Gurita Ini Diserang dan Kehilangan Lengan, Tapi Tubuhnya Punya Rahasia: Regenerasi Ajaib!

Gurita dikenal sebagai salah satu hewan laut paling cerdas di dunia. Tapi selain kecerdasannya, gurita juga memiliki kemampuan biologis yang […]

Gurita dikenal sebagai salah satu hewan laut paling cerdas di dunia. Tapi selain kecerdasannya, gurita juga memiliki kemampuan biologis yang luar biasa dan jarang diketahui banyak orang: mereka bisa menumbuhkan kembali bagian tubuhnya yang hilang, khususnya lengan. Dalam dunia biologi, kemampuan ini disebut regenerasi, yaitu proses alami di mana tubuh makhluk hidup memperbaiki atau mengganti jaringan yang rusak atau hilang.

Secara umum, gurita memiliki delapan lengan yang fleksibel, yang sering disebut juga sebagai limb. Lengan-lengan ini sangat penting dalam kehidupan sehari-hari mereka, digunakan untuk bergerak, mencari makan, bersembunyi, dan bahkan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Namun, dalam sebuah studi terbaru, para ilmuwan menemukan sesuatu yang sangat tidak biasa. Mereka mengamati seekor gurita yang tidak hanya menumbuhkan kembali lengannya setelah cedera, tetapi juga mengalami pertumbuhan yang tak lazim, sebuah kasus langka yang membuat para peneliti tertarik untuk menyelidikinya lebih lanjut.

Menurut laporan dari situs sains IFL Science, para peneliti menemukan seekor gurita jantan dari spesies Octopus vulgaris, yang dikenal juga sebagai gurita umum. Gurita ini mengalami kondisi yang cukup ekstrem, tiga dari delapan lengannya hilang. Para ilmuwan menduga kehilangan tersebut disebabkan oleh serangan predator, yaitu hewan pemangsa yang berburu dan memakan hewan lain, termasuk gurita.

Menariknya, dua dari lengan yang hilang mampu tumbuh kembali secara utuh. Proses pemulihan ini dikenal sebagai regenerasi, yaitu kemampuan alami yang dimiliki beberapa makhluk hidup untuk memperbaiki atau menggantikan bagian tubuh yang rusak atau hilang. Pada gurita, kemampuan ini sangat penting karena lengan mereka sering menjadi target serangan saat bertahan hidup di alam liar.

Namun, yang membuat kasus ini luar biasa adalah bagaimana lengan ketiga yang hilang tumbuh kembali dengan bentuk tak biasa. Alih-alih tumbuh sebagai satu lengan seperti semula, lengan tersebut justru terbelah dan bercabang menjadi dua bagian. Akibatnya, gurita ini tidak lagi memiliki delapan lengan seperti umumnya, melainkan sembilan. Kondisi ini sangat jarang terjadi dan menjadi perhatian para ilmuwan karena menunjukkan keunikan dalam proses regenerasi yang tidak selalu “sempurna” atau simetris.

Kisah unik tentang gurita bercabang ini ditemukan oleh sekelompok peneliti yang melakukan studi langsung di laut. Mereka melakukan serangkaian penyelaman di sebuah teluk kecil di Pulau Ibiza, Spanyol, dari bulan Desember 2021 hingga Mei 2022. Selama periode tersebut, para ilmuwan mengamati perilaku gurita secara langsung di habitat aslinya.

Fokus utama mereka adalah mempelajari bagaimana gurita menggunakan lengan-lengannya dalam berbagai situasi. Lengan gurita bukan hanya alat untuk bergerak, tetapi juga berperan penting dalam berburu, mempertahankan diri, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Untuk memahami lebih dalam, para peneliti membagi pola gerakan gurita ke dalam dua kategori besar. Pertama adalah perilaku ‘aman’, yaitu ketika gurita menjaga lengan-lengannya tetap dekat dengan tubuhnya. Posisi ini dianggap sebagai cara gurita melindungi dirinya dari potensi ancaman.

Kategori kedua adalah perilaku ‘berisiko’, yaitu saat gurita merentangkan lengannya menjauh dari tubuh. Gerakan ini biasanya terjadi saat gurita menjelajah atau mencari makanan. Namun, posisi ini juga membuat lengan mereka lebih terbuka terhadap bahaya, termasuk kemungkinan diserang oleh predator, hewan lain yang dapat memangsa gurita.

Dengan mengamati pola-pola ini, peneliti berharap dapat lebih memahami bagaimana gurita membuat keputusan dalam menghadapi risiko, serta bagaimana mereka menggunakan tubuhnya secara strategis untuk bertahan hidup di alam liar.

Para peneliti memberi label atau nomor pada setiap lengan gurita untuk memudahkan pengamatan. Lengan yang tumbuh bercabang, yang tidak biasa itu, diberi nama R1a dan R1b. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa dua lengan yang paling sering digunakan oleh gurita ini adalah L1 dan R1a. Saat gurita bergerak dengan cara merangkak, lengan-lengan yang terletak di bagian belakang kepalanya, seperti L4 dan R4, ternyata juga sering digunakan untuk membantu pergerakan.

Namun, saat gurita sedang mencari makanan atau menjelajah lingkungan sekitar, kedua lengan yang bercabang, yaitu R1a dan R1b, justru jarang digunakan. Menariknya, dari dua lengan tersebut, R1b sedikit lebih sering dipakai dibanding R1a. Ini menunjukkan bahwa gurita tampaknya memilih-milih lengan mana yang digunakan, tergantung pada aktivitas dan kondisi masing-masing lengan.

Para peneliti juga menemukan bahwa lengan yang mengalami cedera parah. Kemungkinan besar akibat serangan predator sebelumnya, lebih jarang digunakan saat gurita melakukan aktivitas yang berisiko, seperti menjelajah tempat baru atau berhadapan dengan kemungkinan bahaya. Hal ini memberi petunjuk bahwa gurita bisa saja memiliki semacam ingatan terhadap rasa sakit atau trauma.

Bahkan, memori tersebut tampaknya tidak hanya berkaitan dengan rasa sakit secara fisik, tapi juga bisa terhubung dengan lokasi. Dalam beberapa kasus, gurita terlihat menghindari tempat tertentu yang sebelumnya diasosiasikan dengan pengalaman buruk atau berbahaya. Ini menunjukkan kemampuan kognitif yang cukup kompleks pada hewan ini.

Seiring waktu, lengan gurita yang bercabang itu mulai digunakan lebih sering, dan tampaknya mulai memiliki fungsi baru. Ini menandakan bahwa gurita mampu beradaptasi, bahkan terhadap perubahan bentuk tubuhnya sendiri. Temuan ini juga menunjukkan bahwa lengan gurita bisa merespons rangsangan secara berbeda, meskipun sebelumnya sudah rusak dan tumbuh kembali.

Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal ilmiah Animals, dan memberi wawasan menarik tentang bagaimana hewan laut yang tampaknya sederhana ini ternyata memiliki perilaku, ingatan, dan kemampuan adaptasi yang luar biasa.

REFERENSI:

Higgs, Eleanor. 2025. Octopus Survives Suspected Predator Attack And Regrows Limbs – But Ends Up With 9, Not 8. IFL Science: https://www.iflscience.com/octopus-survives-suspected-predator-attack-and-regrows-limbs-but-ends-up-with-9-not-8-79458 diakses pada tanggal 09 Juni 2025.

Maselli, Valeria dkk. 2025. Stress Induced by Fishing in Common Octopus (Octopus vulgaris) and Relative Impact on Its Use as an Experimental Model. Animals 15 (4), 503.

Soule, Sam Ellington dkk. 2025. The Persistence of Memory: Behavioral Analysis and Arm Usage of a Nine-Armed Octopus vulgaris. Animals 15 (7), 1034.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top