Selama ini, ilmu saraf atau neurosains sering dianggap sebagai wilayah eksklusif milik laboratorium modern: penuh dengan mesin pemindai otak, rumus, dan eksperimen canggih. Namun, sebuah gagasan baru yang muncul dari Kanada menantang cara pandang itu. Ia mengajak kita untuk melihat otak manusia bukan hanya dari sisi ilmiah, tapi juga dari sisi kearifan budaya.
Pendekatan ini dikenal sebagai “Two-Eyed Seeing” atau dalam bahasa Mi’kmaw disebut “Etuaptmumk.” Konsep ini berasal dari para tetua masyarakat adat di Kanada dan kini mulai diadopsi oleh para ilmuwan saraf. Intinya sederhana tapi mendalam:
“Gunakan satu mata untuk melihat kekuatan ilmu Barat, dan mata lainnya untuk melihat kebijaksanaan tradisi adat.
Dan gunakan keduanya bersama-sama, agar kita benar-benar bisa memahami dunia.”
Neurosains selama puluhan tahun berfokus pada pendekatan reduksionis artinya memecah otak menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah dipelajari. Para peneliti melihat neuron, sinaps, dan bahan kimia otak seperti molekul-molekul terpisah yang bekerja menurut hukum biologi dan fisika.
Pendekatan ini luar biasa berhasil:
kita sekarang tahu bagaimana impuls listrik bergerak, bagaimana dopamin memengaruhi kebahagiaan, dan bagaimana stres bisa “tertanam” di sistem saraf.
Tapi, seperti yang dikatakan oleh para penulis artikel di Nature ini, pengetahuan ilmiah saja belum cukup. Otak manusia bukan hanya kumpulan neuron, ia juga rumah bagi pikiran, perasaan, hubungan sosial, dan spiritualitas.
Di sinilah Two-Eyed Seeing menawarkan sesuatu yang sangat penting: keseimbangan antara sains dan makna.
Baca juga artikel tentang: Mengungkap Perasaan Sedih dari Pandangan Neurosains, Psikologi, dan Fisiologi
Dari Elders ke Laboratorium
Gagasan Two-Eyed Seeing pertama kali disebarkan oleh Elders Mi’kmaw di Kanada Timur, terutama oleh Elder Albert Marshall.
Ia mengajarkan bahwa tidak ada satu sistem pengetahuan pun yang memegang seluruh kebenaran. Ilmu Barat unggul dalam analisis dan teknologi, sementara pengetahuan adat membawa kearifan, konteks, dan rasa keterhubungan dengan alam serta komunitas.
Para ilmuwan seperti Judy Illes dan timnya kemudian mengadaptasi gagasan ini ke dalam konteks ilmu saraf. Dalam artikel mereka, mereka berargumen bahwa memahami otak berarti juga memahami manusia sebagai makhluk sosial dan spiritual.
Dengan melihat melalui dua mata, satu ilmiah, satu kultural kita bisa memahami lebih dalam bagaimana pikiran terbentuk, bagaimana trauma diwariskan, atau bahkan bagaimana penyembuhan bisa terjadi.
Neurosains yang Lebih Manusiawi
Selama ini, banyak penelitian otak dilakukan dengan pendekatan yang sangat teknis.
Namun, bagi banyak komunitas adat, kesehatan otak tidak bisa dipisahkan dari hubungan dengan tanah, keluarga, dan leluhur. Misalnya, dalam budaya tertentu, stres atau gangguan mental bukan hanya “masalah kimia,” tapi juga ketidakseimbangan dalam hubungan antara manusia dan alam.
Pendekatan seperti itu mungkin terdengar “non-ilmiah” bagi sebagian orang, tetapi justru di situlah nilai Two-Eyed Seeing:
ia mengajarkan kerendahan hati ilmuwan untuk mendengar pengetahuan lain yang tidak muncul dari laboratorium.
Dalam konteks ini, Two-Eyed Seeing tidak menolak sains, melainkan melengkapinya. Ia mengajak neurosains untuk lebih inklusif,
untuk tidak hanya mengukur gelombang otak, tetapi juga memahami makna di balik pengalaman manusia.
Empat Area Kehidupan yang Disorot
Dalam artikelnya, tim penulis Nature membahas empat bidang nyata di mana pendekatan Two-Eyed Seeing dapat memberikan dampak besar:
- Disabilitas –
Banyak masyarakat adat memiliki konsep keseimbangan peran, di mana individu yang berbeda kemampuan bukan dianggap “kurang,” tetapi “berbeda cara berkontribusi.”
Pendekatan ini bisa membantu dunia medis melihat disabilitas secara lebih manusiawi, bukan semata-mata kondisi biologis. - Kesehatan Mental & Bunuh Diri –
Beberapa komunitas adat memiliki tingkat bunuh diri tinggi akibat trauma kolonialisme.
Menggabungkan terapi psikologis modern dengan pendekatan komunitas adat, seperti ritual penyembuhan atau koneksi dengan alam terbukti membantu proses pemulihan. - Migrasi & Identitas –
Migrasi memengaruhi kesehatan mental dan rasa identitas seseorang.
Perspektif adat mengingatkan bahwa manusia selalu mencari keseimbangan antara tempat asal dan tempat baru, mirip dengan cara otak kita menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. - Lingkungan & Alam –
Banyak ilmu saraf kini tertarik pada hubungan antara alam dan kesehatan otak.
Two-Eyed Seeing menekankan bahwa koneksi dengan bumi bukan sekadar gaya hidup sehat, tapi kebutuhan biologis dan spiritual bagi keseimbangan pikiran manusia.
Dunia yang Lebih Inklusif untuk Ilmu Otak
Kita hidup di masa di mana ilmu pengetahuan semakin global. Neurosains kini bukan hanya milik universitas di Amerika atau Eropa,
tetapi juga berkembang di Asia, Amerika Latin, dan komunitas adat di seluruh dunia.
Namun, semakin global sains menjadi, semakin penting pula etika, keadilan, dan keberagaman pandangan. Two-Eyed Seeing memberi kerangka untuk itu, mendorong kita melihat dunia melalui mata reduksionisme (analisis ilmiah) dan mata holisme (makna dan konteks manusia).
Dengan kata lain, otak harus dipahami bukan hanya sebagai organ, tetapi juga sebagai cerita.
Sains yang Belajar Merendah
Pendekatan ini juga membawa pesan moral:
bahwa sains, secerdas apa pun, harus tetap rendah hati. Harus mau mendengarkan pengalaman orang yang hidup di luar tembok akademik. Harus berani mengakui bahwa kebenaran bisa datang dari tempat yang tak terduga, dari hutan, dari adat, dari generasi tua yang tak menulis jurnal ilmiah.
Seperti kata Judy Illes, “Ilmu pengetahuan tanpa empati tidak akan pernah benar-benar memahami manusia.”
“Two-Eyed Seeing” bukan sekadar teori
ini adalah undangan bagi kita semua untuk melihat dunia secara lebih utuh.
Bayangkan jika dokter, peneliti, dan tetua adat duduk bersama, mendiskusikan bukan hanya bagaimana otak bekerja, tetapi mengapa pikiran manusia begitu kompleks dan indah.
Dengan satu mata kita melihat neuron, sinaps, dan kimia otak. Dengan mata lainnya kita melihat kisah, budaya, dan makna hidup.
Dan hanya dengan melihat melalui dua mata inilah, kita bisa benar-benar memahami otak,
dan memahami diri kita sendiri sebagai manusia.
Baca juga artikel tentang: Bagaimana Cara Neurosains mengubah Mindset Manusia?
REFERENSI:
Illes, Judy dkk. 2025. Two-Eyed Seeing and other Indigenous perspectives for neuroscience. Nature 638 (8049), 58-68.

