Melihat benda-benda di luar angkasa sering membuat kita takjub karena bentuknya kadang jauh dari bayangan kita. Kita mungkin membayangkan planet atau asteroid sebagai benda bulat, lonjong, atau batu tak beraturan. Namun ternyata, ada juga objek luar angkasa yang bentuknya sangat unik: mirip manusia salju. Bukan benar-benar punya mata, hidung wortel, atau topi, tentu saja, tetapi bentuk dasarnya seperti dua bola yang menempel menjadi satu. Fenomena ini lama membuat para astronom penasaran. Mengapa benda-benda di tepi tata surya bisa memiliki bentuk seperti itu?
Pertanyaan ini menarik karena alam semesta biasanya mengikuti aturan fisika yang tegas, bukan kebetulan lucu yang tampak seperti karakter musim dingin. Tetapi justru dari bentuk yang tampak sederhana itulah para ilmuwan berusaha membaca sejarah pembentukan tata surya. Penelitian terbaru dari Michigan State University memberi petunjuk kuat bahwa bentuk “manusia salju” itu mungkin lahir dari proses yang jauh lebih alami dan sederhana daripada dugaan sebelumnya.
Wilayah Jauh di Tepi Tata Surya
Untuk memahami kenapa objek luar angkasa bentuk seperti manusia salju bisa muncul, kita perlu pergi sangat jauh dalam imajinasi, melampaui orbit Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, hingga Neptunus. Di luar Neptunus terdapat sebuah kawasan yang disebut Kuiper Belt. Kuiper Belt merupakan wilayah luas di bagian luar tata surya yang dipenuhi benda-benda es, batuan, komet, dan sisa-sisa awal pembentukan tata surya. Kalau asteroid belt di antara Mars dan Jupiter sering dibahas dalam buku pelajaran, Kuiper Belt adalah “gudang tua” yang lebih jauh, lebih dingin, dan lebih sepi.
Benda-benda di sana dianggap seperti kapsul waktu. Artinya, mereka menyimpan jejak kondisi tata surya miliaran tahun lalu. Karena wilayah ini jarang mengalami tabrakan besar dan tidak terlalu terganggu oleh planet-planet raksasa, banyak objek di Kuiper Belt masih mempertahankan bentuk dan susunan aslinya. Itu sebabnya para astronom sangat tertarik mempelajarinya. Dari sana, kita bisa belajar bagaimana benda-benda langit mulai terbentuk pada masa awal tata surya.
Baca juga: Berbagai Teori tentang Asal Usul Tata Surya
Apa Itu Planetesimal?
Salah satu istilah penting dalam pembahasan ini adalah planetesimal. Secara sederhana, planetesimal merupakan benda langit kecil yang menjadi “bahan bangunan” planet. Pada masa awal tata surya, ada piringan besar berisi debu, gas, dan butiran kecil material di sekitar Matahari muda. Butiran-butiran itu saling bertemu, saling menempel, lalu membentuk kumpulan yang semakin besar. Dari proses inilah lahir planetesimal.
Baca juga: Mengenal Planet Kerdil Eris Sebagai Yang Terjauh Di Sabuk Kuiper
Bayangkan Anda sedang mengepal salju. Mula-mula hanya ada serpihan salju kecil, lalu semakin banyak yang menempel hingga terbentuk bola salju. Nah, planetesimal terbentuk dengan cara yang agak mirip, hanya saja bahan dasarnya bukan salju, melainkan debu kosmik, es, dan kerikil kecil di ruang angkasa. Benda-benda ini kemudian bisa terus tumbuh menjadi objek yang lebih besar, atau tetap menjadi saksi bisu dari masa awal tata surya.
Para peneliti menjelaskan bahwa cukup banyak planetesimal di Kuiper Belt yang ternyata termasuk contact binary. Istilah contact binary berarti dua benda yang pada dasarnya merupakan pasangan, lalu saling menyentuh dan menempel. Secara visual, hasil akhirnya memang tampak seperti dua bola yang digabungkan. Inilah bentuk yang sering disebut mirip manusia salju.
Kenapa Bentuk Manusia Salju Ini Membingungkan?
Selama bertahun-tahun, para astronom memperdebatkan bagaimana contact binary bisa terbentuk. Masalahnya, bentuk dua bola yang menempel itu tidak mudah dijelaskan oleh model lama. Dalam banyak simulasi komputer terdahulu, benda-benda yang bertabrakan sering diperlakukan seperti gumpalan cair. Kalau dua benda seperti ini bertemu, hasilnya cenderung menjadi bentuk yang lebih membulat atau melebur sempurna. Dengan model seperti itu, sulit menghasilkan dua lobus atau dua “kepala” yang tetap terlihat jelas.
Padahal pengamatan menunjukkan bahwa bentuk ini bukan kejadian langka. Menurut artikel MSUToday, sekitar satu dari sepuluh objek planetesimal di Kuiper Belt tergolong contact binary. Kalau benar jumlahnya sebanyak itu, maka proses pembentukannya mestinya bukan peristiwa superlangka atau butuh kondisi yang terlalu aneh. Dalam sains, kalau suatu bentuk sering muncul di alam, biasanya ada mekanisme alami yang cukup umum di baliknya. Itulah yang membuat para ilmuwan curiga bahwa harus ada penjelasan yang lebih masuk akal dan lebih sering terjadi.
Petunjuk dari Misi New Horizons
Perhatian besar terhadap objek-objek berbentuk manusia salju meningkat setelah wahana antariksa New Horizons milik NASA memotret objek Kuiper Belt dari dekat pada Januari 2019. Gambar-gambar itu memperlihatkan dengan jelas bahwa ada benda jauh di luar sana yang benar-benar terdiri dari dua bagian bulat yang saling menempel. Pengamatan jarak dekat ini mendorong ilmuwan untuk meninjau ulang benda-benda lain di Kuiper Belt dan menyadari bahwa bentuk serupa ternyata cukup banyak ditemukan.
Misi antariksa seperti New Horizons penting karena teleskop dari Bumi, sekuat apa pun, punya batas. Semakin jauh objeknya, semakin sulit melihat detail bentuknya. Karena itu, foto dari wahana yang mendekat langsung memberi bukti visual yang jauh lebih kuat. Benda yang sebelumnya hanya tampak sebagai titik cahaya samar mendadak menunjukkan wajah aslinya. Dan ternyata, wajah aslinya cukup aneh sekaligus menggemaskan.
Simulasi Baru yang Mengubah Cara Pandang
Terobosan penting datang dari Jackson Barnes, mahasiswa pascasarjana di Michigan State University. Ia membuat simulasi pertama yang berhasil menghasilkan bentuk dua-lobus atau dua-bagian itu secara alami lewat proses yang disebut gravitational collapse. Gravitational collapse, atau runtuh gravitasi, adalah proses ketika sekumpulan materi berkumpul dan menyusut ke arah dalam karena gaya gravitasinya sendiri lebih kuat daripada gaya yang mendorongnya untuk menyebar. Dalam bahasa sederhana, materi itu “jatuh” ke pusatnya sendiri dan membentuk objek yang lebih padat.

Di sinilah letak keindahan penjelasannya. Dalam awan material kecil di awal tata surya, partikel-partikel bisa mulai berkumpul. Jika awan itu berputar, keruntuhannya tidak selalu menghasilkan satu benda tunggal yang rapi. Kadang proses itu bisa “merobek” kumpulan material menjadi dua bagian yang lalu membentuk dua planetesimal terpisah. Dua benda ini kemudian saling mengorbit sebagai pasangan biner. Biner sendiri berarti sistem yang terdiri dari dua objek yang saling mengitari karena terikat gravitasi. Setelah itu, orbit keduanya perlahan menyusut sampai akhirnya mereka bersentuhan dengan lembut dan menempel, sambil tetap mempertahankan bentuk masing-masing yang cenderung bulat. Hasil akhirnya adalah contact binary, si “manusia salju” kosmik itu.
Mengapa Simulasi Ini Lebih Meyakinkan?
Model Barnes berbeda dari model sebelumnya karena mampu menghadirkan lingkungan fisik yang lebih realistis. Dengan dukungan Institute for Cyber-Enabled Research dan klaster komputasi berkinerja tinggi, simulasinya tidak sekadar memperlakukan objek sebagai gumpalan cair. Dalam simulasi ini, objek dapat mempertahankan kekuatannya dan “beristirahat” satu sama lain setelah bersentuhan. Ini sangat penting, karena di dunia nyata benda padat tidak selalu meleleh menjadi satu bola sempurna ketika bertemu pelan-pelan.
Hal ini membuat hipotesis gravitational collapse jauh lebih kuat. Seth Jacobson, penulis senior penelitian tersebut, menjelaskan bahwa jika sekitar 10% planetesimal adalah contact binary, maka mekanisme pembentukannya tidak bisa bersifat langka. Gravitational collapse dianggap cocok dengan apa yang diamati para astronom. Dengan kata lain, alam tampaknya memang punya cara alami dan cukup umum untuk membentuk benda-benda mirip manusia salju di pinggiran tata surya.
Mengapa Benda Itu Tidak Mudah Pecah?
Mungkin muncul pertanyaan sederhana: kalau bentuknya seperti dua bola yang hanya menempel, mengapa benda-benda itu tidak mudah terlepas atau pecah? Penjelasan dari Barnes cukup masuk akal. Di Kuiper Belt, lingkungan sangat sepi. Artinya, peluang terjadinya tabrakan dengan benda lain relatif kecil. Kalau tidak ada benturan besar, tidak ada banyak hal yang bisa memisahkan dua bagian yang sudah menempel tadi. Artikel itu juga menyebut bahwa banyak sistem biner di kawasan ini bahkan tidak dipenuhi kawah tumbukan, yang berarti sejarah tabrakan mereka memang minim.
Ini menarik karena sering kali kita membayangkan luar angkasa sebagai tempat penuh tabrakan keras dan ledakan. Padahal, di beberapa wilayah, justru kesunyian kosmik itulah yang menjaga bentuk-bentuk rapuh tetap bertahan selama miliaran tahun. Dalam konteks ini, bentuk manusia salju bukan sesuatu yang sementara, melainkan struktur stabil yang bisa bertahan sangat lama.
Apa Artinya Bagi Ilmu Pengetahuan?
Temuan ini bukan cuma menjawab rasa penasaran soal bentuk lucu benda langit. Lebih dari itu, penelitian ini membantu ilmuwan memahami proses pembentukan objek kecil di tata surya awal. Kalau contact binary bisa terbentuk secara alami melalui runtuh gravitasi dan penggabungan lembut dua pasangan biner, maka kita mendapatkan potongan penting dalam teka-teki asal-usul planet dan benda kecil lainnya.
Selain itu, Barnes juga memperkirakan model ini akan membantu ilmuwan mempelajari sistem yang lebih rumit, misalnya sistem biner dengan tiga objek atau lebih. Ini membuka peluang riset baru tentang bagaimana benda-benda kecil di luar sana lahir, berubah, dan bertahan. Tim peneliti juga sedang mengembangkan simulasi baru yang bisa memodelkan proses keruntuhan itu dengan lebih baik lagi. Artinya, jawaban yang kita punya sekarang mungkin baru awal dari pemahaman yang lebih besar.
Dari Bentuk Lucu ke Sejarah Kosmik
Ada sesuatu yang indah dari sains semacam ini. Kadang kita memulai dari pertanyaan yang terdengar sederhana, bahkan nyaris lucu: kenapa benda luar angkasa bentuknya seperti manusia salju? Tetapi dari pertanyaan sederhana itu, kita justru masuk ke pembahasan besar tentang asal-usul tata surya, perilaku gravitasi, pembentukan planetesimal, dan sejarah benda-benda purba di tepian sistem Matahari.
Sains sering bekerja seperti itu. Bentuk yang tampak aneh bukan sekadar keunikan visual, melainkan petunjuk. Seperti arkeolog yang membaca pecahan tembikar untuk memahami peradaban kuno, astronom membaca bentuk benda langit untuk memahami masa lalu kosmik. Dua bola yang menempel ternyata bisa menjadi catatan tentang bagaimana awan debu runtuh, bagaimana pasangan benda kecil terbentuk, dan bagaimana mereka akhirnya menyatu secara perlahan.
Kesimpulan
Benda-benda luar angkasa yang tampak seperti manusia salju kemungkinan besar terbentuk bukan karena peristiwa aneh dan langka, melainkan melalui proses alami yang disebut gravitational collapse. Dalam proses ini, awan material kecil runtuh karena gravitasinya sendiri, lalu dapat terbelah menjadi dua objek yang saling mengorbit. Seiring waktu, keduanya mendekat, bersentuhan dengan lembut, dan menempel tanpa kehilangan bentuk bulatnya. Hasilnya adalah contact binary, yaitu objek dua-lobus yang banyak ditemukan di Kuiper Belt.
Penelitian dari Michigan State University memberi dukungan kuat pada gagasan ini melalui simulasi yang lebih realistis daripada model-model sebelumnya. Temuan ini penting karena membantu menjelaskan bukan hanya bentuk unik benda-benda di tepi tata surya, tetapi juga proses dasar pembentukan planetesimal sebagai bahan baku planet. Dari sebuah bentuk yang mengingatkan kita pada manusia salju, para ilmuwan justru menemukan cara baru untuk membaca masa kecil tata surya kita.
Referensi:
[1] https://msutoday.msu.edu/news/2026/02/why-some-objects-in-space-look-like-snowmen, diakses pada 21 Maret 2026.
[2] Jackson T Barnes, Stephen R Schwartz, Seth A Jacobson. Direct contact binary planetesimal formation from gravitational collapse. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 2026; 546 (4) DOI: 10.1093/mnras/stag002

