari setiap getaran.
Baca juga artikel tentang: Gempa Palu 2018 dan Efeknya Terhadap Perubahan Lempeng di Sekitarnya
REFERENSI:
Fortuna, Indira Defa. 2025. Sistem Sesar Baribis Sebabkan Gempa Bekasi, Terpanjang di Pulau Jawa dan Ramalan Kepiting Putih. Jawa pos: https://www.jawapos.com/nasional/016472030/sistem-sesar-baribis-sebabkan-gempa-bekasi-terpanjang-di-pulau-jawa-dan-ramalan-kepiting-putih diakses pada tanggal 25 Agustus 2025.
Nurhandoko, Bagus Endar B dkk. 2025. Subsurface Characterization and Revealing Geometry of the Baribis Fault in the Eastern Part of West Java Using Long-O® set Resistivity Tomography. researchgate.net: https://scholar.google.com/scholar?hl=en&as_sdt=0%2C5&as_ylo=2025&q=Sesar+Baribis&btnG=#d=gs_qabs&t=1756111797946&u=%23p%3D2CCd6PaxszQJ diakses pada tanggal 25 Agustus 2025.

