Dari Puncak Es ke Krisis Air: Risiko Overshoot Pemanasan Global bagi Gletser dan Hidup Kita

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change oleh Schuster et al. (2025) memaparkan hasil simulasi global perubahan massa gletser hingga tahun 2500, dengan fokus pada skenario overshoot suhu global hingga 3°C, lalu penurunan kembali ke 1,5°C.

Setiap hari, kita bergantung pada sumber daya alam yang tampak jauh dari keseharian kita, seperti gletser di pegunungan tinggi. Gletser ini tidak hanya sebagai pemandangan indah atau objek wisata, tetapi juga berperan vital dalam menyediakan air bersih untuk minum, irigasi pertanian, dan pembangkit listrik tenaga air bagi jutaan orang. Ketika suhu bumi terus meningkat akibat pemanasan global, gletser-gletser ini mencair dan berkurang drastis, yang secara langsung memengaruhi ketersediaan air dan ketahanan pangan di banyak wilayah.

Pemanasan global yang melampaui ambang batas 1,5°C di atas tingkat pra-industri telah menjadi sebuah kemungkinan nyata dalam dekade mendatang. Meskipun terdapat upaya untuk mengendalikan suhu global melalui pengurangan emisi dan teknologi penangkapan karbon, konsekuensi jangka panjang dari skenario overshoot—di mana suhu bumi sementara melampaui batas tersebut sebelum kembali turun—masih kurang dipahami secara menyeluruh, khususnya terkait dengan dinamika gletser di pegunungan.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change oleh Schuster et al. (2025) memaparkan hasil simulasi global perubahan massa gletser hingga tahun 2500, dengan fokus pada skenario overshoot suhu global hingga 3°C, lalu penurunan kembali ke 1,5°C. Studi ini melibatkan lebih dari 200.000 gletser di seluruh dunia dan mengintegrasikan model iklim global dengan model gletser terbuka (Open Global Glacier Model).

Gletser dan Perannya dalam Sistem Bumi

Gletser adalah massa besar es yang terbentuk dari salju yang menumpuk selama ribuan tahun dan memadat karena tekanan. Gletser biasanya terdapat di pegunungan tinggi atau daerah kutub, dan sangat penting karena:

  • Menyimpan cadangan air tawar terbesar di dunia setelah es kutub.
  • Menyediakan air bagi jutaan orang yang tinggal di hilir, terutama saat musim kemarau.
  • Mengatur aliran air sungai dan memengaruhi ekosistem lokal.
  • Jika mencair, menyumbang pada kenaikan permukaan laut secara global.

Baca juga: Kriosfer: Peran Penting Es dan Salju untuk Kehidupan di Bumi

Skenario Overshoot dan Proyeksi Massa Gletser

Skenario overshoot yang disimulasikan dalam penelitian ini membayangkan dunia yang tidak segera menurunkan emisi gas rumah kaca, sehingga suhu global terus naik hingga mencapai 3°C sekitar tahun 2150. Baru setelah itu, teknologi seperti penangkapan karbon (carbon capture) mulai digunakan secara besar-besaran untuk mendinginkan bumi, hingga suhu turun kembali ke 1,5°C sekitar tahun 2300.

Respons massa gletser regional dalam skenario stabilisasi dan overshoot model iklim GFDL-ESM2M.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa:

  • Gletser mengalami kehilangan massa es tambahan sebesar 16% pada tahun 2200 dan 11% pada tahun 2500 dibandingkan dengan skenario stabilisasi suhu di bawah 1,5°C tanpa overshoot.
  • Total kehilangan massa es ini melebihi 35% dari massa gletser dunia saat ini, yang merupakan komitmen pencairan bahkan pada kenaikan suhu terbatas di 1,5°C.
  • Kontribusi gletser terhadap kenaikan permukaan laut bersifat irreversibel dalam jangka waktu berabad-abad hingga milenium.

Namun sayangnya, kerusakan yang sudah terjadi selama periode “panas berlebih” ini tidak bisa begitu saja dipulihkan. Bahkan setelah suhu bumi turun kembali, gletser tetap akan terus mencair selama ratusan tahun ke depan.

Pulih? Mungkin, Tapi Sangat Lama

Studi ini mengidentifikasi perbedaan waktu respon antar wilayah:

  • Gletser yang lebih kecil di kawasan Alpen, Himalaya, dan Andes tropis dapat menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan kembali sekitar tahun 2500, namun tidak dapat disaksikan oleh generasi masa kini.
  • Gletser besar di wilayah kutub dan pegunungan tinggi seperti Alaska, Patagonia, dan Kanada menunjukkan waktu respon yang sangat lambat, dengan pemulihan yang diperkirakan memerlukan waktu ratusan hingga ribuan tahun.

Peak Water vs. Trough Water: Ketika Air Melimpah dan Kemudian Menyusut

Ketika gletser mencair, air dalam jumlah besar akan mengalir ke sungai-sungai. Fenomena ini disebut sebagai “peak water”, yakni puncak aliran air dari gletser yang sebenarnya hanya bersifat sementara. Setelah puncaknya terlampaui dan es terus berkurang, gletser menjadi terlalu kecil untuk menghasilkan air yang sama banyaknya. Akibatnya, terjadi penurunan aliran air atau “trough water”. Gletser mulai tumbuh kembali setelah suhu menurun pasca-overshoot. Fenomena ini diperkirakan akan berdampak pada:

  • Sekitar setengah dari 60 daerah aliran sungai gletser utama di dunia yang diteliti mengalami penurunan aliran air selama beberapa dekade hingga berabad-abad setelah puncak pemanasan.
  • Dampak paling signifikan diproyeksikan terjadi di DAS Rapel, Chile, dengan durasi trough water lebih dari 300 tahun dan penurunan aliran air hingga 50%.

Mengapa Ini Relevan bagi Kita?

Mungkin kamu berpikir: “Tahun 2500 masih lama. Kenapa kita harus peduli sekarang?”

Faktanya, dampak perubahan iklim sudah kita rasakan saat ini, dan proses pencairan gletser sudah berlangsung sekarang. Berikut beberapa alasan kenapa ini penting:

  1. Ancaman kekurangan air: Ratusan juta orang di Asia, Amerika Selatan, dan Eropa bergantung pada air dari gletser, terutama saat musim kemarau.
  2. Kenaikan permukaan laut: Mencairnya gletser akan mempercepat banjir di kota-kota pesisir di seluruh dunia.
  3. Kehilangan habitat dan keanekaragaman hayati: Ekosistem pegunungan sangat sensitif dan bisa rusak permanen tanpa keberadaan es.
  4. Kerugian ekonomi: Pariwisata salju, pertanian, dan pembangkit listrik tenaga air bisa terganggu.

Apa Solusinya?

Penelitian ini memperkuat pentingnya menghindari skenario overshoot dengan:

  • Mengurangi emisi gas rumah kaca secepat mungkin
  • Mempercepat transisi ke energi terbarukan
  • Melindungi hutan dan ekosistem alami sebagai penyerap karbon
  • Mengembangkan teknologi penangkap karbon, namun tanpa menunda aksi nyata

Kesimpulan: Kita Tidak Punya Waktu

Studi ini memberikan gambaran komprehensif tentang dampak jangka panjang overshoot pemanasan global terhadap gletser dunia dan sistem air yang bergantung padanya. Penurunan suhu global kembali ke 1,5°C, bahkan hanya sementara, akan menyebabkan pencairan gletser besar-besaran yang tidak bisa dibalik dalam waktu dekat—bahkan mungkin tidak bisa dipulihkan sama sekali dalam kehidupan manusia.

Bumi sedang menuju jalur yang berbahaya, dan semakin lama kita menunggu untuk bertindak, semakin besar kerusakan yang harus diperbaiki oleh anak cucu kita.

Referensi:

[1] https://www.bristol.ac.uk/news/2025/may/glacier-recovery.html, diakses pada 22 Mei 2025.

[2] Lilian Schuster, Fabien Maussion, David R. Rounce, Lizz Ultee, Patrick Schmitt, Fabrice Lacroix, Thomas L. Frölicher, Carl-Friedrich Schleussner. Irreversible glacier change and trough water for centuries after overshooting 1.5 °CNature Climate Change, 2025; DOI: 10.1038/s41558-025-02318-w

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top