Hair Extensions dan Bahaya Tersembunyi yang Baru Terungkap

Hair extensions atau rambut sambung sudah lama menjadi bagian dari dunia kecantikan. Bagi banyak orang, produk ini bukan sekadar aksesori […]

Hair extensions atau rambut sambung sudah lama menjadi bagian dari dunia kecantikan. Bagi banyak orang, produk ini bukan sekadar aksesori penampilan, melainkan bagian dari identitas, kenyamanan, gaya hidup, dan ekspresi diri. Hair extensions dipakai untuk berbagai alasan, mulai dari menambah panjang rambut, menambah volume, memudahkan penataan, hingga mendukung gaya rambut tertentu seperti kepang (braid). Namun, di balik fungsi praktis dan estetikanya, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa produk hair extensions mungkin menyimpan risiko kesehatan yang jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Februari 2026 oleh Silent Spring Institute menyebut bahwa hair extensions mengandung jauh lebih banyak bahan kimia berbahaya daripada yang diketahui sebelumnya. Temuan ini penting karena kategori produk ini selama ini relatif kurang diawasi, padahal dipakai dalam waktu lama dan sering menempel langsung pada kulit kepala, leher, dan wajah. Dalam beberapa kasus, produk juga dipanaskan saat ditata, sehingga zat kimianya bisa berpindah ke udara dan terhirup.

Apa sebenarnya yang diteliti

Dalam studi ini, peneliti membeli 43 produk hair extensions yang populer, baik dari toko online maupun toko perlengkapan kecantikan lokal. Produk-produk itu kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis seratnya. Ada yang berbahan sintetis, yaitu bahan buatan yang umumnya berasal dari polimer plastik. Ada juga yang berbahan hayati atau bio-based, yaitu bahan yang berasal dari sumber biologis, termasuk rambut manusia, serat pisang, atau sutra.

abstrak penelitian

Banyak produk tersebut mengklaim memiliki sifat tertentu, misalnya tahan panas, tahan air, atau tahan api. Sifat-sifat ini biasanya tidak muncul begitu saja. Untuk mencapainya, produsen sering menambahkan bahan kimia tertentu. Masalahnya, perusahaan jarang mengungkap secara rinci bahan apa saja yang dipakai. Akibatnya, konsumen memakai produk tanpa benar-benar tahu apa yang menempel di kulit mereka setiap hari.

Tim peneliti memeriksa produk-produk hair extensions tersebut dengan menggunakan metode yang disebut non-targeted analysis, yaitu teknik analisis kimia yang tidak hanya mencari zat tertentu yang sudah diduga ada, tetapi juga membuka kemungkinan menemukan zat lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Sederhananya, kalau pemeriksaan biasa seperti mencari nama orang tertentu di daftar hadir, non-targeted analysis lebih mirip memeriksa seluruh ruangan untuk melihat siapa saja yang ada di dalamnya. Dengan pendekatan ini, peneliti bisa menangkap gambaran kimia yang lebih luas.

Baca juga: Wabah Rambut Rontok di India: Mengapa Banyak Orang Bisa Botak Secara Tiba-tiba?

Untuk menjalankan analisis tersebut, tim menggunakan alat bernama two-dimensional gas chromatography with high-resolution mass spectrometry. Nama ini memang terdengar rumit, tetapi idenya cukup sederhana. Gas chromatography adalah teknik untuk memisahkan campuran zat menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah dikenali. Mass spectrometry adalah teknik untuk mengenali zat berdasarkan massa molekulnya, yaitu “berat” partikel-partikel penyusunnya dalam skala sangat kecil. Dengan alat ini, para peneliti mendeteksi lebih dari 900 sinyal kimia dan kemudian, dengan bantuan perangkat lunak pembelajaran mesin, mengidentifikasi 169 bahan kimia dalam sembilan kelompok struktur utama.

Temuan yang mengejutkan

Hasil penelitian ini cukup mengkhawatirkan. Hampir semua sampel mengandung bahan kimia berbahaya. Dari 43 sampel yang diuji, hanya dua yang tidak ditemukan mengandung bahan kimia berbahaya, dan menariknya, kedua produk itu justru diberi label seperti “non-toxic” atau “toxic-free.” Peneliti juga menemukan 48 bahan kimia yang tercantum dalam berbagai daftar bahaya utama, termasuk 12 zat yang masuk dalam Proposition 65 California, yaitu daftar bahan yang diketahui dapat menyebabkan kanker, cacat lahir, atau gangguan reproduksi.

Yang membuat temuan ini lebih serius adalah jenis-jenis zat yang ditemukan. Di dalam hair extensions, peneliti menemukan flame retardants, phthalates, pestisida, styrene, tetrachloroethane, dan organotins. Bagi orang awam, nama-nama ini mungkin terdengar asing, jadi mari kita sederhanakan. Flame retardants merupakan bahan kimia yang ditambahkan agar suatu produk lebih sulit terbakar. Phthalates adalah kelompok bahan kimia yang sering dipakai untuk membuat plastik lebih lentur. Pestisida adalah zat untuk membunuh atau mengendalikan hama. Styrene adalah bahan kimia yang sering digunakan dalam pembuatan plastik dan karet sintetis. Tetrachloroethane adalah senyawa kimia industri yang dapat bersifat beracun. Sementara organotins adalah senyawa yang mengandung unsur timah dan karbon, dan banyak dipakai dalam industri plastik sebagai penstabil panas.

Mengapa keberadaan bahan-bahan ini dikhawatirkan? Karena banyak di antaranya sudah dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti kanker, gangguan hormon, masalah perkembangan tubuh, hingga gangguan sistem kekebalan. Gangguan hormon berarti zat tertentu dapat mengacaukan kerja hormon alami tubuh. Hormon sendiri adalah zat kimia yang dibuat tubuh untuk mengatur banyak fungsi penting, mulai dari pertumbuhan, metabolisme, menstruasi, kehamilan, sampai suasana hati. Kalau sistem hormon terganggu, dampaknya bisa menjalar ke banyak bagian tubuh.

Risiko paparan yang sering tidak disadari

Salah satu alasan mengapa temuan ini perlu diperhatikan adalah cara produk tersebut digunakan. Hair extensions bukan barang yang disentuh sesekali lalu disimpan. Produk ini bisa dipakai berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Seratnya menempel dekat kulit kepala dan leher, yaitu area tubuh yang cukup sensitif. Saat kulit terpapar bahan kimia terus-menerus, ada kemungkinan sebagian zat itu berpindah ke tubuh. Proses masuknya zat ke tubuh melalui kulit disebut penyerapan dermal, yaitu penyerapan bahan melalui lapisan kulit.

Selain lewat kulit, paparan juga bisa terjadi lewat udara. Ketika hair extensions dipanaskan saat ditata, sebagian bahan kimianya dapat terlepas ke udara. Jika itu terjadi, pengguna atau penata rambut bisa menghirupnya. Ini disebut paparan inhalasi, yaitu masuknya zat ke tubuh melalui pernapasan. Jadi, meskipun produk ini tampaknya hanya “dipakai di luar tubuh”, sebenarnya ada beberapa jalur yang memungkinkan bahan kimia ikut masuk ke dalam tubuh.

Peneliti juga menyoroti organotins sebagai temuan yang sangat mengejutkan. Senyawa ini umum dipakai sebagai penstabil panas pada PVC, yaitu jenis plastik yang banyak dipakai di berbagai produk. Penstabil panas merupakan bahan yang membantu plastik tetap stabil saat terpapar suhu tinggi. Namun, organotins juga dikaitkan dengan iritasi kulit, yang menarik karena iritasi kulit merupakan keluhan yang cukup sering dilaporkan oleh pengguna hair extensions. Selain itu, organotins juga telah dikaitkan dengan kanker dan gangguan hormon. Dalam hampir 10 persen sampel, kadar organotins bahkan melebihi batas berbasis kesehatan yang ditetapkan di Uni Eropa.

Kaitan dengan kanker payudara dan kesehatan reproduksi

Salah satu bagian paling serius dari studi ini adalah ditemukannya 17 bahan kimia yang berhubungan dengan kanker payudara di 36 sampel. Ini tidak berarti bahwa memakai hair extensions pasti menyebabkan kanker payudara. Ilmu kesehatan lingkungan jarang bekerja dengan hubungan sesederhana itu. Biasanya yang dibahas adalah risiko, yaitu kemungkinan bahwa paparan berulang terhadap zat tertentu dapat meningkatkan peluang terjadinya gangguan kesehatan dalam jangka panjang.

Bahan kimia yang terkait dengan kanker payudara ini sebagian bekerja dengan memengaruhi hormon. Ada zat yang dapat meniru hormon, ada yang menghambatnya, dan ada juga yang mengubah cara tubuh memproduksi atau memecah hormon. Karena jaringan payudara sangat peka terhadap pengaruh hormon, perubahan kecil yang berlangsung lama bisa menjadi perhatian serius bagi para peneliti. Inilah mengapa istilah hormone disruption atau gangguan hormon sangat sering muncul dalam pembahasan produk konsumen dan kesehatan perempuan.

Masalah besar dalam produk yang minim pengawasan

Studi ini juga menyoroti persoalan yang lebih luas, yaitu minimnya pengawasan pada kategori produk kecantikan tertentu. Hair extensions merupakan industri yang besar dan terus bertumbuh. Pasar global hair extensions diperkirakan akan melampaui 14 miliar dolar AS pada 2028, dengan Amerika Serikat sebagai pemimpin impor global. Besarnya pasar ini membuat persoalan keamanan produk menjadi semakin mendesak.

Sayangnya, ketika sebuah industri berkembang cepat tetapi aturan keselamatannya tertinggal, konsumen sering menjadi pihak yang menanggung risiko. Mereka membeli berdasarkan label pemasaran seperti “aman”, “hijau”, atau “non-toxic”, padahal istilah-istilah itu belum tentu menjamin produk bebas dari zat berbahaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa klaim pemasaran tidak selalu sejalan dengan kenyataan kimia di dalam produk.

Ada dorongan perubahan kebijakan

Kabar baiknya, temuan ini tidak berhenti sebagai peringatan ilmiah saja. Ada tanda-tanda bahwa perubahan kebijakan mulai bergerak. Di New York, misalnya, telah diperkenalkan rancangan undang-undang yang akan mewajibkan produsen synthetic braids dan hair extensions untuk mengungkap semua bahan yang digunakan. Di New Jersey, ada pula rancangan aturan yang bertujuan melarang bahan kimia berbahaya dari produk rambut sintetis. Sementara di tingkat federal, Safer Beauty Bill Package yang diajukan ke Kongres mencakup upaya agar Food and Drug Administration mengatur keamanan synthetic braids dan hair extensions.

Regulasi seperti ini penting bukan untuk melarang orang memakai produk kecantikan, melainkan untuk memastikan bahwa konsumen bisa membuat pilihan yang benar-benar sadar. Transparansi bahan adalah langkah awal. Jika bahan diketahui, peneliti bisa menilai risikonya, regulator bisa menetapkan batas aman, dan konsumen bisa memutuskan apakah mereka ingin memakai produk tersebut atau mencari alternatif yang lebih aman.

Apa arti temuan ini bagi masyarakat umum

Bagi orang awam, pesan terpenting dari penelitian ini bukanlah panik, melainkan lebih waspada. Kita hidup di tengah banyak produk sehari-hari yang tampak biasa, tetapi mungkin menyimpan campuran bahan kimia yang belum sepenuhnya dipahami. Hair extensions adalah contoh jelas bahwa produk kecantikan bukan cuma soal tampilan, melainkan juga paparan lingkungan. Paparan lingkungan adalah kontak tubuh kita dengan zat-zat dari sekitar, baik dari udara, makanan, air, maupun barang yang kita pakai.

Temuan ini juga mengingatkan bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh rumah sakit atau obat-obatan, tetapi juga oleh desain produk, transparansi industri, dan regulasi pemerintah. Ketika sebuah produk dipakai luas, apalagi dalam waktu lama, keamanan bahan penyusunnya seharusnya menjadi prioritas.

Kesimpulan

Penelitian terbaru dari Silent Spring Institute membuka gambaran yang jauh lebih jelas tentang hair extensions: produk ini ternyata dapat mengandung banyak bahan kimia berbahaya, termasuk zat yang dikaitkan dengan kanker, gangguan hormon, masalah perkembangan, gangguan imun, dan iritasi kulit. Dengan menganalisis 43 produk populer, para peneliti menemukan 169 bahan kimia dan lebih dari 900 sinyal kimia, sebuah angka yang menunjukkan betapa kompleks dan kurang transparannya komposisi produk ini.

Yang membuat temuan ini penting bukan hanya jumlah zat yang ditemukan, tetapi juga cara produk ini digunakan: menempel dekat kulit, dipakai lama, dan kadang dipanaskan. Semua itu meningkatkan kemungkinan paparan yang sebelumnya mungkin dianggap sepele. Di saat yang sama, penelitian ini memberi pesan yang lebih besar: konsumen berhak tahu apa yang ada di dalam produk yang mereka gunakan, dan industri kecantikan perlu didorong untuk menghasilkan produk yang benar-benar lebih aman, bukan sekadar terlihat aman lewat label pemasaran.

Referensi:

[1] https://silentspring.org/news/hair-extensions-contain-many-more-dangerous-chemicals-previously-thought, diakses pada 21 Maret 2026

[2] Elissia T. Franklin, Kristin Favela, Radonna Spies, Jacqueline M. Ranger, Ruthann A. Rudel. Identifying Chemicals of Health Concern in Hair Extensions Using Suspect Screening and Nontargeted AnalysisEnvironment, 2026; DOI: 10.1021/envhealth.5c00549

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top