Energi Bersih, Kota Aman: Pelajaran dari Transformasi Energi di China

Keamanan energi kini menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan kehidupan modern. Mulai dari penerangan rumah, fasilitas kesehatan, transportasi, hingga […]

Keamanan energi kini menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan kehidupan modern. Mulai dari penerangan rumah, fasilitas kesehatan, transportasi, hingga pabrik, semuanya bergantung pada pasokan energi yang stabil. Ketika pasokan energi terganggu, aktivitas ekonomi dapat lumpuh dan kehidupan sosial bisa terganggu. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia telah menyaksikan betapa rentannya sistem energi, terutama saat terjadi konflik politik, fluktuasi harga minyak dan gas, serta dampak perubahan iklim.

Untuk itulah para ilmuwan dan pembuat kebijakan mulai menaruh perhatian besar pada bagaimana sebuah kota atau negara dapat memiliki energi yang aman dan terjamin. Salah satu studi terbaru yang dipublikasikan tahun 2025 dalam jurnal Renewable Energy berupaya menjawab pertanyaan besar: apakah transisi energi, perkembangan teknologi lingkungan, dan kemajuan digital dapat membantu menjaga keamanan energi di tingkat kota?

Baca juga artikel tentang: Masa Depan Ilmu Material: Cavity Elektro-Optik dan Pengaruhnya terhadap Teknologi Kuantum

Penelitian ini dilakukan oleh Brahim Bergougui dan tim, menggunakan data dari 275 kota di China selama periode 2007 hingga 2019. China dipilih sebagai contoh karena negara ini sedang mengalami transformasi besar-besaran dari energi berbasis batu bara menuju energi yang lebih bersih, sambil mengembangkan teknologi digital yang pesat. Namun perubahan cepat ini juga menimbulkan tantangan baru: apakah sistem energi mereka mampu tetap stabil dan aman?

Pemetaan Teknologi Lingkungan Tiongkok di Seluruh Provinsi: 2007 vs. 2019.

Dalam studi tersebut, peneliti menyoroti tiga faktor utama yang diperkirakan memengaruhi keamanan energi sebuah kota.

Pertama adalah transisi energi, yang berarti beralih dari sumber energi kotor seperti batu bara ke energi yang lebih bersih seperti tenaga surya, angin, dan listrik. Kedua adalah teknologi lingkungan, yang berkaitan dengan inovasi untuk mengurangi polusi dan meningkatkan efisiensi energi. Ketiga adalah digitalisasi, yang mencakup penerapan sistem cerdas, sensor, dan data besar untuk mengelola energi secara lebih efektif.

Untuk mengukur dampaknya, para peneliti menggunakan metode statistik yang dapat membedakan antara dampak positif dan negatif dari setiap perubahan kebijakan atau teknologi. Artinya, ketika terjadi peningkatan investasi pada teknologi ramah lingkungan atau digitalisasi, efeknya bisa berbeda dengan ketika terjadi penurunan atau hambatan dalam pengembangan teknologi tersebut.

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah bahwa transisi energi tidak selalu membawa manfaat langsung bagi keamanan energi. Pada awalnya, kota yang baru memulai peralihan ke energi bersih justru bisa mengalami penurunan keamanan energi. Hal ini dapat terjadi karena infrastruktur energi bersih yang belum matang, ketersediaan panel surya atau turbin angin yang terbatas, serta ketidakstabilan energi terbarukan yang bergantung pada cuaca.

Namun seiring waktu, efeknya akan berubah. Jika transisi energi dilakukan secara konsisten, manfaatnya akan semakin terasa. Kota yang telah lebih dulu mengembangkan energi bersih dengan baik akan menikmati keamanan energi yang lebih tinggi, karena mereka memiliki pasokan energi yang lebih beragam dan tidak tergantung pada bahan bakar impor yang harganya fluktuatif.

Digitalisasi menunjukkan hasil yang lebih stabil dalam meningkatkan keamanan energi. Ketika teknologi digital diterapkan dalam sistem pembangkit dan distribusi energi, operator dapat memantau aliran listrik secara real time, mencegah kerusakan sebelum terjadi, dan mengoptimalkan penggunaan energi. Contohnya adalah penggunaan jaringan listrik pintar atau smart grid yang dapat menyesuaikan distribusi listrik sesuai kebutuhan. Namun menariknya, ketika terjadi penurunan investasi digital, dampaknya pada keamanan energi hampir tidak terasa. Ini menunjukkan bahwa setelah sebuah kota sudah mencapai tingkat digitalisasi tertentu, manfaatnya bisa terus dirasakan tanpa harus selalu meningkatkan teknologinya setiap tahun.

Sementara itu, teknologi lingkungan memiliki dampak positif yang konsisten di semua tingkat keamanan energi kota. Semakin berkembang teknologi ramah lingkungan di suatu kota, semakin tinggi pula tingkat keamanan energi yang dapat dicapai. Teknologi ini mencakup pengelolaan polusi udara, peningkatan efisiensi energi di industri, serta pengembangan peralatan hemat energi untuk rumah tangga. Manfaatnya jelas: energi yang digunakan menjadi lebih sedikit dan lebih bersih, sehingga mengurangi beban pasokan dan menghindari gangguan energi akibat kerusakan lingkungan.

Temuan-temuan tersebut memberikan pesan penting bagi pemerintah dan pengambil kebijakan. Untuk menjaga stabilitas energi di kota, mereka tidak bisa hanya fokus pada satu pendekatan saja. Transisi energi perlu dilakukan secara bertahap dengan dukungan infrastruktur yang tepat. Digitalisasi harus dipertahankan sebagai fondasi utama untuk pengelolaan energi modern. Dan teknologi lingkungan harus terus didorong untuk menjamin efisiensi dalam jangka panjang.

Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya memperhatikan kondisi masing-masing kota. Tidak semua kota berada dalam posisi yang sama dalam hal keamanan energi. Kota dengan pasokan yang sudah sangat stabil akan memperoleh manfaat berbeda dibandingkan kota yang masih sering mengalami gangguan listrik. Oleh karena itu, strategi transisi energi harus disesuaikan dengan kebutuhan lokal agar tidak justru menimbulkan masalah baru.

Dalam skala global, hasil penelitian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi negara lain yang sedang bergerak menuju energi bersih. Perubahan menuju energi terbarukan tidak hanya soal mengurangi emisi karbon, tetapi juga tentang memastikan bahwa masyarakat memiliki akses listrik yang aman dan terjangkau setiap saat. Digitalisasi dan inovasi teknologi lingkungan bisa menjadi jembatan penting untuk memastikan proses transisi tersebut berjalan lancar.

Keamanan energi pada akhirnya adalah tentang melindungi kehidupan dan masa depan masyarakat. Dengan strategi yang tepat, kota-kota di seluruh dunia dapat menjadi lebih tahan terhadap tantangan energi, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, maupun teknologi. Jika semua aspek ini dapat bersinergi, dunia tidak hanya akan mendapatkan udara yang lebih bersih dan energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga sistem energi yang kuat dan tangguh dalam menghadapi masa depan.

Baca juga artikel tentang: Kabut Pintar dan Kelembapan Terkontrol: Teknologi Baru Menjaga Buah dan Sayur Segar dari Ladang ke Meja Makan

REFERENSI:

Bergougui, Brahim dkk. 2025. Towards secure energy systems: Examining asymmetric impact of energy transition, environmental technology and digitalization on Chinese city-level energy security. Renewable Energy 238, 121883.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top