Ketika berbicara tentang keamanan, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan polisi, militer, kamera pengawas, atau pagar tinggi sebagai simbol perlindungan. Namun bagi banyak perempuan di wilayah Pasifik, keamanan memiliki makna yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari hari. Keamanan bukan hanya soal ancaman dari luar, tetapi juga tentang bagaimana mereka hidup, bertahan, dan menghadapi tekanan sosial budaya yang dapat membahayakan mereka dari dalam ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman, yaitu keluarga dan komunitas.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Security Dialogue tahun 2025 menyoroti cara baru dalam memahami keamanan, dengan fokus pada hubungan antara kekerasan berbasis gender dan rasa aman di tiga konteks berbeda di wilayah Pasifik. Ketiga lokasi ini adalah Fiji, Bougainville di Papua Nugini, dan komunitas Kanak di Kaledonia Baru. Pendekatan yang digunakan disebut sebagai lensa keamanan vernakular, sebuah cara untuk melihat keamanan berdasarkan bagaimana masyarakat sendiri memahami, merasakan, dan menjelaskan apa itu aman dan tidak aman. Pendekatan ini sangat berbeda dari cara pemerintah atau lembaga internasional biasanya mendefinisikan keamanan.
Jurnal ini mengambil data dari penelitian lapangan menggunakan metode foto elisitasi, yaitu metode di mana perempuan diminta memotret aspek aspek kehidupan mereka yang menggambarkan rasa aman atau tidak aman. Foto foto ini kemudian menjadi bahan diskusi untuk menggali pengalaman mereka tentang kekerasan, tekanan sosial, dan cara mereka bertahan. Hasilnya menunjukkan bahwa keamanan bagi perempuan di kawasan Pasifik tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa kekerasan dalam keluarga masih terjadi dan seringkali tersamarkan oleh norma sosial yang sudah mengakar.
Baca juga artikel tentang: Nyquist Sampling Rate: Fondasi Pengolahan Sinyal Digital
Melalui lensa keamanan vernakular, kita dapat melihat bagaimana perempuan di wilayah ini memahami keamanan bukan sebagai sesuatu yang bersifat abstrak atau teknis, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari hari. Para perempuan memberikan gambaran tentang bagaimana hubungan keluarga, norma adat, dan ekspektasi sosial dapat menciptakan tekanan yang memicu kekerasan. Dalam beberapa kasus, kekerasan ini dianggap sebagai hal yang normal atau sesuatu yang harus diterima demi menjaga keharmonisan keluarga. Namun di sisi lain, para perempuan juga menunjukkan bentuk bentuk perlawanan yang mungkin terlihat kecil, tetapi sangat penting dalam menjaga rasa aman mereka sendiri.
Pendekatan keamanan vernakular membantu menjelaskan bahwa konsep keamanan bersifat kontekstual. Dengan kata lain, arti keamanan berbeda bagi setiap kelompok dan budaya. Bagi perempuan di Pasifik, keamanan sangat terkait dengan bagaimana norma budaya membatasi peran mereka, bagaimana mereka diperlakukan dalam keluarga, dan bagaimana mereka dinilai oleh komunitasnya. Banyak perempuan memahami bahwa pelanggaran terhadap peran yang dianggap pantas bagi perempuan dapat menimbulkan risiko berupa tekanan emosional atau bahkan kekerasan. Namun meskipun demikian, mereka tetap memiliki agensi atau kemampuan untuk mengambil tindakan dalam batas batas sosial yang ada. Di sinilah muncul bentuk bentuk perlawanan sehari hari yang sering tidak terlihat oleh orang luar.
Penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan menggunakan pengetahuan budaya dan praktik sosial mereka untuk menciptakan ruang aman dan untuk melawan bentuk bentuk kekerasan yang mereka hadapi. Misalnya, beberapa perempuan mencari dukungan dari sesama perempuan dalam komunitas yang sama. Mereka membangun jaringan informal untuk membicarakan pengalaman atau membagi strategi bertahan. Dalam kasus lain, perempuan menggunakan nilai nilai budaya tradisional untuk menantang perlakuan yang tidak adil, dengan cara menunjukkan bahwa nilai tersebut sebenarnya mendukung perlindungan dan penghormatan terhadap perempuan.
Pendekatan seperti ini memiliki kedekatan dengan tujuan studi keamanan feminis, yang telah lama berusaha mengungkap bagaimana proyek keamanan tradisional seringkali mengabaikan suara perempuan atau bahkan memperkuat struktur yang mengekang mereka. Namun pendekatan keamanan vernakular menambah perspektif baru dengan menekankan pentingnya memahami imajinasi masyarakat tentang keamanan. Imajinasi ini mencakup bagaimana mereka mendefinisikan risiko, siapa yang dianggap berbahaya, dan siapa yang layak dilindungi. Imajinasi ini dapat dibentuk oleh kebiasaan, tradisi, dan narasi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pada saat yang sama, imajinasi keamanan dapat dipertanyakan atau dilawan oleh kelompok yang merasa dirugikan, seperti perempuan yang mengalami kekerasan.
Selain menggambarkan tantangan, penelitian ini juga menyoroti potensi besar dalam melihat keamanan melalui kacamata perempuan di masyarakat lokal. Temuan dari Fiji, Bougainville, dan komunitas Kanak menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kapasitas untuk menciptakan bentuk bentuk keamanan dari dalam komunitas itu sendiri. Perempuan memiliki pengetahuan mendalam tentang bagaimana hubungan sosial bekerja, siapa yang bisa dipercaya, dan bagaimana menghindari atau meredakan situasi berbahaya. Pengetahuan ini bisa menjadi dasar untuk membangun strategi pencegahan kekerasan yang lebih efektif dibanding pendekatan formal dari luar.
Penelitian ini mempunyai relevansi bukan hanya untuk wilayah Pasifik, tetapi juga untuk konteks global yang lebih luas. Banyak negara memiliki keragaman budaya dan struktur sosial yang membuat kebijakan keamanan nasional tidak selalu efektif bagi semua kelompok. Dengan memahami bahwa keamanan dapat dimaknai secara berbeda oleh kelompok kelompok tertentu, pembuat kebijakan dapat mengembangkan strategi yang lebih sensitif budaya dan lebih dekat dengan realitas sehari hari masyarakat yang ingin mereka lindungi.
Penulis artikel juga menekankan bahwa memahami keamanan dari sudut pandang perempuan dapat membuka peluang baru bagi bentuk bentuk perlawanan terhadap kekerasan berbasis gender. Bahkan tindakan kecil yang dilakukan sehari hari dapat menjadi dasar bagi perubahan sosial jangka panjang. Melihat keamanan dari lensa vernakular berarti memberikan ruang bagi suara perempuan untuk menentukan sendiri apa yang membuat mereka aman dan apa yang perlu diubah dalam komunitas mereka.
Pada akhirnya, ini mengingatkan kita bahwa keamanan bukan hanya urusan negara atau lembaga resmi. Keamanan adalah pengalaman hidup yang melibatkan nilai nilai budaya, hubungan sosial, dan dinamika kekuasaan dalam rumah tangga dan komunitas. Dengan mendengarkan pengalaman perempuan di wilayah Pasifik, kita belajar bahwa keamanan yang sejati adalah keamanan yang dipahami dan dibangun dari bawah, bukan sekadar dipaksakan dari atas.
Baca juga artikel tentang: Luaran Sensor: Apakah Arus atau Tegangan yang Lebih Baik?
REFERENSI:
George, Nicole. 2025. Imagining security from gender violence in the Pacific Islands: Rights and rightfulness through a vernacular lens. Security Dialogue 56 (5), 536-555.

