Kasus Climate Change Semakin Menggila, Virus Purba Berpeluang Bangkit Kembali

Kasus climate change menjadi bahasan hangat para peneliti, pejabat, dan organisasi di dunia selama setahun terakhir ini. Bagaimana tidak, climate change diklaim dapat menjadi ancaman yang serius sebab diyakini memiliki dampak yang sama besarnya dengan pandemi COVID-19 saat ini.

Hal tersebut juga berdasarkan peringatan keras dari para peneliti/ilmuwan yang menyebutkan bahwa saat ini kondisi bumi sedang mendekati fase kritis iklim yang sangat mengkhawatirkan. Peristiwa kritis iklim tersebut dapat dilihat dari berbagai fenomena alam yang banyak mengalami perubahan seperti tingkat emisi karbon ke atmosfer semakin meningkat, invasi beruang kutub (aksi dimana beruang kutub memasuki yang bukan wilayahnya atau melakukan migrasi ke daratan untuk mencari makan), mikroba pemakan daging menyebar, permafrost Arktik menghilang dengan cepat, suhu bumi semakin meningkat, dan sebagainya.

Dari kesemua peristiwa tersebut, sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggungjawab. Kegiatan deforestasi, penggunaan CFC (chloro fluoro carbon) atau pendingin freon yang berlebihan, efek gas rumah kaca, gas/limbah buangan industri, dan lain-lain. Dari berbagai kegiatan tersebut menjadi faktor pemicu terjadinya climate change atau perubahan iklim.

Berdasarkan hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa climate change dapat berpotensi menghidupkan/membangkitkan kembali virus purba/kuno mematikan yang telah absen selama ribuan tahun. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi?

Climate change (perubahan iklim) menyebabkan kenaikan suhu di bumi sehingga membuat permafrost, es, dan gletser di Arktik mencair. Akibat mencair, triliunan virus dan bakteri purba yang terkubur di lapisan es Arktik dapat bangkit kembali.

blank
Virus yang bernama Mollivirus sibericum, salah satu virus purba yang ditemukan peneliti pada permafrost yang mencair dan telah berusia 30.000 tahun. Sumber: pnas.org

Menurut seorang ahli biologi evolusioner Jean-Michel Claverie dari universitas Aix-Marseille Perancis menyatakan bahwa permafrost menjadi tempat yang baik dan tepat bagi virus dan bakteri karena dingin, tidak ada oksigen, dan gelap yang memungkinkan virus tersebut dapat hidup dalam jangka waktu yang relatif lama. Sehingga dalam kasus ini, ketika suhu di sekitaran Arktik meningkat dan menyebabkan tanah beku (permafrost) mencair berpotensi dapat melepaskan virus purba dari rusa kutub yang meninggal akibat terinfeksi antraks dan bangkainya terjebak dalam lapisan es tersebut.

Hasil analisis para peneliti pada sampel es yang berusia 15.000 tahun mengungkapkan hasil pengamatannya terdapat virus purba yang terjebak dalam sampel es tersebut, juga ditemukan lebih dari 30 kelompok virus yang 28 diantaranya belum diketahui dalam dunia sains.

Studi kasus dari bangkitnya virus purba ini berawal pada tahun 2016 tepatnya di Semenanjung Yamal (sudut terpencil tundra Siberia di Lingkaran Arktik) terinfeksi wabah antraks yang menewaskan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dan puluhan orang dirawat di rumah sakit. Peristiwa tersebut mengulang kembali kejadian pada awal abad ke-20 yang terdapat lebih dari satu juta rusa meninggal karena wabah antraks. Di sisi lain, terdapat kekhawatiran dari para ahli terkait jasad orang-orang yang terkubur permafrost karena meninggal akibat pandemi sebelumnya dapat memicu mimpi buruk yang sama.

Seperti dalam suatu kasus, para peneliti menemukan fragmen RNA dari virus flu Spanyol tahun 1918 pada mayat di kuburan massal di tundra Alaska. Penemuan tersebut mengindikasikan bahwa manusia dan hewan yang terkubur di lapisan es dalam jangka waktu lama dapat berpotensi melepaskan virus purba menular.

Sebab menurut sebuah studi tahun 2011, Boris Revich dan Marina Podolnaya menyatakan “Sebagai konsekuensi dari pencairan es, vektor-vektor infeksi mematikan pada abad ke-18 dan 19 mungkin akan kembali, terutama di dekat pemakaman di mana korban infeksi ini dimakamkan”.

Akan tetapi, tidak semua virus purba dapat hidup kembali dan dapat menginfeksi pada organisme hidup lainnya. Karena ada yang lebih membahayakan akibat dari bangkitnya virus atau bakteri purba tersebut menyebabkan terlepasnya CH4 dan CO2 ke atmosfer sehingga suhu bumi semakin panas. Namun, mengenai kekhawatiran dari bangkitnya virus purba tersebut juga harus diperhatikan. Mengingat terdapat beberapa virus yang dapat berkembang pada suhu yang hangat dan dikhawatirkan dapat menciptakan wabah penyakit yang tidak terkendali.

Pasalnya, jika virus dan mikroba lainnya belum pernah berhubungan dengan manusia untuk waktu yang lama, maka sistem kekebalan tubuh kita belum siap untuk menghadapinya, sehingga kita sebaiknya selalu siap siaga dan melakukan mitigasi terhadap semua ancaman yang diklaim memiliki dampak negatif besar terhadap kehidupan manusia.

Referensi:

  • Arbar, T.F. 2021. Ancaman Baru Selain Covid yang Ditakuti Sri Mulyani & Ilmuwan. Diakses pada tanggal 4 Agustus 2021. <https://www.cnbcindonesia.com/news/20210731175322-4-265132/ancaman-baru-selain-covid-yang-ditakuti-sri-mulyani-ilmuwan>
  • Fox-Skelly, J. 2017. Ada Penyakit Tersembunyi dalam Es, dan Mereka Mulai Bangkit. Diakses pada tanggal 4 Agustus 2021. <https://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-39869249>
  • Novianty, D., dan Utami, L.S. 2020. Duh! Perubahan Iklim Berpotensi Bangkitkan Kembali Mikroba Kuno. Diakses pada tanggal 4 Agustus 2021. <https://www.suara.com/tekno/2020/12/03/140000/duh-perubahan-iklim-berpotensi-bangkitkan-kembali-mikroba-kuno?page=all>
  • Yanuar, Y. 2020. 10 Tanda Perubahan Iklim Sepanjang 2019, Bukan Teori Semata. Diakses pada tanggal 4 Agustus 2021. <https://tekno.tempo.co/read/1289898/10-tanda-perubahan-iklim-sepanjang-2019-bukan-teori-semata>

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Siti Rahmawati
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *