Di tengah krisis lingkungan global yang semakin parah, banyak masyarakat modern mencari solusi melalui teknologi canggih, kebijakan hijau, dan inovasi energi bersih. Namun di balik hiruk-pikuk dunia modern, ada komunitas yang selama berabad-abad telah hidup dalam harmoni dengan alam tanpa perlu istilah “ekonomi hijau” atau “pembangunan berkelanjutan”. Salah satunya adalah suku Adivasi di wilayah Jungle Mahals, India Timur.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Nirmal Kumar Mahato dan diterbitkan dalam jurnal Third World Quarterly tahun 2025 mengungkap cara hidup Adivasi yang bisa menjadi cermin bagi dunia modern. Dalam studinya berjudul “Ecological Labour in Adivasi Knowledge and Practices: The Case of Jungle Mahals, Eastern India”, Mahato menelusuri hubungan mendalam antara manusia, alam, dan kerja yang dibangun atas dasar saling ketergantungan dan tanggung jawab moral.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Kerja yang Peduli pada Manusia dan Alam
Mahato memperkenalkan konsep yang disebut “ecological labour” atau kerja ekologis, yaitu bentuk kerja yang tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga menjaga keseimbangan kehidupan non-manusia seperti hewan, tumbuhan, dan tanah. Bagi masyarakat Adivasi, bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga tindakan spiritual dan sosial yang memastikan keberlangsungan ekosistem di sekitar mereka.
Dalam pandangan Adivasi, hutan bukanlah sumber daya yang bisa dieksploitasi, tetapi bagian dari kehidupan mereka sendiri. Mereka melihat diri mereka sebagai penjaga alam, bukan penguasa. Karena itu, setiap aktivitas seperti menebang pohon, menanam padi, atau berburu, dilakukan dengan penuh kesadaran akan dampaknya terhadap makhluk lain.
Penelitian Mahato menunjukkan bahwa prinsip ini lahir dari sistem kepercayaan lokal yang disebut Jansim binti dan Karam binti, dua konsep yang menegaskan bahwa manusia dan alam saling bergantung. Dalam pandangan mereka, manusia tidak lebih tinggi daripada binatang atau tumbuhan karena semua makhluk memiliki peran penting dalam menopang kehidupan di bumi.
Krisis Ekologi dan Hilangnya Hak Tradisional
Namun, harmoni ini mulai terganggu sejak masa kolonial. Ketika Inggris menguasai India, banyak wilayah hutan Adivasi diambil alih untuk kepentingan ekonomi kolonial seperti penebangan kayu, pertambangan, dan perkebunan. Masyarakat Adivasi kehilangan hak mereka atas tanah dan sumber daya alam yang selama ini menjadi dasar kehidupan mereka.
Mahato mencatat bahwa selama periode kolonial dan pascakolonial, Adivasi dipaksa untuk beradaptasi dengan sistem ekonomi baru yang tidak menghargai nilai-nilai ekologis mereka. Mereka didorong menjadi buruh di lahan yang dulu mereka kelola secara berkelanjutan. Hubungan spiritual dan moral antara manusia dan alam perlahan tergantikan oleh hubungan transaksional yang berorientasi keuntungan.
Perubahan ini tidak hanya menghancurkan lingkungan, tetapi juga identitas budaya mereka. Dalam banyak kasus, deforestasi dan perubahan iklim memperparah penderitaan mereka. Hilangnya hutan berarti hilangnya sumber makanan, obat-obatan, dan bahkan makna hidup. Adivasi tidak hanya kehilangan tanah, tetapi juga kehilangan rasa keterhubungan dengan dunia mereka sendiri.
Kearifan Lokal Sebagai Bentuk Ketahanan
Meski menghadapi tekanan besar dari luar, komunitas Adivasi tidak sepenuhnya menyerah. Mahato menemukan bahwa di berbagai wilayah Jungle Mahals, masyarakat mulai membangun bentuk ketahanan baru berdasarkan nilai-nilai tradisional mereka. Mereka mengembangkan cara bertani yang ramah lingkungan, menanam kembali pohon hutan, dan menjaga siklus air alami.
Yang menarik, bentuk ketahanan ini tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga moral. Adivasi percaya bahwa menjaga keseimbangan dengan alam adalah kewajiban etis, bukan sekadar strategi bertahan hidup. Prinsip ini tercermin dalam apa yang disebut Mahato sebagai “moral economy” ekonomi moral yang berlandaskan tanggung jawab dan empati terhadap seluruh makhluk hidup.
Dalam sistem ini, keberhasilan bukan diukur dari jumlah hasil panen atau keuntungan finansial, melainkan dari seberapa sehat hubungan antara manusia dan lingkungannya. Jika tanah subur, sungai jernih, dan hutan tetap hijau, maka kerja dianggap berhasil. Pandangan ini sangat berbeda dengan logika ekonomi modern yang menilai keberhasilan dari pertumbuhan dan konsumsi.
Pelajaran untuk Dunia Modern
Penelitian ini memberikan pelajaran berharga bagi dunia yang sedang mencari cara keluar dari krisis ekologi. Mahato menegaskan bahwa solusi terhadap masalah lingkungan tidak bisa hanya bersumber dari sains dan teknologi, tetapi juga dari pengetahuan lokal yang telah terbukti menjaga keseimbangan selama berabad-abad.
Sistem kerja ekologis Adivasi menunjukkan bahwa keberlanjutan sejati lahir dari rasa hormat, bukan dominasi. Ketika manusia memandang dirinya sejajar dengan makhluk lain, keputusan yang diambil akan lebih etis dan bijaksana. Misalnya, dalam pandangan Adivasi, manusia tidak akan menebang pohon tanpa alasan yang kuat, karena pohon dianggap sebagai makhluk hidup yang memberi tempat tinggal bagi banyak makhluk lain termasuk manusia sendiri.
Paradigma ini juga menantang cara berpikir kita tentang “kemajuan”. Selama ini, kemajuan diukur dari industrialisasi dan urbanisasi, padahal hal-hal itu sering merusak ekologi dan menimbulkan ketimpangan sosial. Adivasi menawarkan cara pandang yang lebih seimbang: kemajuan bukan berarti menjauh dari alam, tetapi justru memperdalam hubungan dengan alam.
Menjembatani Dunia Lama dan Dunia Baru
Mahato menutup penelitiannya dengan refleksi bahwa tugas ilmuwan dan pembuat kebijakan saat ini bukanlah “mengajari” masyarakat adat bagaimana beradaptasi dengan dunia modern, tetapi belajar dari mereka tentang bagaimana manusia bisa hidup tanpa merusak bumi.
Dengan semakin banyaknya bencana iklim dan kerusakan lingkungan, pengetahuan seperti yang dimiliki masyarakat Adivasi menjadi semakin relevan. Mereka telah membuktikan bahwa keberlanjutan bukan sekadar wacana, melainkan cara hidup yang lahir dari rasa saling menghormati antara manusia, hewan, tumbuhan, dan bumi itu sendiri.
Jika dunia mau mendengarkan, mungkin masa depan ekologis yang lebih adil dan berkelanjutan justru ada di tangan mereka yang selama ini dianggap tertinggal.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Mahato, Nirmal Kumar. Ecological labour in Adivasi knowledge and practices: the case of Jungle Mahals, Eastern India. Third World Quarterly, 1-15.

