Sejak ChatGPT, Gemini, dan beragam platform kecerdasan buatan (AI) muncul, ruang kelas di seluruh dunia tak lagi sama. Di balik semangat “inovasi pendidikan”, banyak guru kini bertanya-tanya: Apakah AI benar-benar membantu mereka atau justru menambah beban pikiran baru?
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Education Sciences tahun 2025 berjudul “AI in the Classroom: Insights from Educators on Usage, Challenges, and Mental Health” mencoba menjawab pertanyaan ini.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Julie Delello dan rekan-rekannya meneliti bagaimana para pendidik dari berbagai negara melihat dan merasakan kehadiran AI dalam pekerjaan mereka dari sisi penggunaan, tantangan etis, hingga pengaruhnya terhadap kesehatan mental.
Hasilnya menunjukkan sebuah ironi menarik:
Sebagian besar guru merasa AI mempermudah pekerjaan, tapi pada saat yang sama, mereka juga lebih cemas dan terisolasi secara sosial.
Baca juga artikel tentang: Dari Tanaman ke Terapi: Perjalanan Ibogaine dalam Dunia Kesehatan Mental
Guru dan AI: Antara Penasaran dan Terpaksa Beradaptasi
Penelitian ini melibatkan 353 pendidik dari berbagai negara dan jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga universitas.
Sebanyak 92% responden mengaku sudah akrab dengan AI, dan banyak yang mulai menggunakannya untuk meningkatkan efisiensi mengajar, membuat materi lebih cepat, serta mengotomatiskan tugas-tugas administratif seperti penilaian dan pembuatan laporan.
Beberapa guru bahkan melaporkan bahwa AI, termasuk alat seperti ChatGPT telah mengubah cara siswa belajar. Siswa kini lebih sering menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, mencari ide esai, atau bahkan memecahkan soal. Hal ini memaksa guru untuk menyesuaikan metode pengajaran agar siswa tetap berpikir kritis, bukan sekadar menyalin jawaban dari mesin.
“AI membuat saya harus berpikir ulang: bagaimana saya bisa menilai kemampuan berpikir siswa, kalau sebagian besar tugasnya dibuat oleh teknologi?” ujar salah satu peserta survei yang dikutip dalam laporan tersebut.
Otomatisasi yang Melegakan, Tapi Juga Mengkhawatirkan
Bagi sebagian pendidik, AI terasa seperti “penolong ajaib.” Teknologi ini dapat meringankan pekerjaan yang biasanya memakan waktu berjam-jam, misalnya menulis rencana pelajaran, membuat rubrik penilaian, atau memberikan umpan balik otomatis.
Banyak guru mengatakan bahwa AI membantu menurunkan tingkat stres dengan mengambil alih tugas-tugas administratif yang melelahkan. Namun, tidak sedikit pula yang mengaku merasa cemas, terutama karena dua hal utama:
- Kekhawatiran kehilangan sentuhan manusiawi dalam mengajar, dan
- Ketergantungan berlebihan terhadap teknologi yang belum tentu akurat.
Beberapa guru bahkan melaporkan meningkatnya perasaan terisolasi, karena interaksi antar manusia, baik antar guru maupun dengan siswa mulai berkurang akibat peran AI yang semakin dominan.
Ketika AI Menyentuh Kesehatan Mental
Studi ini mengungkap sisi yang jarang dibicarakan: AI juga memengaruhi kesehatan mental para pendidik.
Sebagian guru merasa terbantu secara emosional, bisa bekerja lebih cepat, menghemat waktu, dan punya ruang lebih untuk beristirahat. Namun sebagian lainnya justru mengalami tekanan psikologis baru:
- Takut dianggap “ketinggalan zaman” jika tidak menggunakan AI,
- Khawatir pekerjaannya akan tergantikan, dan
- Cemas menghadapi dilema etika baru seperti plagiarisme, privasi data, dan keaslian karya siswa.
Kondisi ini menggambarkan “ambivalensi digital” perasaan ganda antara optimisme dan ketakutan terhadap teknologi yang sama.
Bagi guru, AI bukan hanya alat bantu, tetapi juga sumber stres yang nyata.
Kekosongan Kebijakan dan Etika
Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa banyak lembaga pendidikan belum memiliki kebijakan resmi tentang penggunaan AI di kelas. Akibatnya, para pendidik harus membuat aturan mereka sendiri terutama dalam hal etika, privasi data, dan plagiarisme.
Beberapa guru berinisiatif menetapkan pedoman lokal seperti:
- “Siswa boleh menggunakan AI hanya untuk ide awal, bukan hasil akhir.”
- “AI harus disebutkan dalam daftar referensi.”
- “Dilarang menggunakan AI untuk menjawab ujian.”
Langkah-langkah seperti ini menunjukkan inisiatif etis dari bawah, tetapi juga mengindikasikan kekosongan regulasi dari atas. Tanpa panduan yang jelas, guru dan siswa sama-sama berjalan di wilayah abu-abu moral digital.
Kebutuhan Mendesak: Literasi AI untuk Guru
Satu temuan penting dari riset ini adalah kebutuhan besar akan pelatihan profesional tentang literasi AI dan etika digital. Sebagian besar responden merasa mereka “dipaksa belajar sendiri” tanpa dukungan institusional yang memadai.
Padahal, untuk menggunakan AI dengan aman dan efektif, guru perlu memahami:
- Cara kerja algoritma dan biasnya,
- Risiko penyalahgunaan data pribadi,
- Etika akademik di era otomatisasi, dan
- Cara menilai hasil kerja siswa yang menggunakan bantuan AI.
Peneliti menyarankan agar lembaga pendidikan tidak hanya menyediakan pelatihan teknis, tetapi juga pendampingan psikologis karena transisi ke era AI ini menuntut perubahan cara berpikir, bukan sekadar keterampilan baru.
AI Bukan Musuh, Tapi Cermin Dunia Pendidikan Kita
Dalam kesimpulannya, tim Delello menekankan bahwa AI seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai cermin: sejauh mana sistem pendidikan kita siap menghadapi perubahan, dan seberapa manusiawi kita bisa tetap menjadi pendidik di tengah kecerdasan buatan.
Penelitian ini juga membuka peluang studi lanjutan tentang dampak jangka panjang AI terhadap kesejahteraan guru dan hasil belajar siswa. Apakah AI akan membuat pendidikan lebih manusiawi, karena guru punya waktu lebih untuk membimbing dan berempati atau justru lebih mekanis dan impersonal?
Jawabannya, menurut para peneliti, tergantung pada bagaimana kita memilih untuk menggunakannya.
Teknologi, pada akhirnya, hanyalah alat.
AI dapat membantu menulis pelajaran, menganalisis nilai, bahkan menyiapkan ujian, tapi hanya manusia yang bisa menginspirasi dan memahami murid secara emosional.
Riset ini mengingatkan kita bahwa kemajuan digital tidak boleh mengorbankan kemanusiaan di dalam kelas. Guru perlu diberdayakan, bukan digantikan.
Dan pendidikan di masa depan seharusnya menjadi kolaborasi antara kecerdasan buatan dan kebijaksanaan manusia.
Karena tak peduli seberapa canggih algoritma yang kita punya, tidak ada AI yang bisa menggantikan sentuhan tulus seorang guru.
Baca juga artikel tentang: Perbedaan Respons Stres antara Pria dan Wanita: Temuan yang Bisa Mengubah Pengobatan Gangguan Mental
REFERENSI:
Delello, Julie A dkk. 2025. AI in the Classroom: Insights from Educators on Usage, Challenges, and Mental Health. Education Sciences 15 (2), 113.

