Pergeseran Iklim Bumi yang Mengerikan: dari Global Warming ke Global Boiling

Suhu Bumi tercatat terus menerus mengalami peningkatan yang menyebabkan saat ini Bumi tidak lagi sekedar dalam masa Global Warming, melainkan telah mengarah menuju masa Global Boiling.

blank

Global Warming atau pemanasan global merupakan suatu bentuk ketidakseimbangan ekosistem yang terjadi di bumi, yang diakibatkan oleh adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer dan permukaan bumi. Pemanasan global terjadi akibat adanya peningkatan emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO2) metana (CH4) nitrogen monoksida (NO), nitrogen dioksida (NO2) dan klorofluoro karbon (CFC). Gas-gas rumah kaca ini mengakibatkan pancaran panas matahari yang telah dipantulkan oleh permukaan bumi dalam bentuk sinar infra merah terperangkap di dalam atmosfer bumi, menyebabkan suhu atmosfer bumi yang semakin panas . Aktivitas yang menyebabkan peningkatan gas rumah kaca diantaranya adalah penggunaan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar minyak bumi, kegiatan indu stri yang menghasilkan bahan baku, pemakaian pupuk nitrogen yang berlebihan dalam sektor pertanian, juga penggunaan batubara sebagai bahan pembangkit listrik yang melepaskan gas rumah kaca berupa CH4 ke udara .

blank
Skema Efek Gas Rumah Kaca
Sumber: https://world101.cfr.org/global-era-issues/climate-change/greenhouse-effect

Mengapa Bumi telah Melewati Masa Global Warming

Suhu Bumi tercatat terus menerus mengalami peningkatan yang menyebabkan saat ini Bumi tidak lagi sekedar dalam masa Global Warming, melainkan telah mengarah menuju masa Global Boiling. Hal ini didukung dengan data bahwa pada Juli 2023, suhu rata-rata global meraih rekor tertinggi dan menjadi bulan terpanas sepanjang sejarah manusia hidup di muka bumi. Rata-rata suhu permukaan yang telah tercatat oleh World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan bahwa selama 23 hari pertama Juli 2023 mencapai 16,95oC, berbeda jauh dengan catatan suhu terpanas yang tercatat pada Juli 2019 sebesar 16,63oC.

Kenaikan suhu yang signifikan ini menyebabkan berbagai macam implikasi yang dirasakan di berbagai tempat di seluruh dunia, diantaranya adalah munculnya gelombang panas di sebagian besar Amerika Utara, Asia, dan Eropa. Kejadian ini diikuti dengan fenomena kebakaran hutan yang melanda berbagai negara, diantaranya Yunani, Italia, dan Kanada. Data dari WMO juga menyatakan bahwa catatan suhu harian terpanas terjadi di Perancis, Spanyol, Aljazair, dan Tunisia. Daerah Figueres di Spanyol mencatatkan rekor suhu sebesar 45,4oC, sedangkan daerah Aljazair dan Tunisia mencatatkan suhu tertingginya masing-masing sebesar 48,7oC dan 49oC.

blank
Peringkat 30 besar hari yang mencatat suhu tertinggi secara global menurut data ERA5
Sumber: C3S/ECMWF

Kenaikan suhu Bumi akibat pemanasan global memicu intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem. Parahnya, Bumi saat ini bukan lagi memanas, melainkan mendidih. Suhu saat ini, dari September, Oktober, November, Desember (2023), rata-rata bulan ini sudah naik di atas 1,5 derajat celsius. Di bulan tersebut sudah 1,6-1,7 (derajat celcius suhu Bumi). Artinya apa? Ini sudah signifikan naik, kata Dr. Erma Yulihastin Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dikutip dari detik.com. Untuk mengetahui batas kenaikan temperatur Bumi 1,5 derajat celsius merupakan kesepakatan Perjanjian Paris (Paris Agreement) yang secara efektif ditandatangani pada 4 November 2016. Sejumlah negara awalnya sepakat menahan laju kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat celsius di atas tingkat di masa pra-industrialisasi. Angka tersebut kemudian berubah menjadi 1,5 derajat atas usulan sejumlah negara berkembang dan kepulauan. Pasalnya, negara-negara itu akan menghadapi risiko lebih besar jika kenaikan pemanasan global di atas 1,5 derajat celsius. Itulah mengapa, PBB mengatakan, ini bukan era Bumi memanas lagi. Global warming, no. This is global boiling. Ini sudah fase mendidih.

Perpindahan masa dari masa pemanasan global menuju masa pendidihan global menandakan bahwa terjadi penurunan laten pada daya dukung bumi terhadap makhluk hidup yang tinggal di muka bumi. Penyebab terbesar dari perpindahan masa ini adalah pembakaran bahan bakar fosil. Emisi karbon dari bahan bakar fosil yang lepas di atmosfer setidaknya telah mencapai angka 36,6 gigaton sepanjang tahun 2022, dengan kontribusi terbesarnya berasal dari kegiatan penerbangan internasional pasca pandemi Covid-19. Emisi karbon dari bahan bakar fosil disumbang oleh empat sumber utama, yakni minyak bumi, batu bara, semen, dan gas alam. Emisi karbon terbesar adalah karbon dari batubara yang memberikan persentase sebesar 41 persen dengan total polutan sebanyak 15,1 gigaton, diikuti oleh minyak bumi dengan total polutan karbon sebesar 12,1 gigaton, gas alam sebesar 7,9 gigaton, dan industri semen sebesar 1,5 gigaton.

Dampak Global Warming

Global Warming memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia sehari-hari. Pemanasan global telah menyebabkan terjadinya perubahan iklim di berbagai wilayah di permukaan bumi. Perubahan iklim ini telah dirasakan oleh masyarakat di seluruh dunia, salah satu contoh dari perubahan iklim ini adalah peningkatan suhu global. Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Sixth Assessment Report (AR6) yang dikeluarkan pada tahun 2021, suhu permukaan bumi telah meningkat sebesar 1,07oC dalam kurun waktu tahun 1850 sampai tahun 2019. Meningkatnya suhu global ini berpengaruh terhadap semakin tidak menentunya iklim yang terjadi, salah satu contohnya adalah seringnya terjadi peristiwa hujan deras, walaupun seharusnya pada waktu tersebut telah terhitung dalam bulan musim kemarau. Perubahan musim yang tidak menentu ini menyebabkan petani tidak mampu memprediksi perkiraan musim tanam. Musim tanam yang sulit untuk diprediksi ini dapat menyebabkan terjadinya gagal panen yang akan berdampak pada masalah penyediaan bahan pangan bagi masyarakat, munculnya kelaparan, terjadinya malnutrisi di kalangan anak-anak, bahkan menimbulkan kriminal akibat tekanan tuntutan hidup yang sangat besar.

Peningkatan suhu permukaan bumi juga telah menyebabkan cairnya lapisan es, yang telah diindikasikan dengan adanya penurunan ketebalan lapisan es di kutub, terutama kutub utara. Bagian utara dari belahan Bumi Utara atau Northern Hemisphere akan memanas lebih cepat dibandingkan dengan daerah daerah lain di Bumi, yang mengakibatkan menghangatnya lautan yang ada di sekitar kutub utara. Hal ini terjadi karena proses difusi panas yang lambat di dalam air, sehingga lautan dunia cenderung terus menghangat selama beberapa abad sebagai respons terhadap peningkatan konsentrasi rumah kaca yang terjadi selama ini, yang secara langsung berdampak pada keberadaan gunung-gunung es di kutub utara.

blank
Penurunan Luas Permukaan Es di Kutub Utara dalam rentang waktu tahun 1980-2020
Sumber: https://www.britannica.com/science/global-warming/Potential-effects-of-global-warming#ref274847

Gunung-gunung es di kutub utara yang mencair ini mengakibatkan terjadinya peningkatan tinggi permukaan air laut di seluruh dunia. Permukaan laut rata-rata global telah meningkat sebesar 20 cm dalam rentangan tahun 1901 sampai tahun 2018, dengan catatan bahwa permukaan laut naik lebih cepat pada paruh kedua abad ke-20 dibandingkan pada paruh pertama. Kenaikan ketinggian rata-rata permukaan air laut ini telah menyebabkan berbagai macam permasalahan, diantaranya berkurangnya luas daratan diakibatkan oleh tenggelamnya pulau-pulau kecil, perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan ekosistem mangrove, meluasnya intrusi air laut ke daratan, juga mengancam kegiatan sosial-ekonomi masyarakat di sepanjang pesisir, diantaranya meningkatnya fenomena banjir rob yang menggenangi pemukiman warga akibat pasang tinggi yang mengakibatkan kerusakkan fasilitas sosial dan ekonomi masyarakat.

blank
Grafik Kenaikan Muka Air Laut Rata-Rata Global Tahun 1880-2021
Sumber: https://www.britannica.com/science/global-warming

Suhu Laut Mengontrol Cuaca

Pemanasan global juga turut memicu menghangatnya lautan, dan temuan terbaru memperlihatkan, perubahan suhu permukaan laut berkontribusi mengontrol cuaca. Hal ini tampak jelas terjadi di Indonesia, mengingat 70% wilayah negara kita adalah lautan. Dulu tidak terpikir suhu permukaan laut mengontrol cuaca. Sehingga ketika NASA, NOAA, badan-badan besar cuaca dunia atau atmosfer dunia itu secara global itu membuat model prediksi cuaca, mereka hanya mengganti suhu permukaan laut sekali saja karena berpikir, masa sih suhu permukaan laut berubah-ubah? Jadi kalau memprediksi 10 hari ke depan, suhu permukaan laut itu sekali saja, inputnya tidak pernah diganti. Ini adalah sebuah kesalahan. Itulah sebabnya pula, prakiraan cuaca untuk Indonesia akurasinya tidak baik. Ilmuwan menyadari bahwa ada sesuatu yang terlewat, yakni luput memperhitungkan perubahan suhu permukaan laut.

Dia bisa bervariasi atau berubah. Ketika (perubahan suhu) itu dimasukkan, dengan mengupdate (suhu), model prakiraan ketika dijalankan, prediksinya itu memang ada perubahan. Hal ini saya lakukan dalam kasus banjir bandang di Luwu, Sulawesi Selatan, yang katastropik saat itu, jelas. Menghangatnya suhu permukaan laut bisa memperparah kondisi cuaca karena menghasilkan kelembaban yang sangat tinggi. Dengan kelembaban yang sangat tinggi, hujan di laut tidak habis-habis, dan hujan tersebut kemudian ditransfer ke darat oleh angin.

Komite Cuaca Ekstrem

Pemahamanan yang lebih baik mengenai cuaca ekstrem sangat berguna untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca ekstrem di wilayah Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap bencana hidrometeorologi dan perubahan iklim.Ia juga mengusulkan agar Indonesia membentuk Komite Cuaca Ekstrem untuk memitigasi dan mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang semakin meluas akibat perubahan iklim. Di luar negeri, kita dapat mencontoh seperti di Amerika Serikat yang memiliki Komite Khusus Cuaca Ekstrem beranggotakan ilmuwan, prakirawan, politisi yang merupakan wakil pemerintah pusat dan pemerintah daerah setempat, serta menggandeng media, LSM, dan relawan.

Tujuannya tak sekadar memperkuat hilirisasi informasi peringatan dini cuaca ekstrem semata, tapi juga melakukan edukasi secara intensif dan meluas kepada publik. Karena menurutnya, cuaca ekstrem berbeda dengan jenis bencana alam lain seperti gempa dan tsunami, Cuaca ekstrem adalah jenis bencana alam yang paling dinamis dan paling sering terjadi, sehingga harus terus diperbarui. Bahkan informasi prediksi cuaca ekstrem pun harus terus-menerus diperbarui idealnya dua kali dalam sehari, mengikuti dinamika cuaca yang berubah-ubah setiap waktu.

Peran dan Aksi Nyata yang Harus Dilakukan

Peran dan Aksi Nyata dari masing-masing Negara dan Masyarakat diperlukan untuk menjaga bumi yang tengah ‘mendidih’ ini agar tidak berdampak secara signifikan kepada seluruh makhluk hidup yang tinggal di permukaan bumi. Pengurangan aktivitas yang menghasilkan gas rumah kaca merupakan salah satu langkah efektif dalam memperlambat intensitas peningkatan suhu bumi. Cara-cara yang dapat dilakukan diantaranya penggunaan energi yang bersumber dari energi alternatif sehingga dapat menekan penggunaan energi bahan bakar fosil yang menjadi penyumbang terbesar gas rumah kaca. Energi alternatif yang dapat digunakan diantaranya adalah energi matahari, angin, air, dan bioenergy.  Energi-energi ini dapat digunakan sebagai salah satu sumber pembangkit listrik sehingga ketergantungan terhadap batubara dapat ditekan. Penggunaan transportasi umum juga merupakan salah satu cara agar dapat menghemat penggunaan energi berbahan bakar fosil.

Peran berikutnya yang dapat diambil oleh masyarakat adalah dengan menjaga keberadaan daerah terbuka hijau di lingkungan masing-masing sebagai upaya dalam mempertahankan keberadaan daerah resapan air maupun penyerap gas rumah kaca. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mencegah terjadinya penebangan hutan (deforestasi) secara liar, mencegah konversi ruang terbuka hijau (RTH) menjadi daerah terbangun, mencegah perusakan kawasan ekosistem mangrove, mengurangi penggunaan kantong plastik, meningkatkan keberadaan hutan kota, dan juga mencegah pembangunan di daerah resapan air yang berpotensi membantu dalam menjaga daerah tersebut bebas dari bencana hidrometeorologis.

Referensi:

Earth System Science Data. 2022. Global Carbon Budget. Copernicus Publications.

IPCC. 2021. Summary for Policymakers on Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press.

Riyanto. 2007. Strategi Mengatasi Pemanasan Global (Global Warming). Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Karya Dharma Merauke. 3(2).

Suwedi, Nana. 2005. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Dampak Pemanasan Global. J. Tek. Ling. P3TL-BPPT. 6. (2): 397-401

Triana, Vivi. 2008. Pemanasan Global. Jurnal Kesehatan Masyarakat. II(2).

Utina, Ramli. 2008. Pemanasan Global: Dampak dan Upaya Meminimalisasinya. Universitas Negeri Gorontalo

https://world101.cfr.org/global-era-issues/climate-change/greenhouse-effect diakses tanggal 4 Februari 2024

 https://www.britannica.com/science/global-warming/Potential-effects-of-global-warming#ref274847 diakses tanggal 4 Februari 2024

 https://www.britannica.com/science/global-warming diakses tanggal 4 Februari 2024

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *