Pahlawan Bawah Tanah. Rahasia Jamur yang Bantu Pohon Bertahan di Tengah Kota

Ketika kita berjalan di tengah kota besar seperti Amsterdam, pemandangan yang sering melegakan mata adalah deretan pohon rindang yang meneduhkan […]

Ketika kita berjalan di tengah kota besar seperti Amsterdam, pemandangan yang sering melegakan mata adalah deretan pohon rindang yang meneduhkan trotoar dan jalan raya. Pohon kota bukan hanya penghias lanskap, tetapi juga pahlawan lingkungan yang bekerja keras setiap hari. Mereka menyerap polusi udara, menyimpan karbon, mengurangi panas, dan bahkan membantu kesehatan mental penduduk kota. Namun di balik batang kokoh dan daun yang menghijau, ada cerita lain yang jarang disadari. Pohon kota tidak berjuang sendirian. Mereka punya sekutu setia yang hidup di dalam tanah, begitu dekat dan begitu penting, tetapi hampir tidak terlihat mata manusia. Sekutu itu adalah jamur mikoriza.

Sebuah penelitian terbaru dari tim ilmuwan Casper T Verbeek dan koleganya yang dipublikasikan pada tahun 2025 di jurnal Plants, People, Planet mengungkap bagaimana jamur mikoriza arbuskular atau AMF membantu pohon kota bertahan hidup di kondisi yang keras. Studi ini berfokus pada kota Amsterdam dan menelusuri interaksi jamur mikoriza pada akar salah satu pohon kota yang paling umum di sana, yaitu pohon Ulmus x hollandica atau yang sering disebut pohon elm Belanda.

Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa

Meskipun terlihat indah, lingkungan kota sebenarnya tidak ramah bagi pepohonan. Tanah sering padat karena pengerasan dan lalu lintas. Air sulit meresap sehingga akar sering kekeringan. Polusi udara dan tanah bisa menghambat pertumbuhan. Selain itu, pohon kota biasanya tumbuh sendirian, terpisah jauh dari pohon lain sehingga interaksi akar menjadi sangat terbatas. Dalam kondisi alami, pohon sering tumbuh berdekatan sehingga dapat berbagi sumber daya melalui jaringan bawah tanah. Kota memutus banyak dari jaringan itu.

Di sinilah peran jamur mikoriza menjadi sangat penting. Jamur ini hidup menempel pada akar pohon dan membentuk hubungan simbiosis. Pohon menyediakan gula hasil fotosintesis kepada jamur. Sebagai gantinya, jamur membantu pohon menyerap air dan nutrisi penting seperti fosfor yang sulit diambil oleh akar saja. Mereka memperluas jangkauan akar pohon melalui jaringan hifa yang sangat halus sehingga akar seolah memiliki tangan tambahan untuk meraih sumber daya. Tidak heran banyak ilmuwan menyebut jamur ini sebagai jaringan internet bawah tanah alami yang menghubungkan tumbuhan.

Penelitian di Amsterdam ini bertujuan menjawab pertanyaan penting. Apakah jamur mikoriza pada pohon kota memiliki keanekaragaman yang baik. Apakah urbanisasi merusak jaringan simbiosis ini. Atau sebaliknya, apakah jamur mampu beradaptasi dan tetap menjalankan perannya.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti mengumpulkan sampel akar dari tiga tipe lingkungan perkotaan di Amsterdam. Pertama, hutan kota yang lingkungannya masih mirip dengan kondisi alami. Kedua, taman kota yang sudah diatur dalam tata ruang manusia. Ketiga, pohon yang tumbuh di tepi jalan raya, lingkungan yang paling keras dan paling terisolasi. Mereka menganalisis komunitas jamur yang hidup di akar pohon menggunakan metode DNA modern yang disebut metabarcoding. Hasilnya menunjukkan gambaran yang sangat menarik dan jauh dari dugaan awal.

Para peneliti menemukan bahwa komunitas jamur mikoriza pada pohon di kota sangat beragam dan berbeda antara satu lokasi dan lokasi lain. Tingkat keanekaragaman jamur bahkan justru meningkat pada lingkungan yang lebih terurbanisasi. Artinya, pohon yang tumbuh di pinggir jalan memiliki jenis jamur yang lebih beragam daripada pohon yang tumbuh di hutan kota. Temuan ini mengejutkan karena asumsi sebelumnya adalah lingkungan kota yang keras akan menurunkan keberagaman organisme tanah.

Selain itu, peneliti juga menguji apakah keberagaman akar dari pohon di sekitar memengaruhi jamur mikoriza yang menempel pada akar pohon tersebut. Ternyata faktor ini tidak banyak memengaruhi variasi jamur. Hal ini menunjukkan bahwa jamur mikoriza pada akar pohon kota mungkin tidak terlalu bergantung pada kehadiran pohon lain. Mereka bisa mandiri dalam menghadapi tekanan lingkungan urban.

Perbandingan antara dua hutan dan dua taman kota berdasarkan jaringan mikoriza arbuskular (AM), dengan berbagai parameter seperti kuadrat fragmen (q), kekompakan (C), konektivitas (S), dan lainnya, yang menggambarkan struktur jaringan di masing-masing lokasi.

Satu kesimpulan penting dari penelitian ini adalah kemampuan adaptasi jamur mikoriza yang sangat tinggi. Pada pohon yang tumbuh di jalan raya yang terisolasi, jamur tidak kehilangan keanekaragamannya. Justru mereka tampak mengganti pasangan dan pola interaksi sehingga tetap bisa membantu pohon mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Dengan kata lain, jamur ini fleksibel. Mereka bisa mengubah strategi agar hubungan simbiosis tetap berjalan meski kondisinya sangat berat.

Mengapa ini penting bagi manusia. Karena kesehatan pohon kota juga berarti kesehatan manusia kota. Pohon yang tersiksa akan tumbuh lebih lambat, mudah terserang penyakit, atau bahkan mati sebelum waktunya. Kota yang kehilangan pohon akan terasa lebih panas, lebih kering, lebih tercemar, dan lebih membosankan. Jika kita bisa memahami peran jamur mikoriza ini, kita bisa merancang strategi pengelolaan pohon kota yang lebih baik.

Hasil riset ini dapat membantu pemerintah kota, arsitek lanskap, dan manajer ruang hijau mengembangkan teknik penanaman dan perawatan pohon yang mempertimbangkan kehidupan bawah tanah. Misalnya, pemilihan tanah yang mendukung pertumbuhan jamur mikoriza, pengurangan bahan kimia yang merusak mikroba tanah, atau bahkan menambahkan jamur mikoriza saat menanam pohon baru agar mereka lebih kuat menghadapi urbanisasi.

Penelitian ini juga membuka mata bahwa kawasan kota bukanlah tempat yang steril atau mati secara ekologi. Di balik beton dan aspal, masih ada kehidupan yang dinamis dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Jamur mikoriza adalah contoh nyata bagaimana alam selalu menemukan cara untuk beradaptasi dan bertahan.

Namun pekerjaan belum selesai. Para ilmuwan masih perlu memahami lebih jauh bagaimana pola interaksi jamur dan pohon dalam berbagai kondisi kota dan bagaimana perubahan iklim ke depan akan memengaruhi hubungan ini. Dunia bawah tanah masih menyimpan banyak misteri yang bisa membantu kita menciptakan kota yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Bagi masyarakat umum, temuan ini mengingatkan kita bahwa setiap pohon yang kita lihat di pinggir jalan tidak berdiri sendiri. Ada jaringan kehidupan tersembunyi yang menopangnya. Menjaga pohon kota berarti juga menjaga jamur penolongnya. Ketika kita merawat pepohonan, kita sebenarnya sedang merawat diri kita sendiri karena udara yang lebih bersih, suhu yang lebih sejuk, dan kota yang lebih nyaman akan kembali kepada kita.

Jika suatu hari Anda berjalan di bawah rindang pohon kota, ingatlah bahwa ada kerajaan makhluk mikroskopis yang bekerja keras untuk memastikan hijau itu tetap hidup. Mereka adalah pahlawan tanpa nama di bawah permukaan tanah. Dan kini, berkat penelitian seperti ini, mereka mulai mendapatkan pengakuan yang pantas.

Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas

REFERENSI:

Verbeek, Casper T dkk. 2025. Arbuscular mycorrhiza in the urban jungle: Glomeromycotina communities of the dominant city tree across Amsterdam. Plants, People, Planet.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top