Ayam hutan merah (Gallus gallus murghi) adalah leluhur dari ayam peliharaan modern yang kita kenal sekarang. Burung liar ini hidup di hutan-hutan Asia Selatan, termasuk India, dan memainkan peran penting dalam sejarah domestikasi unggas. Sayangnya, populasi mereka kini terancam akibat hilangnya habitat, perburuan, serta perkawinan silang dengan ayam ternak. Jika tidak segera dilakukan upaya pelestarian, spesies ini bisa kehilangan keaslian genetiknya.
Salah satu cara ilmiah yang digunakan untuk melindungi spesies langka seperti ayam hutan merah adalah biobanking, yakni penyimpanan bahan genetik seperti sperma dan embrio dalam kondisi beku. Dalam konteks ini, penelitian yang dilakukan oleh Fiza Khursheed dan timnya (2025) berfokus pada bagaimana menjaga kualitas sperma ayam hutan merah selama proses pembekuan dan pencairan kembali.
Penelitian ini menguji ethylene glycol (EG), senyawa kimia yang dikenal luas sebagai bahan antibeku, untuk melihat apakah zat tersebut dapat berfungsi sebagai pelindung sperma selama proses pembekuan ekstrem di laboratorium.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Mengapa Pembekuan Sperma Itu Rumit
Membekukan sperma bukan hal sederhana. Meskipun suhu sangat rendah (biasanya menggunakan nitrogen cair pada suhu minus 196 derajat Celsius) dapat menghentikan proses biologis, pembekuan juga bisa merusak sel. Kristal es yang terbentuk selama proses pendinginan dapat menghancurkan membran sperma, merusak DNA, dan menurunkan kemampuan sperma untuk membuahi sel telur.
Untuk menghindari kerusakan tersebut, para ilmuwan menggunakan cryoprotectant, yaitu bahan kimia pelindung yang membantu menjaga struktur sel selama proses pembekuan dan pencairan. Pada mamalia, etilena glikol (EG) sudah lama digunakan sebagai cryoprotectant yang efektif. Namun, untuk unggas, terutama spesies liar seperti ayam hutan merah India penggunaannya belum banyak diteliti.
Penelitian ini ingin menjawab satu pertanyaan penting: “Berapa konsentrasi etilena glikol yang paling efektif dalam menjaga kualitas sperma ayam hutan merah setelah dibekukan dan dicairkan?”
Untuk itu, peneliti mengumpulkan sperma dari 20 ekor ayam jantan. Sampel tersebut diseleksi berdasarkan tingkat motilitas (gerakan aktif sperma) yang tinggi, yaitu di atas 70 persen. Sperma kemudian dicampur dengan larutan pelindung khusus yang mengandung 5%, 10%, 15%, dan 20% etilena glikol (EG). Sebagai pembanding, digunakan juga sampel yang ditambah 20% gliserol, pelindung klasik yang biasa digunakan pada hewan lain.
Setelah dicampur, sampel didinginkan dan dibekukan menggunakan nitrogen cair (LN₂). Tahap berikutnya adalah pencairan kembali, di mana kualitas sperma diuji melalui berbagai parameter biologis.
Apa yang Diuji dari Sperma
Para peneliti memeriksa sejumlah aspek penting dari sperma ayam hutan merah, yaitu:
- Motilitas (Kemampuan Bergerak): Menunjukkan seberapa aktif sperma bergerak setelah dicairkan.
- Viabilitas (Kehidupan Sel): Persentase sperma yang tetap hidup setelah proses pembekuan.
- Integritas Membran dan Plasma: Apakah dinding sel sperma masih utuh atau rusak.
- Struktur Kromatin: Menunjukkan kondisi DNA sperma.
- Aktivitas Mitokondria: Mengukur seberapa baik sperma menghasilkan energi.
- Lipid Peroxidation: Mengindikasikan kerusakan akibat oksidasi lemak pada membran sel.
Semua pengujian ini penting karena sperma yang tampak “hidup” belum tentu sehat atau mampu membuahi telur.
Hasil Penelitian: Dosis 20% Paling Efektif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 20% etilena glikol (EG) memberikan perlindungan terbaik terhadap sperma ayam hutan merah India.
Sperma pada dosis ini menunjukkan:
- Motilitas tertinggi, artinya lebih banyak sperma yang masih aktif bergerak setelah pencairan.
- Viabilitas tinggi, menandakan lebih banyak sperma yang tetap hidup.
- Integritas membran dan struktur DNA yang lebih stabil, mengurangi risiko kerusakan genetik.
- Aktivitas mitokondria tertinggi, menunjukkan energi sperma tetap baik.
- Tingkat oksidasi lipid paling rendah, yang berarti membran sel lebih terlindungi dari kerusakan akibat oksigen reaktif.
Singkatnya, penggunaan 20% etilena glikol berhasil menekan kerusakan akibat pembekuan, membuat kualitas sperma ayam hutan merah beku hampir setara dengan kondisi aslinya.

Mengapa Ini Penting untuk Konservasi
Penelitian ini bukan sekadar soal teknik laboratorium, tetapi juga tentang menyelamatkan keanekaragaman hayati. Ayam hutan merah India bukan hanya nenek moyang ayam domestik, tetapi juga bagian penting dari ekosistem hutan.
Dengan semakin menyempitnya habitat akibat deforestasi dan aktivitas manusia, populasi ayam hutan merah di alam liar menurun drastis. Pembekuan sperma menjadi langkah penting dalam konservasi genetik, karena memungkinkan ilmuwan menyimpan bahan genetik untuk masa depan, bahkan setelah populasi liar punah.
Teknik ini juga bisa dimanfaatkan untuk program pemuliaan kembali (reintroduction), yaitu mengembalikan individu hasil pembiakan ke habitat aslinya. Selain itu, penyimpanan sperma berkualitas baik memberi peluang bagi riset lanjutan tentang evolusi unggas dan domestikasi ayam.
Tantangan di Masa Depan
Meskipun hasilnya menjanjikan, penelitian ini baru tahap awal. Banyak faktor lain yang perlu dipelajari lebih lanjut, seperti:
- Apakah hasil serupa bisa dicapai pada spesies ayam liar lain.
- Bagaimana kualitas sperma bertahan dalam penyimpanan jangka panjang (bertahun-tahun).
- Dan yang terpenting, bagaimana hasil pembuahan dari sperma beku ini saat digunakan dalam praktik nyata, seperti inseminasi buatan.
Selain itu, masih ada tantangan logistik — penyimpanan nitrogen cair memerlukan fasilitas dan biaya tinggi, sesuatu yang tidak mudah diterapkan di daerah terpencil tempat ayam hutan merah hidup.
Penelitian Fiza Khursheed dan tim (2025) membuktikan bahwa etilena glikol (EG) pada konsentrasi 20% mampu berperan sebagai pelindung efektif terhadap sperma ayam hutan merah India selama proses pembekuan dan pencairan.
Temuan ini membuka peluang baru bagi pelestarian plasma nutfah unggas liar, terutama spesies yang berperan penting dalam sejarah domestikasi ayam. Dengan teknologi biobanking yang semakin berkembang, kita tidak hanya menyimpan gen, tetapi juga menjaga kemungkinan untuk menghidupkan kembali keanekaragaman hayati yang kini berada di ambang punah.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Khursheed, Fiza dkk. 2025. Cryoprotective Property of Ethylene Glycol in Regard to the Quality and Mitochondrial Status of Frozen Indian Red Jungle Fowl (Gallus Gallus Murghi) Semen. Biopreservation and Biobanking.

