Prinsip Kerja Hawk-eye: Penentu Medali Emas Indonesia pada Olimpiade Tokyo

Perhelatan Olimpiade tokyo telah usai dan ditutup pada 8 Agustus 2021. Dari event olahraga terbesar sejagad ini, Indonesia berhasil membawa pulang 1 medali Emas, 1 medali perak, dan 3 medali perunggu. Medali emas dan 1 medali perunggu diperoleh dari cabang olahraga bulu tangkis, sementara sisanya didapatkan dari cabang angkat besi.[1]

Keberhasilan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu membawa pulang medali emas Olimpiade tidak lepas dari peran teknologi komputer visi. Pasalnya, tim Indonesia mendapat poin terakhir melalui hasil “challenge” yang diajukan oleh lawan. Challenge merupakan kesempatan yang diberikan wasit kepada pemain untuk mengajukan protes atau menganulir keputusan wasit,[2] terutama saat terjadi selisih pendapat tentang posisi jatuh shuttlecock; apakah di luar atau di dalam garis tepi lapangan. Saat challenge diajukan, wasit akan memberi isyarat kepada operator instant review system untuk menampilkan “siaran ulang” dari momen terakhir. Dari rekaman tersebut, wasit akan memutuskan kepada siapa poin akan diberikan, sehingga tidak ada pemain yang dirugikan.

BWF News

Seperti yang kita ketahui, laju shuttlecock dalam bulu tangkis bisa jadi memiliki kecepatan yang tinggi. Lantas, bagaimana sistem review yang ada di badminton ini dapat menangkap momentum saat shuttlecock jatuh ke lantai dengan akurat? Bahkan disebutkan bahwa ketelitian yang dicapai adalah hingga 3,6 milimeter. Adalah teknologi hawk-eye yang bekerja di balik layar dari sistem review yang mulai digunakan Badminton World Federation (BWF) pada 2014.[3]

Tentang Hawk-Eye dan Cara Kerjanya

Hawk-eye (indonesia: mata elang) dalam bulu tangkis merupakan teknologi yang dikembangkan untuk membantu wasit dalam menentukan shuttle berada pada posisi in atau out, baik dalam servis maupun saat rally. Kunci dari akurasi teknologi ini adalah penggunaan beberapa kamera beresolusi dan berkecepatan tinggi yang dipasang di arena pertandingan. Kamera-kamera tersebut diposisikan sedemikian rupa sehingga dapat menjangkau seluruh sudut lapangan, terutama titik-titik yang sulit dijangkau pengamatan wasit.

Hasil tangkapan kamera kemudian dikirim ke sistem komputer terpusat dengan kabel fiber optik untuk mendukung review secara realtime. Selanjutnya, gambar yang terkumpul akan dianalisis oleh sistem untuk kemudian dilakukan pemodelan. Model yang dihasilkan berupa simulasi lintasan shuttercock yang ditampilkan pada layar. Sistem ini mampu menampilkan lintasan dan menunjukkan titik jatuh shuttlecock.

Hawk-eye bekerja dengan menangkap gambar dari apa yang terjadi di lapangan melalui beberpa kamera berkecepatan tinggi yang dipasang dari berbagai sudut pandang, umumnya terdapat 6-7 kamera. Gambar tersebut dikombinasikan dengan properti data time-series dari kamera untuk proses analisis. Sistem akan memproses tiap piksel dari frame untuk mendeteksi keberadaan shuttlecock. Setelah menemukan kumpulan piksel yang sesuai dengan pola shuttercock, sistem akan mengidentifikasi posisi objek dan membandingkan posisi tersebut pada kamera lainnya pada rentang waktu yang sama. Cara kerja ini dikenal dengan triangulasi. Akhirnya, sistem memodelkan hasil triangulasi lintasan shuttercock ke dalam tampilan grafis sehingga dapat dilihat oleh wasit maupun pemain.

Liang Li dan Xiaohua Shi dalam penelitiannya mencoba membedah prinsip kerja perhitungan matematis yang berjalan di belakang sistem komputer pada Hawk-eye. Ia menggunakan pengetahuan kinematika, perhitungan diferensial matematis, dan adopsi kombinasi bentuk, serta dengan bantuan perangkat lunak MATLAB. Untuk dapat menentukan titik jatuh bola, yang dilakukan pertama adalah mengubah koordinat ruang tiga dimensi dari citra menjadi koordinat dua dimensi bidang gerak. Kemudian, dengan pengetahuan kinematika, didapatkan persamaan kinematik tentang gerak parabola. Persamaan diferensial matematika dan persamaan Bernoulli digunakan untuk menyederhanakannya. Untuk menilai akurasi sistem, mereka mencatat posisi jatuh bola dalam permainan, kemudian memasukkan datanya ke dalam model. Dari perhitungan yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa titik jatuh bola pada perhitungan hampir sama dengan titik jatuh aktual dalam permainan.[4]

Tidak berhenti di sana, data-data pertandingan yeng tersimpan pada sistem komputer juga dapat diekstrak untuk mendapatkan informasi mengenai statistik pertandingan. Hal ini sangat membantu komite pertandingan dalam hal pengumpulan data. Di sisi lain, data pertandingan seperti kecepatan dan arah pukulan juga bermanfaat bagi pemain serta pelatih untuk menganalisis permainan sebagai bahan evaluasi.

Tidak Hanya Bulu Tangkis

Melihat sejarahnya, teknologi hawk-eye ternyata bukan hal yang baru. Teknologi ini telah dikembangan pada 2001 oleh Paul Hawkins untuk pertandingan cricket. Selain itu, teknologi ini juga digunakan pada video assistant referee (VAR) dalam sepak bola. Baik VAR maupun hawk-eye challenge Sama-sama memberikan review atau siaran ulang dari kondisi bola/shuttlecock pada momen tertentu.

Dilansir dari situs Hawk-eye innovation[5], salah satu vendor teknologi Hawk-eye, cabang olahraga yang telah memanfaatkan teknologi mereka untuk menunjang permainan yang sportif meliputi sepak bola, cricket, tenis, rugby, bola voli, golf, ice hockey, bola basket, baseball, badminton, balapan kuda, atletik, dan snooker. Penerapan teknologi dari setiap cabang olahraga tidak sama, meyesuaikan medan dan peraturan masing-masing cabang olahraga. Adapun beberapa sistem yang memiliki olahraga yang menerapkan point detection system, ball tracking, goal line system, smart replay, line calling, simulator, serta decision review system.

***

Tentunya keberadaan teknologi ini sangat dibutuhkan untuk menjaga sportivitas pertandingan, serta memastikan tidak ada keberpihakan dari wasit. Kepercayaan diri dari pemain di lapangan pun akan meningkat tanpa merasa dirugikan jika kemudian muncul protes. Namun, Mengingat biaya yang sangat mahal, tidak semua pertandingan akan mendapatkan fasilitas ini. Untuk bulu tangkis, BWF menyebutkan bahwa untuk saat ini, baru pertandingan dengan minimal sekelas super series yang dapat difasllitasi. Itupun hanya terbatas untuk lapangan utama.

Referensi

  1. Indonesia’s Tokyo 2020 Olympics medal winners – the final list. Diakses dihttps://olympics.com/tokyo-2020/en/news/indonesia-s-tokyo-2020-olympics-medal-winners pada 30 Agustus 2021

  2. BWF Statutes Section 4.1.8: INSTANT REVIEW SYSTEM; Update 24 Nov 2020.

  3. HAWK-EYE’ TO DETERMINE ‘IN OR OUT. Diakses di https://bwfbadminton.com/news-single/2014/04/04/hawk-eye-to-determine-in-or-out pada 31 Agustus 2021

  4. Li, Liang and Shi Xiaohua. Tennis ‘Hawk-Eye’ technical research. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research, 2014, 6(6):298-305.

  5. https://www.hawkeyeinnovations.com/sports

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 3

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *