Jika ada negara di Asia Tenggara yang dikenal sebagai lumbung pangan, Thailand adalah salah satunya. Dari hamparan padi yang luas hingga perkebunan buah tropis yang subur, pertanian selama berabad-abad menjadi tulang punggung ekonomi dan budaya negeri gajah putih itu. Namun kini, kenyataan mulai berubah. Suhu udara yang terus naik, musim hujan yang tak menentu, dan banjir serta kekeringan yang datang silih berganti mulai mengguncang fondasi pertanian yang dulu kokoh.
Sebuah kajian menyeluruh yang dilakukan oleh Muhammad Waqas dan tim peneliti internasional pada tahun 2025 memberikan gambaran yang jelas tentang krisis ini. Studi tersebut memaparkan bagaimana perubahan iklim telah memengaruhi sektor pertanian Thailand dari berbagai sisi: mulai dari produktivitas lahan, serangan hama, hingga kesejahteraan petani.
Hasilnya mengungkap sesuatu yang mengkhawatirkan: jika tren ini berlanjut tanpa intervensi serius, sistem pangan Thailand dan juga Asia Tenggara, bisa menghadapi guncangan besar di masa depan.
Baca juga artikel tentang: Snowball Earth: Tragedi Iklim Terbesar yang Membentuk Kehidupan
Cuaca yang Tak Lagi Bisa Ditebak
Salah satu masalah utama yang ditemukan para peneliti adalah ketidakpastian cuaca ekstrem. Dahulu, para petani Thailand bisa memprediksi kapan musim hujan datang dan kapan harus menanam padi. Kini, hujan bisa turun kapan saja, kadang terlalu deras hingga menyebabkan banjir, kadang tak datang sama sekali selama berbulan-bulan.
Perubahan pola hujan ini membuat siklus tanam menjadi kacau. Tanaman padi yang terlalu lama terendam air akan mati, sementara kekeringan yang berkepanjangan membuat sawah retak dan gersang. Para peneliti mencatat bahwa pola curah hujan di Thailand kini semakin tidak konsisten, membuat prediksi pertanian berbasis kalender musim menjadi hampir mustahil dilakukan.
Selain itu, gelombang panas kini menjadi musuh baru bagi para petani. Suhu di beberapa wilayah meningkat hingga di atas 40 derajat Celsius selama musim kering. Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan tanaman, tetapi juga menyebabkan dehidrasi pada hewan ternak dan menurunkan produktivitas tenaga kerja manusia di lapangan.
Berdasarkan proyeksi dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), suhu rata-rata di Thailand diperkirakan akan naik antara 0,95 hingga 3,23 derajat Celsius pada akhir abad ini. Mungkin terdengar kecil, tetapi bagi tanaman dan ekosistem, perubahan sekecil itu dapat menentukan hidup dan mati.
Ketika Hama dan Penyakit Ikut Berpesta
Kenaikan suhu dan kelembapan menciptakan kondisi ideal bagi ledakan populasi hama dan penyakit tanaman. Waqas dan tim mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah serangga seperti wereng dan belalang yang menyerang tanaman padi. Hama-hama ini tidak hanya merusak hasil panen tetapi juga memaksa petani menggunakan lebih banyak pestisida, yang pada akhirnya menambah biaya produksi dan merusak kesehatan tanah.
Beberapa penyakit tanaman juga kini muncul di wilayah yang sebelumnya aman. Jamur penyebab penyakit daun padi, misalnya, kini berkembang di daerah dataran tinggi yang dulu terlalu dingin untuk ditinggali patogen tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan iklim menggeser peta ekologi pertanian, memperluas wilayah penyebaran penyakit ke area baru yang belum siap menghadapinya.
Air: Terlalu Banyak atau Terlalu Sedikit
Dalam laporan tersebut, air disebut sebagai faktor paling krusial yang menentukan masa depan pertanian Thailand. Di satu sisi, banjir besar yang lebih sering terjadi menghancurkan ribuan hektare lahan pertanian setiap tahun. Di sisi lain, kekeringan ekstrem membuat banyak daerah pedesaan kehabisan air untuk irigasi.
Thailand mengandalkan sistem irigasi yang luas, tetapi infrastruktur ini tidak selalu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan iklim yang cepat. Ketika hujan turun terlalu deras, bendungan meluap; ketika musim kemarau berkepanjangan, saluran irigasi mengering. Kondisi yang tidak stabil ini membuat produksi pangan menjadi tidak pasti dan memicu fluktuasi harga di pasar.
Krisis air juga memperburuk konflik di tingkat lokal. Petani yang berada di hulu dan hilir sungai sering berebut pasokan air, sementara masyarakat kota menuntut prioritas untuk kebutuhan domestik. Situasi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Nasib Petani di Tengah Krisis
Lebih dari sepertiga penduduk Thailand bergantung pada sektor pertanian. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan petani terus menurun akibat penurunan produktivitas dan meningkatnya biaya produksi. Mereka kini menghadapi risiko gagal panen yang lebih tinggi, sementara harga pupuk, benih, dan pestisida terus naik.
Selain kehilangan penghasilan, banyak petani juga mengalami tekanan psikologis akibat ketidakpastian masa depan. Generasi muda enggan melanjutkan profesi bertani karena dianggap tidak menjanjikan. Akibatnya, sektor pertanian mulai kekurangan tenaga kerja, yang justru memperlemah ketahanan pangan nasional.

Adaptasi dan Harapan
Meski gambaran ini tampak suram, studi Waqas dan rekan-rekannya juga menyoroti berbagai upaya adaptasi yang mulai dijalankan. Misalnya, penggunaan varietas padi tahan panas dan kekeringan yang dikembangkan oleh lembaga penelitian lokal. Beberapa komunitas petani juga mulai menerapkan pertanian pintar iklim (climate-smart agriculture), yakni sistem yang menggabungkan teknologi cuaca, pengelolaan air yang efisien, dan diversifikasi tanaman untuk mengurangi risiko.
Selain itu, pemerintah Thailand tengah memperluas investasi pada sistem peringatan dini untuk bencana iklim seperti banjir dan kekeringan. Teknologi satelit digunakan untuk memantau perubahan suhu permukaan dan kelembapan tanah agar petani dapat menyesuaikan waktu tanam mereka secara lebih akurat.
Namun, adaptasi ini membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat. Para peneliti menegaskan bahwa pertanian tidak bisa beradaptasi sendirian. Diperlukan sinergi antara pemerintah, ilmuwan, dan petani agar strategi adaptasi dapat berjalan efektif. Subsidi untuk teknologi ramah iklim, pelatihan bagi petani kecil, serta pengelolaan air lintas wilayah menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan pangan di Thailand.
Pelajaran untuk Asia Tenggara
Kisah Thailand adalah cermin bagi banyak negara lain di kawasan ini, termasuk Indonesia. Pola iklim yang tak menentu, kenaikan suhu, dan ancaman hama merupakan masalah bersama. Studi ini mengingatkan bahwa pertanian tropis sangat rentan terhadap perubahan lingkungan karena tergantung pada kestabilan cuaca.
Dengan demikian, setiap kebijakan iklim seharusnya tidak hanya berfokus pada emisi karbon global, tetapi juga pada ketahanan pangan lokal. Karena pada akhirnya, perubahan iklim tidak hanya merusak bumi secara abstrak, tetapi juga mengancam piring nasi di meja makan manusia.
Masa Depan Pangan Bergantung pada Hari Ini
Dari hasil penelitian ini, satu pesan penting muncul: waktu untuk menunda sudah habis. Jika suhu terus meningkat dan pola cuaca semakin tak menentu, generasi mendatang mungkin akan mewarisi dunia di mana bertani bukan lagi sumber kehidupan, melainkan perjuangan bertahan hidup.
Namun, masih ada harapan. Dengan sains, kebijakan cerdas, dan kerja sama lintas negara, pertanian Thailand dan kawasan Asia Tenggara dapat menemukan cara baru untuk beradaptasi. Langkah kecil seperti efisiensi air, inovasi varietas tanaman, dan penghijauan kembali lahan-lahan kritis bisa menjadi perisai pertama menghadapi masa depan yang panas.
Seperti yang disimpulkan Waqas dan timnya, pertanian adalah garis depan dalam perang melawan perubahan iklim. Dan setiap butir padi yang berhasil tumbuh di tanah yang makin kering adalah bukti bahwa manusia masih bisa melawan, asal tidak berhenti berusaha.
Baca juga artikel tentang: Peñico: Kota Perdagangan 3.500 Tahun Lalu yang Hancur oleh Perubahan Iklim
REFERENSI:
Waqas, Muhammad dkk. 2025. A comprehensive review of the impacts of climate change on agriculture in Thailand. Farming System 3 (1), 100114.

