Bayangkan Bumi seperti rumah kaca raksasa. Atapnya adalah atmosfer yang menahan panas agar planet ini tidak membeku. Di lapisan atas “atap” itu ada lapisan ozon, semacam tabir surya alami yang menyaring sinar ultraviolet (UV) berbahaya. Ketika lapisan ini menipis—terutama di atas Antartika—terbentuklah lubang yang kita kenal sebagai lubang ozon. Bertahun-tahun lalu, Komunitas internasional—yakni hampir seluruh negara di bumi di bawah payung PBB/UNEP—bersepakat melalui Konvensi Wina 1985 dan terutama Protokol Montréal 1987 (beserta amandemennya) untuk menghentikan bertahap bahan perusak ozon, didukung dana transisi dan mekanisme kepatuhan; hasilnya kadar perusak ozon turun dan lapisan ozon pulih perlahan.
Di saat yang sama, Samudra Selatan—cincin laut yang mengelilingi Antartika—berperan seperti spons karbon. Artinya, laut ini menyerap sebagian besar karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer, jauh lebih banyak dibanding “jatah” yang pantas jika dilihat dari luas wilayahnya. Dengan menyerap CO₂, Samudra Selatan menurunkan efek pemanasan gas tersebut (para ilmuwan menyebutnya efek radiatif) dan membantu meredam perubahan iklim yang disebabkan manusia.
Sebuah studi yang dipimpin University of East Anglia (UEA) menyatukan kedua cerita ini: pemulihan lubang ozon bisa membalikkan dampak negatif terhadap kemampuan Samudra Selatan menyerap karbon—namun hanya jika emisi gas rumah kaca cepat diturunkan. Kalau emisi terus naik, pengaruh ozon akan memudar dan digantikan oleh dominasi emisi gas rumah kaca yang justru mendorong perubahan angin dan sirkulasi laut ke arah yang tidak menguntungkan.
Apa yang Terjadi di Masa Lalu?
Menurut studi yang dilakukan, penipisan ozon pada akhir abad ke-20 memperkuat angin di sekitar Antartika. Angin yang lebih kuat ibarat mengaduk panci lebih kencang: air kaya karbon dari kedalaman terdorong naik ke permukaan (upwelling). Akibatnya, permukaan laut menjadi lebih jenuh karbon sehingga kurang “lapar” menyerap CO₂ dari udara. Dengan kata lain, kemampuan Samudra Selatan sebagai spons karbon melemah relatif dibandingkan jika ozon tidak menipis.
Baca juga: Begini Kondisi Ozon di Antartika Sekarang
Seperti spons yang sudah basah kuyup (permukaan laut jenuh karbon), maka akan sulit menyerap air lagi (CO₂ dari atmosfer). Upwelling terjadi karena angin kuat “membasahi” spons dari dalam, sehingga penyerapan tambahan dari udara lebih terbatas.
Bagaimana dengan Masa Depan?
Studi ini membawa kabar baik sekaligus peringatan. Kabar baiknya, saat lubang ozon pulih, pengaruhnya terhadap penguatan angin dan sirkulasi dapat berbalik, sehingga kondisi permukaan berpotensi menjadi lebih ramah untuk menyerap CO₂ kembali. Peringatannya, bila emisi gas rumah kaca terus meningkat, emisi-lah yang akan mengambil alih peran sebagai “pengemudi utama” angin dan sirkulasi, lagi-lagi mengarah pada angin yang kuat. Jadi, pemulihan ozon tidak otomatis mengembalikan spons karbon jika selimut gas rumah kaca makin menebal.

Reversibilitas (keterbalikan) dampak ozon bersyarat—hanya nyata di skenario emisi rendah. Jika emisi tinggi, pemulihan ozon “tertutup suaranya” oleh kebisingan perubahan iklim yang didorong gas rumah kaca.
Mengapa Samudra Selatan Begitu Penting?
Secara ukuran, Samudra Selatan bukan yang paling luas, tetapi arusnya unik dan sangat terhubung dengan lautan dunia. Arus-arus ini membuka “jendela” antara atmosfer dan kedalaman laut, sehingga pertukaran karbon berlangsung intens. Dengan menyerap porsi CO₂ yang besar, Samudra Selatan membantu menahan laju pemanasan global. Karena itu, mengetahui berapa banyak lagi karbon yang bisa diserap oleh samudra ini—dan apa yang mengendalikannya—sangat krusial untuk memproyeksikan iklim masa depan.
Bagaimana Peneliti Mengujinya?
Tim UEA dan National Centre for Atmospheric Science (NCAS) menggunakan model sistem Bumi UKESM1. Model ini sejenis “Bumi virtual” yang memadukan atmosfer, laut, es, darat, dan karbon. Mereka menjalankan simulasi tahun 1950–2100 dengan tiga kondisi ozon:
- Dunia tanpa lubang ozon (seolah-olah penipisan tak pernah terjadi).
- Dunia realistis: lubang ozon terbentuk, kemudian mulai pulih setelah Protokol Montréal 1987 diterapkan.
- Dunia lubang ozon permanen: lubang ozon tetap sebesar kondisi tahun 1987 sepanjang abad ke-21.
Di atas itu, tim mengombinasikan dua skenario emisi gas rumah kaca: rendah dan tinggi. Hasilnya, tim menilai bagaimana angin dan sirkulasi berubah, lalu berapa banyak karbon yang diserap samudra di tiap skenario. Temuan lengkapnya dipublikasikan di Science Advances.
Di masa depan, perubahan sirkulasi laut mungkin kurang menentukan penyerapan karbon dibanding masa lalu, karena distribusi karbon antara permukaan dan laut dalam berubah. Dengan memanasnya iklim dan berubahnya kimia-fisika air, “aturan main” spons karbon juga ikut bergeser.
Mengapa “Emisi Rendah” Itu Kunci?
Mari kembali ke analogi selimut. Ketika kita menambahkan lebih banyak gas rumah kaca, kita menebalkan selimut panas. Air laut yang lebih hangat memiliki kemampuan lebih kecil untuk melarutkan CO₂—mirip soda yang lebih mudah kehilangan gas saat hangat. Jadi sekalipun ozon pulih (tirai jendela kembali tebal), selimut panas yang makin tebal tetap membuat samudra kurang efektif menyerap CO₂. Itu sebabnya penelitian ini menekankan: pemulihan ozon baru betul-betul membantu jika emisi diturunkan cepat.
Apa Artinya Bagi Kebijakan dan Aksi?
- Pertahankan dan perkuat kesepakatan global: Keberhasilan Protokol Montréal menunjukkan kerja sama internasional bisa berhasil. Prinsip yang sama perlu diterapkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara agresif.
- Dekarbonisasi cepat: Transisi energi bersih, efisiensi, penghentian bertahap batu bara tanpa henti, dan elektrifikasi transportasi akan mengurangi laju pemanasan, memberi ruang bagi samudra untuk memulihkan fungsinya.
- Pengamatan dan model yang lebih baik: Memperluas pengukuran lapangan di Samudra Selatan (yang terkenal ekstrem) dan menyempurnakan model seperti UKESM1 membantu memperkecil ketidakpastian—seberapa kuat angin akan bertiup, seberapa banyak karbon bisa diserap.
Simpelnya
- Masa lalu: Lubang ozon → angin menguat → naiknya air kaya karbon → penyerapan karbon oleh Samudra Selatan melemah (relatif).
- Masa depan dekat: Ozon pulih → pengaruhnya memudar; emisi gas rumah kaca jadi faktor utama.
- Syarat kebalikannya: Dampak buruk ozon bisa dibalik hanya jika emisi cepat turun.
- Implikasi: Kebijakan iklim yang menekan emisi adalah kunci agar “spons karbon” Samudra Selatan tetap bekerja.
Penutup: Harapan yang Realistis
Kisah lubang ozon adalah contoh harapan: ketika dunia bergerak bersama, perubahan kebijakan berdampak nyata pada atmosfer. Studi ini menambahkan bab baru: pemulihan ozon memang membantu, tapi bukan jaminan jika kita gagal menurunkan emisi. Ibaratnya, kita sudah memperbaiki tirai jendela agar sinar UV tak terlalu masuk, tetapi jika kita terus menumpuk selimut panas di kamar, ruangan tetap akan gerah. Agar Bumi kembali nyaman, dua hal harus berjalan bersamaan: melindungi ozon dan mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cepat.
Dengan memahami peran Samudra Selatan sebagai “spons karbon” yang kuat namun sensitif, kita bisa melihat lebih jelas apa yang dipertaruhkan. Ini bukan sekadar angka di grafik; ini tentang mekanisme penyeimbang alami yang membantu menjaga suhu Bumi tetap bersahabat. Tugas kita sederhana tapi menantang: biarkan samudra melakukan bagiannya—dengan cara kita melakukan bagian kita untuk memangkas emisi sedalam dan secepat mungkin.
Referensi:
[1] https://www.uea.ac.uk/about/news/article/study-reveals-healing-the-ozone-hole-helps-the-southern-ocean-take-up-carbon, diakses pada 22 Agustus 2025.
[2] Tereza Jarníková, Corinne Le Quéré, Steven Rumbold, Colin Jones. Decreasing importance of carbon-climate feedbacks in the Southern Ocean in a warming climate. Science Advances, 2025; 11 (20) DOI: 10.1126/sciadv.adr3589

