Fiji, sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik, menghadapi ancaman serius dari krisis iklim. Sebagai negara berkembang dengan tujuan ambisius untuk meningkatkan kesejahteraan warganya, Fiji sangat rentan terhadap bencana alam yang diperburuk oleh perubahan iklim. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi infrastruktur dan ekonomi negara, tetapi juga berdampak besar pada kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Kerentanan Fiji terhadap Bencana Alam
Fiji kerap dilanda bencana seperti siklon, banjir, gempa bumi, dan kekeringan. Salah satu bencana terparah adalah Siklon Winston pada tahun 2016, yang menyebabkan kerugian hampir USD 1 miliar, setara dengan 20% dari PDB Fiji. Perubahan iklim memperburuk kerentanan ini dengan meningkatkan intensitas badai, banjir pesisir akibat kenaikan permukaan laut, dan lonjakan suhu yang memicu penyakit tropis. Sebagai contoh, pada tahun 2012, desa Vunidogoloa menjadi komunitas pertama di Fiji yang harus direlokasi akibat naiknya permukaan air laut.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Perubahan iklim tidak hanya membawa dampak fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi ekonomi dan sosial Fiji. Diperkirakan pada tahun 2050, kerugian tahunan akibat bencana iklim ekstrem dapat mencapai 6,5% dari PDB negara. Selain itu, lebih dari 32.000 orang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan setiap tahunnya karena dampak ini. Situasi ini menunjukkan bagaimana perubahan iklim tidak hanya menjadi isu lingkungan tetapi juga krisis kemanusiaan bagi Fiji.
Pendekatan Inovatif Fiji Terhadap Krisis Iklim
Pemerintah Fiji telah mengambil langkah inovatif melalui Climate Vulnerability Assessment (CVA), sebuah metode penilaian kerentanan iklim yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, termasuk ekonomi, kesehatan, dan infrastruktur. CVA ini memberikan gambaran menyeluruh tentang dampak perubahan iklim terhadap ekonomi, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat Fiji. Melalui CVA, pemerintah dapat membuat keputusan investasi berdasarkan pada dampak sosial-ekonomi, bukan hanya biaya agregat.

Sumber: id.pinterest.com
Investasi dalam Ketahanan
CVA juga menghasilkan rencana investasi adaptasi dan ketahanan, yang mencakup 125 intervensi prioritas di lima bidang utama: pengembangan kota yang inklusif dan tangguh, peningkatan layanan infrastruktur, pertanian dan perikanan cerdas iklim, konservasi ekosistem, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi. Rencana ini membutuhkan pendanaan sekitar USD 4,5 miliar selama sepuluh tahun untuk membantu Fiji menangani risiko iklim.
Program Relokasi Terencana dan Dampak Kesehatan di Fiji
Relokasi terencana adalah strategi adaptasi yang bertujuan untuk mengurangi risiko akibat perubahan iklim, seperti kenaikan permukaan laut, erosi pantai, dan intrusi air asin. Di Fiji, desa Vunidogoloa menjadi salah satu contoh pertama relokasi terencana dengan dukungan pemerintah, yang dilakukan pada tahun 2014. Desa ini dipindahkan sekitar dua kilometer ke lokasi yang lebih tinggi untuk menghindari risiko lingkungan yang meningkat di lokasi asalnya.
Manfaat Relokasi terhadap Kesehatan
Berikut adalah beberapa manfaat dari program relokasi terhadap kesehatan masyarakat, yaitu:
- Pengurangan Risiko Lingkungan
Relokasi mengurangi paparan terhadap banjir, erosi, dan intrusi air asin yang sebelumnya mengancam infrastruktur desa dan kesehatan penduduk. Lokasi baru yang lebih tinggi menyediakan akses ke air bersih dan sanitasi yang lebih baik, termasuk dengan septic tank, yang mengurangi risiko terjangkitnya penyakit infeksi kulit dan lainnya yang terkait dengan sanitasi. - Ketahanan Pangan
Lokasi baru yang memberikan kemudahan akses dengan lahan pertanian subur, memungkinkan warga menanam tanaman seperti singkong, pisang, dan nanas untuk konsumsi sendiri dan pendapatan tambahan. Bantuan donor juga menciptakan peluang pengembangan sumber ketahanan pangan seperti kolam ikan. - Akses Layanan Kesehatan
Relokasi mendekatkan desa ke jalan utama dan akses ke pusat layanan kesehatan. Hal ini dapat meningkatkan imunisasi pada anak-anak, dan layanan medis lainnya bagi masyarakat. - Perumahan yang Lebih Baik
Perumahan baru didesain dengan material dan tata letak yang lebih baik, memberikan ruang yang lebih nyaman untuk keluarga. Hal ini berkaitan dengan perwujudan keamanan dan kesejahteraan masyarakat.
Tantangan Kesehatan yang Tidak Terduga
Meskipun demikian, program relokasi ini tetap mengalami tantangan yang perlu ditanggulangi, meliputi:
- Perubahan Pola Makan
Lokasi baru yang jauh dari pantai mengurangi akses ke ikan dan makanan laut segar. Sebaliknya, konsumsi makanan olahan seperti mie instan dan ikan kalengan meningkat, yang berdampak pada peningkatan penyakit tidak menular seperti diabetes. - Gangguan Struktur Sosial
Relokasi mengubah pola interaksi sosial dari rumah tangga besar ke unit keluarga kecil. Meskipun memberi ruang lebih besar pada privasi, beberapa wanita melaporkan peningkatan kekerasan dalam rumah tangga akibat isolasi dalam rumah tangga. - Kehilangan Keterikatan Tempat
Penduduk merasa kehilangan ikatan emosional dengan lokasi lama, termasuk area pemakaman leluhur, akses ke laut, dan kegiatan memancing. Hal ini berdampak pada kesejahteraan mental mereka. - Paparan terhadap Gaya Hidup Modern
Kedekatan dengan pusat kota membawa pengaruh budaya baru, seperti meningkatnya konsumsi alkohol dan rokok di kalangan remaja dan orang dewasa.
Kesimpulan
Studi ini menunjukkan bahwa relokasi terencana membawa manfaat dan risiko kesehatan yang kompleks. Sementara beberapa risiko lingkungan dapat diminimalkan, tantangan baru terkait perubahan pola makan, struktur sosial, dan keterikatan tempat muncul. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan komunitas dalam perencanaan relokasi yang memperhatikan faktor sosial dan kesehatan secara menyeluruh.
Referensi
McMichael, C. and Powell, T. 2021. Planned Relocation and Health: A Case Study from Fiji. Diakses pada 24 November 2024 dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8072796/pdf/ijerph-18-04355.pdf
GFDRR. 2018. ASSESSING FIJI’S CLIMATE VULNERABILITY. Diakses pada 24 November 2024 dari https://www.gfdrr.org/sites/default/files/publication/FINAL%20-%20Results%20in%20Resilience%20-%20Assessing%20Fiji%27s%20Climate%20Vulnerability%20-%206.27.18_0.pdf
